Merayakan Kematian Sang Martir

Merayakan Kematian Sang Martir

Pernah membayangkan, ada sebuah dunia atau negara yang makanan pokok sehari-harinya adalah buah pisang? Bukan umbi-umbian, bukan gandum, dan bukan pula padi yang berubah menjadi beras—dan akhirnya berubah menjadi nasi—yang menjadi makanan pokok sehari-hari rakyat di sana. Tapi buah pisang. Ya, buah pisang. Buah yang berwarna kuning, lembut dan harus dikupas terlebih dahulu kulitnya jika ingin disantap. Buah yang diperkirakan para ahli sudah lebih dulu dibudidayakan oleh manusia ketimbang padi, dan diyakini pertama kali dilakukan di dataran tinggi Papua Nugini.

Ada salah satu buku novel yang saya baca ketika pandemi, yang secara utuh dan epik membahas buah pisang ini. Pisang dijadikan penulisnya semacam media perantara, untuk mewakili ide besar yang ingin disampaikan oleh sang penulis. Mulai dari tipu muslihat, kepercayaan, ketakutan, dan kebenaran, semuanya dirangkul oleh pisang dalam buku ini. Uniknya, setelah membaca buku ini, saya merasa menjadi lebih menyukai buah berwarna kuning ini. Bisa jadi, ini adalah bukti bahwa penulisnya memiliki sebuah pembeda dari penulis sastra kebanyakan.

Novel yang bersampul kuning ini, persis dengan pisang yang menjadi tema pokok di dalamnya, dan bagaikan samudera imajinasi yang terbilang sulit untuk diselami. Walaupun disebut-sebut sebagai novel yang paling manusiawi yang pernah dibuat oleh penulisnya, saya rasa kebenarannya tidak sesederhana itu. Novel ini, adalah sebuah karya yang terbilang tidak biasa. Karena tingkat kesulitan membuatnya terbilang tinggi. Yang belum tentu, ada karya sejenis ini dalam kurun waktu 50 tahun sekali.

Pertanyaanya, apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh Triskaidekaman sendiri? Apakah sekadar berakhir dan selesai menjawab tantangan pribadi yang ditujukan padanya? Ataukah ada maksud lain yang tersembunyi di balik itu? Hemat saya, pertanyaan kedualah yang lebih relevan untuk kita jawab, ketika mengulas sekaligus membedah novel ini.

Mendorong Batas, Melampaui Kekurangan

Mari kita awali membedah novel ini dengan alur cerita yang ada di dalamnya. Triskaidekaman, memperlihatkan kepiawaiannya dalam menyusun alur cerita berdasarkan fantasi-imajinasinya. Terbukti, ia mampu memasukkan tujuh plot sekaligus dalam novel ini. Buku ini, selanjutnya bisa kita sejajarkan setara dengan novel Cantik Itu Luka, karya Eka Kurniawan.

Bukan tanpa sebab saya  mensederajatkan novel ini dengan Cantik Itu Luka. Pasalnya, master piece Eka Kurniawan tersebut, jika kita cermati lebih lanjut, bisa ditafsirkan sama dengan kumpulan cerpen. Yang setiap bagiannya, bisa digolongkan menjadi sebuah cerpen yang utuh. Begitu pula dengan novel CAD*L ini. Hampir semua bagiannya, bisa kita sebut sebagai sebuah cerpen tersendiri. Yang pada akhirnya, dirajut menjadi sebuah novel utuh. Dengan kata lain, novel ini ibarat anyaman cerita bersambung (cerbung) tanpa terlihat bekas jahitannya.

Bukan, bukan berarti saya menyebut novel ini sebagai sebuah karya sempurna yang tanpa celah. Tentu saja novel ini masih punya celah dan kekurangan. Akan tetapi, menjadi hal yang melelahkan kalau kita hanya mencari-cari kelemahan dalam novel ini. Maksud saya, yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa menemukan batasan yang telah didorong Triskaidekaman, sampai akhirnya ia menghadirkan novel ini kepada kita.

Berbicara batasan yang terdapat pada diri seorang penulis, biasanya terletak di kekurangan referensi bacaan serta perbendaharaan kata. Selama ini, tentu banyak sebagian dari kita yang mengamini hal tersebut. Belum lagi anggapan bahwa hal tersebut adalah masalah yang fatal bagi seorang penulis. Tentu, dengan kata lain batasan tersebut akan mengganggu kelancaran seseorang dalam menulis. Maka tidak menjadi masalah, dengan anjuran untuk selalu menggunakan KBBI ketika sedang  menulis.

Namun, apakah semua penulis punya pikiran yang sama tentang hal itu? Rasanya mustahil bukan? Nah, di sini pulalah letak kepandaian dan kecerdikan Triskaidekaman saya rasa. Ketika hari ini semakin banyak polisi bahasa yang berdalih harus sesuai kaidah KBBI, Triskaidekaman mencoba membalik logika tersebut melalui novelnya ini. Dengan batasan yang sengaja ia buat—yaitu dengan memakai teknik lipogram—dan memilih salah satu huruf hidup yang dihilangkan, ia menggunakan banyak kata yang tidak bisa tidak, harus dicari padanannya di KBBI.

Singkat kata, batasan semula yang ia buat dan dianggap sebagai hal yang mustahil bagi kebanyakan orang, mampu diakali oleh Triskaidekaman. Hal ini tidak lantas menjadikan ia sebagai pelanggar berat aturan kaidah yang ada di KBBI. Maksud lainnya yang masuk akal adalah, dengan mencari padanan kata sekaligus memakai kata yang tidak baku menurut KBBI, Triskaidekaman secara tidak langsung mengenalkan kembali keragaman tuturan atau pengucapan yang masih melekat di kebanyakan dari kita.

Mari kita simak salah satu dialog dalam buku ini yang secara tidak langsung juga menjadi keresahan penulisnya. “Jika kusisipkan Huruf Itu di antara huruf D dan huruf L, maka kita akan ingat pada orang yang tak mampu lafalkan huruf R. Itu jugalah yang dialami warga Wiranacita. Namun, alih-alih huruf R, yang jadi tumbal adalah huruf Itu. Lidah kami bukan lidah pilihan. Lidah rakyat sudah dilumpuhkan habis-habisan. Tak salah lagi: C-A-D-dan-L ini pastilah satu kata utuh. Ini bukan judul hasil cocok-cocokan atau akronim asal-asalan. Ini judul yang disiapkan baik-baik” (hlm 136).

Inilah yang lantas saya sebut sebagai upaya mendorong batas. Tidak berhenti sampai di situ, Triskaidekaman tampak jelas melampaui kekurangan-kekurangan yang ada, atau kekurangan-kekurangan yang sengaja dibuat sebagai sebuah kekurangan. Karena baginya, menghilangkan sebuah huruf hidup dalam menciptakan sebuah karya, tidak lagi menjadi soal dan menjadi kekurangan yang patut dikutuk. Lebih jauhnya lagi, Triskaidekaman sudah melakukan lompatan besar yang patut ditiru dan diteruskan di kemudian hari.

Dalam hal ini, si penulis menjadi seorang inisiator tangguh. Yang tidak bisa dipungkiri, akan menjadi salah satu kiblat kepenulisan dengan menggunakan teknik lipogram nantinya. Apakah akan ada yang meniru dan meneruskan jejaknya? Saya rasa patut kita tunggu. Ditambah lagi, novel ini sekaligus menjadi pembuktian kualitas sastra kita sedang naik-naiknya, dan tidak kalah dengan sastra negara lain, yang berasal dari belahan dunia lain sekalipun.

Mengakomodasi Rampai Kerisauan

Membaca novel ini, mengingatkan saya pada buku Fernando Baez yang berjudul Penghancuran Buku: dari Masa ke Masa, dan buku Demokrasi Kedaruratan: Memahami Filsafat Politik Giorgio Agamben, karya Agus Sudibyo. Penghancuran buku, adalah ide dasar yang terdapat dalam novel ini. Sebagaimana kita ketahui bersama, penghancuran buku sudah menjadi hal yang wajar dari masa ke masa. Bukan hal yang aneh, jika suatu rezim bisa goyah hanya karena sebuah buku. Selain memang mengandung pengaruh yang luar biasa, sebuah buku juga merupakan kumpulan ide yang abadi bagi penulisnya, dan ibarat penyambung lidah suatu kebenaran.

Berangkat dari ide tersebut, Triskaidekaman menciptakan konflik yang terasa begitu jelas di kehidupan nyata kita. Ia seakan mampu menyeret pembaca melewati dinding penghalang atau pembatas antara sastra dan realita. Yang selama ini, dianggap oleh kebanyakan dari kita setebal tembok beton. Padahal, nyatanya hari ini sastra dan realita, hanya dibatasi oleh penyekat setipis kulit adam. Tidak lain tidak bukan, dengan ini penulis menugasi kita berefleksi dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Tidak hanya soal apa yang terkandung dalam sebuah buku, tetapi juga apa yang mampu dipengaruhi dan dirubah olehnya.

Seperti yang kita ketahui bersama, bicara tentang buku tidak akan pernah sederhana. Mulai dari proses panjang menulisnya, tantangan yang ada di dalamnya, sampai dengan kesulitan memasarakan buku itu setelah lahir ke dunia. Hal ini yang selanjutnya juga menjadi sorotan penulis. Ketika hari ini buku banyak yang bajakan, dan minat baca berkurang, nasib para penulislah yang paling dipertaruhkan. Hal tersebut tergambar jelas dalam buku ini: “Namun, aku ingat bahwa yang harusnya kulakukan adalah sibuk cari uang dari toko pisang agar aku bisa skripsi tahun ini, bukannya baca buku, apa lagi buku fiksi atau kumpulan puisi (hlm 15).

Tidak hanya itu, buku ini ibarat mewakili pemikiran radikal filsuf Italia Giorgio Agamben, tentang demokrasi kedaruratan. Pemikiran Agamben tentang state of exception serta homo sacer-nya, tampak jelas dalam buku ini. Bukan, tentu saja ini bukan cocokologi yang tidak berdasar. Mari kita lihat akhir maklumat ketiga yang ada di dalam buku ini;

“ Saudara-saudari yang tidak laporkan bukunya atau coba-coba mangkir dari amaran ini dapat dijatuhi hukuman mati dalam waktu 30 (tiga puluh) hari pascadakwaan. Putusan hukuman mati ini sifatnya otomatis (tidak butuh putusan hakim) dan mutlak, alias tidak dapat diganggu-gugat. Putusan baru dapat dicabut dalam kondisi khusus, yaitu jika ada grasi atau abolisi yang langsung datang dari saya” (hlm 45).

Berdasarkan akhir isi maklumat ketiga tersebut, tampak keadaan-darurat atau keadaan-perkecualian, serta terdapat manusia yang bisa dikorbankan dengan impunitas. Maklumat tersebut tidak lain tidak bukan, merupakan sebuah paksaan yang datang dari Zaliman sang diktator sebagai tokoh antagonis dalam novel ini. Dengan adanya pengecualian, yang didapat berdasarkan kehendak sang diktator, maka kondisi yang terjadi di Wiranacita melulu adalah keadaan yang darurat, bukan?

Ya, novel ini juga mengkritik kepemimpinan yang dengan mudahnya gonta-ganti status kedaruratan, tanpa adanya pikir panjang dan memikirkan rakyat. Oleh karena itu, novel ini sekaligus juga menunjukkan sebuah krisis yang niscaya terjadi di negara manapun, apabila rakyatnya tidak menjadi bahan pertimbangan. Hal inilah yang lantas saya sebut penulisnya mengakomodasi rampau kerisauan.

Di akhir buku, kita akan menyadari betul siapa yang menjadi tokoh utama dalam novel ini. Ya, dialah Lamin. Pemuda yang akhirnya memilih mati menjadi seorang martir. Tanpa pernah ada grasi dan kisahnya berakhir dengan diabolisi. Hingga akhirnya kita tersadar, bangsa yang besar patutkah takut dan minta ampun pada abjad-abjad yang ada di dalam buku? Apakah semuanya akan selalu berakhir dengan keabsurdan? Apakah hidup melulu sebercanda itu? Dan apakah wajar jika akhirnya kita merayakan sebuah kematian?

Pada akhirnya, entah dengan kata dan kalimat apa yang pas mewakili novel karya Triskaidekaman ini. Berawal dari sebuah tantangan untuk membuat tulisan satu paragraf dengan memakai teknik Lipogram, ia menjawab dan melampaui tantangan itu dengan langsung menulis satu buku! Kegilaan, hanya kegilaan yang saya rasa ada di benaknya. Bukan candaan dan gurauan lagi yang melekat padanya, tapi sebuah kenekatan dan keberanian yang patut kita hormati. Terlebih lagi jika mengingat buku ini terbit bertepatan dengan masa-masa pandemi. Dan mari kita doakan, buku ini tidak menjadi kerdil dan bonsai di kemudian hari.

 

Identitas Buku

Judul: CAD*L: Sebuah Novel Tanpa Huruf E

Penulis: Triskaidekaman

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Maret, 2020

Tebal: 284

0 Response to "Merayakan Kematian Sang Martir"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel