Sebuah Jalan yang Berujung Kebermaknaan Diri



Sebuah Jalan yang  Berujung Kebermaknaan Diri

Penulis: M. R. Rigen

Identitas Buku


Judul: Jalan Tak Ada Ujung


Penulis: Mochtar Lubis


Penerbit: Yayasan Obor Indonesia


Cetakan: Pertama, 1952


Tebal: vi+167


Hidup memang tidak akan selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Kita tidak bisa memilih seperti apa dan di mana kita akan terlahir. Begitu pula dengan misteri kehidupan yang mesti kita jalani. Bahkan, kebanyakan dari kita mungkin akan sampai pada beberapa pertanyaan; “Apa yang sebenarnya kita cari? Apakah yang melatari kita harus terus berjalan? Apakah perjalanan merupakan keniscayaan? Dan apakah perjalanan ada batasnya? Jika iya, lantas kapan kita harus berhenti?


Pertanyan demi pertanyaan yang berkelanjutan, akan membawa kita menemukan pertanyaan baru. Terlebih tentang misteri hari esok, yang secara pasti kita tidak bisa mengetahuinya. Karena sesungguhnya hal tersebut berada di luar kemampuan kita sebagai manusia. Kendati demikian, menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi misteri yang akan terjadi, adalah sebuah keharusan. Kita akan selalu dituntut untuk berusaha sebelum berserah, melawan sebelum kalah, dan mencoba sebelum gagal. Ibarat sebuah perjalanan yang tiada kita ketahui hasil akhirnya.


Walaupun berisi tentang kisah perjuangan kemerdekaan, buku novel karya Mochtar Lubis yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung, juga sarat akan pembelajaran tentang kehidupan. Begitulah yang saya rasakan ketika menyelesaikan membaca buku ini. Meskipun isinya menceritakan tentang ketegangan, antara kelompok pejuang kemerdekaan dengan berbagai kesatuan tentara penjajah, tetap saja ia menyimpan pesan moral di baliknya.


Sepuluh bagian yang ada di dalam buku ini, mengisahkan tentang sebuah pencarian, kekejaman, perlawanan dan romantisme. Hingga membuat saya berfikir, bahwa setiap perjalanan hidup yang kita tempuh adalah jalan yang tak berujung. Dengan kata lain akan selalu ada halangan, dan rintangan yang tidak akan ada habisnya. Melalui buku ini, Mochtar mengajak kita untuk merenung dan berpikir, tentang perjuangan apa yang telah kita ambil dalam perjalanan hidup ini.


Meskipun buku ini berkisah tentang perjuangan kemerdekaan, nyatanya tokoh yang terdapat di dalamnya tidak diisi oleh tokoh-tokoh pejuang bangsa yang beken di kalangan masyarakat kita. Bagi saya, Mochtar telah berhasil mengkorelasikan semangat para pejuang revolusioner ke dalam sosok anak muda, yang memiliki semangat berapi-api dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Selain itu, dipilihnya sosok anak muda sebagai tokoh yang memerankan perjuangan, juga mengisyaratkan bahwa di tangan anak muda pula harapan setiap bangsa itu ditaruh.


Melalui tokoh Hazil, Mochtar mengatakan, “Dalam perjuangan kemerdekaan ini, tidak ada tempat di pikiranku kacau dan ragu-ragu, saya tidak pernah ragu, dari mulai. Saya sudah tahu, bahwa jalan yang kutempuh ini adalah jalan tak ada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, tidak ada ujungnya. Dalam perjuangan ini, meskipun kita telah merdeka, belum juga sampai pada ujungnya.” (hlm 49).


Dengan kata lain, setiap perjalanan yang kita tempuh merupakan bagian dari perjuangan yang kita pilih. Akan tetapi, perlu diingat bahwa, hidup tidak hanya tentang kebahagiaan semata. Terdapat banyak kondisi atau keadaan lainnya, mulai dari sedih, susah, takut, bahkan sampai titik ketidakberdayaan kita sebagai manusia. Namun, acap kali kita dininabobokan oleh keadaan senang yang tak beresiko, sehingga membuat kita enggan beranjak mencoba hal-hal baru.


“Dalam hidup manusia, di mana letak ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari kebahagiaan? Dalam hidup manusia, selalu ada waktu, ada musuh, dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan” (hlm 49). Sama halnya, ketika kita melakukan perjalanan menyusuri kehidupan ini, tujuan akhir bukanlah kebahagiaan tapi sering kali hanya kemenangan. “Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak akan dimenangkan”(Sutan Syahrir). 


Buku ini, bisa saya katakan sebagai buah tangan dari seorang sastrawan lokal yang tidak diragukan lagi kemahirannya. Terbukti dari karya-karya jurnalistiknya yang mewarnai dunia kepenulisan di tanah air. Berbagai karya jurnalistik beliau, mendapatkan penghargaan di tingkat nasional sampai internasional. Buku yang hadir dari semangat kemerdekaan ini, menawarkan perspektif berbeda kepada kita, agar bisa melihat lebih jauh arti dari sebuah perjuangan.


Membaca buku ini, ibarat ketika kita pergi ke daerah yang belum pernah kita singgahi sebelumnya. Berbagai kejutan yang tak terpikirkan akan muncul di setiap ceritannya. “Manusia mesti belajar menguasai ketakutannya. Merasa takut adalah satu perasaan yang sehat, dan kerja kita adalah melawan rasa takut” (hlm 121). Sebagaimana kehidupan, ketakutan untuk melakukan hal-hal baru menjadi wajar, kita dituntut untuk berdamai dengan ketakutan agar menjadi hal yang biasa.


Melalui Guru Isa yang memiliki kelembutan hati dan tidak menyukai kekerasan, Mochtar menggambarkan proses penemuan diri di bawah siksaan dan kemenangan manusia dalam pergaulan dengan diri sendiri. Di tengah perhelatan revolusi, rasa takut menjelma sebagai racun yang bisa membunuh diri kita sendiri. Betapapun hidup, yang penuh dengan keresahan atas segala misteri yang ada, rasa takut harus dihadapi bukan dihindari, karena kita tidak bisa lari dari ini semua. Maka, perjalanan harus terus dilanjutkan sampai titik pemberhentian yakni kematian.


Karya Mochtar Lubis ini, saya rasa perlu untuk dibaca oleh semua kalangan, terkhusus anak muda yang sedang mencari jati diri. Selain memberikan pemahaman baru tentang makna perjuangan, buku ini juga mengajak kita berdiaspora dengan imajinasi yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Tidak hanya itu, buku ini memberi sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana cara menakhlukan kehidupan agar tetap menjadi manusia yang merdeka seutuhnya.


Bisa ditemui di IG/FB/TW: @rigenwazha

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel