Kesaksianku (4)


Kesaksianku (4)

Bagi mereka gubuk dengan empat bilik bambu ini tak lebih dari penjara untukku. Ya, berkat gagasan gila Uwa Jajang, aku dipasung di gubuk ini. Dan entah bagaimana orang-orang kampung di sekitar komplek pesantren dan termasuk santri-santri mematuhi dengan baik perintah Uwa Jajang: memasungku. Mereka membuat gubuk ini lengkap dengan pohon kelapa yang dibelah dua sebagai sanggaan kedua kakiku, dan tentu saja, rantai yang mengikat kaki dan tanganku.

Setiap pagi dan sore, seorang santri membawakan aku makanan dan minum. Santri itu pula yang menyuapiku. Setelah tugasnya selesai ia pergi tanpa berkata apa pun. Sepertinya itu di luar tugas yang diberikan Uwa Jajang kepadanya. Tetapi, mata santri itu tidak bisa berbohong, matanya selalu berkaca-kaca. Mungkin ia merasa iba padakku. 

Sedang kini Uwa Jajang menjadi ajengan tulen dari pondok milik bapak dulu. Ia mengajar santri, didatangi banyak orang untuk dimintai pendapat. Uwa Jajang berhasil untuk segala-galanya, dan keberhasilannya didapat dengan cara membunuh kakakku dan bapakku, membuat ibu hidup sebagai orang gila, dan kini aku dipasung olehnya di sebuah gubuk tak jauh dari pesantren milik bapakku dulu. 

Mulanya ibu dikurung di rumah agar tak berkeliaran kemana-mana. Seringkali ibu menjerit-jerit di malam hari, kemudian disusul dengan menyebut-nyebut nama bapak dan Kak Niskala. Selang satu bulan, pada satu malam, Ibu keluar dari rumah—aku kecolongan—dan ini artinya Uwa Jajang pasti akan datang padakku dan mememarahiku. Aku berlari keluar rumah, mencari-cari ibu. Tapi, tak kutemukan Ibu di seluruh sudut pesantren. Aku kehilangan Ibu.

Malam selanjutnya, setelah Ibu benar-benar tak kutemukan hingga membuatku putus asa. Aku pasrah, dan hanya mampu berdo’a, serta berharap hilangnya Ibu bukan karena Uwa Jajang. Namun entah siapa yang memberitahu Uwa Jajang. Malam itu ia datang ke rumah setelah sebelumnya mengajar santri-santri. Ia datang dengan muka merah padam.

“Rupanya kau mau adu kekuatan denganku!?” 

“Maksud Uwa?”

Uwa Jajang pergi setelah itu, namun saat pagi tiba, ia datang kembali dengan mengajak beberapa orang santri. Mereka membawa rantai, yang membuat firasatku tak nyaman. 

***

Ternyata firasatku tak melesest, tanganku dirantai ke belakang, begitu juga dengan kakiku, aku diseret ke sebuah gubuk yang nampaknya baru dibangun. Aku belum tahu alasan kenapa aku dirantai, kakiku dipasung, dan ditempatkan di gubuk itu. Baru aku tahu setelah beberapa hari mereka memasungku. Santri yang sempat ikut merantaiku menjelaskan: saat aku mencari Ibu, aku berteriak memanggil-manggil nama ibu berulang-ulang kali. Ketika itu santri-santri banyak yang memerhatikanku. Menurut mereka, sebab aku tak menemukan Ibu, mereka mulai melihat hal-hal aneh dari tindakanku. Pertama, aku memanjat pohon kelapa dengan cara berjalan sambil menyebut-nyebut nama Ibu. Kedua, beberapa santri melihatku berada di tempat yang berbeda di waktu yang bersamaan. Mereka melaporkan apa yang mereka lihat pada Uwa Jajang. Dan aku tak sadar dengan apa yang mereka lihat itu, hingga saat ini.

Akan tetapi, sampai di situ, aku baru paham mengapa Uwa Jajang marah, dan menuduhku seolah-olah menantangnya beradu kekuatan, dan kemudian memilih untuk memasungku.

***

Suatu malam, ketika aku tidur, ada sesosok yang tak asing hadir dalam mimpiku, Kang Hiber. Ia datang dan memberitahuku kalau aku tak perlu mengkhawatirkan keadaan Ibu, Kang Hiber sudah membawanya ke Purwakarta. Bagaimana, dan dengan apa Kang Hiber membawa Ibu ke Purwakarta, ia tak memberitahuku.

Sebenarnya aku dapat dengan mudah membuka rantai yang menjerat tangan dan kakiku ini. Tapi di mimpiku, selain memberitahu kabar keberadaan ibu, Kang Hiber juga menyarankan agar aku tetap mengikuti permainan Uwa jajang: tetap berlaku sewajarnnya, dianggap gila. Entah bagaimana, aku percaya dengan orang yang kuanggap guruku itu. 

Tapi hari-hari berikutnya keadaan dirantai dan dikurung di gubuk ini membuatku bisa jadi gila betulan. Hingga suatu malam aku memutuskan untuk melepaskan diri dari rantai-rantai dan pasungan keparat ini. Aku lepas. Aku keluar dari gubuk dan menggerak-gerakkan persendianku yang terasa begitu pegal. Dari arah berlawanan, di balik semak-semak sesuatu bergerak. Aku mulai khawatir, tapi bodohnya aku, samasekali tak berusaha bergerak ke arah semak-semak itu. Apalagi usaha untuk menghentikannya.

Pagi hari, Uwa Jajang darang ke gubuk, ia yang langsung membawakanku makanan pagi itu. Aku tak menatapnya barang sebentar pun. Aku makan apa yang dibawanya hingga habis, lalu aku pura-pura mengantuk dan tidur. Sebelum Uwa Jajang pergi, ia berkata sesuatu hal padakku: “kalau nayatanya kau dapat melepaskan diri, pergilah.”

Aku terhenyat, teringat tadi malam. Berarti dugaanku tak meleset, itu adalah santri yang mengintip. Artinya aku diawasi siang dan malam. Untuk menenangkan diri, aku tidur hingga malam, dan terbangunkan oleh teriakan dari santri-santri di komplek pesantren. Ketika itu, aku segera melepas rantai yang membelenggu kaki dan tanganku. Aku berlari menuju sumber teriakan itu.

Tapi, di tengan perjalananku, tiba-tiba saja seseorang menghadangku. Ya aku kenal siapa dia, Nirmala!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel