Kapitalisme itu Perbudakan Modern. Utang Adalah Belenggunya

Kapitalisme itu Perbudakan Modern. Utang Adalah Belenggunya

Penulis: Herry Santoso

Sejak diluncurkannya aplikasi Kredivo yang bisa diunduh di Android, hingga kini, dan lantaran efek pandemi, aplikasi tersebut menjadi cukup populer. Setidaknya di kantor saya. Mulanya, seorang teman saya hanya menggunakannya sebagai alat pembayaran. Kalau kita belanja online, bayar via Kredivo itu cukup simpel. Lama-kelamaan, ia menemukan sebuah layanan di aplikasi ini yang memfasilitasi pinjaman dan bisa bayar belakangan. Tanpa bunga, jika disetor tak lebih dari 30 hari.

Tak cukup di situ, ia suatu ketika mendapat notifikasi bahwa ada plafon Rp 10 juta untuk tujuan bayar belakangan itu. Dengan tempo sampai 1 tahun atau lebih. Tentu ini pakai bunga. Pertengahan 2020 lalu, Kredivo menurunkan bunga pinjaman dari 2,9 menjadi 2,6 persen perbulan atau 30 persen pertahun. Jauh lebih tinggi dari Bunga patokan BI yang di kisaran 5 persen per tahun.

Maka, orang yang mulanya menggunakan Kredivo untuk bayar belanja online, kemudian menjadi sering memanfaatkan fasilitas utangnya. Awalnya, utang untuk pembelian pernak-pernik belanja online. Kemudian meningkat menjadi kredit smartphone. Lalu bisa saja akhirnya untuk beli Laptop.

Praktik Kredivo ini bisa kita sebut sebagai copy paste dari Alipay, Group dari Alibaba, di China. Perusahaan punya Jack Ma itu, merupakan pelopor sedari beberapa tahun sebelumnya di China. Dan itulah yang membuat Alipay jadi meraksasa.  Alipay, bersama We Chat Pay, adalah aplikasi pembayaran yang digunakan hampir seluruh warga China. Bukan hanya sekadar untuk belanja online.

Sudah sejak pertengahan dekade lalu, kalau misalnya kita membeli martabak di pinggir jalan protokol di Guangzhou, kita gak usah bayar. Cukup scan QR Code di meja kasir dengan gawai kita. Done. Tentunya, Alipay kita harus ada deposit. Bagaimana kalau tidak ada saldo, ya diisi lagi. Kalau gak ada uang. Ya berarti kita menggunakan fasilitas pinjaman. Dengan cara yang gampang. Gak pake ribet. Kemudian yang terjadi adalah, serupa yang terjadi dengan teman saya pengguna Kredivo itu tadi.

Kini, laporan terakhir menyebutkan, hampir dua-pertiga penduduk China yang 1,3 milyar itu, punya transaksi kredit dengan Alipay. Mulai dari utang makan siang, sampai utang untuk bayar kredit perhiasan mahal. Bahkan, beberapa di antaranya untuk utang usaha sekelas UMKM. Bunganya, diperkirakan 1,7 persen per bulan.

Yang ditawarkan Alipay dan Kredivo itu, hakikatnya adalah sebuah kemudahan. Jack Ma punya tujuan mulia. Membuka akses perbankan kepada masyarakat seluas-luasnya. Di titik inilah Jack Ma mengkritik regulator keuangan China.

Menurut Jack Ma, aturan yang mereka buat, menyebabkan bank-bank konvensional hanya berfungsi layaknya pegadaian. Kasih kredit tapi harus ada jaminan. Jadi, hanya orang-orang yang punya jaminan—dan itu berarti orang yang berpunya—saja yang bisa mengakses pinjaman bank. Tapi kemudian, disadari atau tidak, praktik semacam ini menimbulkan dampak sosial yang luas jika terjadi secara masif.

Sekarang yang terjadi di China adalah, karna begitu mudahnya kredit, banyak orang terutama anak-anak milenial yang terjerat dalam masalah utang digital ini. Banyak dari mereka yang membanting tulang, bekerja memeras keringat, hanya agar bisa membayar bunga dan cicilan.

Apalagi kebanyakan yang dicicil adalah pembelian barang konsumsi. Ketika kredit habis, barangnya pun menyusut nilainya. Kerja keras pun sia-sia. Tidak berwujud apa-apa. Situasi ini menimbulkan penyakit sosial yang parah. Bahkan ada banyak cerita, sampai ada dari mereka yang menjual diri atau bahkan bunuh diri, sebab masalah yang tidak terselesaikan.

Oleh karena itu, Pemerintah Komunis China perlu turun tangan. Instruksinya jelas, Alipay itu platform pembayaran. Bukan lembaga pembiayaan. Jadi harus kembali ke khittahnya itu. Di sini, ideologi komunis China menemukan ruhnya kembali.

Demikianlah kapitalisme bekerja dan menampakkan wujud aslinya. Mereka menggerogoti uang masyarakat. Secara halus. Tidak terasa. Dan itu tidak hanya di China. Juga terjadi secara masif di seluruh dunia. Termasuk Indonesia.

Begitulah caranya kaum pemodal memperbudak kaum pekerja. Dan di China, Jack Ma adalah tersangka utama sebagai pihak yang mempelopori. Sehingga, praktik ini jadi kian meluas, dan banyak menimbulkan korban.

Apalagi kemudian ramai tersiar bahwa, Jack Ma ternyata hanya punya saham tak lebih dari 5 persen di groupnya. Sebagian besarnya punya Soft Bank Jepang, dan beberapa pemain di Wall Street. Artinya, bunga pinjaman dari para pekerja di China dilarikan untuk memperkaya kaum kapitalis di luar negeri. Klopp. Gak pake Jurgen..hehe.

 

 

 

Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Berdomisi di Surabaya

0 Response to "Kapitalisme itu Perbudakan Modern. Utang Adalah Belenggunya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel