Pembobolan (Charles BUKOWSKI)

Pembobolan (Charles BUKOWSKI)
Sumber Foto: Screenprism.com

Ditranslasi oleh: Kusharditya Albi Hafiezal

Pada bagian luar ruangan di lantai pertama. Aku menyandung sesuatu–aku pikir itu sebuah kaki meja—dan aku nyaris terjatuh. Aku menabrak dan berpegangan pada meja untuk mempertahankan diriku.


“Bagus,” kata Harry, “bangunkan saja seluruh penghuni rumah, goblok.”


“Dengar,” kataku, “apa yang akan kita dapatkan di sini?”


“Pelankan suaramu, goblok!”


“Harry, apa perlu kau terus mengucapkan kata goblok?”


“Kau ini siapa, goblok, ahli bahasa? Kita di sini untuk uang dan perhiasan.”


Aku tidak menyukai ini. Seperti sebuah kegilaan yang total. Harry memang sinting; ia telah keluar masuk dari rumah sakit jiwa. Di sela-sela kejadian itu ia menjalani hukuman, dan ia menghabiskan tiga perempat usia dewasanya di sel penjara. Ia lah yang membujukku. Aku tidak kuasa menolaknya.


“Negara sialan ini,” katanya. “terlalu banyak orang kaya keparat yang sangat mudah mendapatkan apapun.” Lalu Harry menggebrak sesuatu. “Sialan!” katanya.


“Halo? Apa itu?” Kami mendengar suara seorang lelaki dari lantai atas.


“Kita dalam masalah,” kataku. Aku dapat merasakan keringat mengucur dari kedua ketiakku.


“Tidak,” kata Harry, “Dialah yang dalam masalah.”


“Halo,” kata laki-laki di atas.


“Ada orang di bawah?”


“Ayo,” kata Harry padaku.


Ia mulai menaiki tangga. Aku mengikutinya. Terdapat lorong, dan cahaya masuk dari salah satu ruangan. Harry bergerak cepat dan tanpa suara. Lalu ia berlari masuk ke dalam ruangan. Aku berada di belakangnya.Seorang laki-laki dan seorang perempuan berada di ranjang terpisah.


Harry menodongkan .38 Magnum miliknya ke arah si laki-laki. “Baiklah, kawan, kalau kau tidak mau biji pelirmu meledak, lebih baik kau diam. Aku tidak main-main.”


Laki-laki itu berumur sekitar 45 tahun, dengan wajah tegas dan seperti bangsawan. Kau dapat melihat bahwa ia memiliki wajah itu dalam waktu yang lama. Istrinya berumur sekitar 25 tahun, rambut pirang, panjang, sangat cantik. Ia seperti bintang iklan.


“Pergi dari rumahku!” kata si laki-laki.


“Hey,” kata Harry padaku, “kau tahu siapa ini?”


“Tidak.”


“Ini Tom Maxson, pembawa berita di Channel 7. Halo Tom.”


“Pergi dari rumahku! SEKARANG!” Maxson menjerit.


Dia meraih dan mengangkat telefon. “Operator—“


Harry dengan sigap menggetoknya dengan bagian belakang .38 Magnum miliknya. Maxson terjatuh di ranjang. Harry meletakkan gagang telepon itu kembali.


“Bajingan, kau melukainya!” teriak si pirang. “Brengsek kau, pengecut!”


Ia mengenakan daster berwarna hijau terang. Harry berjalan mendekatinya dan merusak salah satu tali daster itu. Ia menggenggam salah satu payudara perempuan itu dan mengeluarkannya. “Bagus bukan?” dia berkata padaku. Lalu dia menampar wajahnya dengan keras.


“Perlakukan aku dengan hormat, lonte!!” kata Harry. Lalu ia berjalan dan mengubah posisi Tom Maxson agar ia terduduk. “Dan kau: aku sudah bilang, aku tidak main-main.”


Maxson menjawab. “Kau punya pistol; hanya itulah yang kau punya.”


“Kau tolol. Hanya itulah yang aku butuhkan. Sekarang, aku membutuhkan kerja sama darimu dan lontemu, atau ini akan jadi lebih parah.”


“Dasar bandit murahan!” kata Maxson.


“Teruskan saja, lanjutkan. Kau akan lihat sendiri,” kata Harry.


“Kau pikir aku takut dengan sepasang berandal pengecut?”


“Jika tidak, kau seharusnya takut”


“Siapa temanmu? Apa yang dia lakukan?”


“Dia akan melakukan apa yang aku katakan.”


“Seperti apa?”


“Seperti, Eddie, cium si pirang itu!”


“Dengar, jauhkan istriku dari semua ini!”


“Dan jika ia berteriak, aku akan meluncurkan peluru ke dalam perutmu. Aku tidak main-main. Ayo, Eddie, ciumlah si pirang itu-“


Si pirang itu mencoba menahan tali daster yang rusak dengan salah satu tangannya.


“Jangan,” katanya,”aku mohon-“


“Maaf, nona, aku harus melakukan apa yang dikatakan Harry padaku.”


Kutarik rambutnya dan mendapati bibirku berada pada bibirnya. Ia mendorongku, tapi ia tidak cukup memiliki kekuatan. Aku tidak pernah mencium perempuan secantik itu sebelumnya.


“Baik, Eddie, itu cukup.”


Aku menjauh. Aku berjalan mengitar dan berdiri di samping Harry. “Kenapa, Eddie,” katanya, “Benda apa yang menonjol di celanamu?”


Aku tidak menjawab.


“Lihat, Maxson,” kata Harry, “istrimu  membuat temanku ngaceng! Bagaimana kami dapat menyelesaikan pekerjaan di sini? Kami datang untuk uang dan perhiasan.”


“Bandit-bandit tolol, kau membuatku muak. Kau tidak lebih baik daripada belatung.”


“Dan apa yang kau punya? Siaran berita pukul enam. Apa hebatnya? Provokasi politik dan publik yang brengsek. Semua orang bisa membaca berita. Aku bisa membuat berita.”


“Kau membuat berita? Seperti apa? Apa yang bisa kau lakukan?”


“Sangat banyak dan berapapun angkanya. Ah, biar kupikirkan. Bagaimana dengan penyiar berita TV meminum air kencing seorang pencuri? Bagaimana kedengarannya?”


“Lebih baik aku mati.”


“Kau tidak akan mati. Eddie, ambilkan aku gelas. Ada satu di rak itu. Bawakan aku gelas itu.”


“Dengar,” kata si pirang, “aku mohon ambil lah uang kami. Ambil perhiasan kami. Lalu pergilah. Apa perlunya semua ini?”


“Mulut berisik suami manjamu, Nyonya. Dia membuatku gugup.”


Aku membawa gelas untuk Harry, dia membuka celananya dan mulai kencing ke dalam gelas itu. Gelas itu tingi, tapi dia mengisinya hingga penuh. Lalu dia menutup lagi celananya dan mendekati Maxson.


“Sekarang kau akan minum air kencingku, Tuan Maxson.”


“Tidak akan, brengsek. Lebih baik aku mati.”


“Kau tidak akan mati. Kau akan minum air kencingku, sampai habis!”


“Eddie,” Harry menoleh padaku, “lihat rokok di meja rias itu?”


“Yeah.”


“Ambil itu. Nyalakan. Ada korek di sana.”


Aku mengambil korek dan menyalakan rokok. Rasanya enak. Aku menghisapnya. Rokok terbaikku. Tidak pernah aku menghisap yang seperti ini.


“Kau suka rokoknya, Eddie?” Harry bertanya padaku.


“Ini enak, Harry.”


“OK. Sekarang berjalanlah ke pelacur itu dan pegang payudaranya dari bawah tali daster yang rusak. Tarik payudaranya. Aku akan menyodorkan si brengsek ini dengan gelas yang penuh air kencingkui. Pegang rokok itu dan tempatkan di sebelah puting perempuan itu. Dan jika si brengsek ini tidak meminumnya sampai tetes terakhir, aku mau kau bakar puting itu dengan rokok. Paham?”


Aku paham. Aku berjalan dan menarik keluar payudara Nyonya Maxson. Aku agak terpana melihatnya—belum pernah aku melihat yang seperti itu.


Harry menyodorkan Tom Maxon segelas air kencing. Maxson melihat istrinya dan memiringkan gelas itu lalu mulai meminumnya.


Si pirang menjadi gemetar seluruhnya. Benar-benar nikmat bisa memegang payudaranya.


Air kencing yang kuning itu mulai masuk ke dalam kerongkongan si penyiar berita. Ia berhenti seketika saat masih setengah gelas. Ia terlihat mual.


“Semuanya,” kata Harry. “Lanjutkan; bagus, sampai tetes terakhir.”


Maxson mulai mencucup gelasnya dan meminumnya sampai kering. Gelas itu terjatuh dari tangannya.


“Aku masih berpikir kalian sepasang bandit murahan,” dengusnya.


Aku masih berdiri di sana dan memegang payudara si pirang. Ia melepasnya.


“Tom,” kata si pirang, “bisakah kau berhenti menimbulkan kebencian dengan orang-orang ini? Kau melakukan hal paling bodoh!”


“Oh, bermain pemenang, ya? Apa itu alasanmu menikahiku? Karena aku seorang pemenang?”


“Tentu, itulah mengapa ia menikahimu, brengsek,” kata Harry. “Lihatlah perut gendutmu itu. Apa kau berpikir tubuhmu bisa dijadikan alasan?”


“Aku punya sesuatu,” kata Maxson. “Itulah mengapa aku menjadi nomor satu dalam penyiaran berita. Kau tidak bisa melakukan itu meski dengan keberuntungan”


“Tapi jika ia tidak menikahi nomor satu,” kata Harry, “ia pasti menikahi nomor dua.”


“Jangan dengarkan dia, Tom”, kata si pirang.


“Tak apa,” kata Maxson, “Aku tahu kau mencintaiku.”


“Terima kasih, Daddy,” kata si pirang.


“Tidak apa-apa, Nana,”


“Nana,” kata Harry, “Aku suka nama itu, ‘Nana’. Sangat berkelas, kelas tolol. Itulah yang orang kaya dapatkan sementara kita mendapatkan seorang babu.”


“Kenapa kau tidak bergabung dengan Partai Komunis?” Maxson bertanya.


“Tuan, aku tidak peduli soal ‘menunggu berabad-abad’ untuk sesuatu yang tidak berjalan. Aku mau itu sekarang.”


“Dengar, Harry,” kataku, “yang kita lakukan hanya berdiri dan terus bercakap-cakap dengan orang-orang ini. Kita tidak mendapat apa-apa. Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan. Ayo kita ambil barang-barangnya dan kita bagi rata. Semakin lama kita di sini, semakin cepat kita membuat situasi menjadi rumit.”


“Sekarang, Eddie,” dia menjawab, “Itu pertama kalinya kau mengucapkan ide yang brilian . Aku telah mendengar kau bicara selama lima atau enam tahun.”


“Aku tidak peduli,” kata Maxson.


Kau hanyalah penjilat. Jika aku tidak di sini, kau tidak akan ada. Kau mengingatkanku pada orang-orang yang membunuh para pemimpin politik dan pemimpin spiritual. Bentuk sikap pengecut yang buruk; tentu mudah untuk melakukan sesuatu yang hanya membutuhkan sedikit bakat. Hal-hal itu datang dari amarah dan iri hati; itu datang dari dendam, kepahitan dan kebodohan yang besar: hal itu datang dari skala terendah tingkatan manusia; berbau busuk dan itu membuatku malu karena menjadi suku yang sama.”


“Oh, Max,” kata Harry, “pidato yang bagus. Bahkan air kencing tidak mampu menghentikan omong kosongmu. Kau salah satu kotoran yang manja. Apa kau sadar berapa banyak orang di bumi ini yang tidak punya kesempatan? Karena di mana dan bagaimana mereka lahir? Karena mereka tidak mendapatkan edukasi? Karena mereka tidak pernah mendapatkan apapun dan tidak pernah bisa memiliki dan tak ada yang peduli, dan kau menikahi tubuh yang terbaik yang kau temukan, umurmu menjadi terkutuk?


“Ambil apa yang kau mau dan pergi” kata Maxson. “Bajingan seperti kalian tidak akan pernah berhasil.”


“Oh, tunggu,” kata Harry, “Semuanya penting. Kami sedang membuatnya. Kau tidak cukup mengerti.”


“Tom,” kata si pirang, “berikan saja uangnya, perhiasan... dan biarkan mereka pergi... aku mohon keluarlah dari Channel 7.”


“Bukan Channel 7, Nana. Itu membuat mereka tahu. Aku harus memberi tahu mereka.”


“Eddie,” kata Harry, “lihat di toilet. Bawakan aku selotip.”


Aku berjalan ke bawah lorong dan menemukan toiletnya. Di kotak obat terdapat gulungan selotip yang lebar. Harry membuatku gugup. Aku tidak pernah tahu apa yang akan dia lakukan. Aku membawa selotip itu ke kamar. Harry mencabut kabel telepon di dinding. “OK” katanya, “matikan Channel 7.”


Aku memahaminya. Aku menutup mulut Maxson dengan selotip.


“Sekarang tangannya, tangannya di belakang,” kata Harry.


Dia berjalan menuju Nana, mengeluarkan kedua payudaranya dan memandangi payudara itu.


Lalu dia meludah ke wajahnya. Ia menyeka wajahnya dengan seprai.


“OK,” katanya, “sekarang yang ini. Tutup mulutnya, tapi biarkan tangannya lepas. Aku menyukai sedikit perlawanan.”


Aku mengurusnya.


Harry menyuruh Tom Maxson agar membalikkan badan; dia menyuruhnya berhadapan dengan Nana. Dia berjalan dan mengambil salah satu rokok milik Maxson dan membakarnya.


“Aku pikir Maxson benar,” kata Harry.


“Kita adalah pecundang. Kita belatung. Kita menjijikan, dan mungkin pengecut.”


Dia mengambil hisapan rokok dengan nikmat.


“Itu punyamu, Eddie.”


“Harry, aku tidak bisa.”


“Kau bisa. Kau tidak tahu caranya. Kau tidak pernah diajari. Tak ada edukasi. Aku gurumu. Perempuan itu milikmu. Sederhana.”


“Kau saja yang lakukan, Harry.”


“Tidak. Ia akan lebih berarti untukmu.”


“Kenapa?”


“Karena kau bajingan yang gampang.”


Aku berjalan menuju ranjang. Ia sangat cantik dan wajahku buruk rupa. Aku jatuh seolah-olah tubuhku dilumuri tai.


“Teruskan,” kata Harry, “habisi ia, brengsek.”


“Harry, aku takut. Ini tidak benar; ia bukan milikku.”


“Ia milikmu.”


“Kenapa?”


“Bayangan saja ini perang. Kita memenangkan perangnya. Kita membunuh semua laki-laki mereka, semua pembesar mereka, semua pahlawan mereka. Kita membunuh anak-anak dan menelantarkan perempuan tua di jalan. Kita adalah penakluk pasukan. Yang tersisa hanya perempuan mereka. Dan semua perempuan paling cantik adalah milik kita...milikmu. Ia tidak berdaya. Ambil lah.”Aku berjalan dan menarik selimut. Seolah-olah aku telah mati dan tiba-tiba berada di surga, dan tiba-tiba dihadapkan dengan mahluk dengan keajaiban. Aku meraih dan merobek dasternya dan ia telanjang.


“Setubuhi ia, Eddie!”


Semua garis tubuhnya berada di tempat yang seharusnya. Garis-garis itu ada di sana dan di luarnya. Serupa langit yang indah; seperti sungai yang mengalir indah.  Aku hanya ingin memandanginya. Aku ketakutan. Aku berdiri di sana, benda di depanku. Aku merasa tidak punya hak.


“Lanjutkan,” kata Harry. “Perkosa ia! Ia sama saja dengan perempuan lain. Ia bermain games, berdusta. Ia akan menjadi tua nanti, dan gadis muda lain akan menggantikannya. Ia bahkan mati. Setubuhi ia mumpung masih di sana!”


Aku tarik bahunya, mencoba merekatkannya padaku. Ia mendapat kekuatan entah dari mana. Ia mendorong dan menolakku, menarik kepalanya ke belakang. Ia benar-benar merasa jijik.


“Dengar, Nana, aku benar-benar tida mau melakukan ini... tapi aku melakukannya. Maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku menginginkanmu dan aku malu.”


Ia bersuara melalui selotip itu dan mendorongku. Ia sangat cantik. Aku tidak pantas mendapatkannya. Matanya menatapku. Mata itu mengatakan apa yang kupikirkan: aku tidak punya rasa kemanusiaan.


“Teruskan,” kata Harry, “sodorkan padanya! Ia pasti menyukainya.”


“Aku tidak sanggup melakukannya, Harry.”


“Baik,” katanya, “kau awasi saja Channel 7.”


Aku berjalan dan duduk di samping Tom Maxson. Kami duduk berdampingan di ranjangnya. Dia membuat suara kecil melalui selotip itu. Hary berjalan menuju ranjang lain. “Baik, pelacur, aku pikir aku harus menghamilimu.”


Nana lompat dari ranjangnya dan berlari menuju pintu. Harry menangkapnya dan menarik rambutnya, membalik tubuhnya dan menampar wajah itu dengan keras. Ia terlempar ke dinding dan jatuh ke bawah. Harry menjambak rambutnya ke atas dan menamparnya lagi. Maxson bersuara dengan keras melalui selotipnya dan melompat. Dia berlari dan menghantam Harry dengan kepalanya. Harry menghantam leher, dan Maxson terjatuh.


“Selotip kaki pahlawan itu,” kata Harry padaku.


Aku ikat kaki Maxson dan mendorongnya ke ranjang.


“Buat ia duduk,” kata Harry. “Aku mau agar ia melihat.”


“Dengar Harry,” kataku, “ayo kita pergi dari sini. Semakin lama kita tinggal—“


“Diam kau!”


Harry menyeret si pirang kembali ke ranjangnya. Ia masih menggunakan celana dalam. Dia merobeknya dan melemparkannya ke arah Maxson. Celana dalam itu jatuh di kaki Maxson. Maxson melenguh dan mulai berusaha. Aku menonjoknya sangat keras, sangat dalam ke arah perutnya.


Harry melepas celananya dan celana pendeknya.


“Pelacur,” katanya pada si pirang, “Aku akan memendam barang ini sangat dalam dan kau akan merasakannya, dan tak ada yang bisa kau lakukan. Kau akan menerima semua ini! Dan aku akan mengeluarkannya di dalam!”


Dia membalik badannya; ia meronta. Harry menghajarnya lagi, sangat keras. Kepalanya jatuh ke belakang. Harry membuka kaki si pirang. Ia mulai berusaha menancapkan penisnya. Dia tampak kesusahan.


“Kendurkan kakimu, jalang; aku tahu kau menginginkannya! Rentangkan kakimu!”


Harry menghajarnya dua kali. Kakinya melemas.


“Itu lebih bagus, lacur!


Harry menusuk dan terus menusuk. Akhirnya, ia bisa menancapkannya. Ia bergerak keluar-masuk dengan perlahan.


Maxson mulai meronta dan bergerak lagi. Aku luncurkan kepalanku di perutnya sekali lagi. Harry mulai mengatur ritmenya. Si pirang mengerang seperti kesakitan.


“Kau suka, kan, pelacur? Ini daging yang lebih baik daripada yang diberikan lelakimu yang tua bangka, bukankah begitu? Kau merasakan daging itu membesar?


Aku tidak tahan. Aku berdiri mengeluarkan pelirku dan mulai masturbasi. Harry menyodok si pirang itu sangat keras, hingga kepalanya bergoyang. Lalu Harry menamparnya dan mencabut pelirnya keluar.


“Belum selesai, pelacur. Aku menikmati waktuku.”


Dia berjalan ke tempat Tom Maxson duduk.


“Lihat UKURANnya! Dan aku akan memasukkannya lagi padanya sekarang dan keluar di dalamnya, Tommy si bocah! Kau tidak akan pernah bisa bercinta tanpa memikirkanku! Tanpa memikirkan benda INI!”


Harry mengacungkan penisnya tepat di depan wajah Maxson, “Dan aku mungkin akan menyuruhnya menghisap batangku setelah aku selesai!”


Lalu ia berbalik, kembali ke ranjang lain dan mulai menunggangi si pirang. Dia menamparnya lagi dan mulai memompa tubuhnya dengan liar.


“Kau murahan, pelacur tengik, aku akan keluar!


Lalu: “Oh, sial! OH, TUHAN! Oh, oh, oh!”


Dia terjatuh di tubuh Nana dan berbaring di atasnya. Setelah beberapa saat dia bangkit. Lalu menatapku.


“Yakin tidak mau?”


“Tidak, Harry, terima kasih.”


Harry mulai tertawa. “Lihat dirimu, tolol, kau menjadi penakut!”


Harry memakai kembali calananya, dan tertawa.


“Baik,” katanya, “ikat kaki dan tangannya dengan selotip. Kita akan keluar dari sini.”


Aku berjalan dan menyelotip si pirang.


“Tapi, Harry, bagaimana dengan uang dan perhiasannya?”


“Kita ambil dompetnya. Aku ingin sekali keluar dari sini. Aku gugup.”


“Tapi, Harry, ayo kita ambil semuanya.”


“Tidak,” katanya “hanya dompetnya. Lihat celananya. Ambil uangnya.”


Aku menemukan dompetnya.


“Hanya ada $83 di sini, Harry.”


“Kita ambil dan pergi. Aku gugup. Firasatku aneh. Kita harus pergi.”


“Sialan, Harry, tak ada hasilnya! Kita bisa ambil semuanya sampai bersih!”


“Sudah kubilang: aku gugup. Aku merasa bahwa akan ada bahaya. Kau boleh tetap di sini. Aku pergi.”


Aku mengikutinya menuruni tangga.


“Si brengsek itu akan berpikir dua kali sebelum menghina siapapun lagi,” kata Harry.


Kami menemukan jendela yang telah kami bobol dan meninggalkannya dengan keadaan serupa. Kami berjalan melalui kebun dan keluar dari pagar besi.


“Baik,” kata Harry, “kita berjalan seperti biasa. Nyalakan rokok. Berusahalah terlihat normal.”


“Mengapa kau gugup, Harry?”


“Diamlah!”


Kami berjalan empat blok. Mobil masih di situ. Harry mengambil kemudi dan kami pergi.


“Mau kemana kita?” tanyaku.


“Gedung teater The Guild.”


“Apa pertunjukannya?”


“Black Silk Stocking, dengan Annette Haven.”


Tempatnya terletak di Lankershim. Kami parkir dan keluar. Harry membeli dua tiket. Dan kami masuk.


“Popcorn?” aku bertanya pada Harry.


“Tidak.”


“Aku mau sedikit.”


“Ambillah kalau begitu.”


Harry menunggu sampai aku mendapatkan popcorn besar. Kami duduk  di bagian belakang. Kami sedang beruntung. Pertunjukan baru saja dimulai.




Diterjemahkan dari cerpen Charles Bukowski yang berjudul Break-In, cerpen ini mucul di buku kumpulan cerpen The Bell Tolls or No One. Cerpen berbahasa inggris dapat diakses di bukowski.net.



Seorang penggemar musik dan film, penerjemah pemula, kadang-kadang terpaksa jadi jurnalis di LPM Rhetor. Bisa ditemui di instagram @sharkassthic_

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel