DAINTINE AVELINA



DAINTINE AVELINA

Penulis: Dhery Ane


Setelah enam bulan menjabat sebagai preases di sebuah lembaga pendidikan calon Imam, datanglah sesuatu yang mengusikku. Gangguan itu berasal dari kehadiran mahasiswi baru yang entah darimana datangnya. Jangan pikir yang tidak-tidak. Sebagai sebuah lembaga pendidikan calon Imam yang sudah berdiri sejak enam puluh tahun, saya tentu menyambut siswa baru dengan sukacita. Sebab fakultas kami berisi mahasiswa dan mahasiswi yang ramah dan sopan serta selalu  terbuka terhadap pendatang. Jadi bisa dikatakan fakultas kami bukan fakultas yang tertutup dan penuh curiga terhadap siapa pun.


Yang menggelisahkanku, mahasiswa baru ini bukan manusia. Dia adalah seekor Kucing.Ya, seekor Kucing yang suka bersuara saat berjalan. Kucing yang konon membawa berita buruk, Kucing yang selalu diusir dengan geram setiap kali berdiri di depan fakultas kami.


Maka, ketika pertama kali Kucing itu datang ke fakultas kami, beberapa mahasiswa bergegas mengusirnya. Bahkan ada pula mahasiswi yang melemparnya dengan batu. Anehnya, Kucing itu hanya diam setiap kali diusir. Melirik pun tidak.


Akhirnya, beberapa mahasiswa menyarankan, supaya kehadiran Kucing itu diabaikan saja. Alasan rasionalnya, sebagai fakultas calon Imam kami harus melindungi semua makluk. Alasan mistisnya, kalau pun Kucing itu membawa pengaruh buruk, bukankah fakultas kami sudah mendapatkan berkat dari Roh Kudus lewat brevir yang didaraskan setiap hari. Demikian, selama satu bulan Kucing tersebut hadir di fakultas kami.


         Namun, hari demi hari rasa tak nyaman terus menghampiri. Setiap kali datang, Kucing itu selalu berdiri tepat di depan gapura menuju gedung fakultas. Mau tak mau, setiap jam rekreasi beberapa mahasiswa pasti selalu menatap Kucing itu. Dan anehnya, setiap mahasiswa yang sengaja menatap mata Kucing itu, akan mendapatkan balasan dari sang Kucing. Ketika lima puluh mahasiswa menatap bersama, maka setiap mahasiswa dari lima puluh mahasiswa itu akan beku oleh dingin sorot matanya.


Sejak saat itu, saya mulai menyadari, betapa aneh penampilan si Kucing. Bulunya hitam kusam, ia tampil dengan matanya yang kecil semberut biru. Jadwal kehadirannya pun dapat dihitung. Dia selalu datang sepuluh menit sebelum jadwal kuliah usai, dan beranjak pulang setelah semua mahasiswa selesai visitasi. Apakah seekor Kucing juga ingin bersekolah? Tampaknya tak ada yang tahu. 


           Berbagai kabar mulai bemunculan. Sebagian mahasiswa mengatakan bahwa Kucing itu penjelmaan dari seorang mantan koruptor di kota ini. Ada pula yang mengatakan Kucing itu membawa pertanda adanya rahasia kotor yang tersimpan di dalam fakultas kami. Tapi lebih dari itu, ada yang mengatakan kucing itu adalah topeng dari salah seorang mahasiswi yang bernama Daintine Avelina, yang menetap tak jauh dari fakultas kami. Kebanyakan mahasiswa mengatakan mahasiswi itu memiliki ilmu gaib. Dan masih banyak lagi kisah yang semakin menakutkan semakin tak masuk akal. 


         Namun, seiring berputarnya waktu, kehadiran Kucing pun mulai dapat saya terima, atau sebenarnya lebih tepat saya abaikan.  Sebagai fakultas calon Imam dengan kegiatan yang  terus menyala, bisa dibilang suasana fakultas tak pernah sepi. Aula fakultas, taman fakultas, bahkan ruang dosen selalu penuh dengan rapat dan aneka kegiatan. Selalu ada saja ide yang memunculkan alasan untuk membuat kegiatan khusus. Fakultas-fakultas tetangga, bahkan pihak universitas dan pemerintah, mengatakan kekaguman akan tingginya kegiatan dinamika inteletual fakultas kami.


Kegiatan ekstrakulikuler tak pernah berjalan biasa-biasa saja. Halaman depan fakultas selalu dibersihkan, selalu ditata rapi penuh kreasi. Setiap mahasiswa selalu tampil prima dan tertata. Soal pengembangan bakat dan talenta? Jangan di tanya. Lomba menulis, the voice, dan musik selalu dilaksanakan. Bahkan dalam lomba debat fakultas kami pun memiliki nama di peringkat nasional. Suasana belajar pun selalu tertip. mahasiswa pun semakin mampu mengembangkan kemampuannya intelektual dengan penuh keceriaan.


Saya puas dengan apa yang dicapai oleh para mahasiswa. Tak sampai hitungan tahun, selama masa jabatan saya, telah saya buktikan potensi fakultas kami menjadi fakultas yang berdisiplin dan dinamis, yang mahasiswa dan mahasisiwinya selalu antusias, taat, dan tekun dalam menekuni dan mendalami ilmu pengetahuan. Maka katika ada mahasiswa yang mengatakan si Kucing sudah tidak tampak lagi, tak ada yang terlalu menggubris. Sesungguhnya saya pun tak menyadari sejak kapan si Kucing absen berdiri di depan gedung fakultas.


Topik si Kucing bermata dingin menyeruak lagi dalam rapat para dosen. Ketika seorang dosen sekilas melaporkan tentang kehadiran Kucing di sebuah sebuah pasar ikan, yang jaraknya tak jauh dari komunitas kami, sekitar sepuluh kilo dari arah fakultas. Dari ciri-ciri yang dikatakan, saya percaya itulah Kucing yang selama ini hadir di depan gedung fakultas. Loh, kok ngapain si kucing pindah ke pasar ikan?


Tersentuh oleh rasa penasaran, di suatu pagi saya pun menempatkan diri untuk melihat pasar ikan itu. Suasananya sungguh berbeda dengan suasana sekolah. Di samping kiri dan kanan tampak berbagai jenis ikan dan di arah depan tampak berbagai jenis kepiting dan kerang. Sementara para penjual tampak bercak-bercak lumpur yang mengering di kaki mereka. Apa sedemikian joroknya mereka hingga eggan membersihkan kaki sebelum menjual? Jawaban ada pada penampilan para penjual ikan yang masih berbau garam bersimbah keringat, dan deretan ember yang tergeletak di emperan pasar. Aroma memusingkan menguap dari tubuh-tubuh legam, mengembang memenuhi udara pasar. Itu yang laki-laki.


Perempuan dan anak pun sama parahnya. Di depan tampak seorang ibu sedang berusaha keras menenangkan anaknya dalam gendongan. Di ujung tempat meletakkan ikan, tampak beberapa ibu sedang menyusui anaknya, sementara beberapa  anak kecil berbisik sambil seringai. Masih belum lengkap, di tengah-tengah pasar yang ditutupi terpal, sekelompok nenek meringkuk di balut kain bermotif Tetum sedang menjual ikan asin dan beberapa tumpukan kapur dan sirih pinang. Mereka bercanda-gurau dengan bau yang menyeruak dari tubuh. Sungguh di mata saya mereka tampak bagai sepasang kekasih, menikmati apa yang ada serentak pula bahagia dengan apa yang didapat. 


Nah, ahkirnya datang juga si Kucing. Ia datang seperti angin yang menyentuh suasana pasar yang porak-poranda itu. Kucing itu dengan suaranya yang menakutkan bermeong tepat di jalan sentral menuju pasar, tak takut dengan para penjual dan pembeli. Tetapi ada yang berbeda, meski bulu-bulunya tampak semakin menakutkan, matanya samar-samar menyorotkan sinar dingin menusuk, kali ini tampak menyorotkan sinar dingin kehangatan. Dan wajahnya itu, entah bagaimana seperti ada aura membentuk senyuman di mulutnya.


Suasana pasar makin ramai, banyak pembeli semakin berdatangan. Namun si Kucing seperti tak terganggu, dan kecerian diwajahnya tampak jelas. Hari makin siang, si Kucing tampak tak bergegas pergi, kepalanya hanya bergerak ke kanan dan ke kiri, seakan menikmati pembeli yang beranjak pulang.


“Kucing bermata dingin itu merupakan penjelmaan dari sosok Daintine Avelina yang berdomisili di sebuah kos, tak  jauh dari arah fakultas. Konon, banyak orang mengatakan itu adalah turunan dari leluhurnya. Mahasiswi itu menjelma menjadi seekor Kucing untuk mendapatkan umur yang panjang. Setiap kali ia menjelma menjadi seekor kucing, maka umurnya akan bertambah satu tahun. Ini adalah sebuah keajaiban, sebuah kekuatan mistis yang lantas hanya dimiliki oleh mahasiswi itu “.


Demikian kata Ranta, dosen muda kami yang masih kuingat dalam benakku.


“Entah benar atau tidak itu adalah keajaiban. Ya, setiap manusia pasti memiliki topeng untuk bisa melindungi diri, menafkahi diri atau pun untuk memperpanjang usia, baik itu berupa  kekuatan mistik atau kekuatan supernatural lainnya “.


Aku bergugam, sembari menoleh ke arah Kucing itu. Dia balas menatapku dengan senyuman, senyum mengejek. Ah sudahlah, tampaknya Kucing bermata dingin itu lebih pantas di sini, daripada menggangu suasana kuliah di fakultas kami.







 
Bernama lengkap Aloysius Hesronius Dhery. Lahir di Malaka, NTT 15 April 1998. Mahasiswa semester IV di Fakultas Ilmu Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Menyukai dunia menulis, traveling, dan master of ceremony. Bergiat di komunitas Sastra Filokalia Kupang. Berbagai puisi, cerpen, dan opininya diterbitkan dalam media onlline dan antologi, salah satunya antologi puisi Menenun Rinai Hujan (2019) bersama Eyang Sapardi Djoko Damono. Ia dapat dihubungi melalui @dhery.98 dan dheryane.home.blog

0 Response to "DAINTINE AVELINA"

Post a Comment

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel