Manusia Berfikir, Tuhan pun Tertawa...

Manusia Berfikir, Tuhan pun Tertawa...
Penulis: Mohammad Zainur Riza Fahlevi
Penulis: Mohammad Zainur Riza Fahlefi

Source :https://www.metamorfosa.co/2020/09/musibah-corona-dipolitisasi-benar-ataMungkin seperti begitulah peribahasanya, ketika manusia mulai menyentuh dunia berfilsafat atau berfikir tentang dunianya yang begitu bebas tanpa lalu lalang. Judulnya, manusia berfikir Tuhan pun tertawa, ini merupakan tatkala manusia ingin mengetahui pengetahuan tentang kebenaran hakikat segala batas-batas manusia. Ini juga adalah bahasa Milan Kundera, dalam sebuah pepatah Yahudi, untuk mengatakan bahwa kita tak bisa terlalu jauh untuk bisa berpikir ke sana dan kemarBahwa seberapa jauh manusia mencari kebenaran, ia terkadang mengembarakan akalnya sampai hingga ia tak tahu dan tak enggan untuk berhenti sampai mana ujungnya. Maka, tuhan pun hanya tertawa, bahwa padahal ilmu manusia yang diberikan tuhan hanyalah sekedar setetes dari samudra yang luas. Disini, seakan dunia manusia akan menjadi sebuah panggung komedi bagi yang mengedepankan pikiran dan tragedi bagi mereka yang mengutamakan perasaan.

Memang benar, manusia mempunyai sebuah akal dalam organik tubuhnya. Akal itu bukan otak, melainkan intelek murni bawaan manusia yang bersifat alam bawah sadar atau kekuatan ruhaniah. Dengan begitu, akal adalah yang membedakan antara manusia dengan hewan, karena kalau bicara otak, hewan pun punya otak juga. Inilah awal cikalbakal dari akal yang akan menjadi potensi besar manusia dalam mencari dan menjalani kehidupan sekaligus kebijaksanaannya.

Dengan akal, manusia mulai bisa berpikir untuk membedakan antara benar dan salah, antara baik dan jahat, antara bagus dan buruk. Tapi terkadang manusia juga mulai lupa tentang kodrat akal, menurut Ibnu Khaldun, yang bahwa akal adalah suatu 'timbangan' karya rancangan mesin tuhan untuk menimbang emas, tapi manusia malah menggunakannya untuk menimbang gunung dengan akalnya. Itulah yang harus diperhatikan ketika akal bicara tentang kehidupan manusia agar untuk bisa dimengerti tentang ketidakmengertiannya.

Kata Bergon, akal dicirikan oleh suatu ketidakmampuan alami untuk memahami & agar mengerti kehidupan. Namun, betul pula, apa kata bahasa Cak Nun, bahwa akal itu ujung jari tuhan. Akal itu suatu potensi ruhaniah, akal itu ia bagaikan dengan ujung jari tuhan yang berarti mampu menyentuhkan cintanya kepada kita untuk mentrasfer cinta dan berbagai anugerah. Atau dapat dikatakan pula, bahwa akal itu yang adalah alat untuk memahami pedoman tuhan, dan dapat memahami segala keindahan dari kebesaran dan keagungan tuhan.

Refleksi Berpikir

Dalam silaturrahmi fikri bersama kali ini, kita akan membahas tentang akal yang berpaut dengan berpikirnya manusia. Karena dengan adanya berpikir, manusia akan kian tumbuh mengembangkan dirinya, mengelola dirinya, dan mengekspresikan dirinya. akhirnya hingga sekarang, sebuah pemikiran manusia terus berkembang dan tak pernah lelah untuk selalu di olah dan dirasakan dalam bentuk berbagai bidang segmen.

 

Oleh itu, kita dalam berkehidupan tentu tidak boleh stagnan dalam dunia berpikir. Dan ketika kalau kita hanya diam dalam dunia berpikir, kita akan terjebak dalam kerumitan, keruwetan, keserabutan, dunia berpikir itu sendiri. Maka dari itu,  ada konsep yang mengatakan, adil dulu dalam berpikir, baru bisa adil dalam bertindak. Karena, tanpanya kita hanya akan menjadi manusia komsumtif dengan tak didampingi produktif yang memadai.

Apalagi dengan perkembangan pesatnya dunia berpikir di era sekarang, yang informasi dan pengetahuan begitu cepat, praktis, dan massif. Bahwa ini adalah tantangan dunia berpikir yang kompleks yang mana kita mempunyai hak tertinggi untuk bisa memilih terhadap problematikanya. Dan dalam mencari kebenaran berpikirnya, benar pula ungkapan Sujiwo Tejo, tentang pikiran masyarakat yang ngawurisme dengan berdasar karena menurut dirinya benar. Inilah cara berpikir yang kadang bias dan ambigu dengan adanya kebebasan berpikir.

Artinya ini adalah tentang akal dalam pendayagunaan manusia dalam berpikir sekarang. Karena akal adalah fitrah manusia yang suci dan bukanlah perhitungan tematik manusia atau emotif manusia belaka. Ia tak bisa dibumbui atau dikotori dengan pendustaan terhadap nurani kemanusiaan. Ia adalah timbangan fitrah kodrat manusia yang digunakan demi keberlangsungan kehidupan.

Selain itu, dalam berpikir kita ada pula yang mengandalkan nafsu. Nafsu yang tak pernah puas dan untuk bisa menerima segala yang ada. Benar jika dikatakan manusia adalah tempatnya lapar, tempat yang selalu merasa haus dahaga meski telah mendapatkan apa yang ada. Dan menurut para filsuf, yang bisa mengikatnya adalah seni. Karena puncak tertinggi manusia adalah keindahan, tanpanya manusia akan selalu lapar, beringas, dan haus tak terkendali.

Kalau begitu, ini adalah pertarungan abadi manusia dengan dirinya sendiri. Ibarat kata, dalam diri manusia sebenarnya terdapat pula sisi hewani, ada serigala yang harus di beri makan. Pertanyaannya, serigala manakah yang sering kita kasih makan, antara baik dan buruk dalam timbangan akal. Maka dari itu, kenalilah dirimu sendiri di dalam kebiasaan pola hidup dan pola pikir.

Untuk itu, dalam kerangka kerja berpikir manusia yang sedalam-dalamnya amat keliru ketika tanpa memasukkan peran tuhan. Ini bukanlah dogma agamis, ini adalah kekuatan ilahiah yang manusia tak mampu ilmiahkan. Bahwa sebenarnya hidup itu, ada keseimbangan lingkaran kehidupan dan ada kekuatan maha dahsyat yang tak dapat ditangkap oleh manusia selain ketundukan akal.

Jadi dalam dunia kebebasan berpikir manusia yang sekarang, manusia yang telah mencapai ke sebuah titik melaju yang sebebas-bebasnya. Hingga, manusia telah melahirkan banyak pemikiran dan paradigmanya yang tak terhitung dalam kancah dunia yang ditempatinya. Terkadang berpikirnya manusia itu amat selektif dengan arbiternya sendiri. Atau bisa dikatakan massa masyarakat yang berpikirnya juga kiat mulai kompetitif ideologis.

Dengan kemajuan dan perubahan berpikir manusia seperti itu, akal pun harus berimbang dengan akhlak pula. Yang pada intinya, ketika manusia berpikir dengan menggunakan otak, lalu mendialekkan dengan akal. Dan lalu menyinkronkan akal dalam hati nuraninya dan bukanlah dari syahwat nafsunya. Maka akan terwujudnya sebuah akhlak yang mampu mencerminkan dalam pola kehidupan yang memanusiakan manusia.

Pada penutup tulisan ini, semoga akal kita senantiasa berpikir untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu kemanusiaan kita terhadap segala kehidupan. Dan implikasinya, keseimbangan kehidupan manusia pun dapat berjalan harmonis. Bukan malah menjadi bengis dan sewenang-wenangnya dalam menjalin kehidupan bersama.

 

 

Bisa ditemui di; Facebook: punkrock_alvin@yahoo.co.id, Instagram: catatan_fahlevi

Bisa ditemui di; Facebook : punkrock_alvin@yahoo.co.id / Instagram : catatan_fahlevi

Source :https://www.metamorfosa.co/2020/09/musibah-corona-dipolitisasi-benar-atau.html
Bisa ditemui di; Facebook : punkrock_alvin@yahoo.co.id / Instagram : catatan_fahlevi

Source :https://www.metamorfosa.co/2020/09/musibah-corona-dipolitisasi-benar-atau.htm

0 Response to "Manusia Berfikir, Tuhan pun Tertawa..."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel