Mati yang Profan, Mati sebagai Gagasan

Mati yang Profan, Mati sebagai Gagasan

Penulis
: Omen Bagaskara*

Tiap dogma, juga kebudayaan mana pun, menempatkan tema kematian secara spesifik sebagai bagian inheren perjalanan manusia. Ia dipercaya, diyakini, sekaligus didokumentasikan oleh alam bawah sadar kita: sebuah peristiwa dengan rekaan adegan ‘malaikat pencabut nyawa’ datang pada waktu yang telah ditentukan untuk mengambil ruh dari jasad manusia, lalu dibawa menuju kehidupan selanjutnya.

Dalam proses itu, sebagian terjadi secara cepat dan sebagiannya lagi terjadi secara berbelit-belit, yang menurut informasi yang kita terima, bergantung sepenuhnya pada amal baik kehidupan saat di dunia. Jika amalmu baik, maka itu melegakan proses kematianmu, begitu sebaliknya, dan seterusnya.

Kendati tak ada risalah publikasi, hasil observasi penelitian secara sistematis, pun bukti-bukti empiris yang tervalidasi perihal tema kematianterutama dari dan melalui dunia saintifik atau cabang ilmu positif lainnyapaling tidak, hingga detik ini, diskusi soal ‘kematian’ sebagai komponen informasi dan pengetahuan, akhirnya lebih sering diarusutamakan oleh sistem kepercayaan dan dogma agama. Tatkala sudah demikian, ia jadinya memang terlihat sebagai sesuatu yang established dan mapan untuk ‘didekati’ dan disingkap selain daripada aspek keimanan.

Jika ranahnya telah lapuk pada keimanan, opsinya hanya dua: ia terenskripsi menjadi sesuatu privat; personal, dengan dampaknya bahwa tema ini kian dihindari, bahkan dimitoskan atau ia begitu seksi menjadi luapan kapital oleh dunia industri: perfilman, periklanan, dan macam-macamnya. Bayang-bayang kematian dengan visual menyeramkan, boleh jadi, sebagian karena imajinasinya dibentuk oleh industri.

Di tengah kebuntuan itu, menyimak Mati Bahagia merupakan oase sendiri dalam mendekati tema soal ‘kematian’. Pada bagian awal, pembaca disuguhkan adegan si tokoh utama, Patrice Mersault, yang sedang mengunjungi suatu kompleks villa, dalam rangka bertemu tokoh lain; bernama Zagreus.

Mulanya, adegan berjalan secara datar: meromantisir plot, tempat, serta waktu, lalu terjadi sebuah percakapan monolog, hingga di akhir bagian awal, Mersault melepas pelatuk revolver dengan moncong senapan panjang ke depan dan satu butiran peluru mendarat tepat di batok kepala Zagreus. Isi kepala berserakan. Darah bercucuran. Selepas drama penembakan itu, Mersault melenggang-kakung kembali ke rumahnya, tidur sampai esok pagi.

Itu sedikit pembuka pada bagian awal Mati Bahagia-nya Albert Camus  (1913-1960), satu novel yang berasal dari naskah asli berjudul La Mort Heureuse. Melalui narasi pembuka, lagi-lagi, kita bisa dengan mudah terjebak bahwa novel tersebut memiliki latar cerita kriminal, melalui plot yang bergerak pada sebuah investigasi nan panjang mencari dan mengungkap pelaku pembunuhan beserta motif-motifnya, yang akan dibongkar oleh detektif atau aparat keamanan.

Jika tebakannya demikian, itu sedikit meleset, sebab cerita-cerita selanjutnya lebih mengajak sidang pembaca sekalian memasuki sebuah labirin yang kompleks, bagaimana ‘perjalanan’ Patrice Mersault menghadapi ‘dunia gagasannya’ Camus.

Lika-liku kehidupan sebagai seorang pekerja di kapal milik sebuah kamar dagang Aljazair, percakapan-percakapan sarat kegetiran antara Petrice Mersault bersama orang-orang di sekitar pelabuhan, merupakan bagian-bagian yang kental dielaborasikan oleh Camus di bagian selanjutnya (halaman 11-32). Yang sekilas menurut hemat saya, spirit ‘imajinasi kebangsaan’, meminjam istilah-nya Ben Anderson, berupaya digemakan oleh pengarang.

Dus, di bagian ini, kita disuguhkan lagi satu pemaknaan atas absurditas hidup: ketika Mersault memilih tetap tinggal di rumah, selepas ditinggal mati ibunya; ada bau khas penderitaan atas kemiskinan yang membekap di benda-benda rumah yang senantiasa abadi dipertahankan. Ketika masih bersama ibunya, bau-bau itu ia rasakan bersama, tapi kini ia rasakan sendiri. Akhirnya, Kesendirian adalah absurditas hidup yang purna, saya kira.

Tentang Zagreus, tokoh yang ‘dibunuh’ oleh Mersault, sesungguhnya akan dibuka spektrumnya, pada bagian tengah novel ini. Ia adalah seorang mantan kombatan perang dunia II, yang saat berlaga di medan pertempuran, disebut-sebut mengalami ‘kecelakaan’ atau ‘serangan’ dari tentara musuh, hingga berimplikasi sebagian anggota tubuhnya mengalami luka serius dan berakhir diamputasi.

Sampai menjelang usia senjanya, bertahun-tahun ia menghabiskan waktu seorang diri, meratapi kondisi, hingga datang Mersault, yang melakukan ritual ‘mempercepat waktu penderitaan Zagreus’ dengan cara menembak batok kepalanya. Kendati di bagian lain, saya melihat ada motif asmara, ketika Marthe, satu dari sekian kekasih Mersault yang paling dicintai, menyebutkan bahwa Zagreus adalah mantan kekasihnya. Kita tahu, dan kembali diingatkan betapa konflik asmara sejak era Habil dan Qobil, Rama dan Sinta, atau Ken Arok dan Ken Dedes, seringkali membutuhkan pengorbanan nyawa sebagai balasannya.

Segendeng sepenarian, di bagian-bagian akhir novel ini, pembaca akan disajikan satu narasi yang begitu subtil, bagaimana Patrice Mersaultkendati pada bagian sebelumnya pengarang banyak bercerita soal perjalanan Mersault berkeliling ke negara tetangga Aljazair, menginap dari satu tempat ke tempat lain, melakukan percakapan satu tema filsafat ‘eksistensialis’ ke tema lainnya – untuk meneguhkan bahwa tugas satu-satunya manusia hidup di dunia adalah berbahagia.

Hingga di detik akhir, Mersault menaja, merefleksikan, memaknai, mempersiapkan, dan memanggil ‘malaikat pencabut nyawa’ dengan caranya, dinarasikan dengan sungguh-sungguh mendalam dan absurd oleh pengarang. Tentu, bagian ini punya makna berbeda antara masing-masing pembaca. Sebab, untuk saya pribadi, ia mengingatkan perihal cerita pendek “The Wall” karangan Jean-Paul Sartre, yang punya nafas yang sama,

Meskipun Mati Bahagia ditulis oleh Albert Camus pada usia remaja (sekitar 20 tahunan) dan baru resmi dipublikasikan setelah Camus mati, novel ini bagi saya, justru jadi pamungkas atas karya-karya sesudahnya seperti La Peste dan L’Ertanger, yang keduanya dikategorikan oleh banyak sastrawan di dunia sebagai ‘filsafat bertopeng sastra’.

Mati Bahagia punya tempat tersendiri, sebab ia purna-nya Camus, sebagaimana pesan penting sebuah kematian merupakan ajal (ingat, bahwa kata ‘ajal’ punya arti literer: ‘waktu pamungkas’, ‘batas akhir’, bukan mati dalam pengertian normatif), yang berhasil membawa tema kematian secara natural selaiknya tema-tema tentang kehidupan.

Saat visual atas kematian kadung terbayangkan dengan sesuatu yang menyeramkan, paling tidak, kita akan mengalami semacam pra-kondisi dalam diri dan kehidupan kita. Pertama, menjemput kematian dengan cara kita sebagai manusia, yang dilakukan secara semena-mena. Kedua, pemaknaan atas hidup yang kita lewati dan jalani pada hari lalu, hari ini serta hari-hari depan, dengan sebuah kehampaan dan absurditas yang tak terpemanai.

Untuk pra-kondisi pertama, kita bisa melihat itu pada fenomena yang terjadi secara simultan pada problem isu bunuh diri yang terjadi pada kehidupan modern dewasa ini. Sementara pada pra-kondisi kedua: selayaknya kehidupan berjalan dengan rotasi yang natural, kematian juga adalah hal serupa. Itu spirit yang saya lihat pada novel Mati Bahagia-nya Albert Camus.

Pun Mati Bahagia jadi lonceng bahwa sejatinya karya sastra adalah sebuah dunia gagasan, bukanlah tempat sampah emosional si pengarang. Bukankah di situ letak makna dari aforisme pengarang telah mati, kawan?

 

 

 

*Saat ini tinggal di Kota Cirebon. beraktivitas sebagai pedagang sembako, pada 2011-2013, menjadi tukang loper koran di Perempatan Bangjo atau Lampu Merah Gedongkuning arah Bonbin, Kota Yogyakarta. Bisa dihubungi di: omenbagaskara@gmail.com

0 Response to "Mati yang Profan, Mati sebagai Gagasan"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel