Mental Semangat Pencarian Intelektual Pendidikan

Mental Semangat Pencarian Intelektual Pendidikan

Penulis:
Mohammad Zainur Riza Fahlefi

Dulu saya sering membaca buku, bahkan maniak membaca buku. Apa pun jenis bukunya, akan saya santap. Buku seolah kujadikan sebagai alat sarana dialog intelektual. Dia bukan benda suci yang perlu diagungkan, melainkan benda bebas yang bisa kuekspresikan. Kadang saya menyobek halaman yang disuka, memberikan tinta di bawah tulisan, atau menambahkan kata-kata dalam buku tersebut.

Konon katanya, kalau orang yang banyak membaca buku dia akan jadi orang pandai. Maka muncullah sebuah slogan bahwa buku adalah jendela dunia, atau buku adalah senjata umat manusia. Karena dengan membaca buku, otomatis kadar ilmu pengetahuan itu akan semakin bertambah. Atau, dengan buku, ia bisa pula menggerakkan hati manusia untuk bertindak.

Sebab itu, ketika ilmu pengetahuan bertambah, maka kehidupan akan menjadi lebih mudah untuk dipahami dan tak begitu sulit dalam praksisnya. Implikasinya, ia mampu menjadi masyarakat dewasa yang mampu bertahan hidup dalam realitas sosial yang majemuk. Bisa beradaptasi dan bersaing melawan tantangan zaman yang kompleks, atau ia juga bisa menjadi bagian dari pembawa perubahan zaman.

Namun kala dulu itu, pandai bukan cita yang kuharapkan dalam pendidikan yang kucari. Melainkan hanya untuk mengerti dan mengetahui tentang keadaan dan masalah dunia serta zaman yang kurasakan. Saya ingat pepatah dulu, bahwa tanda manusia yang tidak berpikir dan tak berakal adalah manusia yang tak mengetahui keadaan dan masalah realitas sosialnya. Jadi kala itu, kata tersebut menjadi pemantikku untuk berpikir bahwa hidup yang kita jalani ini tentang apa? Bagaimana? Dan kenapa? Ini tentang mencari kebenaran idealnya kehidupan manusia.

Pencarian tentang kebenaran itu tak lama, Karena kecerdasan manusia dalam intelektual terbatas. Hingga di pertengahan anehnya saya mulai malas membaca, membaca buku malah menjadi beban masalah. Terlalu banyak membaca, pikiran tambah sumpek dan saya merasa tak menambah wawasan. Saya menjadi orang yang banyak bicara dan sedikit aksinya. Ini ouput yang bertolak belakang untuk manfaatnya.

Karena, kegunaan dari ilmu pengetahuan adalah untuk diterapkan dan diamalkan. Maka, saya beralih untuk perbanyak aksi, dan sedikit membaca. Jadi, lebih belajar sesuai dengan manfaat dari pengalaman yang dijalani dan untuk teori, sesuai normatifnya saja. Seperti pepatah China, ketika saya membaca saya tidak tahu, tapi ketika langsung praktek, saya baru tahu. Artinya, pengalaman adalah guru yang paling berharga untuk dipelajari. Intinya, aksi lalu membaca, bukan membaca dulu lalu aksi, sedikit terbalik dari langkah awal.

Refleksi Kembali

Itu sekelumit pendidikan yang pernah kujalani. Mungkin agak berbeda dengan jalan pikiran pendidikan yang sering ditempuh kebanyakan orang. Karena dalam berpikir, saya suka pedoman dari teater Mandiri Putu Wijaya, yaitu bertolak dari yang ada dan teror mental.

Teror mental itu mengajarkan untuk memaksa keadaan kita sendiri ke dalam zona yang tidak aman atau disebut zona ekstrim. Dengan keluar dari zona aman, terkadang kenekatannya manusia mampu memberikan keajaiban. Seperti contoh, manusia yang tidak bisa loncat tembok 2 meter, ketika ia dikejar dan takut digigit anjing, maka tembok 2 meter tersebut bukan jadi halangan, malah bisa dilewati dengan mudah.

Sedangkan bertolak dari yang ada adalah selalu menemukan dan mencari celah dalam memberikan kejutan ide yang baru dan fresh. Karena, kita tahu bahwa di dunia ini tak ada yang sempurna, pasti akan ada kelebihan dan kekurangannya. Maka bagaimana melengkapinya agar tampak terlihat memberikan warna sekaligus ada arti dan maknanya. Ini konsep pendidikan sederhana dalam praktis kehidupan yang sering kujalani.

Dari semua perjalanan pendidikan itu, tentu ada beberapa hal yang mungkin bisa kita petik buah pelajarannya. Walau pada kenyataannya, dulu terkadang saya dianggap nyeleneh, kritis, dan frontal. Karena terlalu liar dan menyentuh pembahasan yang fundamental tanpa solusi konkritnya. Benar mungkin kata Karl Marx, kritik otokritik, bahwa kritik tak akan pernah berhenti hingga ia memakan ekornya atau dirinya sendiri.

Terlepas dari itu, karakter pendidikan yang kudapatkan adalah mental pendidikan. Sebuah mental pendidikan yang mengajarkan tentang semangat pencarian intelektual. Ini yang jarang diajarkan dalam pendidikan kita. Sebab, di bangku akademik kita hanya akan belajar tentang 'apa itu' sesuai jawaban pasti. Dan semangat pencarian intelektual itu tak cocok dengan pendidikan praktis yang kita jalani.

Karena semangat intelektual harus menyaratkan kritis terhadap segala sesuatu. Dan jika diterapkan dalam akademik, hal ini biasanya akan menjadi debat kusir. Seperti contoh, ketika guru bertanya 1 + 1 = berapa? Maka murid akan menjawab. Apa itu 1? Kenapa ada 1 dan bentuknya seperti itu? Jadi pertanyaan akan dibalas dengan pertanyaan, yang artinya pengetahuan tak akan berhenti dengan jawaban pasti.

Oleh itu, pada dasarnya semangat intelektual adalah panggilan nuraninya sendiri. Ia selalu senantiasa untuk mengembarakan akalnya dalam memahami segala ciptaan Sang Zat Kuasa. Pencariannya adalah tentang kebesaran dan keagungan Sang Zat Kuasa.

Sebab, pengembaraan akal tanpa adanya ketundukan berpikir kepada Sang Zat Maha Kuasa atau bisa disebut Tuhan, maka dia akan kehilangan akalnya sendiri. Karena, sehebat apa pun akal kita, akal kita pasti akan bertemu dengan keabsurdan, kebuntuan ketika mencari solusi. Bahkan Imanuel Kant yang seorang filsuf mengatakan, bahwa kecerdasan manusia itu sangatlah terbatas.

Dari sini, dapat diartikan pengembaraan akal adalah harus berujung, dan titik terakhirnya adalah Tuhan. Jadi suatu kebenaran pasti akan terungkap oleh orang-orang yang benar-benar ingin mencarinya, dengan mengikutkan peran Tuhan dalam pencariannya. Oleh itu, saya menyetujui tentang pendapat bahwa pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang menanamkan mentalitas mencari. Ini mengajarkan tentang kebebasan dan yang bergandengan dengan kepasrahan kepada Tuhan.

 

 

Bisa ditemui di; Facebook : punkrock_alvin@yahoo.co.id / Instagram : catatan_fahlevi

0 Response to "Mental Semangat Pencarian Intelektual Pendidikan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel