Daulat Panganku Atau Daulat Industriku? Inilah Indonesiaku

Daulat Panganku Atau Daulat Industriku? Inilah Indonesiaku

Penulis: Mohammad Zainur Riza Fahlevi

Jika kita bicara ekonomi, kita pasti akan berpikir di mana untungnya? Kalau bicara politik, kita cenderung melihat siapa pemenangnya? Dan kalau bicara kebudayaan, kita mempertanyakan bagaimana kebenarannya? Inilah kebiasaan persepsi yang sering kita gunakan bersama dalam realitas sosial. Bahwa analisis setiap kehidupan mempunyai point of true, seperti ada kunci paswordnya sendiri.

Begitu pun dengan bernegara, untuk mencapai poin of true, ada skenario dan platfrom yang dijalankan. Ada target yang harus dibidik, ada visi yang harus dicapai, dan ada sasaran yang harus dituju. Tanpa adanya itu semua, hidup hanya sekadar mengalir dan mengikuti tren zaman. Hampa tak ada tujuan, kosong tanpa pemikiran. Dan jika begitu, negara adalah panggung pasar bebas kaum cukong.

Untuk itu, dalam tulisan kali ini kita akan diskusi tentang kunci power daulat negara kita, tentang apa yang perlu berdaulat saat ini. Kemarin pas liat situs beranda DPR RI, saya iseng download buletin mereka yaitu Parlementaria. Ada artikel yang menarik di sana, yang menyoal daulat pangan. Padahal, saat ini pemerintah sedang gencar daulat industri. Lah ini kok menyoal daulat pangan? Tanpa pikir panjang, dua hal itu kujadikan topik di artikel ini.

Daulat pangan dan daulat industri adalah dua kutub yang berbeda, tetapi saling bersinergi simbosis. Tanpa bahan baku, industri tak akan berjalan. Dan bahan baku tanpa dikelola dan dikemas, itu pun juga tak akan jadi menarik perhatian. Jadi, bagaimana kuncinya daulat itu bisa berdiri untuk  mengatakan bahwa "akulah yang mempunyai kekusaan tertinggi, sang pemegang kendali."

Cek Krisis

Saya coba baca berita dan mencari berita tentang permasalahan daulat pangan. Kutemuilah bahwa mayoritas di seluruh negara saat ini adalah krisis pangan di tengah pandemi. Karena masalah pangan dapat dikatakan, itu amat rentan dan penting, untuk menjaga sebuah kelangsungan hidup dan kesehatan manusia. Maka hampir setiap negara, kini mulai menjaga kestabilan stok lumbung pangannya masing-masing. Tak terkecuali Indonesia.

Jika sudah berbicara masalah pangan, berarti hal itu menyangkut keberlangsungan pertanian. Dan melansir pendapat, Moeldoko kepala staff kepresidenan, terkait masalah tantangan besar pertanian saat ini adalah tentang ketersediaan lahan. Bahwa seiring laju pertumbuhan industri dan cuaca iklim yang tak terduga, lahan pertanian kian taun kian menyusut. Selain itu juga, meskipun ada lahan, terkadang faktor ekologi pun tak mendukung dalam mempengaruhi terkait kesuburan tanah pertanian.

Dan di Indonesia sendiri, ia juga mengungkapkan bahwa lahan pertanian secara vertikal setiap tahunnya menyusut. Sebab, hampir 120 ribu hektare tanah tersebut telah beralih dan berubah fungsi tiap tahunnya. Sedangkan masalah lain yang melanda dalam pertanian, semua terletak pada SDM petani untuk produktifitasnya dan berkutat pada permodalannya.

Di sisi lain, ada garis besar lagi terkait pangan. Menurut data Rural Development and Food Security Forum 2019 yang digelar oleh Asian Development Bank (ADB), bahwa 882 juta manusia penduduk di muka bumi nantinya tidak lagi dalam kondisi aman pangan. Dan selain itu, peringkat dalam indeks ketahanan pangan, menurut Global Food Safety Initiative (GSFI) pada Desember 2019, Indonesia menempati nomor 62, kalah jauh dengan singapura. Secara tidak langsung, berarti hal ini sudah masuk ke dalam taraf yang genting.

Padahal, potensi kita yang berbasis maritim dan agraris sangatlah besar. Namun meski begitu, penyumbang produk domestik bruto (PDB) nasional, bidang pertanian tetap ambil bagian. Status ketahanan pangan untuk saat ini adalah siaga antisipasi jurang resesi, dan masih pengawalan kontrol check and balance.

Berbeda dengan masalah industri yang kini sedang berlangsung dan melanda di Indonesia. Industri di Indonesia saat ini lebih menekankan penanaman modal pada daya tarik investasi asing. Karena, industri dinilai akan dapat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat dan tingkat produktif rakyat, sekaligus PDB-nya. Hal itu sejalan dengan dibuatnya RUU Omnibus Law dalam mempermudah berbagai investasi untuk pengurusan izin dan sebagainya.

Adapun isu yang diangkat Indonesia, dalam pertemuan Dewan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-35 ASEAN 2019,  mengusulkan ekonomi digital dan revolusi industri 4.0. Yang mana nantinya, mencakup sektor perdagangan, keuangan, pendidikan, serta riset dan teknologi. Dan ini akan menjadi prioritas Indonesia untuk bisa menjebol laju pertumbuhan ekonomi.

Sedangkan masalah yang mendera bidang industri Indonesia menurut Kementerian Perindustrian (Kemenperin), adalah kekurangan bahan baku, infrastruktur, utility, tenaga ahli. Selain itu, belum lagi ditambah dengan adanya tekanan produk impor, limbah industri, dan permasalahan Industri Kecil dan Menengah (IKM). Dan fokus masalah tersebut, masihlah dalam status meraba-raba mencari solusinya.

Tinjau Kembali

Setelah penjabaran di atas, lalu apa yang nanti akan terjadi pada Indonesia di masa depan? Apakah ada point of true yang menjadi power kedaulatan kita? Ini seru dan menarik untuk dibahas. Sebab perkiraanku era digital nanti akan melesat, sekaligus mengubah seluruh lapisan kehidupan masyarakat.

Bahwa ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK) akan mulai dikembangkan dan marak digiatkan. Lalu, teknologi digital dan industri akan menyinergikan karakternya mereka kembali sesuai sosio-historis. Akhirnya, pekerjaan yang dulu memakai tangan dan langsung sesuai di tempat, yang pernah digeser oleh mesin, dan pada akhirnya nanti mesin akan digeser lagi oleh digital.

Semua kehidupan akan jadi lebih mudah, cepat, praktis, dan singkat. Dan jendela dunia tak lagi lewat buku, melainkan lewat digital. Dan yang dikhawatirkan pada zaman digital seperti itu, akan adanya era disrupsi pada nilai kemanusiaannya sendiri. Bahwa, privatisme lebih tinggi dari pada kolektif.

Itu hanyalah dugaan dengan kemungkinan bisa terjadi ataupun tidak terjadi. Tapi daulat Indonesia pada dasarnya bukanlah industri. Dan jika masih saja merangsek bebas tanpa tinjauan ideologis pancasila, ini akan jadi duri warisan nusantara.

Karena dampak industrialisasi cenderung hanyalah bersifat memanfaatkan sumber daya alam. Dan kita tahu, SDA itu amat terbatas dalam penggunaannya. Maka lawan counternya industri adalah agriculture, yang pro-pelestarian dan menjaga alam. Jadi tak heran, ketika pertanian mempunyai masalah keterbatasan lahan, karena tergerus pembangunan. Kurasa, sifat primitif manusia yang budaya merusak dan tak kenal pamrih, akan jadi bencana bagi bumi kita ke depan.

Kunci ekonomi yang di gagas Soekarno, dengan tiga kunci; kemandirian, berdikari dan berdaulat, mungkin bisa jadi adalah kunci power Indonesia dalam agriculture yang belum tercerahkan. Karena kita masih ketergantungan dengan negara asing dan terlena bumbu bombastis trap utang yang kini sulit bisa lolos dari belitannya.



Bisa ditemui di Facebook: punkrock_alvin@yahoo.co.id, Instagram: catatan_fahlevi

0 Response to "Daulat Panganku Atau Daulat Industriku? Inilah Indonesiaku"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel