Keberanian, Teman, dan Pendamping

Keberanian, Teman, dan Pendamping

Keberanian memiliki lebih dari dua sisi pengertian yang berbeda. Pertama, sebagaimana keberanian yang berdasarkan pandangan umum. Bahwa berani itu tidak takut terhadap segala sesuatu selagi merasa benar. Dengan kata lain, tidak akan pandang bulu sama sekali. Kedua, keberanian pada saat keadaan dan waktu tertentu. Misalnya saat merasa senang atau ketika terdesak. Ketiga, keberanian dengan rasa superior, karena merasa lebih dibandingkan orang lain. Dan tentu saja masih banyak lagi pengertian tentang keberanian lainnya.

Dari sekian banyak pengertian soal keberanian, di tulisan ini saya akan membahas keberanian berdasarkan nomor dua di atas. Alasan pertama, keberanian semacam ini, tentu saja bisa berlaku untuk semua orang. Sebab, saya rasa hampir semua orang pernah mengalami dua kondisi—senang dan terdesak—di dalam hidupnya. Alasan selanjutnya, keberanian semacam ini lebih menarik untuk dibicarakan. Pasalnya, keberanian semacam ini sering kali tidak terduga muncul pada diri seseorang, dan lebih sering berasal dari alam bawah sadar seseorang.

Tidak hanya itu saja, keberanian semacam ini yang biasanya menjadi titik tolak perubahan hidup dalam diri seseorang. Contoh kecil, misalnya ada seseorang yang selama ini memendam perasaan pada orang yang disukainya. Selama bertahun-tahun, orang ini tidak berani mengungkapkan apa yang ia rasakan. Sebab, ia merasa bahwa hal itu tidak penting dan lebih mengarah pada rasa takut. Karena, ia berpikir bahwa perasaan suka yang ia rasakan, akan bertepuk sebelah tangan.

Dalam contoh kasus ini, kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa keberanian orang ini kalah dengan rasa takutnya. Padahal, ada dua hasil kemungkinan yang sama-sama kuat. Kemungkinan pertama, rasa suka tersebut akan bertepuk sebelah tangan. Dan kemungkinan kedua, rasa suka tersebut akan terbalaskan. Sebab orang yang disukainya juga merasakan hal yang sama. Saya mengatakan kemungkinannya sama kuat, sebab, perasaan tersebut belum diutarakan, dan hasilnya tentu saja masih menjadi misteri, bukan?

Namun, apa jadinya kalau orang tadi berani mengungkapkan perasaannya? Meskipun ditolak, tentu pada akhirnya akan ada sesuatu yang berubah darinya. Setidaknya, hal yang selama ini masih menjadi misteri, sedikit-banyak akan terjawab. Ditambah lagi, orang tadi akan menjadi lebih leluasa, dan bayang-bayang ketakutannya perlahan-lahan akan berkurang. Jika sudah demikian, maka niscaya orang tadi akan berangsur-angsur lepas dari jeratan ketakutan yang selama ini menghantui.

Sebenarnya, keberanian yang saya bahas ini, tidak dengan cara yang mudah dan sederhana akan muncul. Banyak faktor lain yang memengaruhi keberanin seperti ini akan muncul. Salah duanya adalah teman dan pendamping. Bisa juga lingkungan sekitar dan aktivitas yang ditekuni. Akan tetapi, terlalu luas untuk membedah dua faktor terakhir itu di dalam tulisan ini. Saya akan fokus pada dua faktor awal yang saya sebutkan barusan.

Sebetulnya, tulisan ini adalah hasil refleksi pribadi saya setelah menonton film The SpongeBob Movie: Sponge on the Run beberapa waktu lalu. Film ini merupakan salah satu film yang saya anggap berkesan di benak saya. Bukan hanya lantaran serial SpongeBob adalah serial yang menemani masa kecil saya, namun karena film ini memiliki tingkat kompleksitas akut kalau hanya sekadar dalam rangka mengenang Sang Pencipta SpongeBob.

Secara filosofis dan konsepnya, banyak hal yang ingin disampaikan melalui film ini. Lamun, hal tersebut malah menjadikan film ini terasa amat singkat dan terkesan terburu-buru diselesaikan. Konflik dan klimaks yang dimunculkan amat tergesa-gesa, dan tentu saja menghasilkan rasa kurang puas pada diri penonton akhirnya. Walau begitu, film ini ibarat perahu yang sekali dayung, dua-tiga pulau langsung bisa terlampaui. Gara-gara alur ceritanya yang mampu membuat penonton tertawa dan berpikir sekaligus.

Dari adegan awal sampai akhir film, akan banyak kita temui dialog-dialog menohok yang saya tebak adalah cerminan singkat dari kisah sang kreator SpongeBob. Dialog pertama datang dari istri Plankton, yaitu Karen. Karen berbicara sekaligus mengingatkan Plankton, bahwa usahanya—selama ini yang ingin mencuri resep Krabby Patty—“sudah kehabisan ruang di daftar kegagalan.”

Dari dialog tersebut, bisa kita artikan bahwa setiap orang memang diberikan jatah kegagalan. Jatah kegagalan dari setiap orang pun pastinya berbeda-beda. Dan dari sekian kegagalan tersebutlah, selanjutnya setiap orang akan belajar dan naik tingkat, serta bertambah kualitasnya. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, film ini benar-benar mengajak penonton untuk bisa tertawa dan berpikir sekaligus. Apalagi ditambah kalau kita mengingat semua adegan kegagalan yang Plankton alami.

Memang benar, setiap kegagalan tidak semuanya bisa disebut sebagai kenang-kenangan berharga. Sebab, kegagalan hanya akan menjadi kenang-kenangan berharga bagi orang yang mampu mengambil hikmah di baliknya, dan semua orang belum tentu bisa mendapatkan hal tersebut. Sebagaimana yang sudah saya singgung di awal tulisan ini, butuh sebuah keberanian untuk merasa siap gagal. Walaupun sebagian dari kita tidak pernah merasa siap, kegagalan akan memaksa kita untuk menghadapinya, cepat atau lambat.

Selain membincang soal hal mendasar seperti kegagalan, film ini seakan mengkonfirmasi bahwa perkembangan teknologi itu adalah hal yang niscaya. Di masa depan, di mana semuanya akan serba otomatis, kendatipun dipaksa dan dibuat otomatis—bahkan mungkin juga sakit perut—akan sulit untuk kita menampik hal tersebut. Kekhawatiran umat manusia selama ini, tentang digantikannya semua pekerjaan oleh robot, turut disinggung pula dalam film ini. Tidak hanya itu saja, sesungguhnya film ini secara tidak langsung mengajak kita untuk mempersiapkan segala kemungkinan terburuk, yang akan terjadi karena perkembangan teknologi.

Belum habis sampai di sana, film ini seperti memberi gambaran kegilaan yang akan terjadi di masa depan. Salah satunya ialah persaingan yang ketat, bahkan di antara para ilmuwan sekalipun. Faktanya, film ini sekalian mengkritik seluruh pemerintahan atau rezim yang otoriter. Rezim yang biasanya hanya menunjukkan pencitraan, atau sisi baiknya saja, dan kecil kemungkinan mengakui segala kekurangannya.

Dalam hal ini, gambaran raja Poseidon mengingatkan saya pada realitas yang ada di Indonesia. Terkhusus pada presiden yang sekarang memimpin Indonesia. Di film ini, Poseidon digambarkan sebagai raja yang hanya mementingkan penampilan saja, dan menganggap bahwa hal di luar penampilan bukan hal yang penting. Bagi Poseidon, citra baik adalah nomor satu, dan kebahagiaan, kesejahteraan, keamanan rakyatnya urusan belakangan. Tipikal pemimpin seperti Poseidon ini, saya rasa sudah menjadi hal yang jamak di kalangan penguasa dewasa sekarang ini.

Uniknya lagi, Poseidon tidak hanya ditampilkan dengan satu gambaran saja. Tobatnya Poseidon di akhir film, mengingatkan saya kepada Soekarno menjelang akhir kepemimpinannya. Perasaan tidak terima karena dikritik, terutama oleh orang yang tidak punya pengaruh seperti SpongeBob, awalnya membuat Poseidon naik pitam. Namun, Poseidon pun akhirnya menyadari, kalau yang selama ini ia lakukan bukanlah tindakan yang benar. Hal itu semakin membuat Poseidon mirip dengan Soekarno. Dan iseng-iseng saya menebak, film ini turut terinsiprasi oleh kisahnya Soekarno.

Hal yang membuat saya terpukau lainnya, film ini juga menyisipkan soal isu lingkungan. Dengan cara yang teramat halus, membuat kritikannya begitu mengena bagi saya. Diceritakan, bahwa terjadi kelangkaan spesies siput, dan oleh sebab itu pula Gary siputnya SpongeBob sampai dicuri oleh Plankton. Hal tersebut juga mengkonfirmasi soal pentingnya perlindungan hewan langka, dan perlunya kita lebih peduli pada kondisi lingkungan akhir-akhir ini.

Keberhasilan SpongeBob di penghujung film, tiada lain juga dipengaruhi oleh faktor keberanian yang muncul dari dalam dirinya. Keberanian yang saya maksud tentu saja keberanian yang sudah saya singgung dari awal tadi, dan keberanian tersebut muncul lantara SpongeBob memiliki teman yang sekaligus berperan sebagai pendamping. Setelah melalui berbagai rintangan dan cobaan, memiliki teman yang mampu menjadi pendamping, adalah sebuah keuntungan tersendiri. Sebab, dari hal itu lah kita pada akhirnya tahu, siapa yang benar-benar menjadi teman kita sesungguhnya

Dengan munculnya film ini, sebenarnya sebagai semakin mengukuhkan bahwa, film SpongeBob itu benar-benar lintas usia. Bisa jadi, dalam waktu dekat saya belum bisa untuk mencontoh dan menerapkan apa yang disampaikan oleh Patrick tersebut. Dan menurut saya, bukanlah sebuah pekerjaan ringan untuk tidak merayakan sebuah kemenangan tanpa ada sebuah kecongkakan dan kepongahan. Kecuali, kita sudah menjadi dan berdiri di puncak, karena kita tidak akan butuh menjatuhkan orang lain lagi!

Terakhir, saya akan mengutip perkataan satir Patrick di akhir film, yang tidak bisa tidak membuat saya semakin kagum dengan film ini. Kurang lebih bunyinya seperti ini; “Terkadang, kemenangan harus dirayakan dengan biasa saja. Patrick Star.”

 

Data Film

Judul:  The SpongeBob Movie: Sponge on the Run

Sutradara: Tim Hill

Produser: Stephen Hillenburg, Chantal Feghali, Ryan Harris dkk

Aktor/Aktris: Tom Kenny, Rodger Bumpass, Bill Fagerbakke, Clancy Brown, Carolyn Lawrence, Mr. Lawrence, Jill Talley, Mary Jo Catlett, Lori Alan, Snoop Dogg, Flain Conesa,  Keanu Reeves dkk

Durasi: 91 menit

Produksi: Paramount Animation Nickelodeon Movies United Plankton Pictures Mikros Image

0 Response to "Keberanian, Teman, dan Pendamping"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel