Perjuangan Sedulur Kendeng yang Ditempa Pandemi



Perjuangan Sedulur Kendeng yang Ditempa Pandemi
Sumber Foto: yoviarista.wordpress.com
Sebagaimana kita ketahui bersama, pandemi Corona atau Covid-19, telah melemahkan banyak sendi kehidupan yang sudah kita bangun selama ini. Peradaban yang kita agungkan, banggakan dan lebih sering kita sombongkan, pada akhirnya kocar-kacir jika tidak bisa disebut luluh lantak. Banyak yang kemudian berspekulasi, dan memunculkan segala macam teori, tanpa ada sebuah arti yang layak untuk dimengerti dan dipahami. Lebih anehnya lagi, keberagaman dan persatuan yang kita miliki, seakan tak sanggup dan cukup berani untuk menghadapi pandemi ini.


Menurut Gus Mus, Corona atau Covid-19, adalah cara Tuhan menunjukkan kerentanan kita sebagai hamba. Datangnya Corona, adalah bentuk lain yang mengingatkan dan menyadarkan kita dari kelupaan. Kita yang dalam beberapa waktu belakangan lebih mengedepankan kepentingan golongan, dan terbuai oleh pesona dunia dengan segala kemewahannya, menjadi sadar karena pandemi ini. Tanpa pernah mencari akar masalah yang ditimbulkan dengan hadirnya Corona, kita malah asik gontok-gontokan antar sesama. Aneh memang, tetapi begitulah yang terjadi.


Banyak hal menarik yang saya rasa dapat kita petik dalam beberapa waktu terakhir. Misalnya saja soal parodi yang terjadi di negara kita di tengah pandemi ini. Mulai dari normalisasi korupsi, abainya pihak yang bertanggung jawab terhadap pendidikan, sampai dipermudahnya undang-undang investasi untuk para investor dari luar negeri. Semuanya untuk pembangunan, katanya. Semuanya untuk kemajuan, katanya. Semuanya ditujukan untuk kemaslahatan rakyat, dan itu juga katanya. Padahal semuanya tidak lain hanyalah rekayasa semata.


Tepat pada tanggal 1 Juni 2020 kemarin, Gus Yaqut Cholil Qoumas sebagai ketua umum GP Ansor, mengutarakan statementnya terkait pandemi Corona atau Covid-19. Dalam video pendek berdurasi kurang-lebih 5 menit itu, pernyataan Gus Yaqut senada dengan apa yang disampaikan oleh Gus Mus. Gus Yaqut menyatakan kalau Corona adalah bentuk peringatan Tuhan kepada umat manusia di muka bumi. Peringatan yang dimaksud bisa kita tafsirkan beragam. Karena peringatan pun sejatinya juga punya banyak arti.


Pertanyaannya, apakah kebanyakan dari kita juga mengartikannya demikian? Jika belum, patutkah kita lebih fokus untuk saling menyalahkan? Kenapa tidak kita akui saja, bahwa kita sebenarnya masih sangat dangkal menghadapi keadaan yang demikian. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya kalau kita lebih fokus pada kenyataan yang terjadi sekarang, ketimbang melakukan hal-hal yang sifatnya berorientasi ke masa depan, sama seperti parodi yang sudah saya sebutkan di atas.


Gus Yaqut, dalam video tersebut juga menambahkan, kalau sebenarnya hubungan seorang manusia dengan kehidupan yang ia jalani, selalu berkaitan dengan tiga hal. Yaitu kepada Allah, Tuhan pencipta manusia, kepada sesama manusia sendiri, dan terakhir kepada alam.


Uniknya, dalam tiga hubungan tadi, sering kali tidak berjalan beriringan. Misalnya saja, kita akan bisa menjumpai orang yang rajin ibadahnya, akan tetapi masih membuang sampah sembarangan. Bukankah ada sebuah ketidakseimbangan di sana? Dan saya pribadi tidak bermaksud mengatakan kalau orang yang membuang sampah pada tempatnya, lebih baik daripada orang yang rajin beribadah. Yang perlu kita tekankan, sebuah keseimbangan itu seharusnya bisa terwujud tanpa mengorbankan salah satunya sampai hancur.


Video pernyataan Gus Yaqut yang sudah saya singgung dari tadi, sebenarnya ditujukan kepada Sedulur Kendeng yang sampai hari ini masih bertahan. Bukan sekadar bertahan, Sedulur Kendeng bagi saya adalah barisan yang patut menjadi contoh banyak orang. Di tengah pandemi yang memunculkan banyak barisan terdampak, Sedulur Kendeng adalah barisan yang tidak masuk dalam hitungan. Pasalnya, Sedulur Kendeng sudah menjadi “barisan terdampak” sejak lama, bahkan sebelum ada kejadian pandemi ini.


Kekhawatiran Gus Yaqut yang turut disampaikan dalam video tadi, juga tidak sekadar pertimbangan soal penyakit semata. Baginya—dan saya pun mengamini hal itu—jika hanya penyakit adalah hal yang sepele. Sebagai hamba, baik yang taat atau tidak, kita hanya perlu meminta diangkatnya penyakit ini kepada Sang Pencipta. 


Namun, saya pribadi juga tidak terlalu sepakat jika pertimbangan ketahanan pangan menjadi satu-satunya hal yang dicemaskan. Lebih dari itu, keselamatan, ketenteraman, dan rasa aman yang seharusnya dapat dinikmati oleh Sedulur Kendeng, tidak dapat kita gampangkan. Sebab, apa yang menjadi hak Sedulur Kendeng, sampai hari ini masih terus diancam dan dirampas sedemikian rupa.


Memang benar, bahwa Sedulur Kendeng adalah patokan ketahanan pangan kita hari ini. Karena dari para petani yang ada di sana, kita sampai hari ini masih bisa merasa aman untuk memenuhi kebutuhan perut. Yang seharusnya kita pikirkan bersama, pernahkah kita dalam selintas waktu mengingat keadaan yang dialami Sedulur Kendeng sampai hari ini? Tidak perlu sampai intimidasi yang mereka alami, cukup hanya pada keadaan di mana mereka berusaha mencari makan untuk esok harinya.


Pada saat berlangsungnya pandemi sekarang ini, tekanan dan beban yang dialami Sedulur Kendeng nyatanya berlipat-lipat. Tidak hanya mempertahankan tempat mereka berladang dan mencari nafkah, ancaman virus mematikan ikut menghantui dan menakut-nakuti. Lucu dan mirisnya, pemerintah dan para penguasa tidak pernah ambil peduli soal itu. Jangankan untuk tahu duduk persoalan, bisa jadi mereka sengaja abai dengan kondisi yang demikian.


Dukungan yang diberikan Gus Yaqut dan mewakili barisan GP Ansor untuk para Sedulur Kendeng, patut saya sebut sebagai angin segar. Angin segar yang setidaknya dapat menyejukkan kondisi yang sedang tidak karuan ini. Harapannya, semoga barisan Nahdiyin baik itu struktural dan kurtural, sama-sama dapat menangkap pesan kemanusiaan ini. Dan bukan tidak mungkin, bahwa momentum ini adalah bentuk ujian yang menempa jiwa dan hati kita sebagai seorang manusia, manusia yang semoga saja masih punya kepedulian terhadap sesama.


Hidup Sedulur Kendeng, dan terus nyalakan lilin-lilin kecil perlawanan. Bahkan bila perlu sampai melampaui batasan yang dibentuk oleh kekuasaan~



Untuk menonton videonya klik di sini

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel