Membedah Demokrasi Prosedural yang Gemuk



Membedah Demokrasi Prosedural yang Gemuk

Identitas Buku


Judul: Kucing “Gemuk” Dalam Karung (Membegal Demokrasi)


Penulis: Hazwan Iskandar jaya


Penerbit: Yayasan Bhakti Bangsa Yogyakarta & ERKAHA NETWORK


Cetakan: 2017


Tebal: iii-xvi+160


Demokrasi berumur panjang. Entah karena benar-benar efisien dan tepat dalam menanggulangi ketimpangan serta kekeliruan di banyak negara, atau justru menjadi sasaran paling empuk yang bisa dimanfaatkan, tetap saja demokrasi masih terus dipuja sampai hari ini. Di satu sisi, demokrasi ibarat dewa penyelemat yang bijaknya tak lekang oleh waktu. Namun di sisi lain, demokrasi seperti algojo yang hobinya mengeksekusi tanpa pernah paham kondisi. Dari dua sisi tersebut, yang kemudian menjadikan demokrasi punya banyak wajah.


Seiring berjalannya waktu, demokrasi mengalami perombakan di sana-sini, ditambal sedemikian rupa, dan terus diperbaiki menyesuaikan kondisi yang ada. Akan tetapi sayangnya, demokrasi juga tidak luput dari yang namanya “pembegalan”. Pembegalan demokrasi pun bermacam-macam bentuknya. Mulai dari cara yang paling halus dan transparan, sampai dengan cara-cara kotor yang begitu kentara. Kondisi yang demikian, menjadikan demokrasi seperti kucing gemuk dalam karung, dan senangnya bermalas-malasan atau bodoh amat.


Salah satu buku yang membahas dibegalnya demokrasi dan diibaratkan dengan kucing gemuk dalam karung, adalah buku yang berjudul Kucing “Gemuk” Dalam Karung (Membegal Demokrasi) karya Hazwan Iskandar Jaya. Buku ini adalah buku yang sudah lama berada di rak buku saya, dan baru sempat saya baca beberapa waktu terakhir. Sebabnya tidak lain karena pribadi saya yang malas membaca buku, dan akhir-akhir ini lebih sering membaca buku fiksi.


Buku setebal 160 halaman ini, adalah buku yang berisi kumpulan tulisan penulisnya di beberapa media cetak. Buku ini juga menjadi bukti perjalanan sang penulis merekam dan mengabadikan perihal demokrasi di Indonesia. Meskipun buku ini spesifik kepada demokrasi prosedural yang ada di Indonesia, Hazwan juga menyinggung banyak hal di dalam buku ini. Misalnya, soal budaya, sistem pemerintahan di beberapa daerah, serta keberpihakan kepada yang disebut sebagai “rakyat”.


Buku ini menarik karena mampu membuat para pembaca untuk merefleksikan kondisi demokrasi sampai hari ini. Terlebih kepada tata cara prosedural pemilihan, dan kekurangan-kekurangan yang seharusnya bisa segera direvisi. Buku ini secara tidak langsung juga mengkategorikan dan mengamini demokrasi di Indonesia baru berlangsung pasca Reformasi. Dengan sekian persoalan yang disorot di dalam buku ini, membuat generasi yang lahir pasca-Reformasi, setidaknya mampu mengetahui perjalanan demokrasi di Indonesia.


Dari 30 artikel yang ada di dalam buku ini, artikel yang menjadi favorit saya adalah artikel yang berjudul NPWP (Nomor Piro Wani Piro). Artikel ini membedah bagaimana kebiasaan money politic yang menjamur di kita. Dengan guyonan khasnya, membuat saya tergelitik ketika mengetahui Hazwan juga turut mengamini kebiasaan yang satu ini. Budaya transaksional menurutnya, harus mampu diakhiri secepat mungkin. Uniknya, di penghujung artikel, Hazwan mempertanyakan bagaimana idealnya konsep demokrasi ini bisa berjalan sebagaimana mestinya.


Artikel kedua yang menjadi favorit saya berjudul Calon Presiden “Opor Bebek”. Artikel ini begitu menunjukkan kalau penulisnya adalah murid ideologis dari Ki Hajar Dewantara, dan hal tersebut juga diakui oleh sang penulis sendiri. Dibanding tulisan-tulisan lain, tulisan ini terbilang lebih panjang dan cukup jelas menyampaikan maksud penulisnya. Dalam artikel yang satu ini, konsep kepemimpinan pun dibedah. Pemimpin yang dimaksud bukanlah pemimpin yang tangan besi atau otoriter, akan tetapi seidealnya pemimpin yang berpihak kepada orang kecil.


Salah satu kekurangan buku ini, terletak pada nihilnya informasi dimuat di mana tulisan-tulisan yang ada sebelumnya. Saya sebut sebagai sebuah kekurangan karena, hal tersebut juga menjadi kendala untuk memahami kriteria media yang memuat tulisan-tulisan tersebut. Selain itu, nihilnya keterangan ini juga turut menghilangkan keberpihakan medianya. Tentu para mahasiswa komunikasi akan sepakat dengan pendapat saya, terlebih mereka yang akan fokus meneliti media.


Keunikan buku ini juga tidak hanya memuat artikel soal demokrasi, akan tetapi turut menyisipkan beberapa puisi di dalamnya. Untuk hal puisi, saya pribadi menyukai seluruh puisi yang ada di dalam buku ini. Selain indah dibaca dan enak didengar, puisi-puisi yang ada berisi kritik kepada sebuah kekuasaan. Kritik yang mengarahkan serta mengingatkan para pengemban demokrasi. Dan puisi-puisi tersebut juga saya anggap mampu masuk ke ruang terkecil yang tidak bisa dimasuki oleh tulisan-tulisan non fiksi.


Kepedulian Hazwan kepada iklim demokrasi yang berperspektif gender, juga terlihat di dalam buku ini. Terbukti dari beberapa artikel yang turut menyinggung hal itu. Buku ini akan terus relevan dibaca menurut saya, ketika kita secara bersama masih mengamini demokrasi prosedural di Indonesia. Selain sebagai sebuah pengingat, buku ini menjadi pembatas yang jelas tentang kondisi baik-buruknya demokrasi kita.


Harapan besar saya, dan semoga saja terwujud, dengan semakin banyaknya orang yang membaca buku ini, makin banyak pula yang tersadarkan. Terkhusus kepada mereka-mereka yang mengemban amanah di pemerintahan, dan secara umum kepada kita sebagai pengawal demokrasi.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel