Untuk Tan dan Puisi Lainnya



Penulis: Kodrad Ash-Siddiq
Untuk Tan

Api,
Jangan kau gerogoti tititku
Aku hanya lelaki berkelamin titit
Berhati kecil,
Kobarkan saja asmara yang di seberang sana
Aku tidak percaya pada Asmara
Aku menunggu percikan Revolusi
Biar revolusi memakan anak sendiri
Aku memilih jadi anak Revolusi
Asal tetap ber-Ibu Pertiwi

Brayut, 2 Juni 2020


Disebabkan oleh Saut I

Selain anak-anak, Ibuku
Hanya payudara yang selalu mampu menghiburku
Kadang-kadang Bir,
Tapi Bir sering jahat juga;
Kadang berubah jadi Ciu;
Kadang Sarvod
Jauh dari kata Anggur Merah

          Aku suka minum
          Tapi ga kuat mabok

Pun kau,
Kau boleh serahkan penuh
Buah dadamu padaku
Tapi jangan titip hidupmu
Aku bukan tempat bernaung

Semua karena Saut dan beberapa sajak Chairil
Aku menjadi binal dan jalang
Tapi Rendra,
Menuntun ke jalan paling melankolis

          Percayalah, dik
          Tak ada kisah cinta yang heroik

Yogyakarta, 2 Februari 2020


Ampas (Warung) Kopi

Lelap tidurmu, Boi.
Cukup lama kau tinggalkan kami
Apa saja yang kau senggamai di luar sana
Sudahkah kau tandaskan sisa kopi terakhirmu sebelum pulang
Puas kau dengar keluh-asa orang-orang
Sedang mereka tak pernah bertanya perihal risaumu

          Tidurlah, temui sunyimu
          Besok kita makan nasi bungkus ikan lele lagi
          Tak mengapa jika kau hanya mau telor ceplok
          Asal kita makan bertiga
                            
Asrama Ranggonang, Januari 2020


Ampas Tinta I

Aku mencintaimu pada egoku
Kau melihatnya melalui kaca mata Takdir
Sedang kita tak pernah bicara perihal Tuhan yang sama

Jogja, Januari 2020


Ampas Tinta II

Dengar itu, dik
Suara kumbang tahi
Mana rambutmu yang halus itu?
Kubersihkan dulu kutu-kutunya



Seorang mahasiswa rantau yang lahir di sebuah desa tua bernama Dawas. Sedang berjuang mematahkan mitos-mitos pendiddikan (formal)

0 Response to "Untuk Tan dan Puisi Lainnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel