Sepanjang Jalan dan Puisi Lainnya

Sepanjang Jalan dan Puisi Lainnya

Penulis: Elly

Sepanjang Jalan

 

Tuhan, ada yang memburuku

Memang tak kasat mata tapi debarnya terasa

 

Tuhan, ada yang mengancamku

Seolah hendak menjegal nyawa di depan sana

 

Tuhan, ada yang menggelayutiku

Bisiknya terngiang di gendang telinga

 

Jalanan ramai namun semua abai

Semesta diam

Bahkan angin hanya mampu menderu pertanda malam tak lagi nyaman dijadikan teman.

 

Di depan lampu merah yang menghitung mundur

Seolah menggambarkan waktu yang tak pernah mau diatur.

 

Sesuatu itu terus memburu, terus mengancam, terus menggelayut

 

Sesak!

 

Tidakkah kita telah sampai?

 

Sesak!

 

Masih di ujung sana, perjalanan belum usai

 

Yogyakarta, 06 Desember 20

 

 

Aku Pungguk yang Mendamba Bulan

 

Tak ada malam yang kulewati tanpa memandangnya

Purnama, sabit, apapun namanya

Ia satu-satunya sinar yang tak putus kudamba

 

Barangkali ia terkesan akan kesabaran si Pungguk ini

Ia balasi pujianku dengan hangat sinarnya

 

Lalu sang bulan jatuh dalam dekapan

 

Ku kira kita akan bahagia

 

Ia memintaku tinggal di Bumantara

Ia berharap aku mau dititipkan sinarnya

Katanya, bila ia lelah menatap malam yang gulita

Akulah si Pungguk yang akan menggantikannya

 

Tapi sudah kubilang tempatku bukan di sana

Di dahan ini saja, memandangnya dari jauh saja.

 

Ku kira kita akan bahagia

Sang bulan tak mau merubah inginnya

 

Aku si Pungguk yang mendamba bulan

Meratapi malam yang kini menjelma perdebatan panjang.

 

Yogyakarta, 06 Desember 20

 

 

Kopi Buatan Ayah

 

“Nak, tolong buatkan kopi,” kata Ayah di suatu pagi

 

Kutanya, “berapa takaran kopinya?”

Sebanyak perjuangan yang kau butuhkan dalam hidup, katanya

Lalu kusendok bubuk kopi secukupnya

 

Kutanya lagi, “berapa takaran gulanya?”

Ia menjawab, sama dengan keinginanmu untuk rehat

Lalu kutambahkan gula sebanyak-banyaknya

 

Kuseduh kopi itu

Kusuguhkan pada ayah

Ia berkata, “terlalu manis nak, kau tidak akan sampai pada kenikmatan”.

 

Lalu ayah meracik kopinya sendiri

Dengan takaran kopi dan gula yang katanya pas

Ia suguhkan padaku

 

Ku sesap kopi buatan ayah dari bibir cangkirnya

Ia sebut ini nikmat

Padahal di lidahku, pahitnya masih terlalu pekat

 

Yogyakarta, 07 Desember 20

 

 

Manusia

 

Rupanya manusia ahli menyimpan rahasia

Ada yang memberi isyarat

Ada yang menutup rapat-rapat

 

Rupanya manusia pandai memendam rasa

Rasa benci rasa suka

Mereka diam-diam berbisik

Ada yang terus diam membisu

 

Alam raya adalah panggung sandiwara, katanya

Pantas bila penghuninya bermain persona

Memanipulasi rasa

Bersenjata kata-kata

Dan benar, kata sejati tak pernah ada

Manusia memang ahlinya merekayasa

Aku manusia

Barangkali aku jua pelakunya

 

Yogyakarta, 11 Desember 20




Nama lengkap Halimatus Sakdiyah EM, biasa dipanggil Elly. Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Prodi Pengembangan Masyarakat Islam. Bukan siapa-siapa dan tidak punya prestasi apa-apa, dia hanya manusia tidak konsisten yang ingin jadi penulis tapi jarang sekali menulis.

0 Response to "Sepanjang Jalan dan Puisi Lainnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel