Memaknai Imajinasi untuk Mengomentari dan Merefleksi Situasi



Memaknai Imajinasi untuk Mengomentari dan Merefleksi Situasi

Identitas Buku


Judul: Empat Aku: Sekumpulan Kisah


Penulis: Yudhi Herwibowo


Penerbit: Marjin Kiri


Cetakan: Mei, 2019


Tebal: vi +165


Minum kopi dan menghisap rokok pada malam hari menjelang fajar terasa lebih nikmat, setelah ditemani sekumpulan kisah karya Yudhi Herwibowo. Kisah-kisah yang ditulisnya terasa amat dekat dengan saya. Selain itu, kumpulan kisahnya juga terkadang membuat saya merinding, terlebih posisi kamar yang terasa lebih dingin pada malam ini ketimbang malam-malam lain. Beban di kepala saya terasa lebih ringan, setelah menyaksikan dan memahami riwayat rekaan Yudhi. Menggelitik, tapi terkadang juga mengusik. Setidaknya begitu yang saya rasakan.


Buku kumcer Yudhi yang berjudul Empat Aku: Sekumpulan Kisah ini, adalah sebuah buku yang tidak membuat kita bisa bersenang-senang dan bersantai. Sebagai seorang pembaca, saya merasa seperti dipecut oleh buku ini. Tak ayal, buku ini membuat saya harus segera menyelesaikan membacanya, jika tidak ingin menerima kesakitan yang lebih. Sekumpulan kisah yang ada di dalamnya, ibarat film yang sedang diputar dengan tempo lambat namun amat padat. Saking padatnya, begitu terasa keheningan yang keluar dari setiap judul cerpen yang ada di dalam buku ini.


Dari lima belas judul yang ada di dalam buku ini, hampir setengahnya sangat mengena bagi saya. Antara lain yaitu, Kampung Rampok, Kota yang Ditinggalkan, Kisah Kera-kera Besar yang Pergi Menuju Langit, Jejak Air, Bulan Terbelah, Satu... Dua... Tiga... Empat.., dan Kisah Akhir Para Tiku.


Cerpen Kampung Rampok sendiri, mengingatkan saya kepada desa di mana orang tua saya sekarang tinggal, dan menarik ingatan saya ketika pertama kali pindah ke sana. Dalam cerpen ini, kita akan diajak Yudhi menuju lorong yang mungkin terkesan asing, tetapi justru sangat dekat bagi orang desa kebanyakan. Logika tradisional dan modernisasi bercampur-baur dalam cerpen ini, dan kita diseretnya menyaksikan kejadian yang sebenarnya jamak terjadi di sudut Indonesia mana pun. Yaitu kekuasaan yang selalu menuntut korban.


Sebagaimana kita ketahui, lingkaran kekuasaan itu akan selalu ada. Mulai dari lingkaran terkecil sampai lingkaran yang paling besar. Beberapa lingkaran kekuasaan ini tentu akan bersinggungan, jika tidak berkoalisi, maka sudah jelas akan saling bertabrakan. Kampung Rampok, adalah cerminan hal tersebut. Cerpen ini sebenarnya cerminan kita yang selalu menyamakan kekuasaan tadi dengan simbol jelmaan iblis, dan tak jarang mengutuknya begitu rupa. Padahal, dalam setiap diri kita sejatinya juga terdapat unsur semacam itu, yang sayangnya jarang kita sendiri sadari.


Cerpen Kota yang Ditinggalkan, mengajak kita berkelana menuju ruang sempit. Cerpen ini dengan telak mengomentari kejadian yang kita temui sehari-hari. Mulai dari plagiasi yang disengaja, sampai menghilangkan asal-usul sebuah penemu. Tidak hanya itu saja, cerpen ini seakan mengingatkan kita dengan peristiwa tak kasat mata yang sungguh adanya. Akan tetapi, bukan di sana titik tekan cerpen ini. Cerpen ini sesungguhnya mengajarkan konsistensi dan keseriusan serta ketekunan, tidak melulu kerja-kerja instan demi meraih hasil cepat semata.


Dari Kisah Kera-kera Besar yang Pergi Menuju Langit, tidak sekadar mengajarkan soal kacang yang lupa kulitnya. Lebih jauh dari itu, cerpen ini adalah wajah nyata dari ketamakan manusia, yang tidak pernah puas dengan apa pun. Bahkan ketika sudah menemukan yang namanya ketenangan, kesejahteraan, dan ketenteraman, manusia sesungguhnya sulit secara kodrati untuk menghindari ketamakan. Entah itu adalah sebuah sifat lahiriah, akan tetapi yang jelas, hal-hal semacam itu sangat mungkin ditekan jika secara pribadi sudah meniatkannya.


Melalui cerpen ini pula, kita bisa menyaksikan kehatian-hatian seorang Yudhi sebagai arsitektur cerita, yang tidak hanya sekadar membuat kita ternganga, namun juga membuat kita mereka-reka. Perasaan kehilangan, ketidakpercayaan, serasa tidak bisa tertuntaskan dengan sekadar pertemuan dan pembuktian. Hal ini pula yang selanjutnya akan membuat kita bertanya, “benarkah pertanyaan dan keingitahuan itu tidak mesti selalu harus mendapatkan jawaban?”. Karena bukankah puncak pengetahuan itu ketika malah tidak merasa tahu apa-apa?


Jujur saja, bagi saya cerpen Jejak Air adalah cerpen yang terkuat di dalam buku ini. Bukan soal ketajaman dan sasaran kritiknya yang teramat jelas ditujukan kepada siapa. Akan tetapi peletakan kejadian, susuna plot, serta narasinya yang mengalir seperti judul cerpen ini sendirilah yang membuat cerpen ini begitu kuat. Lebih-lebih juga karena harapan yang ditaruh di dalam cerpen ini, dan dibumbui oleh Yudhi sampai membentuk untaian cerita yang menjulur seperti akar.


Kekeringan yang menjadi tema dalam cerpen ini, mirip dengan kegersangan rasa kepedulian kita. Yang sering kali kalah hanya karena kekaguman atau ketakjuban. Banyak dari kita yang sebenarnya malas mencari tahu persoalan-persoalan yang sangat genting. Dan tidak jarang pula, kita lebih sering menganggap bahwa hal tersebut adalah dialektika alam, yang sama sekali tidak ada campur tangan manusia di dalamnya. Melalui cerpen ini, setidaknya kita dapat belajar soal arti kesetiaan, meskipun dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan dan lemah tak berdaya.


Untuk selebihnya, silahkan para pembaca budiman cari tahu sendiri. Boleh jadi apa yang saya jelaskan di sini sangat kurang memadai dan sangat subjektif sifatnya. Tetapi satu hal pasti yang harus diketahui oleh pembaca, sekali lagi buku ini bukanlah buku yang akan mengajak kita bersenang-senang. Meskipun secara narasi buku ini sangat enak dan indah dibaca, tetap saja itu bukan menjadi prioritasnya. Di balik keindahan dan keelokan buku ini, menyimpan sejuta luka yang mencari tempat berlabuh.


Walaupun demikian, buku ini juga tidak akan menganjurkan kita untuk meratapi permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar. Kebalikannya, buku ini seperti membentak kita yang selalu santai dalam ketenangan, dan panik dalam sebuah keributan. Seperti kampung yang tak nyaman ditinggali, seperti desa yang kering, seperti dendam yang belum tuntas, seperti hadiah dari hasil curian, dan seperti orang-orang yan terlupakan, buku ini mengajak kita melihat hal itu. Sebab dunia ini tidak indah jika kita hanya menikmati kesenangan yang tidak kita ketahui asalnya dari mana.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel