Ketika Baik Akhlakmu, maka Mulialah Dirimu


Ketika Baik Akhlakmu, maka Mulialah Dirimu

Penulis: Hafis Husnil Hikam


Agama Islam merupakan salah satu agama yang komplit. Segala kegiatan dari bangun tidur hingga tidur kembali, semuanya diatur sedemikian rupa agar aktivitas yang umat muslim lakukan tak luput dari yang namanya ibadah. Karena pada hakikatnya tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Tuhannya. Seperti yang tertera dalam Al-Qur’an surah al-Dzariyat ayat 56:


 وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan mereka supaya mereka beribadah kepadaku.”


Segala aspek kehidupan umat muslim sudah diatur dalam agama Islam, guna menjadikan kehidupannya bermanfaat bagi dirinya dan juga umat muslim yang lainnya. Agama Islam juga sangat menjunjung tinggi rasa Ukhuwah Islamiyah. Oleh karena itu, agama Islam sangat menekankan terhadap akhlakul karimah. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang akhlak, antara lain surah al-A’raf ayat 199:


خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ


“jadilah pemaaf dan menyerulah pada hal yang ma’ruf (kebaikan) dan jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”


Surah al-Maidah ayat 8 juga menjelaskan tentang akhlak,


وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ


“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, karena Allah.....”


Ibnu Taimiyah berkata: ayat ini diturunkan berkaitan dengan kebencian kaum muslimin kepada orang-orang kafir. Apabila kebencian terhadap orang kafir itu dilarang, lantas bagaimana dengan kebencian terhadap sesama muslim yang pada umumnya timbul dari rasa iri, dengki dan hawa nafsunya? Oleh sebab itu, orang muslim sangat berhak diperlakukan secara baik,adil dan tidak didzhalimi.


            Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an surah al-Isra’ ayat 53;


 وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ


“dan katakanlah kepada hamba-hambaKu, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)”


Dari ayat-ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa betapa pentingnya akhlak itu. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW;


إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ


“Sesungguhnya saya diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

Imam Al-Ghazali menjelaskan tentang akhlak di dalam kitabnya “Ihya’ Ulumuddin Juz 3”, yaitu:


“Akhlak adalah sifat yang tertanam kuat di dalam jiwa manusia, yang dari sifat tersebut timbullah gerak-gerik lahiriah dengan mudah, tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran terlebih dahulu.” 


Dari definisi tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:


1.      Akhlak merupakan sifat yang tertanam kuat, bukan hanya sekedar ada ataupun bersifat sementara.


2.   Akhlak bukan hanya sekedar perilaku atau gerak-gerik lahiriah saja, namun cerminan sifat jiwa yang berada dalam diri manusia dan merupakan sumber dari gerak-gerik lahiriah tersebut.


3.   Akhlak merupakan perbuatan atau gerak-gerik yang timbul secara spontan tanpa ada banyak pertimbangan.


4.   Akhlak tidak cukup hanya dipelajari saja, namun harus dikaji lebih mendalam dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dalam kehidupan bermasyarakat, sering kali kita melihat beberapa orang yang hanya mementingkan hal-hal yang bersifat rohaniah saja, dan mengesampingkan hal-hal yang bersifat lahiriah.


Menurut mereka, dalam hal berpakaian tidak perlu rapi atau dalam berpenampilan tidak perlu memakai tata krama. Yang terpenting bagi mereka adalah niat dalam hati harus baik dan jujur. Akan tetapi, orang seperti inilah yang justru dijauhi oleh masyarakat, karena dianggap orang yang tidak berbudi, jorok dan kurang ajar.


Ada juga yang hanya mementingkan hal-hal yang bersifat lahiriah saja, dan mengesampingkan segala hal yang berhubungan dengan rohaniah. Biasanya dalam pergaulan sehari-hari, mereka berusaha tampil sebagus mungkin, melakukan hal-hal baik yang dapat membuat orang berdecak kagum dan menyanjung dirinya. Padahal apa yang mereka lakukan bertolak belakang dengan hati nurani mereka sendiri.


Sifat seperti inilah yang sangat berbahaya, karena bisa menjerumuskan ke dalam sifat kemunafikan. Oleh karena itu, hal-hal lahiriah dan rohaniah harus beriringan dan selalu berkesinambungan. Sebab keduanya saling berkaitan.


Nilai-nilai akhlak yang seharusnya tertanam pada diri umat muslim, terlebih pada generasi penerus Islam, diakui atau tidak sedikit demi sedikit mulai luntur. Banyak sekali dari kalangan umat muslim awam yang tidak memperhatikan akhlak, atau yang kita kenal dengan etika dan tata krama. Seperti tata krama berpakaian, berbicara dengan orang lebih tua, cara bergurau dengan teman sebaya atau yang lebih tua, atau tata krama ketika menghadiri suatu pertemuan dan pergi bertamu.


Jika seseorang tumbuh dengan akhlak yang tidak baik, maka krisis moral akan terjadi di kehidupan mendatang. Dan ini jelas sangat mempengaruhi perkembangan agama Islam, dan bisa mengakibatkan kehancuran umat muslim. 


Namun, jika seseorang tersebut tumbuh dengan akhlak yang baik, memungkinkan mereka dapat mengendalikan empat hal yang cukup sulit dikendalikan di berbagai aspek kehidupan. Antara lain yaitu, nafsu, amarah, kejujuran dan keadilan. Dengan demikian, akhlak bukan hanya tentang perilaku yang keluar dari dalam diri kita. akan tetapi akhlak juga bisa menjadi pembatas kita dengan suatu hal yang tidak berguna.


Dari sini kita bisa mengetahui betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan bermasyarkat. Akhlak merupakan fondasi penting yang harus dimiliki oleh umat muslim, dan akhlak secara tidak langsung juga mencerminkan kualitas keimanan dan ketaqwaan seorang muslim. 


الشرف بالادب لا بالنسب


“kemuliaan itu didapat dari budi pekerti (akhlak) bukan dari keturunan (nasab)”


Dari kalimat tersebut, dapat kita ambil kesimpulan bahwasanya dari mana pun asal-usulmu, jika kamu memiliki akhlak yang baik, maka orang akan menghormatimu dan memuliakanmu. Sekalipun kamu berasal dari golongan yang tidak mampu. Akan tetapi, jika kamu tidak memiliki akhlakul karimah, maka jangan harap orang akan menghormatimu sekalipun kamu berasal dari keturunan para bangsawan. (Wallahu a’lam bis showab)


Mahasiswa Ekonomi Syariah FEBI UIN Sunan Ampel Surabaya. Bisa dihubungi dan di temui di: email; hafis030900@gmail.com, IG; @hafis_0309

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel