Rahasia Sunyi Danau Menduyan dan Puisi Lainnya

Rahasia Sunyi Danau Menduyan dan Puisi Lainnya

Penulis: Eka Yuli Andani

Pohon Trembesi

 

Di bawah pohon trembesi

Kami menyatu dalam kalbu

Menggandeng tangan

Berkeliling karpet keriput cokelat

Ditemani keteduhan

 

Di sisi pohon trembesi

Tiga patriot telah melayangkan pusaka emasnya

Dengan tenda sebagai atap

Mereka anggun dengan lentik jemari

 

Di seberang pohon trembesi

Danau hijau mengamuk

Hingga airnya sampai ke tepian dan

Di bawah pohon trembesi

Kami terus merapalkan dzikir

Menuju sunyi

 

Bale Kemambang, 2019

 

Rahasia Sunyi Danau Menduyan

 

Setiap melangkahkan kaki ke tepian bibirmu

Mengundang ingatan zaman pertemuan

Menafsiri sudut-sudut menduyan

Luapannya mengandung rahasia kesunyian

Saat menengok kanan dan kiri tidak ada namamu

Pun sekelebat bayangan terhempas

Namun di atas jembatan termenung wajah

Menduyan butuh kau jaga, kasih

Perpisahan tidak akan pernah ada

Jika kau, aku, dan menduyan selalu bersama

Akhir pencarian tergoreskan pena kayu lembut

Di atas pasir putih yang siap kau guyur

Agar tidak ada lagi jejak-jejak keabadian kita

 

Purwokerto, 2020


Bedug

 

Suara bedug mulai menggelarkan jamuan pada

Penghujung dahaga yang

Sepanjang siangnya bekerja membangunkan mimpi raja

Dia membangkitkannya ketika mata terpejam dan

Jasad masih tergeletak di pangkuan empuk istana

 

Dendangnya mengiringi Asmaul Husna yang

Didawamkan oleh sederetan makhluk berbau surga

Untuk menyemarakkan alam

Ketika penghuni langit dan galaxi saling bertasbih

 

Suara bedug berhenti nyaring

Saat raja dan sang permaisuri tengah menikmati aroma hidangan di meja sajian

Sedang para dayang diperbolehkan menengok keluarganya beberapa menit

Sampai suara bedug kembali diperdengarkan

 

Banjarnegara, 2020

 

Merenungi Jejak

 

jalan setapak di penghujung kabut

telah menjadi saksi langkah

kucoba menari di pematangan sawah

di antara batangan padi yang menguning

di antara sekawanan burung yang bernyanyi dengan syahdu

 

lalu aku bertanya,

sudahkah kawanan burung membawa nikmat tuhan yang hakiki?

 

lalu kubiarkan udara merasuk jiwa

kurentangkan kedua tangan

dan merenungkan cinta tuhan yang abadi

sementara salam keteduhan meluruh dalam raga

 

Sembir Kidul, 2020




Eka Yuli Andani, kelahiran Klaten. Beralamat di desa Tanjungtirta, Punggelan, Banjarnegara, Jawa Tengah. Merupakan mahasiswa Pendidikan Agama Islam dan bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Beberapa karya puisinya terpublish di Koran madura, Harian BMR fox, Majalah simalaba, Nusantaranews, Tembi, Negri kertas, dan Akar ranting daun. Puisinya juga terhimpun ke dalam antologi: Kelopak Cinta Bidadari (2018), Pilar Puisi 5 (2019), Imajinasi Aksara (2019), Senja (2019), Menenun Rinai Hujan (2019), Potret Kehidupan (2020), Mata Air Hujan Di Bulan Purnama (2020), 100 terbaik Lomba Cipta Puisi ASEAN 3 IAIN Purwokerto, dan antologi puisi khas sempena pertemuan dunia Melayu 2020. Penulis dapat dikunjungi melalui Fb: Eka Yuliandani

 

0 Response to "Rahasia Sunyi Danau Menduyan dan Puisi Lainnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel