Kita Adalah Sisa Kenangan yang Abadi



Kita adalah Sisa Kenangan yang Abadi

Identitas buku


Judul: Jatisaba


Penulis: Ramayda Akmal


Penerbit: Grasindo


Tahun: Maret, 2017


Halaman: iii+254


Menggali ingatan-ingatan masa lalu memang terkadang menyakitkan. Sendu, dukacita, dan kegetiran, berbarengan menyeruak celah-celah dan memaksa membuka memori menyakitkan. Setiap kejadian yang ingin kita coba kubur dan tutup rapat-rapat, alhasil juga tidak bisa dibendung seutuhnya. Terkadang kita juga terlampau percaya diri, dan membuahkan sikap congkak tiada tara. Hingga, dari setiap hasil yang kita gapai, setiap perolehan yang kita raih, sulit untuk mengakuinya terdapat campur tangan hal di luar diri kita.


Di salah satu hotel yang terletak di pusat kota Yogyakarta, pada saat saya menemui seorang teman yang sedang berlibur, berlangsung sebuah obrolan panjang lagi hangat. Di obrolan tengah malam yang berlangsung itu, sekian banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari saling bertanya kabar, mencurahkan kesulitan masing-masing, sampai pada sebuah rancangan untuk masa depan. Di obrolan itu pula saya akhirnya tahu sesuatu, bahwa teman saya ini punya cita-cita ingin menjadi seorang Kepala Desa (Kades) di tempat ia dilahirkan.


Agak aneh sebenarnya ketika saya mengetahui hal tersebut. Pasalnya, saya sedikit-banyak tahu kondisi teman saya ini. Mulai dari kebiasaannya, hobinya, pekerjaan yang sedang dijalaninya, sampai urusannya dengan beberapa orang yang saya kenal. Bisa dibilang, cita-citanya teman saya ini menjadi jalan yang terjal untuk dirinya pribadi. Sebab, dirinya sudah berniat mengabdikan diri apabila benar-benar bisa menjadi Kades nanti.


Secara pribadi, saya sangat mendukung cita-cita teman saya tersebut. Meskipun, tidak bisa saya pungkiri saya merasa sedikit gundah, lantaran menjadi Kades di tanah Jawa bukanlah hal sepele. Belum lagi jika dibandingkan dengan kondisi kades di daerah asal saya; Sumatera. Tentu kondisinya sangat jauh berbeda, dan bisa dibilang belum ada apa-apanya jika posisi kades di tempat saya ingin dibandingkan dengan kades yang ada di Jawa. Oleh sebab itu, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik, dan semoga pada akhirnya semua sesuai dengan yang seharusnya.


Berbicara soal kades dan printilannya, tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Bahkan, sulit dipungkiri bisa memakan waktu sampai berhari-hari, bahkan bermingu-minggu lamanya. Sebagaimana yang sebagian besar orang ketahui, jabatan kades di Jawa adalah posisi prestisius. Beda halnya dengan Sumatera, dan mungkin di daerah luar Jawa lainnya. Sependek yang saya tahu, ajang pemilihan kades di Jawa lebih bergengsi ketimbang pemilihan Camat. Entah karena faktor apa, tetapi yang jelas, banyak kepentingan yang akan masuk di dalamnya.


Masih berbincang soal Kades, ada salah satu buku novel karya Ramayda Akmal yang merekam hal itu. Buku tersebut berjudul Jatisaba, nama salah satu dusun di desa Karangmangu, Cilacap. Meskipun ditulis olehnya dalam bentuk fiksi, tetap saja buku ini adalah karya yang tidak bisa diremehkan. Setiap bagian cerita yang ada di dalamnya terasa begitu nyata, dan tak urung menyeret saya ikut memikirkan kenyataan yang sesungguhnya. Dari dua puluh satu bab yang ada, semua rasa melebur menjadi satu. Sedih, bahagia, haru, tawa dan luka menjadi kepaduan.


Segala peristiwa yang diangkat Ramayda dalam novelnya ini, semacam gumpalan kristal yang terpendam begitu lama. Kristal yang ditempa oleh waktu dan juga keadaan. Tidak hanya terik panas dan dinginnya hujan, tetapi juga banjir bandang serta kemarau panjang turut pula membentuk kristal ini.


Manusia adalah Konflik Abadi


“Sering kali kita meninggalkan cinta untuk menemukan jodoh. Atau diam-diam tetap menjaga cinta di samping memelihara jodoh. Kalau beruntung, kita bisa mencitai orang yang ternyata jodoh kita. Tapi, yang terakhir ini mungkin sangat langka (hlm 41).”  Sama halnya dengan hidup yang berjalan dengan keberpasangan, antara ditinggalkan atau meninggalkan. Sesederhana itu pilihan yang kita punya, dan akan selalu tetap begitu. Sebab seperti itulah takdir yang sudah digariskan Tuhan, tanpa pernah ada suatu yang kurang atau luput dari perhitungannya.


Novel Ramayda ini mengajarkan soal pertahanan terakhir dari rapuhnya makhluk yang bernama manusia. Makhluk yang selalu punya dua kemungkinan, antara bahagia dan menderita, dan terus dipaksa agar terbiasa menikmatinya. Bahkan, andaikata kita punya pilihan, bisa jadi sebenarnya itu tidak murni pilihan yang muncul dari hati nurani kita pribadi. Karena sangat banyak faktor yang berjalin kelindan memengaruhi pilihan tersebut, dan sulit menampik kalau manusia itu bersifat alamiah untuk terus mencurigai dan meragukan segalanya.


Buku yang ditulis dengan terbata-bata—menurut penulisnya—ini, membuat kita pada akhirnya tidak bisa meremehkan yang namanya masa lalu. Bisa disebut, buku ini adalah buku kedua setelah buku Setan Van Oyot yang mengajarkan saya, supaya tidak berusaha menghapus masa lalu. Lantaran masa lalu itu tidak selalu suram yang seperti kita duga, bahkan terkadang masa lalu bisa mengantarkan kita menuju kondisi yang lebih baik dari sekarang. Dengan kata lain, buku ini secara tidak langsung juga mengangkat konsep kausalitas di dalamnya.


Sejarah yang terekam dan boleh jadi bercampur dengan imajinasi Ramayda dalam buku ini, membekaskan ingatan yang sulit untuk dilupakan. Bagaimana tidak, dari banyaknya konfilik yang disuguhkan, hampir semuanya seperti menegaskan kalau sejatinya konflik itu abadi. Maka dari itu, saya rasa menjadi hal yang teramat sulit jika kita hidup selalu lari dari konflik. Dan pada akhirnya, setelah kita tidak lagi bisa menghindar, tetap saja kita harus menghadapi konflik tersebut, bukan? Mudahnya, kenapa tidak kita kumpulkan saja keberanian untuk menghadapi konflik yang niscaya abadi tersebut?


Air Mata adalah Pasangan Kita


“Ternyata begini rasanya, menyimpan dosa di tengah pujian orang. Sekarang aku mengerti mengapa penguasa menjadi mudah linglung dan putus asa. Itu adalah tumpukan rasa tidak nyaman karena ketundukan beribu orang kepada diri yang diam-diam menyadari ketidakwarasannya (hlm 67).” Sebenarnya kita tidak pernah benar-benar tahu, batas yang jelas antara dosa dan karma, bukan? Dengan sangat mudahnya terkadang kita menyimpulkan sesuatu yang belum jelas sebab-musababnya, dan akhirnya merasa seperti hakim yang paling adil sedunia.


Buku ini tidak sekadar mengungkap lacur yang samar di tengah cepatnya perubahan sosial kita. Lebih dari itu, buku ini mengajarkan banyak sekali pelajaran tak terduga. Mulai dari politik di tingkatan paling dasar, kebiasaan berlaku curang dengan menghalalkan segala cara, sampai kepada rasa kepercayaan yang teramat mahal. Dari buku ini saya akhirnya belajar, belajar untuk bisa seperti air mata. Yang selalu ikhlas dan tidak pernah mengeluh dalam kondisi apa pun. Yang selalu bersedia berteman dengan apa saja, di mana saja dan kapan saja, baik itu tawa atau duka.


Meskipun disimbolkan dan identik dengan yang lemah, toh tetap saja semua orang mengakui kalau air mata adalah pembasuh luka yang paling ampuh. Kehadirannya, yang terkadang sulit didapatkan oleh sebagian orang, adalah obat yang paling manjur manfaatnya. Air mata seperti teman yang teramat setia. Kadang kala, ia butuh untuk kita keluarkan walaupun tidak tahu manfaatnya. Sekalipun ia dipaksa untuk dikeluarkan, tetap saja ia selalu menerima. Bukankah sulit untuk meragukan kalau air mata adalah teman yang setia jika sudah begini?


Kesimpulannya, saya merasa kalau buku ini ibarat gumpalan air mata Ramayda yang mengeras. Ramayda berhasil menumpuk air mata tersebut dan menjadikannya sebuah karya yang tidak cuma indah dan enak dibaca, tetapi juga layak untuk diingat kapan saja. Keberhasilannya ini tidak akan cukup terwakili, hanya karena pernah menang di mata dewa juri yang menilainya. Lebih jauhnya lagi, Ramayda telah berhasil mengabadikan sebuah kisah yang mewakili banyak orang, dan cocok jika disebut kalau karyanya ini adalah wakil dari manusia yang seharusnya bisa termanusiakan.

0 Response to "Kita Adalah Sisa Kenangan yang Abadi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel