Hiduplah dengan Kebodohan dan Matilah dengan Kepintaran



Hiduplah dengan Kebodohan dan Matilah dengan Kepintaran

Identitas Buku


Judul: Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura


Penulis: Rusdi Mathari


Penerbit: Mojok


Cetakan: September, 2016


Tebal: v-xvii+226


Segala sesuatu yang kita yakini, yang  kita genggam dengan erat, yang kita pertahankan dengan segenap upaya dan kita bela dengan seluruh cara, hanyalah serpihan kecil kebenaran. Tidak perlu merasa bahwa semua itu adalah segalanya. Cobalah buka mata dan telinga, pandanglah sekitar serta dengarlah dari sekelilingmu. Amati dengan seksama, dan seraplah apa yang pernah kamu tangkap, hingga akhirnya kamu tahu, kalau manusia itu hanyalah kesementaraan.


Romantisme dan kedekatan tanpa membeda-bedakan, begitulah sosok Rusdi Mathari bagi saya. Dalam kesementaraannya di dunia, ia mewariskan pesan yang sangat sulit saya lupakan. Wasiat tersebut dituangkan olehnya dalam sebuah buku berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura. Meskipun buku ini mengajarkan saya soal yang fana, uniknya tetap membuat saya berbahagia dan tak takut menjemput keabadian. Jika saja saya putus dari dunia yang fana ini, saya berharap punya kesempatan berterima kasih kepada Rusdi.


Karya Rusdi ini, walaupun isinya berkaitan dengan momentum Ramadan, pada nyatanya melampaui pejakanya. Di awal buku saja, kita langsung diajak mempertanyakan ulang perihal kebiasaan-kebiasaan selama Ramadan. Mulai dari memasang spanduk, bersih-bersih masjid, sampai menyambut Ramadan dengan gegap gempita. Semua tokoh yang ada di buku ini, secara tidak langsung mewakili bermacam-macamnya watak manusia. Sekalipun tokoh utamanya adalah Cak Dlahom dan Mat Piti, Rusdi dengan piawai menghidupkan tokoh-tokoh lainnya.


Bisa dibilang, hampir tidak ada yang lepas dari sorotannya ketika berbincang perihal Ramadan dan keimanan. Semuanya terekam dan tersusun rapi dalam buku ini. Dari hal yang tampaknya sepele, hingga urusan yang bisa melibatkan banyak orang, semuanya disediakan Rusdi dalam buku ini. Kendatipun selengkap itu masalah yang dihimpunnya, tidak menjadikan seorang Rusdi menjadi angkuh. Bahkan, saya merasa kalau Rusdi adalah orang yang sangat tawaduk, dan hal tersebut terbukti lewat tulisannya yang ada di dalam buku ini.


Membaca buku ini, ibarat melewati sebulan penuh berpuasa. Saya jadi sulit membayangkan, bagaimana rasanya ketika saya membaca buku ini pada saat bulan Ramadan. Bisa jadi, saya akan malu sendiri dan menyadari betapa bodohnya saya selama ini. Setelah melewati berkali-kali bulan puasa dengan kecongkakan sampai membuat otak berkarat, pada akhirnya saya tersadar kalau semuanya adalah kekeliruan. Boleh jadi, buku ini adalah buku yang mengangkat saya dari lembah kedunguan yang berisi lumpur hisap, dan tidak terlintas nada menggurui sama sekali.


Melalui perumpamaan yang lucu dan terbilang kocak, kisah Cak Dlahom dan Mat Piti yang ada di dalam buku ini mampu membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Tidak hanya itu, Rusdi juga menawarkan cara pandang yang tidak cuma alternatif, tetapi sangat-sangat berbeda dari orang kebanyakan. Misalnya dua tulisan yang berjudul Ikan Mencari Air, Mat Piti Mencari Allah dan Bersedekah pada Nyamuk. Dua tulisan ini menyampaikan pemaknaan yang sungguh-sungguh segar, sembari membuat kita bahagia dengan cara yang amat sederhana.


Kompleksitas dan keruwetan yang dihadirkan di dalam buku ini, uniknya seperti ditujukan kepada semua orang. Entah itu kiai, pejabat, orang biasa, semuanya sama-sama disinggung. Tidak ada yang luput dan benar begitulah sebaiknya menurut saya. Buku ini juga ibarat kitab pengadilan yang paling adil. Semua orang diperlakukan sama dan setara. Tidak ada yang lebih dan tidak ada pula yang kurang. Semuanya dirangkul, dan dianggap sebagai saudara. Masalah yang pasti selalu ada, diajurkan oleh buku ini untuk diselesaikan tanpa perlu bermusuhan.


Selanjutnya, buku ini juga berbicara perihal kehadiran dan kegunaan. Siapa yang pernah menebak, kalau hadirnya setan serta iblis itu rupanya punya manfaat? Melalui konsep keberpasangan, Rusdi menyanggah kekeliruan selama ini, yang menganggap sesuatu yang buruk itu tidak berguna sama sekali. Melalui kerendahan hatinya, Rusdi mengajak kita memahami artinya tidak menilai dengan serampangan, sekaligus kehati-hatian yang mengarahkan kita pada keragu-raguan. Singkatnya, buku ini mengajarkan fleksibilitas tanpa batas.


Kemudian, buku ini bagai sekumpulan lembaran yang menuntun ke jalan yang seharusnya. Memang, buku ini tidak menawarkan hal tersebut secara langsung, tetapi inti-sari yang ingin disampaikannya sangat jelas mengarah pada takwanya seorang hamba. Apa yang selama ini kita banggakan, bisa jadi luluh lantak setelah membaca buku ini. Walau begitu, buku ini tidak bertujuan menghancurkan mimpi seseorang. Akan tetapi, buku ini menganjurkan untuk tetap biasa saja, tanpa perlu melebih-lebihkan diri.


Setidaknya, begitulah secara singkat yang saya pahami tentang buku ini. Terlampau singkat untuk menganggapnya demikian. Andaikan ada yang belum mengenal Rusdi Mathari, saya pribadi sangat menyarankan untuk membaca buku ini sebagai langkah awal perkenalan dengannya. Sebab, buku ini bukan saja membedah masalah-masalah yang ada di sekitar kita, melainkan juga membedah kita sendiri. Oleh sebab itu, saya sebenarnya  juga menaruh kecurigaan, dan menganggap buku ini adalah pembedah Rusdi Mathari sendiri.


Meski Cak Rusdi telah tiada, tetapi semoga kenangan tentangnya selalu abadi di ingatan kita semua. Baik itu di ingatan orang-orang terdekatnya, yang pernah bertemu dan berinteraksi dengannya, dan di ingatan kita yang pernah membaca tulisan-tulisannya. Begitulah sosoknya Cak Rusdi, yang mampu melampaui kesementaraan, walaupun sebenarnya mustahil bagi seorang manusia selalu bersanding dengan keberterusan. Namun, mungkinkah hal yang dianggap mustahil tersebut karena kita itu tidak pintar, dan bahkan bodoh saja tidak punya?

0 Response to "Hiduplah dengan Kebodohan dan Matilah dengan Kepintaran"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel