Mutiara di Kubangan Lumpur Sejarah



Mutiara di Kubangan Lumpur Sejarah

Identitas Buku


Judul: Setan van Oyot


Penulis: Djokolelono


Penerbit: Marjin Kiri


Cetakan: Maret, 2019


Tebal: x+293


Sejarah kita, Indonesia, sering kali ditulis dengan cara yang membosankan dan sangat kaku. Saking kakunya, kronik sejarah kita bisa dikatakan hanya tergambar dengan hitam atau putih. Antara pemenang dan si kalah. Antara yang bertahan dan terpinggirkan.

Dualitas semacam itu, tak urung mengkontruksi isi kepala banyak anak muda yang harus paham akan sejarah. Celakanya lagi, pengelompokan menjadi dua arus besar tersebut, membuat sejarah di negeri ini lebih banyak terdistorsi. Sehingga, pada akhirnya  menghilangkan keanekaragaman yang menjadi ciri khas kita selama ini. 


Bisa jadi memang benar, setelah Pramoedya Ananta Toer, tidak banyak penulis yang fokus dengan sastra sejarah. Entah mengapa, wajah sejarah yang terwakili oleh sastra tidak jarang digambarkan begitu menyeramkan. Yang tak ayal, membuat kebanyakan dari kita harus lebih cermat ketika ingin menuliskannya, terlebih jika tidak ingin menjadi sasaran serangan dari pihak-pihak yang merasa bisa dirugikan.


Buku Djokolelono yang berjudul Setan van Oyot, setidaknya berhasil keluar dari kubangan lumpur sejarah tadi menurut saya. Fiksi dewasanya ini, bisa saya sebut tidak cocok jika dikategorikan hanya sekadar sebuah roman picisan. Lebih tepatnya, buku ini bisa disebut sebagai roman sejarah, yang membongkar kebiasaan lama kita yang saklek ketika berbicara soal sejarah.


Keberhasilan buku ini, juga terletak pada penggambaran setiap tokoh yang ada di dalamnya. Tidak tanggung-tanggung, Djokolelono dengan berani mengoyak dinding ketabuan sejarah lewat para tokoh yang ada di  dalam buku ini. Saya pribadi pun merasa bangga bisa membaca karya indah ini, dan agak menyesali membacanya agak terlambat. Padahal, buku ini sudah lumayan lama berada di rak buku saya.


Antara Sejarah dan Kenangan


Keunikan buku ini terletak pada kompleksitasnya. Membaca buku ini, kita tidak hanya akan dibuat tertawa terpingkal-pingkal, namun juga bisa tersayat-sayat olehnya. Hasil komposisi dan perpaduan yang diracik oleh Djokolelono dalam buku ini, ibarat sebuah makanan yang belum pernah saya makan sebelumnya. Anehnya, makanan tadi mampu meninggalkan sebuah ingatan yang tidak bisa dengan mudah saya tepis. Parahnya lagi, makanan tadi malah membuat saya bertambah lapar.


Saya rasa, buku ini bisa disejajarkan dengan kumcer Iksaka Banu yang berjudul Semua Untuk Hindia. Dengan pengalaman yang hampir sama dengan Iksaka, Djokolelono tampaknya memiliki kesamaan visi. Hal ini terbukti dari kepeduliannya terhadap sejarah yang terekam dalam buku ini. Meskipun saya pribadi agak curiga, buku ini adalah campuran sisa-sisa kenangan penulisnya, tetapi tetap saja tidak mengurangi kualitas buku ini.


Tidak hanya itu, buku ini layak menjadi bahan rekomendasi yang tepat agar orang-orang lebih mencintai sejarah. Dari buku ini saya pun belajar, bahwa masa lalu itu tidak perlu kita hapus. Sebab, masa lalu adalah bagian dari diri kita. Dan jika  kita ingin menghapusnya, sama saja kita akan turut menghapus sebagian dari diri kita yang pernah hidup. Bukankah sangat merugi sekali jika hidup tanpa kenangan masa lalu?


Meskipun terdengar berlebihan dari tadi, tapi pada nyatanya begitulah kesan saya setelah membaca buku ini. Selanjutnya, saya jadi meragukan orang-orang yang meragukan buku ini. Atas dasar apa mereka melakukannya, dan apakah hanya sekedar penilaian subjektif semata? Sebab, bagi saya bukan pekerjaan mudah mengangkat sejarah ke permukaan dan menjadikannya enak dibaca. Terlebih sejarah yang mampu menghanyutkan pembacanya. Percayalah, kalau kalian bisa menahan ngantuk, pasti akan menyelesaikan buku ini hanya dengan sekali duduk.


Tabir Masa Lalu yang Menyeruak ke Permukaan


Masa lalu memang penuh tabir. Sulit untuk dipungkiri bahwa tabir tadi lebih sering menggelapkan, daripada mencerahkan. Jika kita ingin belajar berjalan meniti kenangan masa lalu, sangat saya sarankan untuk membaca buku ini. Tetapi dengan satu catatan, jangan pernah menggugat buku ini setelah selesai membacanya. Bukan karena buku ini tidak bisa digugat, tetapi karena buku ini lebih cocok untuk menjadi bahan renungan. Akan menjadi hal yang melelahkan, jika para pembaca pada akhirnya hanya mencari celah kelemahaan dari buku ini.


Coba bayangkan, apa yang paling kamu inginkan jika bisa kembali ke masa lalu. Adakah hal yang sangat kamu sesali terjadi di masa lalu? Kalau ada, anggap saja kamu bisa memperbaikinya. Akan tetapi, tidak dengan kembali ke masa lalu. Nah, sulit bukan? Tentu saja itu bukan sesuatu yang mudah, tapi tidak ada yang perlu disesali menurut saya. Karena hidup ini sebenarnya berputar, dan mari anggap saja kegagalan dan kesalahan masa lalumu tadi, adalah pertanda bahwa kau sedang berada di titik rendahmu.


Dari buku ini kita pun bisa belajar, bagaimana caranya menghargai dan memaafkan diri sendiri. Karena sesungguhnya semesta tidak akan berhenti berputar jika kamu memberontak. Cukup ikuti saja skenario yang sedang kamu jalani sekarang, apalagi kalau dalam skenario tadi kamu juga merasa ikut campur. Dan tidak perlu mencari pelampiasan dari setiap kemarahan yang akan menyeruak kapan saja. Sebab dalam kondisi kepala dinginlah keputusan terbaik itu bisa dibuat.


Walaupun saya merasa dikhianati dan dikecewakan di akhir buku, tetapi pada akhirnya saya tetap menerima keputusan Djokolelono sebagai seorang penulis. Dengan begitu, saya menganggap kalau pilihan yang dibuat oleh Djokolelono untuk mengakhiri bukunya secara tak terduga, saya nilai sebagai keputusan yang tepat. Pembaca boleh saja marah dan tidak terima bukan? Tapi sebenarnya apa hak para pembaca untuk menuntut penulis jika tidak membalasnya dengan sebuah tulisan pula. Oleh sebab itu, saya haturkan salam tabik kepada Djokolelono.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel