Menilik Kembali Isu Perempuan Miskin dalam Bingkai Pendekatan Kontekstual Abdullah Saeed

Menilik Kembali Isu Perempuan Miskin dalam Bingkai Pendekatan Kontekstual Abdullah Saeed

Penulis: Neli Zulfa Diana

Keadaan perempuan yang mandiri dan turut bekerja pada zaman sekarang, merupakan sebuah perubahan yang baik bagi perempuan. Kebanyakan perempuan dewasa ini, tidak lagi menggantungkan hidupnya hanya kepada laki-laki atau suami mereka. Keadaan ini, yang menjadi pembeda dan tidak lagi sesuai dengan gambaran perempuan pada zaman Nabi.

Perempuan pada zaman Nabi, sebagian besarnya dianggap menggantungkan hidupnya kepada laki-laki, bisa kerabat ataupun suami. Melihat realita tersebut, dirasa perlu adanya upaya untuk menyesuaikan keadaan yang telah berubah seiring berkembangnya zaman. Agar Al-Quran tetap dalam koridor semangat umat. 

Menyorot perubahan kondisi tersebut, Abdullah Saeed, salah satu tokoh yang memang konsen kepada isu keperempuanan, menawarkan sebuah perspektif baru. Abdullah Saeed menawarkan tafsir dengan pendekatan kontekstual. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang memfokuskan kajiannya pada upaya untuk memberikan penafsiran, sesuai dengan kondisi dunia modern saat ini.

Pendekatan ini bukan hanya sebatas respon dari tuntutan zaman, melainkan juga merupakan respon terhadap kaum konservatif dan pendekatan otoriter yang mendukung kaum tradisional saat ini. Maka, pendekatan ini lebih banyak dikenal dengan gerakan kritik sosial, daripada kritik ideologis.

Jika dilihat secara umum, terkait pemahaman terhadap Al-Quran dengan menggunakan pendekatan kontekstual ini, kita dapat menandai dari dua hal. Yaitu dalam konteks yang sempit (a narrow context), dan konteks yang lebih luas (a broad context). Pada konteks yang sempit, kajiannya masih beredar pada kata atau kalimat yang ada di sekitar Al-Quran. Sedangkan tahap yang lebih luas—kaum kontekstualis—harus mengembangkan kajiannya pada dua aspek. Yaitu konteks sosio-historis pewahyuan, dan konteks di mana Al-Quran ditafsirkan.

Terkait dengan konteks sosio-historis pewahyuan, maka penafsir perlu mengulas kembali tentang penerima wahyu pertama, yaitu Nabi Muhammad Saw serta kehidupan yang melingkupinya. Dan konteks di mana Al-Quran ditafsirkan, maka penafsir perlu melihat tentang bagaimana kehidupan sosial di tempat Al-Quran ditafsirkan.

Oleh sebab itu, jika dilihat dari penjelasan tentang pendekatan kontekstual ini, kita dapat menjadikan ayat terkait dengan pembagian waris untuk membantu meringankan beban perempuan miskin. Meskipun jika dilihat secara literal, tafsir tentang ayat pembagian waris menunjukkan bahwa pembagian warisan antara laki-laki dan perempuan—dengan posisi sama dalam keluarga (saudara)—mendapatkan bagian yang berbeda.

Laki-laki mendapat bagian warisan lebih banyak (dua kali) dari bagian perempuan. Hal ini sesuai dengan keadaan sosio-historis saat itu. Sebab, pada kehidupan pra-Islam hingga memasuki Islam awal, perempuan seringkali bergantung secara ekonomi dengan kerabat pria atau suami. Sehingga, pria dianggap layak mendapatkan warisan dengan jumlah yang lebih besar. Lantaran mereka akan bertanggung jawab pada hidup perempuan.

Hal ini menunjukkan bahwa, setiap penafsiran dan pemahaman ayat Al-Quran, memang disesuaikan dengan konteks sosial saat itu. Serta atas dasar pertimbangan dapat memberikan lebih banyak kebaikan.

Namun, di era sekarang, perempuan sudah banyak yang mandiri secara ekonomi. Hal ini terbukti dengan banyaknya perempuan yang sudah melakukan pekerjaan publik sesuai dengan kemampuan mereka. Salah satu contohnya yaitu, perempuan yang berprofesi sebagai buruh gendong di Pasar Giwangan.

Pasar Giwangan merupakan salah satu pasar yang beroprasi 24 jam nonstop di Yogyakarta. Pasar ini merupakan pasar yang memperdagangkan sayur dan buah-buahan. Di sana kita tidak hanya akan dapat menemukan transaksi antara penjual dan pembeli, melainkan kita juga dapat menemukan buruh-buruh gendong yang sebagian besar adalah perempuan.

Para perempuan dan (atau) istri ini, bekerja sebagai buruh gendong karena faktor kemiskinan, dan penghasilan rumah tangga yang rendah. Mereka memilih bekerja sebagai buruh gendong karena lahan pertanian yang semakin berkurang. Para buruh gendong ini bertugas membantu membawakan barang belanjaan pembeli, atau menurunkan muatan dari kendaraan dengan cara menggendong barang tersebut. Mereka adalah perempuan yang berada dalam garis kemiskinan, dan bisa dibilang jauh dari angka kesejahteraan.

Sehingga, jika dilihat pada konteks saat ini, fakta bahwa banyak perempuan Muslim yang hidup dengan mandiri secara ekonomi, salah satunya lantaran sudah terbukanya kesempatan kerja yang sama dengan laki-laki. Adanya pemahaman teks Al-Quran yang berkaitan dengan perempuan ini, penting untuk menempatkan ayat-ayat waris dalam konteks yang lebih luas.

Bahwa demi terlaksananya kebaikan yang lebih banyak, kita perlu mempertimbangkan fakta bahwa pada konteks hari ini, perempuan telah mandiri dan bekerja. Maka, perlu adanya penyesuaian dengan menggunakan pendekatan ini. Sehingga nantinya tidak menimbulkan diskriminasi terhadap perempuan.




Neli Zulfa Diana
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Belum ada Komentar untuk "Menilik Kembali Isu Perempuan Miskin dalam Bingkai Pendekatan Kontekstual Abdullah Saeed"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel