Musibah Corona Dipolitisasi, Benar atau Salah?

Musibah Corona Dipolitisasi, Benar atau Salah?

Penulis: Mohammad Zainur Riza Fahlefi

Ketika sedang ngopi, suasana santai dan tenang hadir dengan diiringi sebuah musik ala indie yang kental akustiknya. Eh tiba-tiba ada celetuk kabar, yang mampu membuat orang untuk melongo sebentar dengan ekspresi hampir tak percaya. Ini bukan berita bencana atau musibah yang masih asing untuk di dengar atau dicerna. Sebab, ini berita yang amat kita ketahui sekaligus  menimpa kita bersama. Yaitu kabar terkait virus corona.

Semua telah tahu tentang virus yang ghoib ini. Wujudnya gak jelas terlihat secara kasat mata, asal-muasal sebab terciptanya juga masih penuh retorika, kan bingung mau melawan pakai apa? Olehnya, kita hanya bisa mencegah, menanggulangi, dan mengantisipasi berbagai bentuk penyebarannya.

Akhirnya, banyak aktivitas kehidupan mulai dibatasi. Masyarakat dan pemerintah pun mulai ikut andil bersama dalam mengantisipasi sekaligus menjaga stabilitas kehidupan bersama. Karena dampaknya, ini menjadi petaka gurita yang hampir memengaruhi di segala lini kehidupan yang ada.

Tapi, yang hampir membuat kita tak percaya, adalah adanya informasi terbaru. Terkait yang katanya ada informasi terbaru dalam kasus Corona. Yang ternyata, juga ada permainan politiknya. Bahwa berita itu mengungkapkan, setidaknya terdapat 29 kabupaten akan terpapar Corona dalam status zona merah, yang asalnya adalah orange. Dan kabupaten kota Pati, salah satu dari yang termasuk dalam daftar kota tersebut.

Sebagai warga Pati, yang juga masih tinggal di Pati, tentu tak percaya tentang hal itu. Kok bisa? Padahal, setelah adanya new normal, semua tampak biasa saja dalam aktivitasnya. Tiba-tiba katanya, ini hanyalah masalah proyek bukan korban Corona. Ah, proyek, masa musibah bersama dijadikan proyek? Tak percayalah. Kecuali ada orang gila dan tega, jika memang proyek dijadikan pundi-pundi untuk kekayaannya sendiri.

Maha Proyek

Usut punya usut, dalam pencegahan penyebaran virus corana, pemerintah memang telah menggelontorkan banyak dana. Dengan dalih untuk bantuan dalam meringankan beban masyrakatnya. Dalam hal itu, anggaran bantuannya tak main-main dan tak tanggung-tanggung. Kurang lebih 900 triliun yang terungkap oleh menteri keuangan kita dalam ungkapan berita.

Lantas bagaimana memainkan proyek politik tersebut? Kan itu untuk membantu musibah kemanusiaan kita bersama.

Tentu, dalam mengalokasikannya harus sesuai tepat guna dan sasaran kan? Eh, kau ini, ingat program pemerintah tentang kartu pra kerja yang sekarang berbasis online? Yang katanya, untuk membantu rakyat sekaligus mencerdaskan rakyat dalam krisis moneter. Dengannya, masyarakat akan bisa mendapatkan mata pencahariannya kembali.

Oke, terus ada apa dengan program yang menghabiskan milyaran uang itu? Ah, kau itu, kayak orang bodoh gak tau bodohnya. Itukan proyek yang nggak jelas pangsa pasarnya, banyak kartel dalam pengelolaannya. Bahkan, tak semua rakyat itu bisa masuk mengaksesnya, dan masih tebang pilih auto mesin gak jelas prosedurnya.

Jadi, program tersebut yang katanya mulia itu, adalah proyek lahan basah bagi kaum oligarki. Dan selain itu, ada lagi yaitu data korban. Apa, data korban virus Corona? Kok bisa? Emang ada duitnya juga? Ini sudah lama, tapi jarang ada yang mengetahuinya. Padahal, ini adalah lahan yang paling basah.

Semua yang di data dengan zona merah, itu tak sepenuhnya benar. Ada kongkalikong dengan pemerintah agar bisa menggerek dana. Kau ingat, di desa x yang kata beritanya kepala desanya terkena Covid, tapi tak lama ternyata dia tak kena. Oh ya betul. Itu adalah salah satu bentuknya agar dapat mencairkan dana. Dana apa saja?

Dana bantuan itu banyak. Mulai dari dana pemakaman, dana tunjangan dokter dan perawat, dana bantuan Covid, akihlah, golek dewe nang google. Dan yang bermain, itu tak hanya di bawah, roto kabeh podo main. Tujuane sederhana, ngentekno dana seng dianggarno dari pemerintah. Kan lumayan sekaligus nggo eman kalau tak digunakan. Dananya banyak itu, belum dari luar juga.

Hmmm, dia memang tak terus terang dalam menjelaskannya, takut kalau kena juga. Pikiranku seketika melayang mencoba menerka dan meraba-raba tentang virus Corona ini. Virus yang berasal dari China, terus menjadi geger gegap gempita di seluruh penjuru dunia. Banyak negara oleng karena resesi ekonomi, lalu ada banyak kebijakan bantuan luar negeri juga, dan belum lagi pertarungan ekonomi dari dua raksasa China dan AS. 

Wah, ini kok mulai rumit dicari benang merahnya. Kalau ini memang sebuah proyek, berati ini maha proyek. Virus adalah sebuah wabah bakteri penyakit yang diciptakan oleh Tuhan agar dapat mengingatkan kembali manusia. Ia hidup sebagai bentuk akibat polah laku dari kehidupan manusia itu sendiri.

Dan jika ini di rekayasa oleh manusia, secara tidak langsung ini lahir diciptakan oleh manusia dan diobati oleh manusia. Dan dampaknya yang sekaligus mengubah banyak kehidupan manusia, ini hampir mempermainkan peran Tuhan. Karena, ia bisa membunuh, mengobati, dan mengatur kehidupan manusia. Virus ini termasuk bahaya sekaligus ladang basah yang baru.

Entahlah, saya tak tahu jawaban pastinya dan jelasnya. Tapi satu hal yang kutahu, manusia juga mahkluk individualis selain makhluk social. Ia juga punya sifat hewani selain ada sifaf sucinya. Maka kadang saya bingung dengan manusia yang tak mengerti kemanusiaannya. Lebih baik kita berdoa saja untuk keselamatan masing-masing, sekaligus keselamatan dunia kita bersama ini.

Sebagai sesama manusia, kita hanya bisa mengingatkan dengan cara-cara kanjeng nabi. Lewat lisan, karena lewat lisan pengetahuan saya hanyalah abal-abal, jadi tak bisa. Kalau lisan tak bisa, lalu lewat tindakan dan hati. Karena tindakan dan hatiku juga banyak kotornya, jadi tak bisa. Ya wes, mentog, lewat do'a saja. Mari kita doakan bersama, musibah ini kembali lagi kepada sang penciptanya. Sesuai hukum Tuhan, innalillahi wa innailaihi rojiun, kami dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan.



Bisa ditemui di; Facebook : punkrock_alvin@yahoo.co.id / Instagram : catatan_fahlevi


0 Response to "Musibah Corona Dipolitisasi, Benar atau Salah?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel