Sebuah Cerita yang Buruk (J.D. Salinger)

Sebuah Cerita yang Buruk  (J.D. Salinger)
Sumber Foto: Film Bringing up Baby (1938) insider.com

Ditranslasi oleh: Kusharditya Albi Hafiezal

Setiap hari, Justin Horgenschlag—asisten operator mesin cetak beroplah tiga puluh dolar seminggu—melihat sekitar enam puluh wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya, dari jarak dekat. Jadi dalam beberapa tahun yang telah ia habiskan di New York, Horgenschlag sudah melihat 75.120 wanita yang berbeda dengan jarak yang dekat. Dari 75.120, paling tidak 25.000 berusia di bawah tiga puluh tahun dan di atas lima belas tahun. Dari 25.000, hanya 5000 yang berat badannya seratus lima puluh dan seratus dua puluh lima pon. Dari 5000, hanya 1000 yang wajahnya tidak buruk. Hanya 500 yang dapat dikatakan menarik; hanya 100 dari semuanya yang cukup menarik; hanya 25 yang dapat membuat laki-laki mengeluarkan siulan mereka. Dan hanya 1 saja yang dapat membuat Horgenschlag jatuh cinta pada pandangan pertama.

Sekarang, hanya ada dua jenis femme fatale. Pertama, seorang femme fatale[1] yang femme fatale pada setiap perkataannya. Kedua, seorang femme fatale yang tidak femme fatale pada setiap perkataanya.

Perempuan itu bernama Shirley Lester. Umurnya 20 tahun (11 tahun lebih muda dari Horgenschlag), dengan tinggi 5 kaki plus 4 inci (membuat kepalanya berada satu level dengan letak mata Horgenschlag), memiliki berat 117 pon (ringan seperti bulu untuk dibopong). Shirley adalah seorang stenografer, hidup bersama dan membantu ibunya, Agnes Lester, seorang penggemar Nelson Eddy kawakan. Sebagai gambaran untuk mendeskripsikan penampilan Shirley, orang-orang sering mengatakan: "Shirley secantik bidadari kayangan."

Dan di dalam bus Third Avenue tiap pagi, Horgenschlag berdiri di depan Shirley Lester, dan itu merupakan sebuah langkah yang buruk. Semua itu karena mulut Shirley terbuka dengan cara yang aneh. Shirley sedang membaca iklan kosmetik pada dinding panel bus; dan ketika membacanya, Shirley sedikit melemaskan rahangnya dan membuat mulutnya sedikit terbuka. Dan pada saat mulutnya sedikit terbuka, bibirnya menjadi sibak, Shirley adalah salah satu perempuan yang paling mematikan di seluruh Manhattan. Horgenschlag melihatnya bagaikan obat bagi monster kesepian yang terlampau lama menggerus hatinya semenjak ia datang ke New York. Oh, sungguh penderitaan! Sebuah penderitaan bahwa ia berdiri di depan Shirley Lester, dan tidak mampu berlutut dan mencium bibirnya yang tersibak. Sebuah penderitaan yang tidak dapat diungkapkan!

***

Itu adalah bagian awal cerita yang mulai kutulis untuk Collier's[2]. Aku ingin menulis cerita percintaan yang manis antara laki-laki dan perempuan. Apa yang lebih baik dari itu, pikirku. Dunia butuh cerita-cerita percintaan antara laki-laki dan perempuan. Tapi untuk menulis satu, sayang sekali, penulis harus berurusan dengan masalah-masalah tentang pertemuan antara laki-laki dan perempuan. Aku tidak bisa melakukan yang satu ini. Tidak mampu untuk membuatnya agar terlihat masuk akal. Aku tidak bisa membuat pertemuan Horgenschlag dan Shirley secara tepat. Dan inilah alasannya:

Tentu sangat tidak mungkin bagi Horgenschlag untuk berlutut dan mengatakan semua ini dengan tulus:

"Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku tergila-gila padamu. Dan aku tahu itu. Aku bisa saja mencintaimu sepanjang umurku. Aku asisten operator mesin cetak, bayaranku tiga puluh dolar seminggu. Ya Tuhan, betapa aku mencintaimu. Apa kau sibuk malam ini?"

Horgenschlag ini pasti tolol, tapi tidak seberapa tolol. Mungkin saja ia memang bocah kemarin sore. Kau tidak bisa berharap bahwa pembaca Collier's akan menelan cerita murahan semacam itu. Sekali murahan ya tetap murahan.

Aku tidak bisa, tentu saja, jika tiba-tiba harus memberi Horgenschlag sebuah serum kepercayaan diri yang dibuat dari ramuan puntung rokok William Powell dan topi lusuh milik Fred Astaire.

"Tolong jangan salah paham, nona. Saya seorang ilustrator majalah. Ini kartu nama saya. Saya ingin sekali menggambar sketsa wajah anda, lebih dari siapapun yang ingin saya gambar dalam hidup saya. Mungkin ini bisa jadi keuntungan buat kita. Boleh saya menelepon anda sore ini, atau mungkin besok dalam waktu dekat? (Sebuah tawa yang ramah). Semoga ini tidak terdengar menyedihkan. (Tertawa lagi), saya kira begitu, sungguh, nona, sungguh."

Ya, ampun. Kalimat itu disampaikan dengan penuh kekhawatiran, tapi dengan keramahan, dan senyuman yang sembrono. Jika saja Horgenschlag menyampaikan semua perkataan itu. Tentu saja, Shirley, adalah penggemar Nelson Eddie itu sendiri, dan dia pasti salah satu pengurus aktif perpustakaan.

Mungkin kalian akan mulai paham apa yang aku hadapi di sini.

Pasti, Horgenschlag akan mengatakan kata-kata seperti ini:

"Permisi, apa anda Wilma Pritchard?"

Pertanyaan itu pasti akan dijawab Shirley secara dingin, lalu ia akan menghindar ke bagian bus yang lain:

"Bukan"

"Lucu sekali", Horgenschlag terus melanjutkan, "Saya benar-benar berpikir anda Wilma Pritchard. Apa anda dari Seattle?"

"Bukan"—bongkahan es lain dari Shirley.

"Seattle itu tempat asal saya."

Menyingkir

"Kota kecil yang bagus, Seattle. Maksud saya kota yang benar-benar bagus. Saya baru di sini—maksud saya di New York—sudah 4 tahun. Saya asisten operator mesin cetak. Nama saya Justin Horgenschlag."

"Saya benar-benar tidak TER-TA-RIK."

Oh, Horgenschlag tidak akan pernah berhasil dengan kalimat-kalimat seperti itu. Dia tidak punya apa-apa, entah dari penampilan, kepribadian, atau pakaian yang bagus untuk menarik perhatian Shirley dalam keadaan seperti itu. Horgenschlag benar-benar tidak punya kesempatan. Dan, aku sudah bilang sebelumnya, untuk menulis kisah pertemuan antara laki-laki dan perempuan, alangkah bijaknya jika si laki-laki lah yang menemukan si perempuan.

Mungkin Horgenschlag bisa saja pura-pura pingsan, dan ketika melakulannya ia bisa meraih sesuatu: sesuatu ini bisa saja pergelangan kaki Shirley. Dia bisa merusak stockingnya, atau sukses membuat ornamen panjang pada stocking itu. Orang-orang akan menaruh perhatian pada Horgenschlag, dan ia akan langsung berdiri dan bergumam: "Saya tidak apa-apa, terima kasih," lalu, "Oh tidak! Saya benar-benar minta maaf, Nona. Saya merusak stocking anda. Biarkan saya menggantinya. Saya sedang tidak bawa uang sekarang, tapi beritahu saja alamat anda."

Shirley tidak akan memberikan alamatnya. Ia hanya akan malu dan terdiam. "Tidak apa-apa," katanya, sambil berharap bahwa Horgenschlag tidak pernah dilahirkan. Dan selain itu, keseluruhan ide menjadi tidak masuk akal. Horgenschlag, seorang bocah Seattle, tidak akan punya mimpi menggenggam pergelangan kaki Shirley. Tidak di dalam bus Third Avenue.

Namun, yang lebih masuk akal adalah sebuah kemungkinan bahwa Horgenschlag menjadi nekat. Banyak laki-laki yang mencintai seseorang dengan nekat. Mungkin Horgenschlag salah satunya. Ia bisa saja menjambret tas dan membawanya lari ke arah pintu belakang. Shirley pasti berteriak. Para lelaki akan mendengarnya dan mengingat  Alamo[3] atau semacamnya. Horgenschlag pergi, dan kita anggap saja dia tertangkap. Bus berhenti. Wilson si polisi patrol, yang sudah lama tidak mendapat tangkapan bagus, melapor di tempat kejadian. Apa yang terjadi di sini? Pak petugas, laki-laki ini mencoba mencuri tas saya.

Horgenschlag diangkut ke pengadilan. Shirley, tentu saja, harus hadir dalam sesi persidangan. Mereka bertukar alamat, dengan begitu dia akhirnya diberitahu tempat tinggal Shirley.

Hakim Perkins, orang yang bahkan tidak pernah mendapat kopi yang enak, secangkir kopi yang sangat enak di rumahnya sendiri, menjatuhkan hukuman satu tahun penjara pada Horgenschlag. Shirley menggigit bibirnya, dan Horgenschlag pergi.

Di penjara, Horgenschlag menulis surat untuk Shirley Lester:

"Salam Nona Lester:

"Aku tidak pernah berniat mencuri dompetmu. Aku melakukan itu karena jatuh cinta padamu. Kau tahu aku hanya ingin berkenalan. Maukah kau menulis surat untukku jika ada waktu? Aku benar-benar kesepian di sini dan aku sangat mencintaimu dan mungkin kau bisa berkunjung kemari jika ada waktu luang.

Kawanmu,

Justin Horgenschlag"

 

Shirley memamerkan surat itu pada teman-temannya. Mereka berkata "Ah, Shirley, itu manis sekali." Shirley sepakat bahwa itu salah satu bentuk perilaku yang manis. Mungkin ia akan membalasnya. " Ya, balas suratnya. Beri dia kesempatan. Tunggu apa lagi?" Jadi Shirley membalas surat Horgenschlag.

"Salam, Tuan Horgenschlag:

"Aku sudah membaca suratmu dan aku benar-benar menyesal atas apa yang sudah terjadi. Sayang sekali, sangat sedikit yang bisa kita lakukan saat ini. Tapi aku benar-benar merasa bersalah atas berubahnya keadaanmu. Bagaimanapun juga, hukumanmu ringan dan kau akan segera bebas. Semoga keberuntungan menyertaimu.

Salam hormat,

Shirley Lester"

 

"Salam, Nona Lester:

"Kau tidak pernah tahu betapa senangnya aku ketika menerima suratmu. Kau tidak perlu merasa menyesal. Itu semua salahku karena melakukan hal yang gila, jadi jangan lagi merasa begitu. Kami menonton film seminggu sekali di sini, dan itu tidak buruk. Aku berumur 31 tahun dan aku berasal dari Seattle. Aku sudah tinggal di New York selama 4 tahun dan aku pikir ini kota yang hebat, hanya saja sesekali kau akan merasa sedikit kesepian. Kau perempuan tercantik yang pernah aku lihat bahkan di Seattle. Aku harap kau mau berkunjung Sabtu sore pada waktu kunjung di jam 2 sampai 4 dan aku yang akan menanggung biaya perjalanan keretamu.

Kawanmu,

Justin Horgenschlag"

Shirley juga memamerkan surat ini pada teman-temannya. Tapi ia tidak membalas surat untuk kali ini. Semuanya dapat melihat bahwa Horgenschlag telah bertindak bodoh. Dan setelah semua itu. Ia telah membalas surat pertamanya. Jika ia membalas surat tolol ini, hal ini akan berlangsung selama berbulan-bulan dan segalanya. Ia telah berbuat sebisanya untuk laki-laki ini. Lagipula nama macam apa itu. Horgenschlag.

Sementara itu, di penjara, Horgenschlag mengalami kesulitan, meskipun ia dapat menonton film seminggu sekali. Teman satu selnya adalah Snipe Morgan dan Slicer Burke, dua orang dari ruang belakang, yang melihat wajah Horgenschlag mirip dengan seorang laki-laki di Chicago yang pernah menghianati mereka. Mereka yakin Justin Horgenschlag dan Ratface Ferrero adalah orang yang sama.

"Tapi aku bukan Ratface Ferrero," kata Horgenschlag pada mereka

"Aku tidak butuh penjelasanmu," kata Slicer sambil menjatuhkan jatah makanan Horgenschlag yang sedikit itu ke lantai.

"Hajar saja kepalanya," kata Snipe.

"Aku katakan pada kalian, aku di sini karena mencuri dompet seorang gadis di bus Third Avenue," Horgenschlag memohon. "Hanya saja aku tidak benar-benar mencurinya. Aku jatuh cinta padanya, dan itulah satu-satunya cara agar aku dapat mengenalnya."

 

"Aku tidak butuh penjelasanmu," kata Slicer

"Hajar saja kepalanya," kata Snipe.

Lalu, pada suatu hari 17 tahanan mencoba melarikan diri. Selama waktu bermain di halaman penjara, Slicer Burke menggoda keponakan sipir, gadis berusia 8 tahun, Lisbeth Sue, ke dalam pelukannya. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang anak itu, lalu mengangkatnya agar sang sipir dapat melihat.

"Hey, sipir! teriak Slicer. "Buka gerbang dan tirainya untuk anak ini!"

"Aku tidak takut, paman Bert!" teriak Lisbeth Sue.

"Turunkan anak itu, Slicer!" perintah sang sipir dengan ketidakmampuannya dalam perintahnya.

 

Tapi Slicer tahu ia masih memiliki sipir yang sedang mengincarnya. Tujuhbelas laki-laki dan seorang anak kecil berambut pirang berjalan keluar dari gerbang. Enambelas laki-laki dan seorang anak kecil berambut pirang berjalan keluar dengan selamat. Salah satu penjaga di menara, berpikir bahwa ia punya kesempatan bagus untuk menembak kepala Slicer tepat di kepalanya, dan dengan itu dapat memecah gerombolan tersebut. Tapi dia meleset, dan hanya berhasil menembak seorang laki-laki kecil yang berjalan dengan gugup di belakang Slicer, membunuhnya dengan seketika.

Tebak siapa?

Dengan begitu, rencanaku untuk menulis kisah pertemuan antara laki-laki dan perempuan untuk Collier's, sebuah kisah cinta yang lembut dan tak terlupakan, telah gagal karena kematian “sang pahlawan”.

Sekarang, Horgenschlag tidak akan pernah berada di antara tujuh belas laki-laki yang putus asa itu seandainya dia tidak putus asa dan panik akibat kegagalan Shirley dalam membalas surat keduanya. Tapi mengingat fakta bahwa ia tidak membalas surat kedua. Ia memang tidak akan pernah membalas surat itu meskipun seratus tahun berlalu. Aku tidak bisa mengubah kenyataan itu.

Dan betapa malunya. Betapa kasihannya bahwa Horgenschlag, di penjara, tidak dapat menulis surat berikut untuk Shirley Lester:

"Salam, Nona Lester:

"Aku harap beberapa kalimat tidak akan menganggu dan mempermalukanmu. Aku menulis, Nona Lester, karena aku ingin kau tahu bahwa aku bukan seperti pencuri pada umumnya. Aku mencuri tasmu, yang aku ingin kau tahu, itu karena aku jatuh cinta padamu tepat pada saat aku melihatmu di bus. Aku tidak bisa berpikir bagaimana cara agar aku bisa berkenalan denganmu kecuali dengan bertindah gegabah—dengan bodoh, secara tepatnya. Tapi begitulah, seseorang menjadi bodoh, ketika seseorang itu jatuh cinta.

"Aku menyukai bagaimana bibirmu sedikit tersibak. Kau mewakili jawaban atas segalanya untukku. Aku belum merasakan bahagia sejak datang ke New York empat tahun yang lalu, dan aku juga tidak merasakan kesenangan. Sebaliknya, aku hanya bisa menggambarkan diriku sebagai salah satu dari ribuan pemuda di New York yang hanya sekedar ada.

"Aku datang ke New York dari Seattle. Aku berharap jadi kaya raya berpakaian bagus dan perlente. Namun, setelah empat tahun aku belajar bahwa aku tidak akan menjadi kaya dan terkenal serta berpakaian bagus, dan perlente.

Aku adalah asisten operator mesin cetak yang baik, dan hanya itulah aku. Ketika suatu saat operator mesin cetak sakit, aku harus menggantikan posisinya. Selalu kekacauan yang kuperbuat, Nona Lester. Tak ada yang mau menerima perintahku. Editor-editor itu malah cengengesan ketika kuberi peritah untuk bekerja. Dan aku tidak menyalahkan mereka. Aku memang bodoh dalam memberi perintah. Aku pikir aku hanyalah satu dari jutaan orang yang tidak diperuntukkan memberi perintah. Tapi aku sudah tidak keberatan. Ada bocah berumur dua puluh tiga tahun yang bosku pekerjakan. Umurnya hanya dua puluh tiga, dan umurku tiga puluh satu tahun dan telah bekerja dalam posisi yang sama selama empat tahun. Aku tahu suatu saat dia akan menjadi kepala operator mesin cetak dan aku akan menjadi asistennya. Dan aku sudah tidak lagi keberatan mengetahui semuanya.

 

"Mencintaimu menjadi hal yang penting, Nona Lester. Ada beberapa orang yang menganggap cinta adalah seks, pernikahan, ciuman jam enam pagi dan anak-anak, dan mungkin saja memang begitu, Nona Lester. Tapi apakah kau tau apa yang kupikirkan? Aku pikir cinta adalah sebuah sentuhan dan bukan sentuhan.

"Aku kira sangat penting bagi para wanita bahwa orang lain berpikir bahwa dirinya adalah seorang istri dari laki-laki yang kaya, tampan, pintar, atau populer. Aku tidak populer. Dan aku bahkan bukan orang yang dibenci. Aku hanya—hanya—Justin Horgenschlag. Aku tidak pernah membuat orang bahagia, sedih, marah, atau bahkan jijik. Aku pikir orang menganggapku sebagai orang yang baik, tapi hanya itulah.

"Ketika aku kecil, tak ada yang menganggapku manis, tampan, atau pandai. Jika mereka ingin mengatakan sesuatu tentang diriku, mereka akan bilang bahwa aku mempunyai kaki kecil yang kuat.

"Aku tidak mengharapkan balasan surat ini, Nona Lester. Aku sangat menyukai sebuah balasan lebih dari apapun, tapi dengan jujur aku tidak mengharapkannya. Aku hanya ingin agar kau tahu yang sesungguhnya. Jika perasaanku hanya membawaku pada kesedihan baru yang besar, hanya diriku sendiri yang patut disalahkan.

"Mungkin suatu saat kau paham dan mau memaafkan penggemarmu yang sembrono,

Justin Horgenschlag"

Surat itu tidak seberapa dibanding yang berikut ini:

"Salam, Tuan Horgenschlag:

"Aku menerima suratmu dan aku menyukainya. Aku merasa bersalah dan sedih bahwa kejadian-kejadian itu telah membuatmu jadi seperti ini. Jika saja kau mengatakannya, alih-alih mencuri dompetku! Dan kemudian, aku pikir aku bisa membuat percakapan menjadi lebih mudah untukmu.

 

"Sekarang jam makan siang di kantor, dan aku sedang sendiri ketika menulis surat ini untukmu. Aku merasa sedang ingin sendirian hari ini di jam makan siangku. Aku merasa jika aku ikut makan siang dengan teman-temanku di Automat, mereka selalu mengoceh tentang makanan seperti biasanya. Dan aku bisa saja tiba-tiba menjerit.

"Aku tidak peduli jika kau bukan orang yang sukses, atau kau tidak tampan, tidak kaya, terkenal, atau perlente. Suatu ketika aku pernah peduli. Ketika di sekolah menengah, aku selalu jatuh cinta pada bocah-bocah Joe Glamor. Donald Nicolson, laki-laki yang berjalan di tengah hujan dan tahu semua soneta Shakespeare secara terbalik. Bob Lacey, seorang laki-laki tampan yang bisa memasukan bola ke keranjang dari tengah lapangan, dengan skor yang ketat dan membuat semua lawannya—pemain basket yang bodoh—habis olehnya. Harry Miller, laki-laki pemalu yang punya mata coklat yang indah.

"Tapi masa-masa itu sudah usai.

"Orang-orang yang terkekeh ketika kau memberi mereka perintah adalah daftar hitamku. Aku membenci mereka sebagaimana aku tidak pernah membenci seseorang sebelumnya.

"Kau melihatku ketika aku masih memakai riasan wajah. Tanpa itu, percayalah, aku tidak ada cantik-cantiknya. Kirimi aku surat ketika kau sudah diijinkan untuk menerima kunjungan. Aku ingin bertemu lagi untuk yang kedua kalinya. Aku ingin memastikan bahwa kau tidak memahamiku sebagai orang yang palsu.

"Oh, aku sangat berharap kau mengatakan sejujurnya pada hakim tentang mengapa kau mencuri dompetku. Kita mungkin bisa bersama dan bisa berbincang mengenai banyak hal yang kita punya.

"Beritahu aku kapan aku bisa menemuimu.

Dengan hormat,

Shirley Lester"

Tapi Justin Horgenschlag tidak pernah mengenal Shirley Lester. Ia turun di Fifty-Sixth Street, dan Horgenschlag turun di Thirty-Second Street. Malam itu, Shirley pergi menonton film dengan Howard Lawrence, seseorang yang membuatnya jatuh cinta. Howard mengira bahwa Shirley merupakan mainan yang bagus, tapi ia sudah jauh daripada itu. Dan Justin Horgenschlag hanya di rumah malam itu dan mendengarkan drama radio dadi Lux Toilet Soap. Dia memikirkan Shirley malam itu, dan pada hari berikutnya, dan sangat sering selama sebulan itu. Dan tiba-tiba saja dia berkenalan dengan Doris Hillman seseorang yang sangat takut bahwa ia tidak akan mendapatkan suami. Dan sebelum Justin Horgenschlag mengetahuinya, Doris Hillman dan segala tentangnya mengisi dan membuang Shirley Lester ke belakang pikirannya. Dan Shirley Lester serta segala pikiran tentangnya, seketika itu lenyap.

Dan itulah mengapa aku tidak pernah mau menulis kisah pertemuan antara laki-laki dan perempuan untuk Collier's. Dalam kisah pertemuan laki-laki dan perempuan, laki-laki lah yang  selalu harus bertemu dengan  perempuan.



[1] Isitilah bahasa Prancis untuk menyebut perempuan mematikan

[2] Majalah dari Amerika yang dibuat 1888. Colier’s sangat populer dengan cerita pendek yang dapat dimuat hanya dalam satu halaman

[3] Sebuah frase yang menunjukkan suatu motivasi dalam situasi genting


Diterjemahkan dari cerpen J. D. Salinger yang berjudul The Heart of a Broken Story.



Seorang penggemar musik dan film, penerjemah pemula, kadang-kadang terpaksa jadi jurnalis di LPM Rhetor. Bisa ditemui di instagram @sharkassthic_

0 Response to "Sebuah Cerita yang Buruk (J.D. Salinger)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel