Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”


Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”
Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com

Penulis: Ameera Matahari*

Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai di tengah kota ini, aku bahkan tidak pernah membayangkan sama sekali, kalau pada suatu hari akan memasuki lobinya. Tapi lihatlah diriku sekarang. Berjalan santai keluar dari salah satu ruangan VVIP di lantai tujuh belas, yang jendela utamanya tepat menghadap matahari terbenam. Namun kepalaku tidak berhenti berpikir, sambil tersenyum, sensasi yang telah lama aku tunggu-tunggu selama hidupku akhirnya datang. Di umurku yang menginjak 31 tahun bulan depan, adalah suatu pencapaian terbesar ketika aku mampu mengubah poros duniaku sendiri. Aku sendiri sebenarnya tidak yakin, apakah yang aku lakukan sudah menjadi pilihan paling benar dan tepat, atau jangan-jangan malah sebaliknya. Kisah ini pum dimulai beberapa hari yang lalu, tepatnya di minggu pertama awal bulan April.

***

Aku adalah manusia bebas, yang memakai hijab sebagai sebuah kewajiban dari agama yang kuanut, tentunya disamping melakukan ibadah, dan berdo’a. Aku juga memercayai bahwa, terdapat suatu zat yang lebih perkasa dari dunia pun seisinya, dan yang menciptakan peradaban seperti sekarang. Dengan kata lain, “Aku percaya adanya Tuhan”. Tapi aku adalah manusia yang bebas. Aku tidak ingin terikat oleh apapun, termasuk pikiran atau perasaanku sendiri, yang akhirnya malah membuat aku hidup dengan tidak bahagia.

Aku percaya diriku cantik, dengan mata kecil yang tidak sipit, wajah bulat kulit sawo matang, rambut panjang tipis lurus, dan badan yang agak berisi. Kecantikan fisik sudah banyak diukur oleh para manusia dari sudut pandang masing-masing. Bahkan belum lama ini, tepatnya kemarin, aku bahkan mendengar istilah “payudara tercantik”. Namun aku adalah manusia bebas, aku tidak akan terikat dengan istilah apapun. Termasuk oleh ukuran payudara tadi. Kepercayaanku pada diriku sendiri telah mengalahkan ukuran mayoritas. Dan aku bebas dari hal itu.

Pekerjaanku adalah karyawan part time di salah satu restoran fastfood terkenal, berdiri selama kurang lebih delapan jam tanpa istirahat setiap hari. Setelah itu duduk di atas motor selama empat jam sebagai ojek online. Cukup imbang menurutku. Konsekuensinya, setiap hari aku pulang dengan keadaan lelah, namun aku puas, setidaknya satu hari yang panjang telah terlewati tanpa berpikir keras seperti pekerjaan lain atau seperti menjadi murid. Sebagai orang miskin aku tidak boleh mengeluh, sama halnya tidak boleh sakit. Tidak ada yang spesial dari pekerjaanku, setiap hari melayani manusia, kadang menyenangkan, namun lebih banyak yang merepotkan.

Di hari Senin yang cerah oleh gerimis itu, aku buru-buru berangkat menuju tempat kerjaku. Meski aku berangkat di jam pagi, aku yakin akan banyak manusia yang mengantre untuk membeli sesuatu. Terlambat satu menit beberapa detik adalah hal wajar, namun aku tidak menyukai sesuatu yang molor, terlebih jika diriku sendiri yang melakukannya. Aku langsung mengisi bagian kasir atas namaku di line ketiga, saat seorang pria bermasker mencoba memilih menu makanannya. Ia memesan beberapa menu yang tidak biasa manusia makan pada saat sarapan. Aku tidak peduli, setelah aku mentotal semuanya, ia membayar dengan kartu debit.

Selagi menunggu transaksi berhasil, pria itu membuka maskernya perlahan, aku yang sedang sibuk membawakan sarapan aneh itu tentu saja tidak menyadarinya. Ketika semuanya telah selesai, dan pria tersebut seharusnya pergi dengan membawa pesanan dan struk pembelian, ia tidak beranjak. Ia diam memandangku sambil memegang nampan. Aku balik memandangnya, mungkin ia masih mempunyai beberapa keinginan tambahan, atau, ia memang hanya ingin memandangku. Entahlah, aku juga kurang tahu.

Namun yang jelas, aku merasa pandangannya masuk jauh ke dalam mataku, entah apa yang pria itu temukan di sana. Sepuluh detik, tidak, lebih dari itu. Sampai di mana aku hanya balas menatap wajah, hidung, bibir yang semuanya tampan, tersenyum selagi ia menjelajahi bola mataku dengan diam, lalu ia pergi. Aku menganggapnya tidak aneh, hanya saja aku merasa wajahnya familiar. Meskipun itu hanya perasaanku saja.

Sore hari, setelah selesai berdiri selama delapan jam melayani manusia kelaparan, aku akan duduk di atas motorku lalu mencari orderan. Beruntung ketika masih di parkiran restoran fastfood ini ada pesanan makanan masuk, jaraknya pun tidak begitu jauh. Aku kembali masuk sebagai customer, membeli beberapa makanan, lalu mengantarnya tanpa mengubah seragam. Tanggung.

Aku harus masuk ke sebuah apartemen untuk mengantar makan, beberapa menit tambahan untuk berdiri lagi. Dengan langkah gontai aku pun masuk ke apartemen itu dengan arahan keamanan yang ada di lobi, mengeluh hanya akan memperburuk suasana―pikirku dalam hati. Sampai di kamar tujuan aku memencet bel, lalu keluar seseorang. Aku tidak berniat untuk menatap wajahnya karena ia begitu tinggi, namun dia pun sepertinya menungguku untuk mengangkat kepala, karena entah kenapa kami sama-sama diam. Nyaris ogah-ogahan akhirnya aku menatapnya, dan berniat mengatakan total pesanan dan biaya antar, namun mulutku hanya terbuka tanpa keluar sepatah kata. Wajah yang kulihat adalah wajah lelaki yang aku layani pagi tadi, wajah tampan tanpa noda, detik itu juga aku sadar siapa laki-laki ini. Beberapa detik berlalu dengan kami saling menatap, tapi kali ini dia tidak lagi berusaha menjelajahi bola mataku, lalu ia memecah keheningan dengan bertanya total semua pesanan. Aku menjawab dengan terbata-bata, tentu saja.

Ia menyerahkan uang yang diambil dari dompetnya―kulihat sekilas hanya terdapat lembaran merah dengan nominal paling besar mata uang negara ini, lalu memberikan dua lembar kepadaku. “Ah. Ini terlalu banyak, dan aku belum mempunyai kembalian.” Lagi-lagi aku tergagap, untungnya ia paham karena ia menjawab “Tidak apa-apa, sisanya bisakah besok kamu kemari dengan pesanan yang sama di jam yang sama? Lalu aku perlu kamu mengantarkanku ke suatu tempat, aku akan membayar sesuai dengan aplikasi, dan tentu saja aku akan memberi bonus lebih.” Ia tersenyum manis, aku tidak akan menolak, bukankah sama saja seperti biasanya aku mengantar consumer lain? Aku meng-iya-kan sesaat, sebelum melangkah pergi kembali ke parkiran.

Seharian aku tidak berhenti untuk memikirkan apa yang akan terjadi esok, dan esoknya pun aku tetap kepikiran. Sampai sore itu aku benar-benar datang ke apartemennya―seorang atlet panjat tebing terkenal bernama Lee. Wajah tampan yang menyambutku kembali, dia tidak mengambil pesanan dan kami langsung berangkat menuju tempat tujuan. Rooftop sebuah hotel. Aku bertanya untuk apa kami datang kemari, dia hanya menjawab untuk merenung dan beristirahat dari hiruk pikuk. Namun yang kami temukan adalah keramaian, maka aku menawarkan untuk mengajaknya ke suatu tempat yang tinggi dimana tidak ada orang lain yang akan datang. Gedung sebuah mall yang sedang dibangun.

Di sana kami hanya duduk diam di sofa yang entah kenapa terasa nyaman, aku mengetahui tempat ini karena beberapa kali aku kemari sendirian untuk minum. Lee memakan makanan yang dia pesan dari restoran tempatku bekerja, sedangkan aku menjauh untuk merokok. Beberapa hisap saja rokok ini habis, sial―pikirku. Aku menyesal tidak membawa alkohol ketika tahu akan mengunjungi tempat ini lagi. Tiba-tiba Lee mendekatiku, sama-sama memandang kota sambil duduk dengan kaki menggantung. Aku menawarkan rokok, dia menerimanya. Aku menyalakan korek untuknya, dan dia berkata bingung “tinggal dihisap saja kan?” ah dia bukan perokok ternyata. Aku tertawa keras sambil mengajarinya bagaimana cara untuk merokok bagi pemula. Dan asap rokoklah yang saling-berseling menggantikan obrolan kami.

Aku mengantarnya kembali setelah beberapa jam kami menghabiskan waktu dengan diam, namun entahlah, itu sudah lebih dari cukup sekedar berkata-kata. Aku berhenti di depan apartemennya, kali ini aku tidak akan mengantarnya sampai kamar, dan sepertinya dia mengerti. Ia turun dari motorku, dan tanpa basa-basi memintaku untuk mengambil cuti karena besok ia membutuhkanku. Aku bertanya akan kemana lagi, dan ia berbisik “having sex wif you”. Aku membeku menatapnya, dari matanya aku tahu bahwa ia sungguh-sungguh, dan aku tidak berniat untuk menolaknya bahkan jika tidak dibayar sekalipun. Lee hanya tersenyum, lalu memberiku beberapa lembar merah atas serviceku hari ini, “datanglah pagi, aku akan menunggumu di cafe itu, tidak usah bawa motor”. Malam itu aku tidak bisa tidur sama sekali.

Esoknya aku benar-benar ambil cuti, namun tetap berpakaian seperti akan bekerja karena aku bingung harus memakai apa. Angkot mengantarku ke kafe tempat Lee berkata akan menunggu, dan kami sarapan bersama di sana. Tidak banyak kata-kata yang keluar di antara kita, terlebih karena aku gugup dan aku bersyukur Lee tidak menertawakan itu. Ia berkata akan menghabiskan waktu bersamaku, membelikan apapun yang aku inginkan, sebelum pergi ke suatu tempat. Kami pergi ke mall terbesar dan belanja apapun yang aku inginkan, menonton film di bioskop, bermain game seperti sepasang kekasih, ditambah jarang ada orang yang menyadari bahwa lelaki yang bersamaku adalah seorang atlet terkenal.

Lalu aku teringat bahwa ada buku yang aku inginkan, maka kami masuk ke toko buku. Dengan tidak tahu diri aku memenuhi dua tas belanja dengan buku yang sudah lama ingin aku baca, dan ia bertemu dengan karyawan toko yang kebetulan adalah penggemarnya. Ini adalah kesempatan. Beberapa menit aku berkeliling mencari buku itu, dan ketemu. Kubaca-baca sekilas sampai sebuah wajah tepat berada di depan wajahku “ah kamu kepikiran sampai belajar gitu ya?” sebuah suara mengagetkanku. Aku yakin mukaku merah padam, dan aku langsung menyeretnya ke kasir, meninggalkan buku dengan judul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula” ke raknya kembali.

Lee tidak berhenti tertawa kecil sampai aku merasa sangat malu, seperti ingin mati saja. Setelah itu kami memberli es krim, makan siang, dan pergi ke suatu tempat dengan mobil penuh dengan tas-tas belanja. Ternyata Lee membawaku ke hotel terbesar dan termewah di kota ini,  membuatku bebas memilih kamar yang aku inginkan. Lalu, di sinilah kami sekarang, lantai tujuh belas dengan jendela menghadap matahari terbenam di jam sore yang cerah. Aku duduk di sofa terempuk yang pernah aku duduki seumur hidupku, dengan sinar matahari membanjiri seluruh ruangan, hangat. Lee menghampiriku dengan anggur mahal di tangannya, dia tahu aku akan suka. Kami menghabiskan sore menjelang senja dengan syahdu, dan saat matahari benar-benar tenggelam aku tahu maksud Lee menggodaku di toko buku dan menertawakanku sepanjang hari untuk hal manusiawi seperti ini. Karena entah kenapa akupun juga tahu, saling menyatukan tubuh satu sama lain malam ini adalah hal baru baginya.

Aku benar-benar tidur nyenyak malam itu di kasur yang entah terbuat dari apa, dan aku yakin kasur ini penuh dengan keringatku juga seorang lelaki yang memelukku―hasil dari peperangan semalam. Kami berdua masih telanjang, dan sangat nyaman. Kami bermain berbagai gaya tanpa pernah mempelajarinya, bahkan kami melanjutkan saat mandi. “Aku harus kembali bekerja” aku berkata pada Lee di bath up dengan air hangat dan sabun yang wangi pagi itu. “Aku tahu” Lee menjawab sambil merengkuhku dan menyandarkan kepalanya, “sebentar lagi, biarkan seperti ini sebentar lagi.” Aku mengangguk pelan sambil tersenyum.

Lee mengantarku ke restoran , ia tidak ingin tahu di mana aku tinggal. Aku memakai seragamku, dan menitipkan tas-tas belanja di penitipan barang, berniat pulang dengan taksi nanti sore. Kami berpisah tanpa kata-kata, dalam diam aku mengetahui semua. Aku tahu Lee tidak akan menemuiku lagi, aku tahu keperawananku dan keperjakaannya hilang semalam, dan kami akan kembali ke kehidupan kami masing-masing. Yang tidak aku tahu adalah, kenapa aku? Pertanyaan itu kembali memenuhi isi kepalaku. Setelah memberiku amplop berisi berlembar-lebar merah, ia pergi sambil tersenyum, dan aku pun melepasnya dengan lambaian tangan. 

Sesampai di rumah, dengan antusias aku membuka satu persatu tas-tas belanja. Semua sesuai dengan apa yang aku inginkan kemarin, sampai aku membuka plastik berisi buku-buku. Ada satu buku yang menarik perhatianku, buku itu. Aku tertawa, sambil terkikik aku membukanya dan sebuah kertas jatuh. “Lakukanlah dulu, lalu pelajari. Jika terbalik, sensasinya akan hilang.” Seperti mendengar Lee berkata di telingaku, aku tersenyum juga menangis. Apakah petualangan seks yang selanjutnya akan membawaku kepada Lee lagi? Atau kepada sensasi yang baru? Entahlah, aku akan melupakanmu Lee, mungkin besok mungkin lusa, dan ketika saat itu tiba, buku ini akan sering aku buka demi sensasi yang akan kurasakan nantinya.

*Perokok dan peminum alkohol yang melankolis. Cita-citanya hanya menjadi raja Narnia atau mendapatkan duit 13 miliar dengan rebahan

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel