Wasiat Luqman kepada Putranya dalam Surah Al-Luqman

Wasiat Luqman kepada Putranya dalam Surah Al-Luqman

Penulis: Idris Andrianto


Luqman Hakim adalah salah satu nama orang yang disebut dalam al-Qur`an, tepatnya surah Luqman (31) ayat 12-19. Luqman Hakim namanya mendunia karena nasihat-nasihatnya kepada anaknya. Ibnu Katsir berpendapat bahwa nama panjang Luqman ialah Luqman bin Unaqa’ bin Sadun. Sedangkan mengenai asal usul Luqman, para ulama berbeda pendapat. Ibnu Abbas menyatakan, bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu yang berasal dari Habsyi.

Dikisahkan, bahwa suatu hari Lukman Hakim memberikan wasiat kepada putranya, “Wahai anakku berimanlah Kepada Allah Swt. dengan bersungguh-sungguh dan bertakwalah engkau kepada-Nya, jangan sekali-kali engkau tinggalkan dalam keadaan musyrik, itulah prinsip yang harus engkau pegang. Lakukanlah perkara yang benar dan janganlah kau dengar apa kata orang.”

Mendengar wasiat itu sang anak tampak kebingungan, tidak mengerti maksud kata-kata yang terakhir “Janganlah kau dengar apa kata orang”. Luqman lalu menjelaskan lagi, “Begini anakku, jika engkau masih belum paham apa yang telah aku katakan, sekarang ambil lah kuda kemari, kelak kau akan mengerti apa yang aku maksudkan.”

Anak itu semakin kebingungan. “Mengapa dengan mengambil kuda aku akan tahu apa yang ayahanda wasiatkan,” gumamnya dalam hati. Tapi ia menurut dengan apa yang ayahandanya katakan, ia pergi ke kandang dan mengambil kuda. Setelah si anak menyiapkan seekor kuda, Luqman lalu naik ke atas punggung kuda seraya berkata, “Peganglah tali ini dan kau yang menuntunnya!”

Begitu sampai di perempatan jalan di mana banyak orang bergerombol, mereka spontan mengumpat, “Betapa kejamnya orang tua itu, anaknya disuruh menuntun kuda sedangkan dia enak-enakan duduk di atasnya, coba kalau dia boncengkan anaknya tentu lebih tepat.”

Mendengar perkataan itu, Luqman lalu bertanya kepada anaknya, “Wahai anakku, dengarkah engkau apa yang mereka katakan? Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan ini dan posisi kita bergantian, aku yang menuntun kuda dan kau yang naik diatasnya.”

Oleh Luqman, kuda itu dibawa melewati perempatan lain, di situ juga banyak orang bergerombol. Begitu melihat Luqman dan anaknya, mereka pun berkata hal yang serupa, “Anak itu sungguh tidak punya sopan santun, dia menaiki kudanya sedangkan ayahnya disuruh menuntun. Mengapa tidak dibonceng sekalian, itu tentu lebih baik.”

Kali ini Luqman menyuruh anaknya memperhatikan benar-benar perkataan mereka dan tetap melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan berikutnya, Luqman kembali berkata kepada putranya, “Sekarang kita lanjutkan lagi perjalanan dan mari kita tuntun bersama kuda ini.”

Sepanjang perjalanan setiap orang yang melihat malah menertawakannya, “Kuda itu sangat sehat dan kuat, tapi mengapa mereka tidak naiki. Mestinya mereka naiki bersama atau bergantian. Kalau seperti itu, berarti mereka tidak memanfaatkan fasilitas yang ada.” Mendengar itu, Luqman kembali berkata, “Dengar dan perhatikan apa yang mereka katakan anakku! Sekarang kita lanjutkan perjalanan dan kita naiki kuda ini bersama-sama.”

Selanjutnya mereka berdua menaiki kuda itu besama-sama dan melewati sekelompok orang yang juga tidak tinggal diam. Mereka berkata, “Dasar manusia tidak punya perasaan, kuda kurus dan kecil seperti itu dinaiki dua orang. Mengapa tidak mengalah saja salah satunya, atau mungkin mereka naiki bergantian sehingga tidak menyusahkan hewan.”

Luqman merasa kini saatnya ia memberi penjelasan kepada putranya, “Wahai anakku, pahamkah engkau sekarang akan nasihatku? Coba kalua kita selalu menuruti apa kata orang-orang itu, lantas manakah yang benar? Bila ayah naik salah, engkau yang naik juga salah. Kalau kita tuntun kuda itu salah, lebih-lebih kalau kita naiki berdua. Oleh karena itu, peganglah prinsipmu, jangan kau dengar apa kata orang, kamu akan bingung dibuatnya. Dan sebaik baik prinsip adalah prinsip agama, suatu saat kau akan merasakan buahnya.”

Jadi, dari kisah Luqman dan putranya tersebut, kita dapat mengambil hikmah yang begitu banyak dan sangat bermanfaat untuk menjalani hidup di dunia ini. Kisah tersebut merupakan pesan Allah Swt kepada umat-NYA, agar lebih berhati hati dalam berkata serta tidak perlu selalu untuk mendengar apapun yang dikatakan oleh orang lain.

Namun ada hal yang kita harus ketahui, bahwasanya kita tidak boleh mendengar apa yang dikatakan oleh orang lain yang berupa akidah atau keyakinan, jika berupa nasehat tentang agama dan cara agar hidup bahagia, kita boleh saja mendengarnya, dengan syarat kita harus memilah dan memilih terlebih dahulu kata-kata tersebut. Apakah kata-kata tersebut baik untuk kita lakukan dan praktekkan dalam kehidupan sehari-hari atau malah lebih baik kita tinggalkan. Karena kita tidak pernah tahu apakah orang yang menasehati kita termasuk orang yang benar-benar menasehati kita, atau malah sebaliknya.

Kalau kata-kata tersebut berupa hinaan seperti yang dialami oleh Lukman dan putranya, maka jalan yang harus kita lakukan adalah membiarkannya, atau kita tidak usah hiraukan apa yang mereka katakan. Tapi, akan lebih baiknya, kita buat kata-kata orang tersebut menjadi motiasi untuk kita lebih jauh lebih baik lagi dari hari sebelumnya.

Wallahu A’lam...


Mahasiswa Ekonomi Syariah FEBI UIN Sunan Ampel, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Bisa ditemui dan dihubungi di: IG; @ryand7213, emali; ryandtix07@gmail.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel