Revitalisasi Bela Negara dalam Menghadapi Globalisasi

Revitalisasi Bela Negara dalam Menghadapi Globalisasi

Penulis: Muhammad Yusril Nezarulloh

Bela negara merupakan sikap dan perilaku warga negara yang penuh tekad dan dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI, yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya. Akan tetapi, di era milenial ini, bela negara tidak hanya berupa menjaga negara dari berbagai ancaman, baik berupa radikalisme, terorisme maupun hal-hal yang bisa menyebabkan terjadinya perpecahan. Tetapi, juga diperlukan kesadaran diri, guna meningkatkan kualitas diri dalam bentuk sikap membela negara.

Penanaman kesadaran bela negara terhadap setiap warga negara, terutama generasi milenial, sebagai pewaris dan penerus kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, sangatlah penting. Agar mampu mempertahankan negara dari ancaman dari dalam dan dari luar, baik yang bersifat militer maupun non militer. Maka, dalam hal ini perlu ditingkatkan lagi, atau dengan kata lain yakni revitalisasi perkara kesadaran bela negara. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh globalisasi di segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pengaruh Globalisasi

Globalisasi telah didominasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, sehingga dapat merubah pola hubungan antar bangsa dalam berbagai aspek. Negara seolah-olah tanpa batas, mengalami saling ketergantungan, dan muncul unsur saling terhubung  antara satu negara dengan negara lainnya. Di era globalisasi ini, tidak ada satu pun negara di dunia yang mampu berdiri sendiri, terlebih dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan warganya.

Globalisasi, di satu sisi berdampak positif sebagai kemajuan. Akan tetapi,  di sisi lain dipandang sebagai ancaman. Misalnya bagi pertumbuhan rasa dan semangat berbangsa dan bernegara bagi masyarakat dalam suatu negara, tidak terkecuali Indonesia. Tidak sedikit pula, generasi muda di Indonesia yang mengidentikkan dirinya dengan nilai atau kultur global. Dengan kata lain, mereka lah generasi yang paling rentan terpengaruh globalisasi, baik langsung maupun tidak langsung.

IT Menjadi Tantangan Terbesar

Tantangan terbesar generasi penerus bangsa saat ini ialah kemajuan teknologi informasi yang sangat cepat. Kemajuan teknologi informasi kini telah merubah hubungan antar negara serta pola hubungan antar manusia. Kecanggihan teknologi komunikasi memberikan profit yang sangat besar. Salah satunya memungkinkan manusia bisa berhubungan dan berkomunikasi setiap saat, dan tentunya tanpa batas. Hal ini dapat memberikan kontribusi positif bagi proses pembangunan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Namun di sisi lain, teknologi informasi dapat digunakan sebagai sarana melemahkan ketahanan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan suatu negara. Dibuktikan dengan munculnya berbagai ketidakstabilan beberapa negara, yang diakibatkan oleh pembentukan opini publik dan penyebaran dokumen-dokumen rahasia. Yang paling marak yaitu melalui situs-situs yang memanfaatkan jaringan internet, yang seringkali dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Revitalisasi Kesadaran Bela Negara

Kesadaran untuk merevitalisasi tindakan bela negara, bisa dimulai dengan melestarikan kekayaan budaya yang dinilai sangatlah penting. Terutama kebudayaan daerah yang beraneka ragam. Melalui kekayaan budaya yang kita miliki, setidaknya kita dapat meminimalisir situasi, yang mana kekayaan daerah Indonesia telah diakui sebagai hasil kebudayaan asli mereka.

Contoh lainnya, sebagai pelajar, kita dapat mewujudkannya dengan sikap rajin belajar. Sehingga, akan memunculkan sumber daya manusia yang cerdas, serta mampu menyaring berbagai macam informasi yang berasal dari pihak asing. Dengan demikian, kita juga bisa mengantisipasi agar masyarakat tidak akan terpengaruh dengan adanya informasi yang menyesatkan, yang biasanya bersumber dari budaya asing dan belum jelas asal-usulnya.

Selain itu, perlu adanya kepatuhan dan ketaatan pada hukum yang berlaku. Hal ini tidak lain sebagai wujud rasa cinta tanah air dan bela bangsa. Dengan taat pada hukum yang berlaku, akan menciptakan keamanan dan ketentraman bagi lingkungan, serta mewujudkan rasa keadilan di tengah masyarakat.

Contoh lainnya bisa dengan mencegah dan memberantas korupsi. Korupsi merupakan penyakit bangsa, karena merampas hak warga negara untuk mendapatkan kesejahteraan. Dengan mencegah dan memberantas korupsi, kita akan membantu masyarakat dan bangsa dalam meningkatkan kualitas kehidupan.

Tidak berhenti sampai di situ, upaya merevitalisasi kesadaran bela negara dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas perilaku kehidupan beragama. Melalui pendidikan agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang dilakukan setiap umat, perlu dipererat dan ditingkatkan. Supaya dapat mencegah perilaku-perilaku menyimpang dari ajaran yang sebenar-benarnya, seperti halnya SARA dan Terorisme.

Penerapan Bela Negara

Persepsi bahwa bela negara identik dengan perang telah menjebak pemahaman bela negara sama dengan wajib militer. Bela negara nyatanya memang tidak dipaksakan kepada seluruh warga negara, dan lebih diorientasikan untuk memupuk rasa nasionalisme dan patriotisme dalam diri setiap warga negara. Maka, setiap warga negara memiliki porsi yang sama perihal pembelaan negara. Meskipun dalam bentuk penerapannya bisa jadi sama sekali berbeda.

Dalam pelaksaan pembelaan negara, seorang warga negara bisa melakukannya baik secara fisik maupun non fisik. Pembelaan negara secara fisik dapat dilakukan dengan cara perjuangan mengangkat senjata, apabila ada serangan dari negara asing terhadap kedaulatan bangsa. Sedangkan pembelaan negara secara non fisik, bisa diartikan sebagai, semua usaha guna menjaga bangsa serta kedaulatan negara melalui proses peningkatan nasionalisme.

Nasionalisme sendiri adalah rangkaian kecintaan dan kesadaran dalam proses berkehidupan dalam bernegara dan berbangsa, serta upaya untuk menumbuhkan rasa cinta pada tanah air. Di sisi lain, pembelaan dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan keaktifan dalam berperan aktif untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan negara. Manfaat rasa nasionalisme dan bela negara,  akan menumbuhkan pemahaman terhadap Bhineka Tunggal Ika, menghormati  simbol-simbol kenegaraan atau simbol bangsa, serta bangga dengan produk budaya sendiri.



Muhammad Yusril Nezarulloh
Mahasiswa UPN Veteran Jatim Prodi Teknik Industri. Bisa dihubungi di Email: nzrtuv@gmail.com

0 Response to " Revitalisasi Bela Negara dalam Menghadapi Globalisasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel