Skenario Korban Dunia Maya


Skenario Korban Dunia Maya
Sumber Foto: butir2hujan.files.wordpress.com

Identitas Buku

Judul: Playing Victim

Penulis: Eva Sri Rahayu

Penerbit: Noura Books

Cetakan: Mei, 2019

Tebal: 400

Sahabat, kata abstrak yang saya tidak paham artinya, tapi bisa merasakannya. Sebuah kata imajiner, yang lahir dari konsep suka sama suka, senang sama senang, dan berbagai hal sepenanggungan. Setidaknya, sependek itu yang saya tahu soal sahabat. Tidak lebih, tidak juga kurang. Tidak ingin melebihkannya, tidak ingin pula menguranginya. Tidak mau menganggapnya sebagai sesuatu yang wah, dan tidak mau juga untuk meremehkan artinya. Sederhananya, sahabat bagi saya adalah bagian dari sebuah kehidupan.

Sebelum saya kuliah dulu, ibu saya pernah berkata; “Jika punya teman jangan terlalu baik (dekat) kepadanya. Anggaplah sama dengan teman lainnya. Tidak perlu mengistimewakan seseorang atau sebagian kecil orang, ketimbang temanmu yang lain. Dan tidak ada salahnya memperlakukan mereka sama dengan teman-temanmu yang lain”. Dari situ saya merasa, ada pesan lain dari ucapan ibu saya. Belum lama ini, saya tahu arti dan maksud ibu saya berucap demikian. Tidak lain tidak bukan, adalah soal ‘pengkhianatan’.

Ya, pengkhianatan yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Dalam kondisi apapun, dan terkadang terjadi di saat kamu sama sekali tidak menyangkanya. Ibarat sebuah kehidupan, ikatan persahabatan pasti ada akhirnya. Entah dipisahkan oleh suatu masalah, atau berakhirnya kehidupan itu sendiri yang memisahkan. Yang jelas, ketika ada sebuah pertemuan, jangan kaget karena niscaya ada sebuah perpisahan. Di mana ada sebuah awal, maka ada sebuah akhir yang menunggu.

Setidaknya, begitulah yang saya tangkap setelah membaca buku berjudul Playing Victim, karya Eva Sri Rahayu. Buku yang menceritakan kisah gadis perkotaan ini, adalah buku yang mengingatkan saya dengan beberapa kejadian di waktu silam. Tepat ketika beberapa teman saya sedang intensnya main Instagram. Segala ativitas yang mereka lakukan, selalu diunggah ke Instagram. Mulai dari makan es krim, belanja buku, galau karena kandasnya hubungan, sampai ke hal-hal kecil lainnya.

Membaca buku ini, sekaligus menggelitik saya. Menggelitik karena Eva secara serius menulis tentang abnormalitas terhadap media sosial atau dunia maya. Atau bahasa lainnya bisa kita sebut sebagai sebuah kecanduan.

Sama halnya dengan kecanduan terhadap hal atau sesuatu lain, kecanduan media sosial juga menghasilkan sebuah efek negatif. Efek negatif yang timbul, terkadang sayangnya juga tidak disadari oleh si pengidap. Lebih jauhnya lagi, sebagaimana orang yang kecanduan, dirinya akan selalu merasa baik-baik saja, walaupun pada nyatanya tidak.

Sampai di sini, terlihat bagaimana keseriusan Eva dalam menulis. Yang menurut saya pribadi, perlu diapresiasi dengan cara yang semestinya. Meskipun ide yang terkandung dalam buku ini sederhana, setidaknya Eva mampu membuat pembaca merasa begitu dekat dengan kejadian yang ada di dalam buku ini.

Tidak hanya itu, Eva sangat mahir saya kira, ketika meninggalkan jejak yang menugaskan pembaca harus mengikuti alur imajinasinya. Sesuai dengan genre buku ini yang thriller, para pembaca dibuatnya menjadi detektif dadakan. Yang siap tidak siap, melakukan dugaan secara tidak langsung.

Benar atau tidaknya terkaan tadi, bukan menjadi hal utama ketika membaca buku ini. Lebih tepatnya, Eva menyiapkan arena bagi para pembaca mengartikan sebebas-bebasnya, tanpa pernah tahu bahwa Eva lah yang menjadi pemenang akhir. Dan bukan para pembaca.

Dari buku ini kita bisa belajar banyak hal. Mulai dari kepongahan yang berakhir sebagai bumerang dan menghantam telak kepada si pelempar, sampai kepada rahasia pribadi yang harus kita gali maknanya sendiri. Belum cukup sampai di situ, Eva adalah seorang yang menjadi pendikte dan pengeja sekaligus. Ia seakan menuntun, tapi juga sembari mengajak berlari.

Maksudnya, ia tidak menghadirkan jeda istirahat bagi para pembaca untuk menunda membaca, apalagi meremehkan buku ini. Sebab, buku ini bagi saya, termasuk buku yang tidak bisa ditunda membacanya. Semakin lama kita menundanya, maka akan semakin jauh dan melenceng pula ketepatan kita membaca buku ini.

Melalui buku ini pula, kita akan menyadari banyak hal yang tidak tampak, tapi sangat memengaruhi laku hidup keseharian. Lucunya, hal-hal yang tak terlihat tadi, menjadi semacam suntikan vaksin. Vaksin karena kita anggap sesuatu tersebut sebagai sebuah vaksin. Bukan vaksin yang semurninya vaksin. Malah bisa jadi, vaksin tadi adalah obat yang membuat kita menjadi ketergantungan.

Bukti keberanian Eva sebagai seorang penulis, terlihat dari skenario yang ia rancang. Yang selanjutnya menjadi skenario-skenario lain dari setiap tokoh di dalam novel ini. Ada kalanya, skenario tersebut tidak berjalan sesuai rencana, karena sudah diprediksi dari awal tidak akan berhasil. Namun ada juga menjadi sama sekali berbeda, lantaran tidak ada daya untuk mengendalikannya sama sekali.

Jika memakai bahasa saya pribadi, daya tawar dalam relasi kehidupan sosial, menjadi hal amat penting yang disinggung dalam buku ini. Hingga akhirnya kita bisa tahu, bahwa perlombaan yang ingin kita menangkan, belum tentu adalah sebuah keinginan murni yang berangkat dari sebuah kebutuhan. Malah bisa jadi, keinginan untuk memenangkan perlombaan tadi, hanyalah sebuah ilusi yang muncul dari rasa penasaran semata.

Ah, saya tidak ingin terlalu banyak spoiler hasil bacaan. Saya rasa, memang buku ini akan selalu menarik dibedah kapan saja. Mengingat, pola kehidupan kita yang sedikit-banyak sudah mulai bergeser ke dunia maya. Karya Eva ini, bagi saya menjadi salah satu langkah pencegahan. Pencegahan agar kita tidak menjadi orang yang pandir. Termasuk ketika memasuki dunia baru. Atau lebih jelasnya, agar kita tidak pandir ketika sedang berada di dunia maya. Karena untuk membedakan yang maya dan nyata, belum tentu akan selalu mudah seperti sekarang.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel