Mungkinkah Indonesia hanya Sebatas Papan Catur?

Mungkinkah Indonesia hanya Sebatas Papan Catur?

Penulis: Ryan Aldi Nugraha
 

Permainan catur yang konon berasal dari India ini mulanya merupakan miniatur dari kondisi perang yang sesungguhnya. Kedua pasukan saling berhadapan. Pasukan infantri berada di garis terdepan, pasukan bersenjata dan pemimpinnya berada di barisan belakang. Akhirnya, secara rinci catur terdiri dari Raja, Ratu, Gajah, Kuda, Benteng dan Pion.

Bermain catur umumnya adalah bermain taktik dan strategi. 2 pemain yang saling berhadapan bertujuan agar mampu mendesak ruang gerak bidak Raja (Skak Mat). Namun jika tak menemui Skak Mat, permainan menjadi seri atau remis. Jadi, dibandingkan bermain uno, bermain catur membutuhkan waktu yang cukup lama.

Ironisnya adalah, saya tidak begitu menyukai permainan ini. Secara muhasabatun nafsi, saya tak begitu kritis. Apalagi jika bermain dengan orang yang mulutnya provokatif, mengganggu konsentrasi yang benar-benar membutuhkan kesepian keheningan. Padahal jika diseriusi, bisa saja menjadi atlet catur mewakili negara di ajang SEA Games. Juara, dapat emas, kan lumayan buat kebutuhan instastory, hehe.

Bagi sebagian orang, bermain catur bisa mengasah pola pikir, bagi saya tidak. Tidak hanya itu maksudnya. Justru dengan bermain catur, saya bisa berimajinasi lebih: bagaimana jika permainan catur adalah representasi dari negara kita teruwuw ini? Apa mungkin jika Indonesia hanya sebatas papan catur? Nggak percaya? Mari ikut dalam imajinasi saya.

1. Benteng

Benteng, Rook (English) atau bom dalam bahasa kawan sepercaturan, memiliki fungsi gerak lurus kiri-kanan-depan-belakang. Bahkan jika tidak terhalang oleh bidaknya sendiri, benteng ini bisa ‘menghantam’ apapun bidak lawan. Ketika mengangkat benteng ini seolah mengingatkanku pada 16 petani Brencong yang luka-luka akibat ‘dihantam’ calon-calon menantu idaman.

2. Kuda

Posisi kuda awalnya tepat di samping benteng. Bidak ini adalah yang paling unik, sebab berjalan membentuk huruf L. Membuat kita sulit meraba arah tujuannya, tiba-tiba bidak kita tersingkir begitu saja. Jadi teringat dengan orang yang suka mencla-mencle ga jelas arah tujuannya. Hari ini bilang ekonomi meroket, besoknya murat-marit. Lusa bilang prioritas di sumber daya manusia, tulat malah sahkan RUU Cipta Kerja.

3. Gajah

Gajah, sluncur, atau puncung ini bergerak miring sesuai dengan warna apa yang ia tempati. Peran gajah ini seakan memberi ingatan tentang bagaimana media massa membuat framing yang tak mendidik dan sebagai pengalih isu penting suatu negara. Saban hari kita disuguhi berita kasus pandemi, antisipasi klaster baru, di satu sisi fenomena pilkada harus tetap terjadi. Suguhan berita ini sudah tentu disetir oleh hegemoni pemiliknya. (Catatan: tidak berlaku bagi Metamorfosa.co).

4. Menteri

Menteri atau ratu ini memiliki fleksibilitas gerakan yang luas. Bisa bergerak horisontal, vertikal maupun diagonal. Keleluasaan ratu ini menjadi senjata andalan dalam permainan catur. Peran inilah yang mengajak pikiran kotor saya untuk mengarah ke gedung sayap garuda di Senayan yang mengesahkan pelemahan KPK, juga UU Cipta Kerja yang tidak pro rakyat, sangat pandai berspekulasi demi melindungi Rajanya.

5. Raja

Raja adalah kunci dalam permainan ini. Meskipun gerakannya hanya satu langkah namun berada di puncak hierarki, sebab jika ia mati, Skak Mat, permainan selesai. Maka dalam permainan catur, bidak lain dituntut untuk menjaga Raja. Bidak yang tak leluasa namun paling berkuasa ini sering kali dituhankan. Melalui ciri-ciri tersebut, apakah ia adalah plutokrasi?.

6. Pion

Pion adalah bidak catur yang paling kecil, banyak, gerakan terbatas, dan bisa promosi jika tak dihalangi. Peran yang mau nggak mau harus maju daripada berdiam diri atau maju kena mundur gak bisa, seperti cerminan kita. Ya, termasuk kamu yang sedang baca.

Kita yang harus melangkah meski dihantam benteng yang gagah. Kita yang pasrah pada upaya yang tak terarah. Kita yang selalu dicekoki acara yang tak edukatif, kasus kolusi penghuni gedung senayan, kebijakan yang hanya memeras pajak dan keringat, hingga suara-suara yang tak berdaya di hadapan Ratu dan Raja. Sekalipun pion memiliki harapan promosi, tetap saja akan menjadi benteng, kuda, puncung, menteri dan raja yang baru. Untung hanya imajinasi.

0 Response to "Mungkinkah Indonesia hanya Sebatas Papan Catur?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel