Wacana Redenominasi Uang Rupiah, Legit atau Gigit?

Wacana Redenominasi Uang Rupiah, Legit atau Gigit?

Penulis: Mohammad Zainur Riza Fahlefi

Jika kalian suka dan sering nongkrong di cafe, kalian pasti tak asing dengan label harga menu yang berisi 7 k, 8 k, dsb. Ini adalah budaya fashion literasi baru dalam dunia ekonomi di Indonesia. Agar terlihat mudah dibaca sekaligus elit dipandang, maka 3 digit nol dihilangkan. 

Begitulah tren seni untuk terlihat berkelas layaknya kaum borjuis. Sederhana, simpel, dan mudah dipahami. Gaya itu kini telah menjamah di berbagai warung, cafe, dan PKL yang berada di kota-kota kecil ataupun besar.

Selain itu, apakah kalian juga pernah menawar sebuah harga barang dengan lisan yang menghilangkan 3 digit nolnya? Seperti contoh, harga yang aslinya 250.000 disebut menjadi 250 saja. Ini pula yang sering terjadi di masyarakat. Tapi bagaimana jika, uang rupiah Indonesia yang nol 3 digitnya dihilangkan? 

Dan Itulah wacana pemerintah dan BI (bank indonesia) yang akan atau sedang dijalankan untuk Indonesia ke depannya. Meski menuai prokontra bagi ekonom Indonesia, tampaknya hal ini tak begitu menjadi sorotan diskusi publik. Padahal, resiko tersebut bagai pedang bermata dua. Bisa lejit bisa juga gigit.

Redenominasi Terhadap Rupiah

Beberapa waktu silam kemarin, menteri keuangan Sri Mulyani telah memutuskan RUU redenominasi untuk dijadikan sebagai rencana strategis Kementerian Keuangan Tahun 2020-2024. Ini bukan pertama kalinya isu redenominasi dibahas dan diangkat kembali. Sebab Bank Indonesia dan pemerintah pun telah mencanangkan gagasan ini sejak lama. Namun, hingga kini gagasan tersebut belumlah terealisasikan.

Adapun alasan Kemenkeu untuk mengajukannya adalah berdasarkan dua landasan. Pertama, untuk efisiensitas mata uang dalam waktu transaksi, mengurangi human error, dan pelebelan jumlah harga atau barang untuk lebih sederhana dan fleksibel.

Kedua, penyederhanaan transaksi, akuntansi dan pelaporan APBN. Karena dengan begitu dapat lebih praktis, tanpa terlihat banyak digit nol rupiah. Hal ini guna untuk mempermudah sekaligus mengangkat kembali harkat dan martabat rupiah dalam mata uang global. Hal ini sekaligus diharapkan nantinya dapat membentuk penyetaraan mata uang asing bagi Indonesia.

Secara istilah, redenominasi adalah “penyederhaan dan penyetaraan mata uang rupiah untuk menjadi lebih kecil tanpa menghilangkan nilai tukarnya.Seperti contoh, Rp, 1.000 akan menjadi Rp, 1 saja. Dan dalam jual-beli, nilainya akan tetap sama. Bahwa ini hanyalah pengurangan jumlah digit nol saja.

Dalam menjalankan program ini agar dapat terlaksana secara penuh, setidaknya program ini diperkirakan membutuhkan waktu 11 tahun lagi baru bisa mampu terimplementasi. Karena hal ini butuh banyak pertimbangan matang, persiapan, edukasi masyarakat dan kondisi ekonomi yang stabil. Meski begitu, ini tetap jalan panjang rupiah dalam kontes kelas mata uang global.

Di sisi lain, hal ini juga bertujuan untuk menerobos keluar dari zona depresi rupiah terhadap kurs dollar. Kalau kita lihat saat ini, 1 dolar = 14.000 rupiah. Maka, setelah redenominasi akan menjadi, 1 dolar = 14 rupiah. Jadi, tak terlihat begitu jauh.

Dengan kata lain, selain redenominasi dapat meningkatkan kredibilitas mata uang rupiah, ia juga dapat mempermudah transaksi masyarakat. Dan hal ini dianggap sebagai satu tahap langkah kemajuan meningkatkan stabilitas ekonomi Indonesia.

Tinjau Kembali

Bukannya saya pesimis dengan wacana ini, akan tetapi saya lebih tak yakin dengan kondisi Indonesia saat ini. Sebab pengaruh dampak redenominasi itu amat luas dan menyentuh seluruh lapisan instrumen masyarakat. Dan jika diterapkan, strateginya haruslah adikuat dalam menyiapkan mitigasi dan penetrasinya.

Karena resiko kesalahan dan kegaduhan yang bisa terjadi ini, perlu benteng takesi yang kokoh. Oleh sebab itu, ekonomi negara jika tak ditanggulangi dengan bijak dan cepat, bisa berakibat fatal bagi perkembangan kemajuan negara. Berangkat dari itu pula, wacana ini perlu komitmen bersama dalam menyukseskannya, serta tak bisa hanya secara sepihak saja.

Memang kalau mengaca ke rumput tetangga-tetangga sebelah, telah banyak yang sukses menerapkan redenominasi tersebut. Mungkin kita akan sedikit tergiur dengan perkembangan ekonomi mereka yang sedikit melambung. Dan kalau kita sadar, dan menilik kembali ke fakta heterogennya masyarakat Indonesia, hal ini bukanlah perkara mudah

Pertama, resiko pembulatan harga dan inflasi tinggi. Persepsi Psikologi Effect kepada rakyat terkait redenominasi adalah garis bawah besar yang perlu dihadapi. Sebab kalau terjadi penyelewengan, dapat berakibat inflasi tinggi dan menggerus kenaikkan rupiah. Bahwa nilai angka uang rupiah yang kian kecil dianggap remeh dan bisa untuk membulatkan harga demi meraih keuntungannya.

Kedua, status perkembangan ekonomi Indonesia. Ketahanan potensi resiko ekonomi tanpa terkendali belumlah cukup terjamin di Indonesia yang efeknya merambat luas. Karena status ekonomi kita hari ini bukanlah mental petarung atau penjajah. Kita kuli, recehan, dan berharap iba. Maka tak ayal, hal ini seperti money illusion, bahwa nilai rupiah dapat terangkat. Lantaran kenyataannya, rupiah tetaplah sama dan masih lemah belum begitu kuat.

Sederhana saya, wacana tersebut progresif banget karena melesat jauh ke depan tanpa fondasi penguatan. Apalagi melihat kinerja pemerintah yang kadang tak tepat sesuai sasaran dan target. Ini bisa pula menjadi buang-buang biaya pengeluaran, tenaga dan waktu.

Tapi, relevansi juga ada ketika itu diterapkan dalam konteks yang berbeda, bukan sebagai tren elit mata uang negara maju. Yaitu ketika, Indonesia telah menjadi negara maju dalam hal ekonomi. Bahwa penduduknya mayoritas mempunyai pendapatan tinggi dan standar hidup yang tinggi. Artinya, kesejahteraan rakyat sudah terjamin dan terpenuhi.

Namun, jikalau Indonesia masih berada di tahap negara berkembang, lebih baik tidak perlu dulu atau ditunda saja. Dan seandainya ngotot dipaksa, program tetap berjalan tapi juga memperburuk keadaan. Karena imbasnya adalah nilai tukar mata uang, sebagai pelaku pasar mau tak mau akhirnya masyarakat beradaptasi sesuai uang yang ada.

Redenomimasi bukanlah urgensi ekonomi negara, melainkan pelarian depresi krisis inflasi ekonomi. Jika dilihat dengan mata telanjang, pertarungan kelas rupiah itu masih jauh. Tiap tahun itu makin naik atau stagnan di tempat. Masalah urgensi ekonomi bukanlah pembaruan mata uang, melainkan kesejahteraan rakyat yang belum mencapai titik terang. Kembali perbaiki dulu priotas kesejahteraan dan keadilan ekonomi rakyat, maka masa depan Indonesia gemilang bukanlah bualan.



Bisa ditemui di Facebook: punkrock_alvin@yahoo.co.id, Instagram: catatan_fahlevi


0 Response to "Wacana Redenominasi Uang Rupiah, Legit atau Gigit?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel