Aksi Milenial Menggugat yang Mirip Orang Mabok



Aksi Milenial Menggugat yang Mirip Orang Mabok

Penulis: Pramesyawari Nadira


Sebelum membaca tulisan ini, mari angkat gelasmu setinggi mungkin dan sediakan tisu di sampingnya. Hanya untuk jaga-jaga, agar ketika kamu muntah di tempat, tumpahan muntahmu itu bisa segera dibersihkan.


Hari ini, saya tidak sengaja mengikuti perkembangan di salah satu jagat dunia maya. Bermula dari melihat stori-stori yang ada di kontak WhatsApp saya. Stori dari orang-orang yang sedang memperjuangkan kemaslahatan, katanya. Isi dari stori-stori tadi bagi saya terkesan sangat biasa, jika tidak bisa saya sebut sepele. Saking recehnya stori-stori tersebut, pada akhirnya juga membuat saya gumun. Lantaran terkesan seperti nyinyiran yang hanya diperhalus saja, tidak lebih.


Selanjutnya saya pun mengibaratkan rentetan stori tadi mirip dengan orang yang kebakaran jenggot, atau orang yang kebelet boker baru mencari lubang. Pasalnya, terkesan seperti orang yang kagetan menyikapi suatu masalah. Seperti ingin tertawa, tetapi malas kalau dihujat. Jadi saya memutuskan untuk menyampaikan kesan lucu dan menggelitik tadi lewat tulisan ini. Semoga saja, setelah membaca tulisan ini, setidaknya orang-orang yang saya maksud bisa sedikit tersadar. Bahwa perjuangan itu tidak sesederhana demikian dan tidak selucu itu.


Oke, sebenarnya saya mengkhususkan tulisan ini kepada seluruh mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Baik itu yang baru akan masuk, atau masih tertinggal di kampus putih, kampus rakyat, dan kampus perjuangan ini. Juga kepada seluruh mahasiswa di Indonesia yang akan melaksanakan aksi serupa. Agar setidaknya bisa menghemat sedikit tenaga untuk memikirkan langkah ke depan yang sekiranya lebih efisien.


Sederhana saja pesan yang ingin saya sampaikan ini, dan tidak akan muluk-muluk. Saya pribadi sebenarnya merasa geli, ketika banyak gugatan yang diajukan kepada pihak kampus, terkait masalah yang baru muncul di UIN Sunan Kalijaga. Masalah soal uang gedung yang dipatok oleh kampus kita tercinta, yang kemudian memunculkan anggapan kampus negeri rasa kampus swasta.


Pertanyaannya, kalau memang ingin melayangkan gugatan, apakah harus selebay itu kawan? Percayalah, apa yang kalian lakukan itu hanya beda tipis dengan anjing menggongong meminta tulang. Seperti orang kelaparan yang mencari sisa-sisa makanan di segala tempat. Sebuah perjuangan yang terhimpit oleh rasa keputusasaan. Begitulah saya menganggapnya.


Dalam persoalan ini, yang salah bukanlah pihak kampus atau birokrasi. Akan tetapi, kesalahannya terletak pada kita, yang sudah merasa bangga bisa diterima di kampus dunia-akhirat ini. Coba kalau dari awal kita sudah tahu kalau kuliah itu mahal, bisa saja kita tidak akan memasuki UIN Sunan Kalijaga secara beramai-ramai. Kalau sudah tahu kondisi seperti ini, paling banter kita mirip dengan kucing gemuk yang senang bermalasa-malasan. Menguap, menahan ngantuk di depan layar gawai pintar, sambil melambungkan sebuah gugatan.


Mari saya beritahu, perubahan radikal yang terjadi di UIN Sunan Kalijaga pada khususnya, dan seluruh kampus pada umumnya, sudah mulai sejak 2012. Untungnya dan pada akhirnya juga merugikan kebanyakan mahasiswa, UIN Sunan Kalijaga pada 2014 sudah memberlakukan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Tentu saja, saya bisa memahami betul perasaan adek-adek lucu dan imut, yang kaget karena kondisi UIN Sunan Kalijaga sangat jauh berbeda dari yang dibayangkan sebelumnya.


Untuk merayakan hal itu, mari kita berjabat tangan dan sama-sama mendeklarasikan diri sebagai orang yang “tertitpu”, dan terjebak dalam pusaran pesona kemewahan sebagai anak kuliahan. Tidak apa-apa, tidak usah bersedih dan meratapi hal tersebut. Dunia tidak akan berakhir ketika kamu tahu kenyataan yang sebenarnya. Begitu juga dunia ini tidak akan berhenti berputar karena jargon-jargon aksi yang kamu lambungkan itu. Buktikanlah sendiri jika masih ragu.


Memang benar, internet atau media sosial adalah ruang strategis baru yang bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan segala aspirasi dari mahasiswa. Hanya, seberapa besar kira-kira, hasil perjuangan itu bisa memengaruhi wacana publik, atau minimal menunda sebuah kebijakan yang ada di kampus? Saya rasa, para adik-adik yang budiman dan terhormat perlu memikirkan hal ini. Sebelum, adik-adik nantinya merasa lelah dan putus asa karena perjuangannya berakhir dengan sebuah kesia-siaan.


Bukan, ini bukan ocehan dari “orang tua” yang sudah tidak lagi terlibat dengan urusan yang ada di kampus. Saya hanya menyampaikan dan berbagi sedikit pengalaman tentang kelirunya ketika kita merasa terlalu heroik menanggapi sesuatu. Ya bisa disebut hampir mirip dengan apa yang adik-adik sekalian sedang lakukan. Yang sangat mungkin untuk adik-adik sekalian lakukan, dan terlebih khusus lagi semua mahasiswa baru, adalah bersiap diri dengan segala kemungkinan terburuk. Karena dari beberapa kemungkinan terburuk, pasti ada yang tidak (sangat) buruk.


Oke, tulisan ini cukup sampai di sini saja. Jika ingin kita teruskan perbincangan ini, hitung-hitung agar perjuangan yang adik-adik sekalian sedang lakukan menjadi sedikit lebih efisien, silahkan langsung saja balas tulisan ini. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya (jika ada), dan semoga kita bisa bertemu tanpa kekurangan suatu apa pun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel