Teks Masjid Kajen

Teks Masjid Kajen
Sumber foto: Facebook Muammar Elba
Penulis: Muammar Elba


Mendaras karya filologi naskah
𝑆𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑒𝑏𝑜𝑙𝑒𝑘 Katalogus Leiden University Library. Berbuah banyak hikmah, salah satunya menemukan beberapa hipogram (varian cerita dan teks yang hampir serupa).

Mengalir saja, lalu mencoba bereksperimen memadukan beberapa hipogram tersebut terhadap teks di luar naskah, yaitu 𝑇𝑒𝑘𝑠 𝑀𝑎𝑠𝑗𝑖𝑑 𝐾𝑎𝑗𝑒𝑛 :

سڠ ڤنډيت كوڠس اڠ بونا

Sekalipun kajian ini keluar domain intrinsik (kajian internal naskah), namun saya rasa ini penting dalam rangka menginterpretasikan teks yang memiliki kaitan erat, baik hubungan tokoh maupun kesamaan genre dan filosofinya. Bismillah, berikut ini korelasi intertekstualnya :

سڠ

Dibaca “𝑆𝑎𝑛𝑔”. Terma “𝑆𝑎𝑛𝑔” lazim dipakai pada penulisan sastra manuskrip kuno. Merupakan kata sansekerta yang berfungsi sebagai kata sandang (artikula) yang dinisbahkan kepada obyek dengan tujuan untuk meninggikan martabat. Pada naskah 𝑆𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑒𝑏𝑜𝑙𝑒𝑘 ditemukan banyak sekali kata “𝑠𝑎𝑛𝑔” yang mewakili ciri itu, seperti “𝑆𝑎𝑛𝑔 𝐴𝑝𝑟𝑎𝑏𝑢” (pupuh VII stanza 10), “𝑆𝑎𝑛𝑔 𝑁𝑎𝑡𝑎” (pupuh VII stanza 11) “𝑆𝑎𝑛𝑔 𝑊𝑟𝑒𝑘𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎” (pupuh VII stanza 21), dan masih banyak lagi tersebar pada pupuh lain.

ڤنډيت

Dibaca “𝑝𝑎𝑛𝑑𝑖𝑡𝑎”. Kata sansekerta “𝑝𝑎𝑛𝑑𝑖𝑡𝑎” umum dan sangat lazim terdapat pada naskah kuno nusantara, terlebih pada naskah bergenre tasawuf. “𝑝𝑎𝑛𝑑𝑖𝑡𝑎” berarti "𝑎𝑠𝑐𝑒𝑡𝑖𝑐" atau "𝑠𝑢𝑓𝑖". Beberapa kata ini terdapat pada naskah 𝑆𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑒𝑏𝑜𝑙𝑒𝑘, seperti pada pupuh VII stanza 68 : “𝑝𝑎𝑛𝑑𝑖𝑡𝑎 𝑔𝑢𝑛𝑔 𝑎𝑔𝑢𝑛𝑔 𝑤𝑢𝑠 𝑝𝑒𝑠𝑡𝑖 𝑎𝑛𝑔𝑔𝑒𝑝 𝑘𝑎𝑛𝑔 𝑛𝑎𝑡𝑎, 𝑖𝑘𝑢 𝑤𝑎𝑦𝑢 𝑛𝑢𝑔𝑟𝑎𝑎 𝑑𝑎𝑤𝑢𝑝𝑟𝑖𝑏𝑎𝑑𝑖” (artinya: “𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑠𝑐𝑒𝑡𝑖𝑐 (𝑠𝑢𝑓𝑖) 𝑎𝑔𝑢𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑒𝑦𝑎𝑘𝑖𝑛𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑤𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎𝑢𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎𝑤𝑎𝑦𝑢, 𝑛𝑖𝑘𝑚𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑢𝑡𝑢𝑠𝑎𝑛 𝑇𝑢𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖”). Kata serupa (pada topik yang berbeda) juga terdapat pada stanza 67 dan 69).

Kelaziman kata “𝑝𝑎𝑛𝑑𝑖𝑡𝑎” yang merujuk kepada arti “𝑠𝑢𝑓𝑖” ini sebagaimana terdapat pada manuskrip 𝑆𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑒𝑏𝑜𝑙𝑒𝑘 codex lainnya, yaitu yang terdapat pada 𝐾𝑎𝑡𝑎𝑙𝑜𝑔𝑢𝑠 𝐵𝑎𝑡𝑎𝑣𝑖𝑎𝑎𝑠𝑐𝐺𝑒𝑛𝑜𝑜𝑡𝑠𝑐𝑎𝑝 yang berbunyi : “𝑛𝑒̂𝑑𝑦𝑎 𝑚𝑎𝑛̃𝑗𝑎𝑛𝑔𝑘𝑒̂𝑛 𝑐𝑟𝑖𝑡𝑎𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑛𝑔𝑒̀𝑙𝑚𝑖, 𝑑𝑒𝑛𝑒 𝑘𝑎𝑡𝑎𝑘𝑜𝑗𝑎𝑖𝑛𝑔 𝑛𝑔𝑢𝑙𝑎𝑚𝑎, 𝑘𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑖𝑛𝑒̂𝑡𝑖𝑘 𝑘𝑎𝑠𝑢𝑟𝑎𝑠𝑎𝑛𝑒, 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑖𝑡𝑎 𝑙𝑢𝑢𝑛𝑔, 𝑝𝑎𝑛𝑔𝑖𝑘𝑒𝑡𝑒́ 𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑖𝑙 𝑘𝑎𝑑𝑖𝑠, 𝑑𝑠𝑡…” (pupuh I stanza 1)

كوڠس

Dibaca “𝑘𝑜𝑛𝑔𝑠𝑖” yang berarti 𝑟𝑒𝑛𝑑 𝑓𝑜𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡𝑦 atau 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑒𝑙𝑎ℎ (𝑙𝑎𝑙𝑢) 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑎𝑡𝑢. Sebagaimana terdapat pada 𝑆𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑒𝑏𝑜𝑙𝑒𝑘 pupuh VIII stanza 66 : “𝑡𝑎𝑝𝑎𝑛𝑖𝑟𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑔𝑠𝑖 𝑛𝑔𝑟𝑎𝑔𝑎 𝑟𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔, 𝑤𝑢𝑠 𝑚𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛𝑎 𝑔𝑒̀𝑛𝑛̃𝑎 𝑚𝑟𝑖𝑘𝑎𝑚𝑢𝑘𝑠𝑎𝑛” (artinya: “𝑙𝑎𝑘𝑢 𝑡𝑎𝑝𝑎 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑢𝑓𝑖 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑒𝑙𝑎𝑡𝑢𝑏𝑢𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎, 𝑑𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑎𝑛𝑙𝑎𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑎𝑚𝑢𝑘𝑠𝑎𝑛 (𝑓𝑎𝑛𝑎’)”.

اڠ

Dibaca “𝑖𝑛𝑔”. Bentuk afiksasi yang berarti “𝑑𝑖” (tempat), bisa juga berarti “𝑘𝑒” atau “𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎”. Lazim dipakai pada penulisan naskah berbahasa Jawa, baik pegon maupun hanacaraka.

بونا

Dibaca “𝑏𝑢𝑤𝑎𝑛𝑎”. Merupakan bahasa sansekerta yang oleh para penggiat filologi dan para linguis Jawa memaknainya sebagai “𝑡𝑒 𝑚𝑎𝑐𝑟𝑜-𝑐𝑜𝑠𝑚𝑜𝑠”. Kata ini terdapat pada naskah 𝑆𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑒𝑏𝑜𝑙𝑒𝑘 pupuh VIII stanza 41 : “𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑤𝑎𝑛𝑒̀ℎ 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛𝑖𝑟𝑎 𝑛𝑔𝑢𝑛𝑖, 𝑡𝑢𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑠𝑎𝑝𝑎𝑘𝑒̂𝑟𝑡𝑖𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑏𝑢𝑤𝑎𝑛𝑎, 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑢𝑙𝑢 𝑝𝑎𝑚𝑖𝑦𝑎𝑟𝑠𝑎𝑛𝑒, 𝑤𝑢𝑠 𝑎𝑛𝑒̀𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑔 𝑠𝑖𝑟𝑒̀𝑘𝑢, 𝑝𝑎𝑚𝑦𝑎𝑟𝑠𝑎𝑛𝑒 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝑆𝑢𝑘𝑠𝑚𝑎 𝐽𝑎𝑡𝑖, 𝑖𝑦𝑎 𝑡𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑟𝑛𝑎 𝑖𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑢𝑙𝑢𝑛𝑖𝑝𝑢𝑛 𝑖𝑦𝑎 𝑡𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑛𝑒𝑡𝑟𝑎, 𝑘𝑎𝑟𝑛𝑎𝑛𝑖𝑟𝑎 𝑛𝑒𝑡𝑟𝑎𝑛𝑖𝑟𝑎 𝑘𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑖𝑛𝑎𝑟𝑑𝑖 𝑎𝑛𝑎𝑛𝑒 𝑎𝑛𝑒̀𝑛𝑔 𝑠𝑖𝑟𝑎” (artinya: “𝑑𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑡𝑎𝑢𝑖𝑙𝑎𝑏𝑎𝑤𝑎 𝑎𝑠𝑎𝑙 𝑚𝑢𝑙𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑟𝑜-𝑘𝑜𝑠𝑚𝑜𝑠, 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑙𝑖𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎 𝑠𝑢𝑑𝑎𝑎𝑑𝑎 𝑑𝑖 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑑𝑖𝑟𝑖𝑚𝑢, 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑗𝑖𝑤𝑎 𝑠𝑒𝑗𝑎𝑡𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢𝑖 𝑡𝑒𝑙𝑖𝑛𝑔𝑎, 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑙𝑖𝑎𝑡𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢𝑖 𝑚𝑎𝑡𝑎, 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑙𝑖𝑎𝑡𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑐𝑖𝑝𝑡𝑎𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑑𝑎 𝑑𝑖 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑑𝑖𝑟𝑖𝑚𝑢”).

Demikianlah sedikit pengetahuan saya mengenai interpretasi 𝑇𝑒𝑘𝑠 𝑀𝑎𝑠𝑗𝑖𝑑 𝐾𝑎𝑗𝑒𝑛 yang referensinya merujuk dari teks naskah 𝑆𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐶𝑒𝑏𝑜𝑙𝑒𝑘. Dengan segenap kerendahan hati atas kemungkinan khilaf, saya membacanya dengan : 𝑆𝐴𝑁𝐺 𝑃𝐴𝑁𝐷𝐻𝐼𝑇𝐴 𝐾𝑂𝑁𝐺𝑆𝐼 𝐼𝑁𝐺 𝐵𝑈𝑊𝐴𝑁𝐴 yang artinya kurang lebih : "𝑆𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑢𝑓𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑎𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 (𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛) 𝑡𝑒 𝑚𝑎𝑐𝑟𝑜-𝑐𝑜𝑠𝑚𝑜𝑠".

Wallahu a’lamu bisshowab




Penulis bernama asli Muammar Abdul Basith, M.Hum. Alumnus Pascasarjana Universitas Indonesia