Indonesia Maju?

Indonesia Maju?

Penulis: Mohammad Zainur Riza Fahlefi

Kemerdekaan RI ke-75, mengangkat sebuah tema Indonesia maju. Dalam benak saya terlintas banyak hal, ketika menengok ini. Ada banyak pertanyaan juga yang ingin terulas.  Sebab, ini adalah mitos rasional yang perlu dipecahkan. Jika mitos adalah sesuatu yang tak mungkin terjadi dalam dunia kenyataan, maka begitu pun dengan adanya Indonesia maju. 

Indonesia maju adalah tujuan yang sangat mulia. Sebuah harapan yang luhur dan tinggi untuk bisa dicapai dalam pembangunan Indonesia. Banyak rakyat Indonesia yang menantikan akan datangnya kemajuan Indonesia tersebut. Tapi, Indonesia maju ini mempunyai muatan ‘konsepsi’ apa? Kemajuan apa yang ingin diciptakan dan diraih oleh pemerintah dan rakyat Indonesia. 

Karena, saya berpikir bahwa Indonesia maju ini masih begitu abstrak untuk imajinya. Seperti contoh, apakah Indonesia maju akan menjadi sebagai sebuah negara maju? Mengingat, klaim negara AS kemarin yang mengatakan Indonesia adalah negara maju. Atau justru Indonesia maju adalah terciptanya kemajuan Indonesia dalam bergerak di bidang sektor ekonomi. Karena kita mengetahui, pemimpin kita ini sangat ambisius dan nafsu sekali untuk menggenjat-genjot perkembangan ekonomi.

Secara diskursus ruang publik, wacana kemajuan itu amatlah klasik banget, namun masih asyik untuk dibicarakan. Sebab, kemajuan terus bergulir dinamis ke depan dan terus mencari pencapaian agar sesuai harapan idealnya.  

Kemajuan Ekonomi Rakyat atau Negara?

Apabila menengok perkembangan Indonesia saat ini, yang paling getol dilakukan pemerintah adalah fokus ekonomi. Dan jika bergerak ke arah ekonomi, maka landasan berpikirnya itu apa? Di sinilah saya sedikit merasa ambigu atau bias. Sebenarnya, Indonesia dalam menjalankan negara, konsep ideologi ilmu ekonominya apa? Kanan atau kiri, sih! Rasanya begitu samar kalau saya katakan antara kanan atau kiri. Jadi dua-duanya saja, tapi disesuaikan dengan asas Pancasila. Bukankah begitu selama ini?

Padahal, kalau menengok khazanah kaum intelektual zaman dulu, Indonesia itu punya gagasan ilmu ekonominya sendiri secara ideologi Pancasila. Yaitu adalah pemikiran filsafat Ekonomi Pancasila prof. Dr. Mubyarto. Tapi sayangnya, wacana dan gagasakan ini tak digunakan oleh pemerintah atau dikembangkan untuk diterapkan. Karena selain rumusan ekonomi kerakyatan Indonesia itu belumlah sempurna, tapi juga tak mendapat dukungan perhatian dari politik.

Di sisi lain, persoalan konsepsi ekonomi pun yang harus dianut oleh Indonesia ini ternyata adalah perdebatan panas bagi ekonom Indonesia. Pasalnya, ini memuat beberapa hal mendasar. Pertama, menentukan ideologi ekonomi Indonesia untuk merancang pembangunan perekonomian ke masa depan. Kedua, landasan ekonomi pasca kemerdekaan. Ketiga, menentukan arah dan visi pembangunan perekonomian Indonesia. 

Maka secara gamblang, persoalan tersebut belumlah terurai. Tapi banyak yang telah mengacu kepada konsep perekonomian Indonesia di era Soekarno. Yang lebih merujuk dominan kepada tiga hal, yaitu mandiri, berdikari, dan berdaulat. Kalau pun untuk sekarang apa yang menjadi konsep ekonomi Indonesia. 

Mungkin ironis melihatnya, sebab kita seakan menginduk dan mengadopsi ilmu ekonomi dari negara asing. Tak ada kajian ilmu ekonomi yang berbasis lokal Indonesia dengan ideologi Pancasila. Lalu kemudian diterapkan dan dijadikan sebagai acuan secara buta di negara Indonesia. Maka kemungkinan sistem ekonomi yang terjadi adalah, liar, bebas, dan banal. Akibatnya, asas ekonomi kerakyatan Indonesia tak akan terpakai, yang ada adalah persaingan bebas tanpa nilai.

Mengutip kata kekhawatiran dari pak Mubyarto, “siapapun makin sulit membantah bahwa ilmu pengetahuan di Indonesia tidak saja dirasakan mandeg, tetapi bahkan dikhawatirkan mundur”. Inilah dilematis kita bersama ketika harus menjawab persoalan tentang pertumbuhan ekonomi, persamaan, dan keadilan ekonomi di sistem perekonomian Indonesia. Dan ini makin diperparah dengan bubrahnya keseimbangan konseptual kemajuan ekonomi Indonesia, antara untuk menunjang pendapatan negara atau menjawab masalah kesejahteraan rakyatnya.

Potret Indonesia Maju

Malu saya kalau mau kritis terhadap negara, takut dosa dan salah. Tapi sebagai potret pembelajaran realitas kehidupan, sekaligus meninjau kemenangan rasionalitas atas mitos yang saat ini dibangun oleh Indonesia. Khususnya untuk bisa Indonesia maju dan terciptanya kesejahteraan rakyat, kita perlu melihat wacana yang sedang dibangun oleh pemerintah saat ini.

Setelah pelantikan presiden kita yang baru kemarin, pemimpin kita memberikan beberan informasi tentang rencana kerja di bidang ekonomi yang akan di jalankannya. Yaitu antara lain, pembangunan infrastruktur sebanyak-banyaknya, buka lowongan investasi seluas-luasnya. Dan kurang lebihnya adalah kerja, kerja, kerja untuk pertumbuhan ekonomi yang subur dan masif.

Dengan adanya hal tersebut, bisa disederhanakan bahwa wacana pemerintah adalah ingin membuat peluang ekonomi dalam industrialisasi semakin besar. Maka hal itu diharapkan, mutu kesejahteraan masyarakat akan tercipta meningkat. Dan wacana ini pun terbuat atas dasar pertimbangan untuk menurunkan angka kemiskinan, pengangguran dan menaikkan pendapatan masyarakat.

Pertanyaanya kemudian, apakah yakin wacana tersebut akan bisa membuat Indonesia maju dan mensejahterakan rakyat? Bagi yang dapat proyek akan jawab betul, sedangkan yang jadi korban akan jawab “jancuk” itu.

Karena anehnya, baru beberapa tahapan untuk segera dilaksanakan, program tersebut menuai masalah. Contohnya adalah kasus omnibus law, alih-alih ingin menaungi dan menjembatani kesejahteraan rakyat, ternyata dinilai malah merugikan pihak rakyat, khususnya buruh. Inikan artinya, bukan menjawab dan meringankan masalah masyarakat tapi malah memberikan beban masalah masyarakat. Ini belum lagi masalah kasus agraria yang melalang buana. Waduh, bubrah. Daulat rakyat kian lama tinggal jenggot saja.

Pertanyaannya lagi, apakah betul dengan wacana industrialisasi akan membuat Indonesia maju? Ini amatlah kontroversial sekali, selain dampaknya yang parah tapi juga tak kohesif dengan histori-kultur Indonesia. Soalnya, menurut BPS, 29 % tenaga kerja terbesar di Indonesia adalah pertanian, perikanan, dan perhutanan. Sedangkan industri dan manufaktur hanya 20%. Seolah ini ingin mengubah sosio-kultural rakyat Indonesia yang secara skala besar untuk menjadi beralih ke industrialisasi. 

Dan apabila kita runtut kembali, pada dasarnya wacana industrialisasi ini kurang lebih sama apa yang dipikirkan oleh negara maju saat dulu ketika era modernisasi dan globalisasi mencuat. Bahwa dalam pembangunan dunia akan ada tiga kunci utama, yaitu teknologi, industri, dan SDM. Maka dalam menjawab tantangan perubahan ekonomi dan sosial tersebut, industrialisasi adalah solusi tanpa tandingannya. 

Memang tak bisa dipungkiri, revolusi peranan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang radikal dalam dunia kerja kita. Tapi, mendorong masyarakat Indonesia ke arah transformasi industri dengan skala besar ini adalah bebas syarat. Tidak, karena transformasi industri memerlukan kondisi yang diperlukan sesuai gejala sosio-kultural, bukan malah mencerabut akar-akar budayanya.

Perlu kiranya sebuah kesadaran konsepsi wacana indurialisasi ini dipikir ulang kembali dalam lingkup struktur sosial-budaya Indonesia. Karena dampaknya bisa saja menghancurkan aset warisan bangsa, bahkan bisa terbuang sia-sia. Karena potensi aset bangsa yang kekayaan alamnya paling wahid sedunia, kepadatan penduduk terbanyak di nomor empat sedunia, dan kaya akan budaya, adat dan sejarahnya. Semua bisa ludes, lenyap, habis tak tersisa, dihisap demi pembangunan industrialisasi .

Dirgahayu Indonesiaku, bertahanlah kita ini tak rela jika keindahan dan keelokanmu mulai pupus memudar sirna. Kita juga tak ingin, kemegahan warisanmu terabaikan dan tergadaikan oleh jarak zaman. Meski kita tak tahu kemana arah kemajuan Indonesia ini, tapi kita akan terus belajar untuk tetap menjagamu dan melestarikanmu.



Bisa ditemui di Facebook: punkrock_alvin@yahoo.co.id, Instagram: catatan_fahlevi


0 Response to "Indonesia Maju?"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel