Sebuah Buku yang Membongkar Novel

Sebuah Buku yang Membongkar Novel


Identitas Buku


Judul: Surat-Surat kepada Seorang Novelis Muda


Penulis: Mario Vargas Llosa


Penerjemah: An Ismanto


Penerbit: Circa


Cetakan: 2018


Tebal: i-v+158


Bagi seorang awam seperti saya, yang baru belajar membaca buku dan berusaha menyukai aktivitas tersebut, tiada lain hanya bisa terkagum dengan tulisan-tulisan bagus yang berserakan di belantara dunia ini. Baik itu tulisan fiksi dan non fiksi. Keduanya saya anggap sama-sama punya ‘daya membujuk’ yang dahsyat, lantaran beririsan dengan ruang yang sulit dipisahkan dari kehidupan penulisnya.


Hal ini saya rasa juga berlaku bagi seorang Mario Vargas Llosa. Kritikus sastra yang lahir di Peru, pada saat perang dunia pertama berlangsung ini, beberapa karyanya sudah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa. Tidak hanya itu, sependek pengetahuan saya yang pendek ini, karya-karya Llosa bisa disebut sebagai sebuah karya yang terus menyalakan api semangat bagi banyak penulis. Setidaknya begitulah anggapan naif saya dari yang pendek pengetahuannya ini.


Saya mengenal Llosa lewat kebetulan yang sudah terencana. Berawal dari seorang kenalan yang bersinggungan dengan saya dalam ‘dunia literer’. Jauh sebelumnya, telinga saya tidaklah akrab dengan nama penulis yang satu ini. Selain nama belakangnya yang menurut saya aneh, hal tersebut juga terpengaruhi oleh—yang akan saya ulang—pendeknya pengetahuan seorang awam ini. Maafkan kalau kesannya bertele-tele. Tapi sesungguhnya ini penting untuk saya utarakan terlebih dahulu, sebelum kita mulai ‘mengotopsi’ karya Llosa ini.


Buku Mario Vargas Llosa yang berjudul Surat-Surat kepada Seorang Novelis Muda, adalah buku yang mencerminkan kedalaman pengetahuannya. Sekilas, saya bisa merasakan endapan pengetahuan Llosa yang tertuang dalam surat dan diubah menjadi sebuah buku ini. Bahkan sejak dari esai pertama yang ada di dalam buku ini, kepandaian dan sarat pengalaman membacanya tidak bisa ditutupi. Meski sebenarnya Llosa berusah menutupi hal itu.


Buku karya Llosa ini, adalah buku tentang ‘menulis’ kedua yang pernah saya baca. Setelah sebelumnya pernah membaca buku ‘kiat-kiat jitu menembus media’. Tentu ada perbedaan yang mencolok antara buku Llosa ini dengan buku yang saya sebutkan sebelumnya. Sebab buku Llosa ini terbilang unik jika tidak bisa disebut aneh. Lantaran buku ini ibarat rangkaian surat yang urutannya tidaklah dari awal menuju akhir, sebagaimana surat yang pasti akan berakhir.


Buku yang terdiri dari dua belas bagian—yang sebenarnya tiga belas jika dihitung dengan keterangan singkat tentang penulisnya—semacam memiliki nyawa masaing-masing. Untuk disebut saling ketergantungan antara esai satu dengan esai lain tidak bisa, dan benar-benar berpisah antara yang satu dengan yang lain juga tidak. Hal tersebut menjadi salah satu bukti kepiawaiannya seorang Llosa dalam menulis, bahkan ketika dihadapkan kepada tugas untuk meracik surat yang bersambung.


Independensi Semu dan Keterpisahan Semu


Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, buku ini ibarat memiliki nyawa masaing-masing di setiap bagiannya. Setiap esai yang ada di buku ini bagai hewan liar yang minta dijinakkan, atau malah bisa dianalogikan hewan peliharaan yang ingin dilepas ke alam bebas. Entahlah, bisa jadi Llosa tidak punya pikiran ke sana ketika menulis surat berangkai dan  (non) mimiliki ketersambungan ini. Toh Ia juga tidak perlu repot-repot berpikiran ke arah sana. Selain memang tak ada gunanya, jika diprioritaskan yang ada malah semakin absurd buku ini.


Buku ini tidak hanya unik karena memakai format surat yang begitu mengalir, dan mampu menyeret setiap pembaca (awam). Lebih jauh dari itu, buku ini memiliki karakteristik yang mendua. Di satu sisi akan terlihat berdiri sendiri-sendiri, namun di sisi yang lain seperti sangat membutuhkan yang lain. Selain itu struktur buku ini terbilang sangat acak. Saking acaknya, anda akan bisa mulai membaca buku ini dari bagian mana saja. Bisa dari bagian akhir, tengah, atau awal. Itu semua terserah kepada pembaca, dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.


Gaya menulis Llosa yang tertuang dalam buku ini, menunjukkan kepiawaiannya seorang narator (orator) ulung. Kita akan dipaksa secepat mungkin menghabiskan buku ini. Tentu saja karena Llosa juga mengkhendaki demikian. Jadi bisa dibilang, buku ini adalah rangkaian surat yang datang silih berganti begitu cepat, seakan tiada lagi yang bisa lebih cepat. Sebut saja buku ini sebagai pesan di aplikasi chatting kita sekarang ini. Kendala yang mungkin kita temui, bisa jadi hanya terletak di emannya menghabiskan buku dengan sekali duduk. Cukup itu saja.


Otopsi dan Operasi Sekaligus


Ya, Llosa mengotopsi novel-novel yang pernah dibacanya, lalu dimasukkn ke dalam buku ini. Bukan cuma mengotopsi, Llosa juga mengoperasi hasil bacaannya sampai kepada titik sublimnya. Dari sekedar gelembung air menjadi uap dan berubah menjadi udara, lalu dihisapnya udara tersebut, kemudian dihembuskan dari seluruh lubang yang ada pada tubuhnya. Maka pantas kalau Llosa saya sebut sebagai dokter bedah yang punya banyak sifat. Kadang ia seperti dokter yang sangat sabar, namun di sisi lain bisa berubah total menjadi pemarah.


Meski judul buku ini seperti panduan kepada para pemula, tapi sesungguhnya tidaklah demikian. Llosa mengajak kita naik level sebagai pembaca, tentunya dengan sangat perlahan, seperti tidak ada lagi yang lebih lamban. Anehnya, kenyataannya tidaklah seperti yang kita harapkan dan bayangkan. Ketika selesai membaca buku ini, barulah kita akan ditipu Llosa sejak dari kalimat pertama yang ada di buku ini. Sebuah tipuan agar kita mau beranjak dan berpindah tempat. Meskipun kita sendiri bisa saja tidak menyadari hal tersebut.


Buku ini adalah buku (pertama) yang bisa jadi akan saya baca lebih dari satu kali—selain karena kepentingan untuk diresensi. Kemungkinannya tidaklah kecil, dan bisa saja dalam waktu dekat saya sudah membaca ulang buku ini. Semoga saja dan doakan saja, ketika saya membaca buku ini lagi, saya bisa membalas 'mengotopsi' kerangka pemikiran seorang Mario Vargas Llosa!

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel