Dialog Keresahan

Dialog Keresahan

Penulis:
Amar Syamsudin

 

Akhir-akhir ini, awan begitu candu membasahi bumi bagian selatan. Hadir tak terjadwal. Bebas. Semau dia membasahi bumi pukul berapa. Namun, angin sepoi-sepoi tak pernah berpindah tempat dan langit pun terlihat hilang wajah berserinya. Murung.

            Sore hari, tepatnya hari Rabu—tanggal merah yang mejebabkan jadwal kuliah menjadi libur nasional—seorang pemuda yang terbiasa dipanggil “Peot” oleh kawan-kawannya, kebingungan ingin pergi kemana. Ia pergi ke kampus tempat ia menempuh pendidikan. Ia hanya menemukan sepi di sana. Tak ada seorang pun. Ia pergi ke warung tempat biasa untuk sekedar nongkrong, tutup entah kenapa. Ia pergi ke rumah saudaranya, tak ada. Entah pergi ke mana. Akhirnya, ia hanya berputar-putar mengelilingi desa tempat ia tinggal. Ciluhur.

            Setelah lamanya ia berputar mengelilingi desa, tanpa ada tujuan yang pasti, ia pun lelah, dan memilih untuk berdiam sejenak di salah satu warung yang akan ia lewati.

            Tak lama ia menentukan untuk memilih berdiam di sebuah warung, ia pun langsung menemukan warung di pinggir jalan, dan tempat serta suasana yang terlihat dari warung tersebut pun sangat mendukung Peot untuk sejenak berdiam diri untuk berpikir ke mana ia akan pergi.

            Baru saja ia memesan kopi, juga beberapa batang rokok dari warung tersebut, pikirannya pun terlintas keinginan untuk menemui kawannya semasa di Sekolah Dasar yang sudah lama tidak ia temui. Delapan Tahun!

            “Bu, jadi berapa?”

            “Delapan ribu, Jang.

            Peot pun memberikan uang yang pas untuk membayar semua yang telah ia pesan.

            “Mau ke mana?” lanjut ibu penjaga warung.

            “Mau langung lanjut perjalanan, Bu. Lupa, udah ada janji.”

            “Loh, kopinya masih anget. Belum abis.”

            “Gak kenapa-napa, Bu. Perjalanannya masih jauh.”

            “Oh, ya udah. Makasih udah mampir.”

            Peot pun membalasnya dengan senyuman sambil mengayunkan setengah badannya ke hadapan ibu penjaga warung seraya berkata, “Sama-sama.” Lalu, pergi menuju rumah kawannya semasa Sekolah Dasar.

            Beberapa meter setelah meninggalkan warung tersebut, ia terbayang wajah ibu penjaga warung tadi dan ia pun bergumam, “Alamak, cantik kali. Muda pula,” sambil menggelengkan kepalanya kanan-kiri dan sudut bibir saling menarik satu sama lain. Sekali-dua sepeda motor yang sedang ia kendarai mengikuti gerak kepalanya. Ugal-ugalan.

___

Jarak Ciluhur tempat tinggal Peot ke Rawa Pare tempat rumah kawannya berada, sangatlah jauh. Sekitar 15 mil jaraknya. Peot menancap gas sepeda motornya hingga laju kendaraan tersebut sangat kencang.

            Peot sampai di Rawa Pare hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit lamanya. Alam belum berubah, masih dengan angin sepoi-sepoi dan langit pun belum menumpahkan tangisannya. Setelah sampai di desa Rawa Pare, Peot bingung. Ia lupa di mana rumah kawannya itu. Sudah banyak perubahan di desa tersebut. Yang ia tahu hanya: rumah kawanku dekat dengan tempat futsal.

            Ia bertanya pada masyarakat sekitar, di mana tempat futsal? Masyarakat kebingungan menjawab pertanyaan itu, tempat futsal mana yang dimaksud? Karena tempat futsal sudah banyak di desa tersebut. Peot hanya tahu satu cara: datang ke semua tempat futsal yang ada di desa!

            Tempat futsal pertama yang Peot kunjungi, bukanlah yang diinginkan olehnya. Tempat futsal kedua, sama. Tempat ketiga, juga. Ia belum putus asa untuk mencari keberadaan rumah kawannya. Ia pun bertanya kembali pada masyarakat, di mana lagi ada tempat futsal?

Sebelum dijawab oleh masyarakat, Peot mendengar suara knalpot yang sangat bising dan melihat seorang pemuda dengan badan yang sangat terisi serta memiliki badan yang cukup tinggi sedang duduk di jok belakang sepedah motor. Motor itu melaju pelan tepat di hadapan Peot.

            “BOTAK!” Teriak peot pada pemuda yang sedang dibonceng oleh lelaki yang terlihat lebih tua dari umurnya. Entah pamannya, entah tukang ojek, entah pamannya tukang ojek. Kita tak tahu.

            Pemuda yang diteriaki oleh Peot pun menepuk pundak pengendara sepeda motor yang sedang ditumpanginya, isyarat untuk berhenti sejenak. Pemuda itu masih duduk di jok belakang sepeda motor—tidak turun dari kendaraan dan tidak juga menginjakan kaki pada tanah—dan menatap Peot penuh telisik. Setelah lamanya ia mengamati Peot, ia pun mulai bersuara.

            “Yeh, Peot?”

            “Lah, iya, ini peot; kurus; cungkring,” Peot menjawab sambil menunjukan badannya memang benar-benar kurus. Tak berisi. Memperlihatkan dirinya dengan memperagakan gaya Cristian Ronaldo, atau bisa jadi memperagakan gaya Iron Man yang akan terbang namun telapak tangannya menghadap ke atas, tidak menghadap ke bawah seperti di film-film. “Terserah kau mau menyebutnya seperti apa!” Tegasnya sambil tersenyum menampakan gigi atasnya.

            Peot dan Botak pun tertawa bersama.

            “Mau ke mana?” Keduanya bertanya serempak. Mereka pun kembali tertawa.

            “Sudahlah, turun dulu kau dari motor itu.” Lanjut Peot.

             Akhirnya Botak menginjakan kakinya pada bumi dan turun dari kendaraan yang tadi ditumpanginya. Lalu, ia mengeluarkan beberapa uang kertas dan diberikannya kepada pengendara sepeda motor yang tadi membawanya. Pengendara itu pun pergi berlalu, dan Botak menyeberang jalan menghampiri Peot.

Peot pun menyambut kedatangan Botak yang telah menghampirinya dengan meninju perut milik Botak yang besar, sambil berkata, “Beda banget lu sekarang, Tak”

            “Haha, cobalah menikmati penderitaan, Yot. Belajar bahagia. Biar engga kurus mulu tuh badan.” Ledeknya.

            “Kemana aja kau selama delapan tahun?” Lanjut Botak.

            “Pesantren, Tak.”

            “Ya, ya, aku tahu kau ke pesantren. Semua kawan-kawan kita semasa Sekolah Dasar mengetahui itu. Tapi kemana seletah lulus? Atau, jangan-jangan, kau gak naik kelas selama dua tahun? Haha.”

            “Ya, terserah kau mau menganggapku ke mana selama dua tahun setelah lulus.”

            “Mau pergi ke mana kau tadi, Tak?” Lanjut Peot dengan pertanyaan.

            “Cibanjir. Ada urusan di sana.”

            “Oh ya, Sekarang kau sibuk apa? Kuliah atau kerja?” Lanjut Botak.

            “Kuliah, Tak. Baru masuk tahun ini.”

            “Ya, sudah kukira kau telat lulus. Haha.”

            “Terserah!”

            “Eh, Tak. Ada urusan apa kau di Cibanjir?”

            “Organisasi, Yot. Kawanku ada yang tertangkap sewaktu demo kemarin. Sekarang sisa dua orang lagi yang masih ditahan”

            “Owalah, berapa lama kau akan di Cibanjir?”

            “Ya, mungkin sampai hari Sabtu, Yot.”

            “Oke, aku ikut.”

            “Oke. Kebetulan hari ini sampai akhir pekan, libur nasional.”

            “Yap, aku tahu itu.”

            Peot mendongkakan kepalanya ke atas, melihat kondisi langit. Pun Botak mengikuti.

            “Pergi sekarang aja yu, Yot. Nanti keburu hujan.”

            “Oke, siap, Jendral!”

            Peot pun menyalakan sepeda motornya untuk memanaskan mesin motor tersebut. Lalu, menawarkan kepada Botak untuk mengendarai sepeda motor milik Peot, dan Botak pun mengiyakan tawaran dari Peot.

            Sayang beribu sayang, helm yang tersedia hanya satu. Untuk pengendara saja. Karena sebelumnya, Botak akan pergi ke Cibanjir naik kereta api lokal. Tidak berniat untuk pergi mengendarai sepeda motor.

            Cibanjir adalah desa yang sangat jauh dari desa Ciluhur tempat rumah Peot berada. Cibanjir adalah desa yang sudah berbeda Kabupaten. Kabupaten Kembang. Jaraknya, apabila mengendarai sepeda motor dengan kecepatan normal, akan memakan waktu dua jam lamanya. Namun, jarak yang ditempuh dari Rawa Pare tempat rumah Botak berada, ke Cibanjir, hanya memakan waktu satu jam tiga puluh menit saja. Karena, tempat rumah Botak berada, atau Rawa Pare adalah desa perbatasan yang menghubungkan Kabupaten Patung dengan Kabupaten Kembang. Ya, Kabupaten Patung adalah Kabupaten yang melingkupi desa tempat tinggal Peot dan juga Botak.

___

 

Dalam perjalanan menuju Cibanjir, mereka berdua tak mengeluarkan sepatah kata pun. Akan sia-sia mereka berbincang di atas kendaraan yang sedang melaju. Tidak akan terdengar dengan jelas kata-kata yang telah dilekuarkan satu sama lain. Ditambah, jalan menuju Cibanjir ramai oleh kendaraan-kendaraan besar. Truk pengangkut barang-barang. Jadi, mereka berdua memilih untuk membisu sementara.

            Matahari mulai pergi ke arah barat dan kegelapan mulai terlihat sedang merayap menyelimuti bumi. Namun, keberadaan bulan sama nasibnya seperti matahari di siang tadi. Tertutup oleh awan-awan hitam.

            Gemuruh langit mulai terdengar. Petir-petir mulai bergantian menampakan keberadaannya. Cahayanya pun terlihat seperti saling mendahului.

            Di pertengahan jalan menuju Cibanjir, rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Botak yang mengendarai motor tetap mempertahankan laju kendaraan. Botak mengendarai sepeda motor tidak menggunakan jaket, hanya kaos tipis berlengan panjang berwarna hijau, dan yang duduk di belakangnya, Peot, badannya terlindungi oleh jaket namun kepalanya bebas. Tak memakai helm.

            Hampir masuk ke daerah Cibanjir, hujan mulai deras. Kaos yang dikenakan oleh Botak perlahan mulai basah, dan tubuh bagian atas Peot—kepala—mulai basah sepenuhnya.

            “Izin, Jendral. Hujan mulai deras. Lebih baik kita cari warung untuk berteduh.” Teriak Botak sambil menahan stang motor yang masih melaju.

            “Siap. Izin saya terima.” Balas Peot tak kalah cempreng.

            Mereka pun mulai mencari warung untuk berteduh. Satu warung terlewati karena tak ada tempat untuk berteduh. Warung berikutnya, terlewati begitu saja. Karena laju motor yang masih kencang. Lalu, sebelum tikungan ke kanan dan jalan tikukannya yang menanjak, terlihat ada warung yang pas untuk berteduh, dan mereka pun memilih warung itu untuk berteduh sesaat.

            Setelah sepeda motor yang dikendarai oleh Botak berhenti tepat di depan warung, Peot langsung meloncat dari jok motor itu dan langsung berteduh dan duduk di kursi kayu yang tersedia di warung tersebut. Botak pun membetulkan posisi motor terlebih dahulu agar tak basah terkena hujan. Lalu, ikut berteduh di kursi yang menghadap ke arah kursi yang telah diduduki oleh Peot.

            Sebelum Botak duduk, ia bertanya kepada penjaga warung, “Bu, di sini bisa seduh mie?”

            “Bisa. Mau bikin berapa?”

            Botak tidak menjawab langsung pertanyaan ibu penjaga warung. Ia melirik Peot terlebih dahulu sambil mengangkat dagunya perlahan, tanda menawarkan. Dan Peot pun membalas dengan anggukan kepala, tanda mengiyakan.

            “Bikin dua, Bu. Sama rokoknya empat, terus, kopi hitamnya satu aja.”

            “Oke. Tunggu sebentar, ya?!” Balas ibu penjaga warung sembari mengambil rokok dan langsung memberikan rokok itu kepada Botak.

            “Iya, Bu. Makasih.” Jawab Botak sambil menerima rokoknya dan langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Peot.

            “O iya, Yot. Kau kuliah ambil jurusan apa?”

            “Akuntansi, Tak.”

            “Haha, mantap. Bisa kau hitung-hitungan?”

            “Enggak.” Jawab Peot sembari tersenyum dan mengambil sebatang rokok yang sebelumnya sudah di simpan di atas meja oleh Botak.

            “Punya kawan kau sekarang?”

            “Punya lah, Tak. Berusaha ngubah nasib. Bosen aku tuh jadi orang Ansos.” Balas Peot. Lalu menyalakan rokok yang sudah ada di bibirnya dan sudah siap untuk dibakar. “Ya tapi begitu, Tak.” Lanjutnya sambil menghisap rokok dalam-dalam.

            “Gitu gimana?”

            “Gak kuat aku hidup jadi orang lain. Susah buat berubah jadi Ekstrovert. Emang udah dasarnya Introvert ini mah. Capek batinku, Tak. Gak bisa diterusin hidupku jadi Ekstrovert.”

            “Haha. Lemah. Coba aja terus, Yot. Toh ini aku buktinya.”

            Ditengah obrolah Peot dengan Botak, kopi yang dipesan pun datang. Botak meraih kopi tersebut dan langsung menyicipinya.

            “Ya, ya, ya, ya, aku tahu. Aku memang lemah.”

            “O iya, Tak. Aku benci berfikir.” Lanjut Peot.

            “Hei, Yot. Kau itu sama denganku. Kita ini sudah terkena kutukan. Orang-orang seperti kita itu akan dianggap aneh di masyarakat.”

            “Ya, aku sepakat. Kawan-kawanku pun berkata seperti itu. Bahkan mereka sampai risih dengan keberadaanku. Mereka bilang aku terlalu perfeksionis.”

            “Ya, memang begitulah adanya. Sudah kubilang tadi, kita itu terkena kutukan, Yot. Tak bisa dihindarkan.”

            “Kau tahu apa yang sebenarnya darurat di negara kita ini?” Lanjut Botak.

            “Hmmm. Sejauh ini, aku masih merasa hal darurat di Negara ini adalah pendidikan, Tak.”

            “Yap, Kau benar. Pendidikan kita dikomersialisasikan. Negeri kita ini terlalu fokus kepada uang. Tak ada yang lain.” Tegas Botak.

            “Yot, kalau kata tokoh, ‘Pendidikan itu harus meliputi Imtak (Iman dan takwa) dan juga Imtek (Ilmu Teknologi)’ apabila itu tidak seimbang, ya jadilah seperti ini. Kesenjangan sosial di mana-mana. Teknologi makin hari makin berkembang, tapi, iman dan takwa sudah tak laku saat ini. Aku yakin semua agama mengajarkan kebaikan, Yot. Tak pernah kutemui satu agama pun yang mengajarkan untuk saling membunuh.

            “Sebenarmya, siapapun manusia yang hidup di dunia ini, apabila mengetahui sesuatu di pikirannya tentang kebaikan, ia wajib untuk memberi tahu kepada orang yang tidak tahu. Makanya, kita mengenal perkataan, ‘Sampaikanlah walaupun satu ayat’. Itu agar tak ada kesenjangan di antara manusia, Yot.”

            “Tapi, Tak. Aku gak bisa. Sudah kucoba pada kawan-kawanku di kampus untuk terus fokus di pendidikan, dan memberikan pendidikan pada masyarakat dengan cuma-cuma. Tanpa biaya sedikitpun yang kami pinta. Tapi, mereka malah mencaciku bahkan menghinaku, Tak. Aku masih saja dianggap aneh seperti dulu. Tak pernah berubah.”

            Botak mengamati keresahan yang dikeluarkan oleh mulut Peot. Ia mulai menyalakan rokok kedua dan menyeruput kembali kopi hitam yang sudah ada di hadapannya.

            Tiba-tiba ibu penjaga warung pun datang, “Ini mienya, Mas.”

            Mereka pun menerima mie yang sudah ada di hadapannya masing-masing, lalu serempak berkata, “Makasih, Bu.”

            Obrolan mereka pun terhenti sejenak. Keduanya menikmati santapannya terlebih dahulu. Suasana hujan yang belum juga reda, membuat perut mereka semakin terasa nikmat untuk menyantap makanan. Mie yang sedang mereka makan pun mendadak jadi makanan paling enak yang mereka pernah rasakan. Tak pernah ada tandingannya.

            Botak menghabiskan makannya lebih awal dibandingkan dengan Peot. Setelah minum, ia kembali menghisap rokok yang sudah dibakarnya sedari tadi. Tak lama, Peot pun selesai menyantap hidangannya, dan langsung mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh Botak: Minum lalu disusul oleh sebatang rokok.

            Setelah keduanya selesai menyantap makanannya masing-masing, Peot melanjutkan obrolan dengan keresahan yang masih dirasakannya.

            “Tak, terkadang aku berfikir untuk menyelaskan hidupku lebih awal.”

            “Yot, tak pernah ada manusia yang terkena kutukan ‘berfikir’ di dunia ini tidak diasingkan; atau minimalnya, dihinakan; atau tidak, menerima cacian. Tak ada, Yot,” tenang Botak pada Peot. “Coba saja kau cari. Ada? Soekarno? Tidak! Tan Malaka? Tidak! Muhammad sekali pun, Yot, beliau tidak pernah sepenuhnya dimuliakan. Kau tahu sendiri, ia sering dihina. Bahkan, pengemis yang selalu ia suapi makanan setiap pagi selalu saja mencacinya. Tapi, apa yang ia lakukan pada pengemis itu, Yot? Kau tahu jawabannya.”

            Peot mendengarkan perkataan kawannya itu dengan sepenuh hati. Ia tundukan kepalanya. Lalu, karena dingin yang disebabkan oleh hujan, kedua kakinya pun diangkat keatas kursi. Ditekuknya kedua lutut itu dan dipeluk oleh kedua tangannya, dan dagunya pun tertumpu pada lututnya.

            Setelah Peot berdiam cukup lama, ia pun mengangkat pandangannya dan menatap wajah kawannya. Lalu berkata, “Tak, aku bukan Soekarno. Aku bukan Tan Malaka. Apalagi Muhammad. Aku hanyalah aku. Aku engga bisa jadi mereka, Tak.”

            “Hei, kau sendiri yang bilang, negara ini punya hal darurat, Yot. Negara ini darurat pendidikan. Apa jadinya orang seperti kita malah diam dan membiarkan saudaranya sendiri dibodohi?

            “Aku mulai berfikir, Negara kita selalu seperti ini, karena orang-orang intelek malah memilih untuk bisu, dan membiarkan keburukan-keburukan selalu terulang kembali. Cobalah sekali lagi untuk menikmati cobaan yang ada di sekelilingmu, Yot. Cobalah sekali lagi!”

            Peot memalingkan pandangannya dan menengadah ke langit-langit. Sekali-dua memperhatikan rintik hujan pada ujung-ujung genting.

            “Jujur, Tak. Aku mulai terpantik kembali untuk tetap hidup. Tapi, aku akan memilih hidupku yang dulu. Aku akan menjauh dari masyarakat. Aku akan ansos kembali. Aku tak bisa melawan batinku, Tak. Aku akan menyuarakan kegelisahanku ini dengan caraku: Menggambar dan membuat poster-poster untuk ditempel di tembok-tembok sentral.”

            “Yap, bagus. Terserah apapun itu caramu. Yang ku mau, orang seperti kita itu tidak diam. Tidak membiarkan orang-orang tolol terus menguasai siklus kehidupan kita.”

            “Sekalipun kau memaksa diri untuk menjadi apatis, kau tak akan pernah bisa, Yot. Kutukan itu sudah melekat pada kita.” Lanjut Botak.

            Peot hanya tersenyum pada Botak.

            “Sudahlah, malam ini, ketika kita sudah sampai di tempatku, kita tak usah lagi membahas perihal ini. Aku tahu kau sangat lelah.”

            Senyuman Peot semakin melebar. Entah senang karena tak akan membahas hal-hal serupa, atau apa. Kita tak pernah tahu.

            Hujan mulai reda, keduanya mengamati pancaran lampu jalan, untuk memastikan bahwa hujan sudah benar-benar reda. Peot pun menurunkan kakinya, dan kedua tangannya digabungkan—dengan jemari yang saling beradu—kemudian ditariknya keatas kepala setinggi mungkin, seraya berdiri dari kursi yang ia duduki sedari tadi. Senyumannya tak juga menghilang. Lalu ia berkata, “Aku ada seratus ribu.”

            “Aku pun.” Jawab Botak sambil membalas senyum.

            “Jauh kah dari tempatmu di Cibanjir?”

            “Tenang. Dekat sekali.”

            Keduanya pun segera membereskan barang bawaannya masing-masing dan sudah siap untuk pergi melanjutkan perjalanan.

            Peot menerima kunci sepedah motor dari Botak, dan langsung dipanaskannya mesin sepeda motor itu. Di sisi lain, botak membayar semua yang telah dipesan di warung tersebut.

            Sambil mengeringkan jok yang basah terkena percikan air hujan, Peot bersiul karena girang dan tak sabar menanti dirinya mulai menggema di tembok-tembok kota. Ia melihat botak sedang menunggu uang kembalian dari penjaga warung. Lalu, melihat keseberang jalan. Ia melihat truk yang sedang melaju sangat kencang dari arah kejauhan.

            Posisi warung yang didiami oleh Peot dan Botak, memang tepat di sebelah kiri pas tikungan berada.

            Peot memperhatikan truk itu tetap dengan siulannya. Truk itu turun sangat cepat dari jalan tikungan yang menanjak itu. Dan ia pun dikagetkan oleh kawannya, “Mau kau yang bawa?” lalu ia menengok pada kawannya itu. Ia kaget bukan main. Yang ia lihat bukanlah sosok yang ia kenal. Makhluk itu tak memiliki wajah sama sekali. Permukaan wajahnya rata. Tak ada bentuk lain. Peot pun berbalik badan mencari kawannya. Tak ada. Ia tak melihat seorang pun di sana. Bahkan warung yang tadi dijadikan tempat ia berteduh, terlihat kumuh seperti sudah lama tak terpakai.

            Truk yang datang dari atas, tetap dengan kecepatan tinggi. Dan langsung menghantam semua yang ada dihadapannya. Termasuk diri Peot dan juga motornya, serta warung yang tadi dijadikan tempat berteduh.

 

 

Cimahi, Oktober 2020

 

 

 

 

Bisa ditemui dan dihubungi di: Ig : @Amarweh dan Gmail: hitutjin00@gmail.com

0 Response to "Dialog Keresahan"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel