Sewu Kutho dan Motivasi untuk Mengembara


Sewu Kutho dan Motivasi untuk Mengembara
Sumber Foto: Twitter; @narsfdll

Jauh sebelum Lord Didi Kempot mendapat julukan The Godfather of Broken Heart, saya sudah senang dengan lagu-lagu yang dibawakan olehnya. Ada satu lagu yang membuat saya langsung senang ketika pertama kali mendengarnya, dan tidak pernah bosan mendengarkan lagu tersebut. Ya, lagu itu berjudul Sewu Kutho. Lagu yang memiliki nilai tersendiri terhadap saya. Salah satu lagu Jawa yang paling saya hapal liriknya, dari sekian banyaknya lagu Jawa lain.

Siapa sangka, kalau hari ini lord Didi Kempot meninggal dunia. Meninggalkan barisan para sobat ambyar. Sobat ambyar berduka dan tentu saja merasa terpukul sekali. Karena junjungannya tanpa dikira-kira, langsung menghadap pada Sang Maha Pencipta. Sebegitu cepat dan singkat.

Entah mengapa, walaupun sedikit kaget bangun siang ini ketika mengetahui kabar meninggalnya beliau, saya merasa ikhlas dengan kepergian lord Didi. Saya pribadi merasa lebih baik begitu. Sebab, siapa yang bakal tahan, jika melihat orang yang dicintainya, berlama-lama sakit-sakitan? Siapa yang bakal tahan, jika mengetahui orang yang dikasihinya sedang berada di ujung maut? Toh memang itu sudah jalannya, dan mari kita doakan saja yang terbaik untuknya.

Perkenalan dengan lord Didi pertama kali waktu saya masih SMA. Waktu itu kalau tidak salah, saya mendengar lagu Sewu Kutho ketika berada di rumah. Meskipun belum paham banyak arti bahasa Jawa kala itu, ada sesuatu yang ikut gembira dalam diri saya, ketika mendengar lagu tersebut. Saya langsung bertanya kepada orang tua, apa arti lirik-liriknya. Orang tua menjelaskan satu-persatu dan sebisanya. Lalu saya bertanya kembali, apa arti lagu tersebut? Ayah pun menjawab, kalau lagu itu berarti sebuah pencarian.

Mendengar jawaban tersebut, saya lantas punya pemahaman berbeda, dan mengartikan menurut versi saya sendiri. Lamun lagu itu soal patah hati, karena ditinggal oleh kekasih, saya tidak mengartikan demikian. Menurut saya, lagu ini punya arti lebih luas dari itu. Ada pengalaman yang hendak diceritakan dan diberitahukan kepada kita. Tentang perjuangan yang sedang berada di persimpangan. Soal perjuangan yang sampai di tahap kegamangan. Berkenaan dengan pergulatan batin, antara mengalah dengan keraguan, atau tetap setia pada keyakinan.

Sedikit cerita, lagu ini terbilang unik, lantaran lagu ini menurut saya ibarat labirin misteri. Labirin yang penuh teka-teki dan minta dipecahkan. Diselesaikan dengan cara yang bermacam-macam. Tidak bisa hanya dengan memaksa, dan tidak bisa pula hanya dengan sabar semata. Banyak hal yang diperlukan untuk memahami lagu ini, serta pesan yang dikandungnya. Kompleksnya pengalaman dalam setiap kalimat-kalimatnya, membuat lagu ini tidak bisa diartikan secara literlek. Ia menjadi semacam syair yang sarat makna.

Saya juga tak menyangka, lagu ini begitu mengena setiap kali saya mendengarnya. Tak pernah ada kata bosan dan jemu mendengar lagu ini. Sampai sekarang, saya juga masih terbayang wajah ayah saya, ketika sedang mendengarkan lagu ini. Semacam ada sebuah kerinduan yang tidak bisa diutarakan melalui kata-kata. Saya paham sekali, arti dari eskpresi wajah ayah saya ketika mendengarkan lagu ini. Seperti ada kerinduan kepada seseorang. Dan saya juga tahu siapa orangnya. Tidak lain tidak bukan adalah kakek saya sendiri.

Sekelumit kisah lagi, ayah saya sudah pisah lama dengan kakek. Semenjak nenek meninggal, ayah ikut dengan kakak-kakaknya. Semenjak itu pula, ayah tidak pernah bertemu kembali dengan kakek. Kakek yang hari ini belum diketahui kabarnya, apakah sudah meninggal atau belum, masih menjadi sebuah misteri bagi ayah. Dan menjadi misteri pula bagi saya, ibu, dan adik-adik. Saya pribadi tidak pernah sekalipun melihat wajah kakek. Karena ayah juga tidak punya foto atau lukisan yang mengabadikan wajah kakek.

Ketika menyinggung hal tersebut, ayah saya lebih memilih diam. Ya, diam dalam keheningannya sendiri. Saya pun jadi tidak enak jika ingin menanyakan hal tersebut. Saya merasa ada sesuatu yang teriris, setiap kali ada pertanyaan yang menyinggung soal kakek bagi ayah. Meskipun ayah tidak menunjukkan kesedihannya, sebagai anaknya, saya tetap bisa merasakan hal tersebut. Begitulah. Hal yang seharusnya sudah bisa ayah saya relakan hari ini. Yaitu tidak bisa lagi ketemu kakek.

Bahkan, jika kakek sudah meninggal, ayah juga sama sekali tidak mengetahui letak kuburannya. Adakah yang lebih ambyar dari itu? Oleh karena itu saya berkesimpulan, ayah saya adalah sobat ambyar sejak dari lama. Sebab itu pula, setiap kali mendengar lagu Sewu Kutho, ayah selalu merenung, membayangkan pertemuan kembali dengan kakek. Ah, saya tidak berniat melow, memang begitulah adanya. Saya juga tidak melebih-lebihkan hal ini, juga tidak bertujuan agar ayah saya dikasihani.

Dari perpisahan dengan kakek pula, ayah akhirnya bisa mengembara jauh. Jauh dari keluarga semasa mudanya. Menyeberangi pulau yang belum pernah didatangi oleh para saudaranya. Bertahan cukup lama di sana, sampai pada akhirnya menemukan jodohnya, yaitu ibu saya. Hingga hari ini, jika mengingat hal itu kembali, saya juga tetap merasa sedih. Namun saya cuma bisa berdoa, agar kakek, jikalau sudah meninggal, mendapatkan tempat terbaiknya. Diampuni segala dosanya.

Satu hal yang perlu diketahui oleh kakek, bahwa ayah saya sudah memaafkan kesalahan-kesalahannya. Ayah adalah pemaaf yang ulung. Pejuang keras dan sosok yang banyak menginspirasi saya. Terima kasih terakhir saya ucapkan kepada lord Didi, yang sudah mewakili perasaan ayah lewat lagu Sewu Kutho. Terima kasih juga karena bersedia membuat sebuah lagu yang akan selalu relevan sampai kapanpun.

Semoga, lord Didi mendapat tempat yang selayaknya. Satu hal lagi, jika seandainya lord Didi bisa bertemu kakek saya di sana, tolong sampaikan salam dari cucunya ini. Salam kepada kakek yang tidak pernah saya temui seumur hidup saya. Dan tolong sampaikan terima kasih saya, karena sudah punya anak sebaik ayah saya. Seseorang yang punggungnya banyak menginspirasi saya. Ketenangan pikirannya yang mengajarkan banyak hal kepada saya. Semoga  lord Didi berbahagia di tempat pengembaraannya yang baru bersama kakek. Tabik~

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel