Siapa yang Layak Menyandang Gelar Kyai?

Siapa yang Layak Menyandang Gelar Kyai?
 Sumber foto: IG; nifadilla

Penulis: Luthfi Majidi

Suatu ketika, ada seorang teman yang meminta pendapat saya terkait siapa yang layak menyandang gelar kyai, atau sebutan lain, misalkan buya.

Tentunya, pertanyaan ini susah untuk dijawab. Lantaran, gelar ini memang muncul atau diberikan oleh masyarakat, atas dedikasi orang tersebut terhadap masyarakat yang ada di sekitarnya. Sangat berbeda sekali dengan gelar sarjana, magister, atau doktor, yang memang memiliki kriteria atau persyaratan tertentu untuk mendapatkan gelar tersebut.

Akhirnya, saya pun mencoba menjelaskan berdasarkan pengalaman empiris yang pernah saya alami, yaitu ketika saya hidup, ikut, atau numpang hidup dengan beberapa kyai.

Ada banyak macam tipe atau pola seorang kyai. Mengingat, mereka juga manusia yang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan hidupnya, berdasarkan pemikiran atau pemahaman masing-masing.

Namun, dari beberapa kyai yang saya kenal, di luar perbedaan hal di antara mereka, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi persamaan di antara mereka, yaitu;

Pertama, ternyata para kyai itu tidak pernah menganggap diri mereka sebagai seorang kyai. Mereka hanya menganggap diri mereka orang biasa, yang kebetulan ada orang yang datang ingin ngaji. Dan mereka memberikan kajian sesuai apa yang mereka pahami, serta apa yang mampu mereka laksanakan.

Kedua, mereka tekun dalam belajar. Bahkan, mereka mengulang berkali-kali buku atau kitab yang konsen mereka ajarkan. Misalnya, ada seorang kyai yang setiap hari habis sholat Ashar, membacakan kitab fathul qorib kepada santrinya, bahkan hingga akhir hayatnya. Ada juga kyai yang setiap habis Maghrib, membacakan kitab tafsir jalalain kepada santrinya hingga puluhan tahun. Padahal, setiap tahun kitab itu sudah khatam dibacanya. Dan tentunya masih banyak lagi aneka ragam ketekunan kyai dalam belajar.

Ketiga, mereka tekun dalam beribadah. Contohnya, ada kyai yang hampir tidak pernah meninggalkan sholat jamaah, atau melakukan sholat fardhu selalu dengan berjamaat. Ada juga kyai yang rajin puasa—tentunya selalu melakukan puasa sunah. Ada pula yang tekun dalam berzikir dan lain-lain.

Keempat, mereka selalu memiliki pemikiran untuk "ngopeni" orang lain. Mereka memikirkan dan memperjuangkan nasib hidup orang lain. Contoh sederhananya, ketika ada masyarakat yang datang membutuhkan pekerjaan, mereka mencarikan pekerjaan untuk orang tersebut. Bahkan terkadang, ketika ada masyarakat yang membutuhkan uang, terkadang dengan mudah mereka memberikan pinjaman uang, atau memberi uang tersebut

Keempat hal itu, bisa dibilang melekat semua kepada sosok seorang kyai. Sebab, ketika lepas salah satunya, maka mereka tidak dianggap kyai.

Misalkan ada seseorang yang tekun dalam belajar, tapi dia tidak memikirkan nasib orang lain, maka dia tidak dianggap sebagai kyai, contohnya adalah dosen. Seahli apapun dosen dalam bidang fiqih, karena dia mempersulit skripsi mahasiswanya, maka sampai kapanpun dia tidak dianggap sebagai kyai.

Ada seseorang yang hidupnya sibuk "ngopeni" orang lain, tapi dia tidak tekun dalam belajar dan beribadah, maka dia juga tidak bisa dianggap sebagai kyai. Contohnya adalah aktivis.

Ada orang yang tekun beribadah tapi tidak tekun belajar dan hanya memikirkan hidupnya sendiri, ini biasanya hanya dianggap sebagai orang sholeh saja. Orang semacam ini banyak terdapat di sekitar tempat kita tinggal

Namun, yang sering kali muncul dalam kehidupan itu adalah manusia sampah. Ciri-cirinya adalah, tidak tekun dalam beribadah, tidak tekun dalam belajar, tidak pernah memperjuangkan nasib orang sekitar, tetapi ketika dia berbicara, seolah-olah dia adalah titisan kebenaran. Orang lain dianggap salah semua. Manusia jenis ini, obatnya cuma satu. Yaitu perlu dipukul kepalanya dengan botol kecap. Tapi botolnya harus yang beling, jangan yang botol plastik. Sebab, kalau yang botol plastik, pasti tidak terasa di kepalanya.

 



Alumni UIN SUKA Yogyakarta. Jurusan Magister Hukum UGM Yogyakarta

0 Response to "Siapa yang Layak Menyandang Gelar Kyai?"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel