BUNGKAM

BUNGKAM


Penulis: Sir Maul

Air mata di wajah sayu Bunda, tidak ada yang bisa menghentikannya dan tidak sepantasnya dihentikan. Bunda ingin menikmati dingin airnya sambil menatap halaman rumahnya, di atas balkon.

“Nafran, kamu cerdas, pantas untuk menjadi dokter seperti kami.”

Bunda berharap dapat kembali mendengar kisah-kisah menakjubkan Nafran—pecinta sains sekaligus seni rupa, putranya yang santun dan selalu tersenyum, permatanya—sebagaimana dahulu ia mendengar tangis Nafran di dunia.

“Nafran, denger! Sekali Bunda dan Ayah bilang engga ya pokonya engga.”

“Tapi itu impianku, Bunda!”

“Kamu gak akan pernah tau gimana rasanya khawatir dan kehilangan.”

“Bunda juga gak akan tau gimana rasanya gak pernah punya pilihan, selalu harus menuruti kehendak Bunda dan Ayah. Aku capek Bun!”

Jarum jam bergerak mundur tanpa detik-detik ringkih yang mengikutinya, suasana kali ini bagiku hening,  Aku memaku diriku sejenak, menyesuaikan situasi, udara, sewaktu aku menyadari akan hal yang sebelumnya, kukorbankan sebuah kertas dan pena. Dan ketika aku menyadari bahwa disekelilingku malam telah merambat menuju pekat. Mataku berkeringat sehingga meneteskan butir air yang keluar. Aku merasakan kesepian itu tampak nyata. Alunan lagu “Happy-skinnyfabs” bergema memenuhi seisi mobilku. Sudah satu jam lamanya aku berada di sini. Di dalam mobil hanya seorang diri, yang bertemakan dingin dengan derasnya hujan.

“Sial!”, aku bergegas mematikan musik, dengan menatap kembali rintik hujan yang turun mengenai mobilku.

Aku menatap keluar jendela, melihat pada sebuah rumah yang didominasi warna biru muda. Samar, hanya terlihat lampu pagar yang berwarna kuning yang begitu hangat.

“Hangat? Haha…Aku lupa seperti apa kehangatan memeluk tubuh.” Menggerutu dalam batinku.

Hujan mulai mereda, aku bergegas pergi lagi untuk menenangkan pikiranku yang berubah ketika aku kembali pulang.

Maya: Ran,kamu lagi dimana?

Tetap pesan masuk dari nama kontak yang sama

Maya: Tadi bunda chat gue, nanyain lo?

Ketika membaca notif pesan masuk di ponselku tanpa membuka polanya, membuatku harus menjauhkan ponsel. Aku menghela nafas dan mengusap wajah ketika membaca chat dari Maya. Entah sampai kapan hal-hal ini terulang.

Aku masih tak habis pikir dengan sikap orang tuaku yang selalu menanyaiku kepada Maya, sahabatku.

Ya. Aku Nafran Pradita. Padahal aku seorang laki-laki dan bukan lagi seorang anak-anak. Tolong, bagaimana bisa seorang laki-laki yang kini sudah duduk di semester tiga, di kategorikan sebagai anak kecil?

Tak berselang lama, ponselku bergetar pertanda ada yang menghubungi.

“Woi! Bales dong pesan gue, ini ortu lo nanyain terus”

“Gue masih di jalan, May. Bentar lagi nyampe rumah kok.”

“Oke dah, hati-hati”

Aku merasa kasihan dengan Maya yang selalu menjadi perantara orangtuaku untuk mengetahui keberadaanku ketika aku tidak di rumah. Aku memutar balik mobilku dan kembali pulang

 

***

 

 “Assalamu’alaikum” sembari membuka pintu.

“Dari mana saja kau, jam segini baru pulang?” Aku disambut dengan pertanyaan yang di telingaku terdengar seperti basa-basi semata. Jauh dari kata rindu apalagi perhatian.

“Biasa ada tugas, Bun. Aku ke atas dulu ya”

Tanpa menunggu jawaban, aku langsung lari ke kamarku. Sejujurnya aku lelah harus menampilkan wajah baik-baik saja, bahkan bosan bersikap manis. Meski memang, sudah kewajiban untuk menghormati orang tua.

Ketika aku berbaring di kamar untuk melepas penat, dengan menatap langit-langit ruang kamarku. Aku teralihkan ketika suara pintu mulai terbuka.

“Nafran, ayo makan dulu, Bunda pesenin makan malam buat kamu ya?”

“Enggak usah, Bun. Aku tadi udah makan” jawabku, untuk alasan agar aku tak perlu turun  bertemu dengan mereka.

“Oh ya sudah”, balasnya. Sambil menutup kembali pintu kamarku.

Aku mengganti pakaianku, dan bergegas ke tempat cucian di bawah untuk menyimpan baju kotor yang sudah menumpuk di kamarku.

Aku menepuk jidatku ketika sampai di bawah yang kebetulan Bunda dan Ayah sedang menonton TV langsung melihat ke arahku, lalu ia memanggil…

“Nafran”, ayah memanggilku dengan suaranya yang lantang.

“Iya, Yah?” jawabku, sembari membawa pakaian kotorku yang belum aku simpan di tempat cucian.

“Dari mana saja kamu tadi?”

“Biasa ada tugas dan aku menyelesaikannya di perpustakaan kampus, Yah” kembali mengelak.

“Syukur kalo begitu. Maksud Ayah bertanya bukan apa-apa nak, Ayah dan Bunda selalu mempertimbangkan masa depanmu, dan Ayah selalu ingatkan kamu untuk tidak melakukan hal yang dapat merugikan diri kamu sendiri, dan memalukan keluarga. Ayah seorang Dokter, jaga nama baik keluarga kita, kita dari keluarga terpandang. Ayah ingin kamu seperti Ayah, menggantikan Ayah kelak nanti. Kalimat itu aku dengar kembali, yang membuatku muak dan bosan dengan ucapan itu.

“Iyaaa, Ayah”, jawabku sambil menganggukkan kepala. Aku menjawab singkat agar aku bisa segera pergi dari tempat duduk itu. Sungguh, di saat rindu dan kesal membendung seperti sekarang, rasanya bukan saat yang tepat untuk aku berbincang denganya. Aku terlalu takut lepas kendali hingga nanti melukainya.

 

***

 

Mentari mulai naik dari tempat peraduannya, sinar emas menyelinap nakal, ranting-ranting pohon yang bergoyang. Burung-burung yang berjajar rapi pada dahan pohon, dan bersiul gembira, saling bersahutan, seperti memanjatkan doa-doa dengan bahasa mereka, pada akhirnya aku terbangun dari tidurku.

Kesendirian dan kesunyian dua hal yang paling gue sukai. Gue nggak ada temen, bukan nggk punya tapi gue yang nggak mau berteman, gue sengaja menutup diri, kecuali Maya teman sejak kecil yang tau gue.

Langkah kaki membawa gue memasuki sebuah resto. Kebetulan perut gue minta diisi, memang sudah waktunya makan siang. Saat liat resto begitu rame, mau mundur tapi cacing dah demo, terpaksa gue lanjutin makan di sini. Resto diisi oleh beberapa remaja yang masih berpakaian seragam sekolah, ibu-ibu arisan dan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan kedua anaknya yang lagi bahagia dalam tanda kutip.

Kenapa gue bilang bahagia dalam tanda kutip, sebab mereka cuma sibuk dengan ponsel masing-masing, berselfie ria lalu kembali sibuk dengan ponsel. Mungkin sedang mengupload foto-foto kebersamaan mereka di media sosial dan hastag quality time. “Pret!”pencitraan.

Sebenernya gue iri.

Iya, gue iri. Iri karena keluarga mereka lengkap. Iri karena mereka masih punya waktu untuk keluarga meskipun untuk pencitraan di media sosial. Iri karena gue gak bisa melakukan itu lagi.

Saat lagi makan, mataku melirik sebuah keluarga yang baru masuk. Benar-benar keluarga bahagia yang mana anaknya diperlakukan layaknya seorang ratu kecil. Sesekali tertawa dan kedua orang tua itu mencium pipi anaknya. Tak terasa air mataku menetes melihat pemandangan ini. Gue sakit melihat kebahagiaan seperti ini. Ingin rasanya gue menghampri mereka dan menegur “Jangan memamerkan kebahagiaan kalian di depan umum! Karena tidak semua orang sebahagia kalian! Kalian membuat saya iri.” batinku menggerutu keterlaluan.

Aku melanjutkan makan setelah melihat pemandangan yang menyakitkan itu, tiba-tiba seorang gadis kecil menyapaku. “Kakak! Masih ingat aku, gak? Aku Karin.” Aku mengerutkan kening saat menatap gadis kecil itu, aku menggeleng.

“Karin? Karin siapa? Gue gak pernah kenal sama orang yang bernama Karin apalagi gadis kecil ini kelihatannya begitu akrab sama gue.” Dalam hatiku penuh tanya.

“Dua hari yang lalu Kakak tolongin Karin, sudah ingat, kan?”

Lagi-lagi gue mengerutkan kening, gue yakin kerutan kening gue makin bertambah. Sama sekali gak ingat kalau gue pernah nolongin orang. Yang ada gue selalu bikin illfeel.

“Orang baik memang begitu, selalu lupa kalau sudah berbuat baik,” pujinya. “Ayah ini Kakak yang nolongin Karin waktu itu.” Gadis kecil itu memanggil Ayah-nya yang masih ada di pintu masuk.

Tanpa dipersilahkan mereka berdua duduk di meja gue, mereka memesan makanan, dan katanya makanan gue juga dibayarnya. Sebagai ucapan terimakasih katanya. Gue gak minta. Gue juga belum ingat kalau pernah nolongin orang dua hari yang lalu.

“Dari tadi saya lihat kamu selalu melihat ke keluarga itu, apa kamu kenal sama mereka?”

“Saya harus ke kampus.” langsung berdiri tanpa menjawab pertanyaan itu. Gue tahu ini gak sopan, tapi seperti inilah gue. Itu satu-satunya kalimat yang keluar dari mulut gue dari banyaknya pertanyaan dari Ayah dan anak itu.

 

***

 

Gak semua yang kelihatan sempurna bagus luar dalamnya. Gak semua hal yang kita anggap menyenangkan itu seindah kenyataannya. Dunia ini punya banyak cara menipu daya. Gue saat ini sedang berkumpul bersama teman-teman gue dihalaman kampus.

Andri mengambil gitar, dan meyanyikan sebuah lagu yang gue kenali sebagai lagu khalid-Talk. Andri memang hobi menyanyi. Banyak juga prestasi yang sudah diraih dari hobinya itu. Berbeda denganku, yang selalu memainkan sebuah pena dan kertas dan melukiskan atau bahkan mencatat apapun hal aneh menurut mereka. Sekali nyanyi, pepohonan ikut mual dengarnya.

Drrtt….drrttt…

Ponsel yang ada di saku celanaku tiba-tiba bergetar

“Halo, Bun?”

“……”

“Iya, bentar lagi pulang.”

“….”

“Astaga! Iya, Bun. Sekarang pul“

Nyokap gue kebiasaan kalau lagi kesal, telponnya dimatikan secara sepihak.

“Gue balik dulu, Guys! Nyokap gue udah kalap nih.”

Teman-teman gue memahami kondisi gue sekarang. Mereka pun mempersilahkan gue untuk pulang.

Katanya tempat paling ramah adalah rumah. Tempat paling hangat saat kita udah capek ngejar dunia. Katanya rumah adalah tempat paling nyaman, setelah seharian penat di luar dipenuhi kemunafikan orang-orang. Karena dirumah, kita bisa jadi diri sendiri. Tidak perlu pakai topeng, apalagi sandiwara. Di rumah juga, kita akan mendapatkan pelukan hangat, dukungan dan semangat.

Tapi, aku tak merasakan hal itu sama sekali. Menurutku rumah tempat paling ricuh dan paling mematikan. Tidak secara fisik, tapi hati mati pelan-pelan. Di rumah, tidak ada kehangatan yang gue dapatkan. Tidak ada lagi ketenangan apalagi kenyamanan.

“assalamu’alaikum?”

Tidak ada satu orang pun yang menyahut. Mereka ke mana? Pertanyaan itu yang saat ini muncul di pikiranku.

“Aku mau cerai,” ucap Ayah. Dengan raut wajah santai sambil menyeruput kopi buatan Bunda.

Tepat,setelah hari itu, setiap hari cuma ada teriakan, umpatan yang bikin perabotan di rumah makin habis. Layaknya seperti anak-anak kecil yang bertengkar canda. Setelah itu akan selalu ada tangisan nyokap. Mau ngelawan, jatuhnya gue jadi anak durhaka. Aku bisa apa? Selain diam di kamar sambil menatap kosong sebuah foto keluarga yang sangat bahagia. Sayang, itu cuma selembar kertas tidak bernyawa. Tidak ada artinya lagi, bahkan kenangan di dalam foto itu sudah cukup lama mati.

Kembali pada realita, suara barang pecah kembali menelisik telinga. Earphone mati yang aku pasang di telinga, nyatanya gak cukup meredam suara pertengkaran mereka. Sialan memang. Mau gak mau, terpaksa gue berdiri dan keluar dari kamar.

Gue pukul dan tendang apapun sekenanya. Entah itu TV, vas bunga, bingkai foto, semuanya gue sentuh dengan kerasnya gagang sapu. Bunda semakin histeris, sementara Ayah menatap gue dengan ekpresi wajah yang keras.

“Nafran, cukup!”

Sekuat apapun gue, teriakan nyokap bikin gue berenti. Gimana pun juga, dialah wanita yang jadi perantara beradaan gue di sini.

“Brengsek!” gumamnya.

Aku membanting sapu ke sembarang arah. Umpatan itu akhirnya lolos juga setelah mati-matian aku tahan.

Rumah ini gelap meskipun matahari di luar sana bersinar terang. Tidak ada satu barang pun yang diam di tempatnya seperti posisi awal. Kecuali nyokap yang masih berjongkok di sudut ruangan, aku tatap wanita paruh baya yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkanku ke dunia ini. Kemudian beralih ke menatap bokap yang masih mengatur napas sambil melonggarkan dasi. Seorang lelaki yang sejak dulu berwibawa, ramah, murah senyum, dan hangat. Tapi, sekarang beda ceritanya.

Tidak ada lagi sosok wibawa selain wajah penuh amarah, tidak ada lagi kehangatan yang aku rasakan selain kebencian. Senyumnya yang dulu, juga sudah hilang entah kemana.

“Mau kemana kamu, Nafran? Tidak ada izin kamu buat pergi!” teriak Ayah.

Aku langsung memakai helm dan menghidupkan motor. Dengan kecepatan tinggi, gue melesat meninggalkan rumah. Di tengah perjalananku tanpa tujuan itu, tiba-tiba kepalaku pusing, pandangan mulai samar. Hanya seperti ada cahaya yang menghampiri ku semakin dekat, dan setelah itu aku pun tak ingat apapun lagi, tak ingat apa yang terjadi.

 

***

 

Pantaslah jika sungai terbentuk dan urung hancur ketika permatanya, anak semata wayangnya, tertidur bersama lautan darah dari nadi yang terluka parah. Sebanding dengan duka, Bunda justru bertanya: mengapa bisa demikian?

“Nafran, kamu selalu tersenyum dan menceritakan banyak hal hebat pada Bunda, kamu tidak pernah mengeluh, lalu apa yang salah?”

Tidak ada yang sanggup menjawab, sedangkan suara itu, kisah-kisah itu...Menyiksanya secara perlahan.

“Ayo kita masuk, Bund”. Suara yang menyadarkan lamunanya. Ya, suara Ayah, tak lama ketika kepergian Nafran, mereka kembali membaik.

Pandangannya teralihkan ketika melihat kamar anaknya sedikit terbuka. Wajah Bunda masih mendung ketika ia memasuki kamar itu- yang tertata rapi meskipun orangnya telah pergi. Tidak ada lipatan di seprai biru tua dan komputer sempurna mendingin dengan partikel debu di sekitarnya.

“apa ini?”

“Ia telah menyusuri ruang memori ketika menemukan tumpukan kertas berkerut. Sebuah surat-catatan, mungkin, sebab wujudnya menyerupai kertas lusuh- yang amat santun, tulus, dan menohok di saat bersamaan.

Tuhan, maukah Engkau membaca catatanku kesekian kalinya?

Bunda, Ayah, aku ingin berkata bahwa aku sangat menyayangi kalian, tetapi kata itu selalu habis di tenggorokan: sama seperti saat aku berkata jurusan ini bukanlah keinginanku dan prestasiku tidak secemerlang banyangan Ayah dan Bunda. Aku ingin menjadi desainer grafis, tetapi sangat sulit percaya bahwa aku bisa (aku tidak akan bisa secemerlang Ayah ataupun Bunda). Aku tidak pernah yakin dengan cita-citaku, aku berusaha pasrah pada permintaan Bunda dan Ayah tapi rasanya sangat menyesakkan. Aku menuruti semua keinginan kalian, aku bertahan agar kita tetap baik-baik saja walaupun aku sendiri tidak merasa baik dengan semua ini. Tapi nyatanya, aku salah menilai  semuanya.

Bunda tercekat lama. Amat lama.

Hari itu, hujan turun memenuhi sungai Bunda-deras, sangat deras-bersamaan dengan ditemukannya banyak coretan kasar yang terselip di buku catatan, di kertas sampah, di meja kayu yang tak lagi mulus, di ponsel yang tidak pernah terkunci-lalu, barangkali, akan butuh banyak waktu bagi Bunda untuk berhenti menangis serta memaafkan dirinya yang gagal menjadi orang tua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 Response to "BUNGKAM"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel