Santri Abadi

Santri Abadi

Penulis: Wakhit Hasim

Tahun 1985an Gus Dur menulis soal pesantren, yakni tempat para santri tinggal bersama para Kiai untuk mempelajari kitab suci, sebagai sub kultur masyarakat. Secara nilai, pesantren merupakan soko guru orientasi nilai masyarakat. Akan tetapi, secara kelembagaan, sistem nilai ini dalam praktik ketat model komunitas sufistik hanya berlaku bagi para santri dan Kiai. Masyarakat terlibat secara tidak langsung untuk mendukung kelembagaannya.

Pembacaan ini sudah barang tentu bersifat modernis. Kita mengandaikan ada wujud negara-bangsa dengan struktur politik modern yang berbeda dari masyarakat sipil. Pesantren merupakan bagian dari yang kedua, dengan peran semakin sempit pada penjagaan nilai luhur sumber bermasyarakat, sekaligus bernegara. Sumber nilai ini adalah tafsir kitab suci secara dialektis model Nusantara.

Posisi pesantren sampai saat ini tidak berubah seperti yang digambarkan oleh Gus Dur. Meskipun sebagian parpol ingin merengkuhnya, dan negara melipatnya, namun bangunan yang nyaris magis itu tetap kokoh. Muruah pesantren ada di sana. Anak-anak muda ada yang mengkap elan vital ini, dan bekerja dalam laku senyap dan tirakat.

Kemodernan tak mungkin dilawan. Pun tak baik diserba-iyakan. Kemodernan adalah kompleks budaya, mengandung seluruh sengkarut aspek sosial di dalamnya. Ada politik, ada ekonomi, ada pendidikan, ada teknologi, ada filsafat, ada nilai, yang satu dgn yang lain tak selalu lurus sejalan.

Tugas sejarah adalah mengawal tujuan: “belajar hidup yang adil dan diridloi.”

Itu membuat saya bernostalgia. Di usia SD tahun 85an saya belajar di langgar dan madrasah malam. Di rumah saya sendiri kebetulan. Dimar ublik yang tertiup angin dari sela-sela dinding kayu, menjadi kenangan perlombaan hapalan syair Hidayatus Sibyan, atau Aqidatul Awam, atau Lughot. Kadang-kadang dimar gaspon jika sumbunya tidak sedang rusak, menyala terang seperti neon yang baru kami kenal sekian tahun setelahnya.

Ayah punya murid-murid, mereka diajari kitab-kitab dasar, dan mereka mengajar di madrasah ini. Ayah sendiri mengajar mereka di waktu lain soal-soal hidup bermasyarakat, menangani konflik, penyakit, dan upacara siklus hidup orang di desa: kehamilan, kelahiran, sunatan, khataman, sakit, mati, penguburan, doa dan seterusnya. Murid-murid ini menyebar, dan di tengah-tengah masyarakat Jawa Abangan Pedalaman, langgar-langgar mereka berdiri, meneruskan tradisi.

Saya melanjutkan sekolah menengah pertama di Jogorogo, kecamatan saya yang berjarak 8 Km dari desa saya. Bersama teman-teman sebaya anak-anak murid Bapak, saya mondok di PP Bustanul Ulum, Dawungrejo. Saya ikut MTsN di pagi sampai siang, selebihnya madrasah pondok jam 14.00 - 16.00.

Malam harinya ngaji weton di masjid di bawah ustadz-ustadz seperti Pak Ali Murtadlo, Pak Abdul Aziz, Pak Munajad, dan Kang Dullah. Tiap habis sholat wajib kami setor bacaan Quran. Mbah Mukti, Kiai sepuh kami, mengajari wirid tiap jumat, dan selapan sekali kami melakukan wirid dzikir fidak, sholawat nariyah. Mbah Mukti dan guru-guru kami tak ubahnya orang tua kami sendiri. Kalau kelaparan dan kehabisan bekal, kami pura-pura main dan cari kerjaan biar disuruh makan haha...

Dari pondok ini saya belajar menjalankan aturan yang bersifat keagamaan, dalam seluruh siklus hidup sehari-hari. Bekal Hidayatus Sibyan kami kuatkan dalam tartil Quran yang baku di pondok: jalur Imam Hafs dan Imam Ashim. Dirunut-runut, ustadzku Kiai Abdul Aziz, kini pemimpin PP Sidolaju Ngawi, mendapat sanad dari Pondok Katerban Ngawi dan Sidogiri Bangil. Demikian juga fiqh, dgn Fatqul Qorib, dan Bidayah. Nahwu dengan Mukhtashor Jiddan dan Al-Ajurumiyah. Shorof dengan Tshrifan.

Perasaanku senang belajar, sehingga teman-teman agak heran kenapa aku menguasai ilmu-ilmu itu lebih dari mereka. Aku sendiri melihat teman-temanku jago-jago, tapi minatnya berbeda denganku. Maka tidak ada yang terlalu istimewa dengan kami yang berbeda-beda.

Ustadzku di MTsN sangat bersemangat mendidik kami. Metode modern pengajaran bahasa Arab dari IAIN Surabaya beliau tumpahkan kepada kami. Aku memetik banyak pelajaran beliau, selain klaigrafi dan tasauf.

Lepas MTs, aku ambil studi MAN. Kenetulan ada progran khusus dari Menag saat itu, Prof. Munawwir Syadzali. MAPK Jember namanya. Diantara tuntutan kedisiplinan di dalamnya, yang menggabungkan metode modern Gontor dan tradisional pesantren lain, saya masih sempatkan ngaji pasaran santri Kalong ke Kiai Sufyan Tsauri. Di PP Miftahul Ulum Kaliates ini saya menggladi diri semi-mandiri: kaligrafi, ta'lil, dan 'arudl. Yang terakhir ini saya masih kesulitan sampai tamat hehe..

Saya sesekali juga ikut pasaran ngaji ke PP Darush Sholah Tegal Besar asuhan Gus Yus almarhum, ikut dzikiran di PP Al Kodiri, juga di PP Kiai Ahmad Shidiq almarhum. Saya juga belajar Qiroat tiap akhir ke Kiai Abdus Shomad di desa nun jauh di timur Jember, Pakusari, bersama mas Mukhyar, mas Rahmat Artya Hindiarta, mas Pipit, dan mas Dailami.

Kenangan luar biasa juga hehe...

Dunia pesantren memang tidak bisa terpisah dengan saya. Masuk di IAIN Jogja, saya mondok lagi di PP Wahid Hasyim. Seperti namaku hehe. Saya sempat mengajar di sana, di bawah asuhan Kiai Abdul Hadi almarhum dan ustadz-ustadz senior lainnya: ustadz Imam Farro', ustadz Wahid Adib, dll.

Saat itu saya mulai kenal dunia gerakan, isu-isu yang benar-benar beda dari dunia pesantren. Namun, semuanya saya tetap memandang dari dalam batin pesantren. Hal yang paling fenomenal adalah menyaksikan tumbangnya sebuah rezim politik, Orba. Euphoria selanjutnya telah membuatku sadar akan kegagalan gerakan perubahan sosial reformasi: rezim tak berubah justru lebih ngamprah. Revolusi dianggap gagal.

Memandangnya semua dari dalam sebagai santri itu, sampai saat ini.

Rasanya saya memang santri abadi. Sampai saya mencari berbagai bentuk cara penghormatan pada hidup dan kehidupan, dengan lebih banyak menyimak dan mendengar, memuasakan diri untuk intervensi, hal-hal yang justru terkait label agama.

Dan saya masih merasa sebagai santri yang bodoh blm tahu banyak hal.

Mari mensyukuri pengalaman mesantren, nyantri di pessntren..

Cirebon, 23 Okt 2020




Dosen IAIN Cirebon dan Pendiri Yayasan Wangsakerta

0 Response to "Santri Abadi"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel