DUKA SEPANJANG JALAN dan Puisi Lainnya

DUKA SEPANJANG JALAN dan Puisi Lainnya

Penulis: Randu Sunerta*

ABDUL KARIM YANG TERSUNGKUR DI DIMENSI WAKTU

Si bocah,

yang hobi mengenakan kemeja panjang;

putih seperti sukmanya.

Begitu pun dengan songkok hitam

yang ia cintai, yang setiap harinya

bersenggama dalam hari-harinya yang malang.

 

Abdul Karim, namanya!

di dagunya telah tumbuh beban hidup,

meraba sengsara,

dan di merihnya ada lekum

yang menyempurnakan nada kepedihan,

yang membakar kemeja dan songkoknya,

dalam putus asa.

 

Dan ia,

dan ia semakin dekat melangkah,

menuju kematian.

 

Bayang, 2020

 

 

DUKA SEPANJANG JALAN

Seorang anak dan ibu

dan perjalanan panjang

untuk menyembuhkan penyakitnya.


Penyakit itu telah mereka rasa

semenjak si ibu kehilangan suaminya,

semenjak si anak kehilangan ayahnya.

 

Di tempat peristirahatan

tempat mereka mencincang lelah

bertatapan dengan sebuah restoran

membayangkan daging, nasi, sayur, jus, ah, semoga saja!

Beberapa orang di restoran memanggil

mereka dengan sebutan gelandangan,

orang gila, penghilang nafsu makan, penculik anak.

 

Dan beberapa lagi memberikan sebuah kekenyangan kepada mereka

mereka melahap semua dengan tatapan

tanpa peduli raut wajah si pemberi itu,

mereka berdua menghabiskan waktu di sana,

di restoran itu, sampai mentari tertunduk ke laut lepas

ke masa yang semakin senyap.

 

Bayang, 2020

 


BARA API DI SEBUAH PEMATANG

Di waktu sore, di tepian pematang

dekat anak-anak berkumpul

dalam sebuah teratak tua

dan seorang lelaki berbaju putih

dengan karungnya, aritnya, cengkeramanya, lelahnya.

 

Dan tegur-sapanya dengan seorang pemilik kerbau

mana yang lebih sakit?

lelaki yang kehilangan rerumputan

yang sedari tadi menyerap gelegak api langit

dengan bayangan wajah istri dan anak-anaknya,

atau seorang pemilik kerbau yang kehilangan kepalanya?

yang hanya menikmati keteduhan

ditemani makanan dan secangkir kopi.

 

Mana yang lebih sakit?

Seekor pipit yang memgumpulkan helaian jerami dari pagi-senja

atau seekor kelelawar yang ketakutan dengan terik mentari?

 

Bayang, 2020

 

 

DI SEBUAH PASAR

Tepatnya dalam kerumunan itu

seorang gadis kecil kemayu

membawa kotak yang kelak diaminkan,

dan seorang lelaki perkasa

berpakaian hitam

menolehkan ujung pedangnya pada gadis itu,

sembari mengujar;

"Kau akan mati

manakala yang kupegang tidak menembus jantungmu,"

pedang itu adalah kenikmatan lelaki itu,

yang ditusukkan antara suka-duka si gadis kecil.

 

Kesucian gadis kecil dirampas,

kesucian itu dijaganya sejak bapak-ibunya

gugur di medan perang;

dunia yang menyedihkan,

terjagalah ia dalam kediaman lelaki itu.

 

Dan ketika telah senja,

gadis kecil itu pun pulang

dengan perut besar,

bersama kesuciannya

dan beberapa imbalan

dari kepuasan lelaki itu; kepuasan jiwanya,

lekaslah pulang gadis kecil, dengan syukurnya,

dengan gelak-tawa kesuciannya, adiknya!

serta kalimat amin yang dilontarkan.

 

Bayang, 2020



*Lahir di Padang dan berdomisili di Pesisir Selatan. Saya adalah mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Sekarang bergiat di Rumah Baca Pelopor19

0 Response to "DUKA SEPANJANG JALAN dan Puisi Lainnya"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel