Es Teh Manis dan Puisi Lainnya

Es Teh Manis dan Puisi Lainnya
Ilustrasi: Herman Yosy

Penulis: Algo YP

Es Teh Manis

 

Bebutir-butir gula jatuh ke tanah

Berserakan tak tentu arah

Sementara aku sibuk memutar sendok searah

 

Bunyi gelas klontreng... klontreng...

Lekas kusuguhkan teh manis pada si Tuan yang dahaga

Dapat dipastikan dalam waktu dekat akan segera kuterima dua ribu rupiah

 

Kutunggu sambil duduk dan sawang awan berarak

Sekejap air teh rakus disuyup si Tuan, dan  yang tersissa tinggal batu es

Si Tuan pergi ku kira pipis

Ternyata Tuan tak kunjung datang dan lupa bayar dua ribu rupiah

 

 

Kecoa

 

Otot kakiku kejang..

Aku terlungkup balikkan badan...

Ku coba meraih udara...

pestisida rumahan ini sungguh menyiksaku perlahan...

Dasar manusia kurang ajar...

Hai kalian kecoa semak belukar......

Alam rimba jauh lebih dewasa

Ketimbang hamparan keramik rumah, dan manusia perkotaan...

 

 

Apa yang kau lihat sayang?

 

Nyala api dari perapian

Berkibar seperti sayap ngengat

Dan hal-hal yang kau lihat jelas bukan dariku

 

Kau dan aku selama lamanya

Berbaring di sini

Aman

 

Mengambang bagai perahu di tengah samudera

Aman

 

 

Sengatan Laba-laba

 

Kau meminta diantup di bagian kemaluan

Katanya itu punya sensasi yang berbeda

Meski banyak orang tua melarangnya

Kau tetap nekat melakukanya

 

Dan kini kau tumbuh menua

Gigi dan payudaramu tidak seindah belia

Masihkah kau suka sengatan laba-laba?

 

Kini jangankan sengatan laba-laba

,buang air kencing saja kau tersiksa

0 Response to "Es Teh Manis dan Puisi Lainnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel