Bayangkan jika Mahasiswa Mayoritas Pragmatis

Bayangkan jika Mahasiswa Mayoritas Pragmatis


Penulis: Mohammad Zainur Riza Fahlefi

Mahasiswa adalah tokoh penting dalam suatu pembangunan negara. Tanpa adanya peran mahasiswa, negara kita mungkin akan tambah rusak dan bobrok. Sebab, kesewenangan dan kekuasan akan liar membabi buta, penindasan yang terstruktur akan merajalela, itulah kemungkinan yang akan terjadi.

Dampaknya adalah, mereka yang tak punya kuasa akan tertindas. Atau bisa dikatakan yang paling dirugikan tanpa adanya bantuan. Mereka bisa dari siapa saja, tanpa menutup kemungkinan.  Akhirnya, nilai-nilai kemanusian dan kebenaran menjadi rekayasa kepentingan milik sang penguasa. Karena yang kaya makin berkuasa, dan yang miskin semakin menderita. Seperti hukum rimba tanpa ada yang merubahnya dan yang mengcounternya.

Ketika mahasiswa yang merupakan komunitas yang dianggap lebih maju secara intelektual, dan mereka tak merespon permasalahan kesenjangan sosial-politik di masyarakat, lantas siapa yang memegang kontrol kekuasaan arus masyarakat? Tentunya adalah orang yang punya kuasa, dan dengan begitu mereka bisa bebas melakukan apa saja. Karena tak ada yang mengawasi dan mengawal kinerja mereka.

Apa yang bisa dilakukan oleh orang yang punya kuasa? Perlu diketahui, ‘kekuasaan merupakan salah satu kemampuan yang mampu mempengaruhi dunia. Lantaran dengan kekuasaan seseorang atau kelompok tertentu bisa mengakses berbagai jaringan, pengetahuan, teknologi, dan massa dengan lebih mudah daripada yang lainnya.

Andai kata berbagai privilege tadi digunakan untuk memperkaya diri, maka, memobilisasi arus massa akan lebih mudah untuk melancarkan sebuah kepentingan. Hal ini bisa melahirkan produk-produk sistem penindasan yang struktural.

Seperti, produk hukum yang tidak bisa menjerat kepentingannya. Alhasil, hukum menjadi timpang dengan slogan tumpul ke atas, tajam ke bawah. Selain itu apa? Produk budaya, KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), sebuah budaya yang membodohkan yang menghalalkan segala cara demi uang. Dengan demikian, semua kepentingan itu bisa diatur kalau ada uangnya.

Kalau produk budaya masih belum cukup, produk sosial. Ciptakan masyarakat yang apatis dengan urusan politik. Biar urusan panggung politik diwakilkan oleh elite-elite yang terpercaya dan kaum teknokrat. Giring masyarakat jangan sampai berpikir kritis, sibukkan mereka dengan kebutuhan hidupnya. Batasi akses mereka dalam ikut campur politik.

Jadi, bagaimana jika mahasiswa yang sebagai ujung tombak negara sekaligus penerus bangsa di era sekarang ini, tak melek akan realitas sosial dan politik? Perlu sahabat ketahui, realitas yang kita hadapi ini bukanlah sesuatu yang tidak bebas nilai dan bebas kepentingan. Karena realitas sosial  terus bergerak maju mengkonstruksi kehidupan.

Realitas sosial bukanlah suatu bawaan dari Tuhan, tapi bentukan dari satu individu ke manusia yang lain. Ia membawa kepentingan, harapan, dan cita-cita dalam pergerakannya. Realitas sosial bisa pula dikatakan sebagai gelanggang pertarungan ideologi dan budaya.

Mahasiswa Now

Tidak kuat saya membayangkan, bagaimana jika mahasiswa tertidur pada saat dunia sedang pelik dengan penuh masalah. Seperti mahasiswa yang tidak lagi kritis melihat kinerja pemerintah. Atau mahasiswa yang tak lagi peduli terhadap problematika masyarakat.

Inilah yang mungkin sedang terjadi dalam dilema idealis mahasiswa saat ini. Karena apa? Tantangan mahasiswa saat kini amatlah kompleks. Banyak benturan dengan realitas pribadi ketika mahasiswa harus memperjuangkan idealisnya.

Pertama, desakan ekonomi. Ini adalah masalah krusial sebelum terjun dalam berjuang. Karena kita tahu, bahwa semua kehidupan saat ini telah serba materi. Maka, ekonomilah yang menjadi tolak ukurnya.

Hingga kadang, ada suatu kewajaran dalam idealis mahasiswa.  Bahwa idealis pun bisa juga digadaikan dengan nominal. Kita seakan tak berdaya dan dipaksa tunduk dengan serba keterbatasan oleh uang. Maka saya tak heran, jika ada mahasiswa yang suka cari proyek-proyekan di pemerintahan.

Mereka lebih suka menyoroti anggaran yang bisa mendatangkan sebuah kerja sama. Daripada mengoreksi produk kerja-kerja pemerintahan. Biasanya, pelakunya adalah aktivis dari mahasiswa. Karena mereka mempunyai organisasi yang berbasis massa. Dengan massa, mereka bisa memudahkan dan melanggengkan kepentingan elite penguasa.

Mereka berpikir sepraktis-praktisnya agar tak menimbulkan banyak masalah dan menjadi beban pemerintah. Karena, prinsip-prinsip idealis kebenaran hanya akan jadi duri dalam tubuhnya, tanpa ada keuntungan. Lebih baik, menjalin hubungan sinergi dengan mutualis simbiosis yang saling menguntungkan dengan pemerintah. Toh, kalau mengkritik pemerintah terus kan tidak ada manfaatnya.

Ironis melihatnya, tapi inilah yang sering terjadi di negara kita ini. Slogan "aktivis berani mati tapi takut lapar" mungkin itulah realitanya. Ya mengutip kata Tan Malaka, idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Tapi idealis itu hanyalah kemewahan berpikir dan tak dapat mengenyangkan perut yang sedang lapar.

Intinya, sulit bagi mahasiswa bisa berjuang dengan idealisme yang tanpa menghasilkan uang. Apalagi biaya kuliah dan kebutuhan hidup yang masih menggantung dan butuh dicarikan solusinya. Hal inilah yang kadang jadi hambatan untuk diselesaikan terlebih dahulu.

Kedua, jaminan masa depan. Apakah ada jaminan sukses ketika mahasiswa murni berjuang untuk rakyat? Tidak ada kepastian jaminan, yang ada hanyalah kepentingan. Untuk itu, perjuangan idealis mahasiswa terkadang terbentur akan keadaan dan situasi yang memberikan pilihan tentang realitasnya sendiri.

Jika kuliah dianggap salah satu bentuk jaminan masa depan untuk pekerjaan, tak ayal jika idealisnya orang kuliah yang baik adalah dapat ijasah, dapat pekerjaan, dan dapat pasangan. Lengkap sudah tahapan masa depan yang cerah, karena kehidupan pada umumnya seperti itu. Mereka terbawa berpikir sama seperti anjuran pemerintah saat tahun 1960-an, bahwa mahasiswa hanyalah fokus study oriented saja, tanpa perlu banyak ikut campur urusan politik negara.

Apakah ini menjadi bentuk perubahan zaman atau kemunduran pendidikan? Karena saya banyak menemui mahasiswa sekarang yang abai terhadap perubahan sosial-politik. Entah itu "aktivis mahasiswa" atau "mahasiswa akademis". Mereka lebih asyik berada dalam zona nyaman dunianya sendiri untuk merangkai masa depannya. Kalau pun ada, itu termasuk mahasiswa yang langka.

Hari ini, kita memang sedang dilanda wabah penyakit Covid. Semua aktivitas dibatasi, dan banyak yang terkena dampaknya. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, dan banyak hal lain mulai beradaptasi dengan model online. Di tengah situasi seperti ini, harapan saya semoga pergerakan mahasiswa tetap berani membongkar dan mengcounter kebusukan elite penguasa

Pasalnya, setiap sikap yang diambil mahasiswa sedikit-banyak menentukan perubahan sosial di sekitarnya. Meski diam sekalipun tanpa menegaskan posisi, mereka telah terlibat menentukan perubahan masyarakatnya. Bahwa realitas sosial selalu bergerak dinamis maju untuk mengkontruksi masa depan.



Bisa ditemui di Facebook: punkrock_alvin@yahoo.co.id, Instagram: catatan_fahlevi

0 Response to "Bayangkan jika Mahasiswa Mayoritas Pragmatis"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel