Sang Raja dan Kubangan Lumpur



Sang Raja dan Kubangan Lumpur
Sumber foto: tagesspiegel.de
Penulis: Herman Yosy

Hari ini, 21 Juni, 65 tahun yang lalu, di sebuah daerah komne departemen  Meurthe-Et-Moselle, timur Prancis,  Joeuf, lahirlah seorang bocah laki-laki yang kelak akan dikenang sebagai legenda sepak bola hebat untuk Juventus. Laki-laki itu bernama Michel Platini.


Platini kecil memulai karir sepakbolanya di klub junior  AS Joeuf pada tahun 1966 sampai pada tahun 1972.  Kemudian Platini hengkang ke AS Nancy untuk memulai karir profesionalnya pada tahun 1972, setelah sempat ditolak oleh FC Metz di tahun yang sama. Ia memulai dari tim cadangan Nancy hingga mendapat kesempatan tampil. Platini tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan padanya. Dari pertandingan ke pertandingan Platini tampil impresif di klub profesional pertamanya itu. Hingga pada akhirnya ua mendapatkan kepercayaan dan menjadi tulang punggung untuk AS Nancy.


Meski AS Nancy pernah terdegradasi akibat permainan tim yang buruk, Platini yang dikenal sebagai spesialis eksekutor bola mati, kerap menjadi top skor. Ketangguhan Platini terbukti dengan gelar individu pun gelar secara tim. Usai kembali membawa AS Nancy promosi, Platini sempat menduduki posisi ketiga pada pemilihan pemain terbaik Eropa, Balon d’Or pada tahun 1977, yang kala itu direngkuh oleh Allan Simonsen pemain berkebangsaan Denmark, yang bermain untuk klub Jerman Borussia M’Gladbach.


 Pada tahun 1978 Michel Platini membawa AS Nancy menjuarai Coupe de France atau piala Prancis. Michel Platini berkostum AS Nancy selama tujuh musim. Ia dikenang sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah AS Nancy. Hingga pada musim 1979, Michel Platini memutuskan hengkang ke klub Ligue 1, Saint-Etienne.


Berkostum Saint-Etienne selama 3 musim, Michel Platini merasakan indahnya gelar Ligue 1 pertama untuk dirinya pada tahun 1981. Namun sayangnya ia harus berpuas di situ. Ia tak lagi bisa mengulang meraih piala Prancis serupa ketika berseragam Nancy, setelah hanya mampu finish sebagai runner-up pada tahun 1981 dan 1982.


Di Prancis, total platini yang bermain sebagai gelandang serang itu berhasil tampil sebanyak 285 kali. Masing-masing 181 kali untuk AS Nancy dengan 98 goal, dan 104 kali untuk Saint-Etienne dengan sumbangan 58 goal, meski aksinya di lapangan hijau sempat terpotong pada tahun 1975 ketika ia ikut wajib militer. 


Menjadi Sang Raja


Tahun 1982 platini merantau ke luar Prancis, ia mendarat di kota Turin untuk bermain bersama Juventus. Sesampainya di sana, Michel Platini langsung dipercaya untuk mengenakan nomor punggung 10.


Bermain sebanyak 147 pertandingan bersama Juventus sepanjang karirnya, Platini menyumbang 68 gol. Secara tidak langsung, ia menjadi ruh bagi permainan Juventus. Bersama Si Nyonya Tua ia dapat merengkuh berbagai tropi bergengsi. Sebut saja piala Champions 1985, yang bisa kita anggap pembayaran tuntasnya atas hasil  runner-up pada tahun 1983.


Selain piala Champions, ia juga  menjuarai Serie A, Copa Italia, Winners Cup, UEFA Super Cup, dan Internasional Cup bersama Si  Nyonya Tua. Karena pencapiannya itu, ia dinobatkan sebagai pemain terbaik Eropa, Balon d’Or tiga kali beruntun, yaitu pada 1983, 1984, dan 1985. Pencapaian yang ia peroleh melampaui pemain-pemain hebat pada masanya seperti,  Kenny Daglish (Legenda Liverpool). Melihat pengaruh bagi tim kesayangan mereka, Juventus FC, pria bertinggi 1,77 meter ini diberi gelar oleh fansnya dengan sebuatan “le roy” atau sang raja.


Kisah hebat Platini sebenarnya tak hanya ada di level klub saja. Pada level internasional, piala Eropa 1984 adalah pembuktian paling nyata bahwa ia memang pantas disebut sebagai sang raja. Ia mengomandoi timnas Prancis, dan Platini membuat dunia sepak bola tercengang dengan torehan dua kali bikin hattrick dalam satu kali edisi euro. Pamungkasnya, Prancis keluar sebagai raja Eropa 1984, setelah mengandaskan perlawanan Spanyol dengan skor tipis 2-1. Platini juga keluar sebagai top skor dengan koleksi 9 gol.


Kubangan Lumpur Kotor


Usai  memutuskan pensiun pada usia yang relatif muda, 32 tahun, Platini tak langsung selesai dengan dunia sepakbola. Platini tetap melanjutkan karirnya di balik layar. Ia menduduki kursi-kursi penting di dunia sepakbola Eropa dan dunia. Sebut saja wakil presiden Federasi Sepakbola Prancis (FFF) tahun 2002, mengepalai Pengembangan Teknis UEFA (1988-1990), ketua Komite Teknis untuk FIFA (2002), presiden EUFA (2007-2015), hingga ia berusaha maju sebagai calon presiden FIFA pada tahun 2015.


Namun, semua kisah hebat sang raja mulai terkikis. Sang raja mungkin terlena, tak sadar lapangan penuh rumput hijau yang selama ini ia tapaki, ternyata memiliki sisi lain penuh lumpur  kotor. Mungkin karena terlena pada tanah lapang hijau yang memanjakan mata, ia menyeret tubuhnya  sendiri  menuju lumpur kotor itu.


Pada 8 oktober 2015, Michel Platini yang masih mejabat sebagai presiden UEFA, harus dijatuhi hukuman dilarang beraktivitas di dunia sepakbola selama 6 tahun oleh Komite Etik FIFA­. Hukuman ini diberikan setelah Platini terbukti bersalah, atas kasus penyaluran uang gelap sebesar 2 juta Franc dari presiden FIFA pada tahun 2011 yang lalu. Waktu itu, FIFA dijabat oleh Sepp Blatter. Meski Blatter berkilah bahwa uang itu adalah ganjaran untuk kerja Platini yang menjadi penasehatnya selama 10 tahun belakangan. 


“Tidak ada dasar hukum dalam kesepakatan tertulis yang ditandatangani oleh kedua ofisial pada 25 Agustus 1999.” Jawab majelis hakim Komite Etik FIFA.


Sang raja akhirnya harus mengundurkan diri dari kursi kepemimpinan EUFA pada tahun 2016 silam.


Tidak selesai di sana, 2019 lalu, platini kembali menjadi calon tersangka atas kasus dugaan korupsi piala dunia 2022. Mantan presiden UEFA itu ditangkap di Nanterre 18 juni 2019 lalu. Ini merupakan buah dari 7 tahun perjalanan kasus terduga korupsi piala dunia 2018 dan 2022 yang kontroversial, atas terpilihnya Rusia dan Qatar sebagi tuan rumah.


Mantan jaksa Amerika Serikat Michael J. Garcia yang melakukan penyelidikan atas kasus korupsi untuk piala dunia 2018 dan 2022 mengaku, bahwa  memiliki bukti keterlibatan Platini dalam kasus ini. Ia memberikan laporan penyelidikan setebal 350 halaman kepad Hans-Joachim Eckrett selaku Ketua Pengadilan Etik FIFA pada tahun 2014 silam.


Sang raja jatuh ke dalam lumpur, meski belum jelas status apa yang akan dijatuhkan kepadanya. Tetapi, jika terbukti bersalah telah melakukan tindak korup atas pemilihan tuan rumah piala dunia 2018/2022 itu, Platini mungkin saja dihukum berat. Tentu saja, hukuman itu akan lebih berat dari yang pernah ia terima ketika di pengadilan tahun 2015 lalu. Hal ini akan membuat sang raja akan tenggelam sepenuhnya di kubangan lumpur, serta kehilangan segala yang pernah ia gapai.


Tetapi, tidak ada salahnya kan menggemari cara bermain Michel Platini di lapangan hijau? Btw, selamat ulang tahun ke 65 Michel Platini~ 



Lahir di Bengkulu, berdomisili di Batam, saat ini sedang asik jadi pengangguran, sambil mengamati bola dan mendengarkan musik, sesekali baca buku dan terkadang menulis. Ia bisa dihubungi lewat media sosial Ig dan twitter @hermanyosy.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel