KONTEMPLASI DAN PUISI LAINNYA


KONTEMPLASI DAN PUISI LAINNYA

Penulis: Lyn

ENGGAN


Meski di antara potongan kejadian di alam semesta


Masih saja selalu ada yang membuat rasa bermekaran bak bunga


Caramu mengulum senyum


Atau kelakarmu yang sering kali membuat sakit perutku


Tetap, aku tak ingin berkontemplasi


Menerka-nerka bagaimana akhir dari kita


Enggan mengukur harapan


Pun enggan pula mematahkan


Biar saja seperti air dari hulu


Dengan gesitnya melewati bebatuan berlumut


Terkadang keruh bercampur tanah


Atau melewati air terjun


Biar saja ia terus mengalir


Hingga akhirnya bersua dengan hilir


Entah dengan jernihnya, atau keruhnya?


Aku enggan menerka-nerka 



KONTEMPLASI


Aku tak pandai menjadi penasihat kerajaan


Menerjemahkan sandi dan simbol


Atau kode yang tersirat pada kedipan mata


Belakangan aku juga tahu


Aku payah tidak hanya dalam hal itu




Kau tahu, aku adalah seorang patih


Yang  senang berkutat dengan huruf dan kalimat


Aku senang menyusunnya menjadi paragraf, meski terkadang tanpa makna


Tapi karenamu, Tuan


Aku gagap dan gugup


Segala yang ingin kusampaikan mendadak buyar


Bukan lagi sebaku matematika


Di mana satu ditambah satu sama dengan dua


Di depanmu aku menjadi rancu


Penuh kontemplasi dan ragu-ragu



PERLAHAN SAJA, TUAN


Tuan, bagaimana patahmu?


Apa patah hati terbesarmu?


Tanyaku sambil menyesap dingin yang merayapi kulitku


Kau hanya tersenyum


Kau yang bisa mendengarkan cerita patahku


Masih dengan tenang dan penuh senyum


Pasti pernah terluka lebih parah


Kau yang tetap bijak dalam katamu


Pasti pernah didekap oleh perihnya dicampakkan




Tak apa jika bukan sekarang, Tuan


Telingaku masih di tempatnya


Siap mendengarkan cerita patahmu kapanpun kau ingin


Kau tau, Tuan?


Aku pernah menunggu batu itu habis terkikis oleh air


Masihkah kau tanyakan seberapa sabarku?


Tenang, perlahan saja, Tuan!



JIKA INI KESEMPATAN TERAKHIRKU


Dari sedikit tenaga yang tersisa untukku bangkit


Terselip sebuah kertas bertuliskan “Kesempatan Terakhir”


Terkadang aku ingin, tapi tak mampu


Atau pernah mampu, tapi sudah tak ingin lagi




Dari sekian banyak kemauan di antara ketidakmampuan


Atau angan yang sungguh membuatku ingin


Namun terasa begitu jauh


Hingga rasanya sukar untuk sekedar tersentuh


Terasa begitu tinggi


Hingga rasanya sukar untuk kugapai




Jika kugunakan kesempatan terakhirku untuk bangkit

Maukah kau menjadi penyangga pada sulurku yang masih layu?

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel