New Normal: Pendidikan Kita dalam Bayang-bayang Heraklitus



New Normal: Pendidikan Kita dalam Bayang-bayang Heraklitus

Penulis: Khairul Umam


Setelah siang-malam dihantui virus mematikan, akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menghadapi tatanan kehidupan yang baru (new normal). Daripada jutaan rakyat mati kelaparan sebab tidak ada pemasukan uang selama kurang-lebih tiga bulan, lebih baik kita bertarung mati-matian untuk memerangi virus ini.


Jika sebelumnya, ketika virus corona pertama kali muncul di bumi pertiwi, kita sebagai rakyat Indonesia dihimbau untuk tidak keluyuran dan menghindari kerumunan di ruang-ruang terbuka. Tidak hanya itu, pasar-pasar ditutup, perbatasan desa atau gang-gang di perumahan elit dijaga, ritual peribadatan dan pembelajaran yang pada mulanya ditempatkan pada ruang-ruang tertentu, dihentikan sementara waktu. Semua kegiatan, diharapkan bisa dilakukan di rumah saja, katanya.


Pada akhirnya, ibadah, kerja, dan sekolah serta kegiatan lainnya, dilakukan di rumah saja. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, setelah rutinitas manusia yang setiap hari dilakukan secara luar jaringan (luring) atau offline, dengan melibatkan banyak orang atau tatap muka secara langsung, tiba-tiba dialihkan dengan metode dalam jaringan (daring) atau online. Saya menyebutnya dengan metode kasat mata, yaitu mengubah sebuah kebiasaan lama dengan kebiasaan baru.


Dalam hal ini, kata ‘lama’ mengindikasikan kepada hal-hal yang sudah dahulu, yang memiliki rentang waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan bersama. Bisa jadi itu semenit, melebihi satu jam, satu hari, satu bulan, atau satu tahun, dan seterusnya. Begitu juga dengan ‘baru’, yaitu sesuatu yang belum pernah kita lakukan atau temui sebelumnya, yang berada dalam rentang waktu atau masa yang ada di depan kita.


Bukankah selama tiga bulan belakangan ini kita sudah beradameskipun terlihat memaksadi atas kenormalan baru dalam sejarah tatanan kehidupan kita selama ini? Lantas, hal baru seperti apa lagi yang ditawarkan pemerintah untuk kehidupan kita selanjutnya? Apakah dengan selalu memakai masker ketika di ruang terbuka itu merupakan hal baru? Atau apakah dengan tidak melakukan jabat tangan dan pelukan ketika kita bertemu sahabat yang sudah lama berpisah, bisa juga merupakan hal yang baru?


Mungkinkah beberapa hal lainnya, yang belum pernah kita lakukan sebelumnya itu, perlu dianggap baru di kemudian hari? Dan saya pun meyakini, masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dalam kepala kita, perihal ke-baru-an yang akan kita hadapi pada hari-hari selanjutnya.


Dari beberapa pertanyaan di atas, ada satu pertanyaan yang musti kita lontarkan kepada diri kita sendiri, yaitu sudah siapkah kita dengan itu semua? Pertanyaan yang terakhir ini tidak perlu dijawab dengan kata ‘iya’ atau ‘tidak’, cukup dibuktikan dengan tindakan dari masing-masing diri kita sendiri.


Berbicara tentang hal baru, saya jadi teringat dengan perkataan Heraklitus, seorang filsuf dari Yunani. Bahwa segala sesuatu itu berubah, dan tidak ada satu pun yang tetap. Dan sejarah telah membuktikan perkataan sang filsuf itu dalam kondisi kehidupan kita saat ini.


Hidup itu mengalir seperti air, dan air yang mengalir di sepanjang sungai itu tidak akan betemu dengan badan sungai yang telah ia lewati sebelumnya. Mungkin demikianlah jadinya ketika Heraklitus suatu ketika merenung di tepian sungai yang sejuk, dengan alunan musik gebyur air dan cericit burung-burung di atas pohon pada pagi yang cerah, di daerah Efesus di pedalaman Yunani sana.


Tatanan kehidupan baru yang akan kita hadapi di depan mata di era pandemi ini, merupakan sebuah tantangan nyata bagi kita. Bagaimana tidak, jika memang benar posisi air itu berubah dari waktu ke waktu, tentunya aliran air tersebut akan bertemu dengan bebatuan besar di sepanjang sungai, dan segalanya bisa jadi memang tampak mengalir dengan semestinya. Akan tetapi, di antara aliran sungai itu ada dorongan dari belakang yang akan mendukung perubahan posisinya, bahkan ketika menerpa bebatuan besar sekalipun.


Namun air tetaplah air, walau bagaimanapun ia akan manut dengan semestinya pada labirin panjang yang telah disediakan untuknya. Lantas bagaimana dengan kita sebagai manusia, yang tentunya sama sekali tidak bisa disamakan dengan sifat air yang lunak itu? Apakah kehidupan baru yang ada di depan kita sekarang ini, akan kita lewati begitu saja tanpa ada yang keberatan bahkan merasa terpaksa?


Oke baiklah, mari kita perhitungkan dari sekarang. Pada masa pandemi, sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, segala sesuatunya harus disekat dan dibatasi, sehingga kita seolah-olah tidak dapat melawan arus kehidupan yang telah ditakdirkan di depan. Kita harus menawarkan sebuah inovasi baru yang dapat merobohkan sekat-sekat itu semua.


Sebagai contoh, yaitu adanya sebuah sistem dalam pendidikan yang inovatif, tidak hanya gembar-gembor tentang pertemuan jarak jauh (PJJ) dengan sistem online. Akan tetapi, kita juga harus mampu memberikan penawaran kepada warga yang berada jauh di pelosok negeri sana, supaya turut merasakan bagaimana pembelajaran melalui dalam jaringan (daring) itu.


Dalam buku Pendidikan Untuk Transformasi Bangsa (Kompas, 2014), yang disusun oleh tim Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), menyatakan bahwa dengan hanya mengandalkan kebijakan dan program yang disusun secara terpusat (oleh pemerintah), maka masalahnya juga tidak sederhana. Program-program pembangunan pendidikan yang terpusat, sering kali kurang peka terhadap variasi permasalahan antar daerah. Sehingga, salah satunya akan mengakibatkan kurang terlayaninya anak-anak yang tak terjangkau (unreached).


Sistem pembelajaran yang dilakukan dengan metode daring, sebenarnya merupakan hal baru dalam dunia pendidikan kita. Pertanyaannya yang muncul selanjutnya, apakah kita, baik pemerintah maupun rakyat, benar-benar siap dalam hal ini? Melihat bahwa pendidikan, telah dianggap sebagai satu-satunya jalan bagi setiap orang agar hidupnya semakin baik.


Yang kemudian memunculkan anggapan lama dan terus diperbarui, “kesejahteraan hidup seseorang, bisa dilihat sampai di mana jenjang pendidikan mereka.” Semakin tinggi jenjang pendidikan yang dilalui oleh seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan orang tersebut. Tetapi pada akhirnya, di balik itu semua, kita juga tidak bisa menampik kalau angka pengangguran juga semakin melambung tinggi. Itulah sebabnya, inovasi dan perubahan harus tetap dilakukan.


Tentunya inovasi dalam pendidikan, dalam buku terbitan Kompas itu, harus merujuk pada misi pembangunan pendidikan nasional. Yang mengarah pada perwujudan keseimbangan dinamis antara upaya penguatan identitas dan kepribadian bangsa kita, peningkatan kualitas, produktivitas, dan daya saing bangsa di era global. Tidak hanya ujug-ujug mengganti kurikulum satu dengan kurikulum lainnya tanpa memperhatikan hal lain yang ada di sekitarnya.


Sebagaimana kita ketahui bersama, pendidikan merupakan proyek jangka panjang dalam peradaban sebuah bangsa, agar manusia dan alam yang mengelilinginya tidak punah begitu saja. Oleh karenanya, tatanan kehidupan yang baru ke depannya, khususnya pendidikan, harus juga bisa dijangkau oleh seluruh rakyat, baik di kota maupun di pedalaman desa.


Itu masih secuil problema yang ada di sekitar kita menyambut datangnya gelombang kenormalan baru, yang akan menerpa kehidupan kita selanjutnya. Belum lagi kita harus memikirkan bagaimana mengembalikan pekerjaan jutaan rakyat yang telah di PHK dari pabrik-pabrik, yang merupakan satu-satunya ladang kehidupan bagi mereka, setelah terpaksa menghentikan produksi ketika pandemi sedang melanda. Dan pada akhirnya, kita harus memilih antara berada tetap pada posisi kita ini, atau ikut aliran sungai yang membentang di sepanjang perjalanan panjang kehidupan kita. Segalanya belum selesai, dan kita belum juga sampai.



Bukan penyair, bukan mahasiswa, bukan penikmat kopi, dan bukan yang lainnya. Karena penulis memang bukan siapa-siapa, cukup sekedar teman katanya. Biaaaahhhh!

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel