Persahabatan, Kenangan, dan Pencarian Jati Diri



Persahabatan, Kenangan, dan Pencarian Jati Diri

Data Film


Judul:  Jumanji: The Next Level


Sutradara: Jake Kasdan


Produser: Dwayne Johnson, Dany Garcia, Hiram Garcia, dkk


Aktor/Aktris: Dwayne Johnson, Karen Gilan, Awkwafina, Kevin Hart, Jack Black, Danny DeVito, Madison Iseman, Danny Glover, Nick Jonas, Morgan Turner, Alex Wolf, Colin Hanks, dkk


Durasi: 123 menit


Produksi: Columbia Pictures


“Jika persahabatan adalah hal berharga yang patut dijaga, baik itu karena banyak kenangan yang terkandung di dalamnya, ataupun karena dari persahabatan kita bisa belajar banyak hal, tetap saja akan menjadi rumit jika tidak bisa memetik pelajaran darinya.”


Sama halnya dengan ikatan dari suatu hubungan lainnya, ‘persahabatan’ bukanlah sesuatu yang layak dirusak. Ibarat sebuah harta berharga, persahabatan akan memberi manfaat jika mampu digunakan dengan sebaik mungkin. Apabila dinilai hanya sebagai sebuah jalinan hubungan yang semu, maka persahabatan tidak akan ada bedanya dengan sebuah perkenalan tanpa suatu tujuan. Kalau sudah begitu, yang perlu dilakukan adalah mengintrospeksi diri. Mempertanyakan ulang makna dari persahabatan tersebut, dan mengambil yang layak untuk dipelajari.


Jumanji: The Next Level, tampaknya tidak mencerminkan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Bisa dbilang, film ini bukanlah kelanjutan menuju tantangan yang lebih sulit. Terkesan seperti dipaksakan, alur cerita dan pelajaran yang terkandung di dalam film ini, bisa kita pelajari tanpa harus menonton film sebelumnya. Dengan kata lain, film ini seakan terpisah dan tidak memiliki ketersambungan sama sekali dari film sebelumnya.


Berbeda dari film Jumanji: Welcome To The Jungle, Jumanji: The Next Level menyajikan petualangan yang memang cukup tidak terduga, dan penuh dengan kejutan di dalamnya. Film ini dimulai dengan pilihan Spencer (Alex Wolff), yang memilih kembali ke dalam game Jumanji. Pilihannya didasari karena rasa keterputusasaan yang kerap dialami oleh sebagian besar remaja. Atau bahasa lainnya Quarter Life Crisis, yaitu kebimbangan menjalani hidup ketika menginjak umur 20-25 tahun.


Kondisi Spencer tersebut, menjadi sebuah pelajaran berharga yang seharusnya bisa ditangkap oleh para penonton, terlebih mereka yang memilih melanjutkan pendidikan jauh dari orang tua dan teman-teman di lingkaran sebelumnya. Karena, fenomena fase hidup semacam itu sangat besar kemungkinan akan terjadi, jika tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Tidak hanya itu, film ini adalah film tentang ikatan persahabatan, yang mengandung nilai-nilai lain. Yaitu soal kenangan yang seharusnya bisa dihargai, dan soal pencarian jati diri.


Spencer adalah orang yang berani saya rasa, meskipun terkesan ceroboh dan bertindak serampangan. Keberaniannya terlihat ketika memilih kembali ke dalam Jumanji, yang sangat disadarinya menyimpan bahaya dan malapetaka. Kenekatan dari keputusan Spencer, tak urung menarik teman-temannya yang menyadari bahwa Spencer menghilang. Film ini menjadi menarik karena menambah adegan yang memasukkan Kakek Spencer yaitu Eddie (Danny DeVito), beserta sahabatnya Milo Walker (Danny Glover), yang selama 15 tahun tidak pernah bertemu.


Walaupun begitu, pertemuan kembali Eddie dan Milo saya nilai juga menjadi kelemahan dari film ini. Pasalnya, jika tidak memasukkan kisah mereka berdua, saya pribadi bisa menjamin film ini akan sangat garing dan membosankan. Saya pun awalnya mengira setiap tokoh akan memerankan karakter yang sama dengan film sebelumnya. Namun ternyata dugaan saya tersebut tidaklah sepenuhnya tepat, walaupun pada akhir film tebakan saya menjadi benar. Yang jelas, film ini memang membawa unsur baru di dalamnya.


Jika di film sebelumnya kita akan terpingkal-pingkal dengan aksi dari setiap pemeran dalam video game, di film ini kita akan banyak menemui banyak kekurangan. Seperti kesan lucu yang terlalu dibuat-buat, dan banyak adegan bertele-tele yang memang tidak perlu diikutsertakan. Saya rasa, film ini diberi judul The Next Level, lantaran ada dua tempat yang menjadi latar film ini berlangsung. Yang di dalam Jumanji: To The Jungle, hanya memilih hutan liar sebagai latar film.


Dalam film ini, kita tidak akan menemukan keganasan hewan-hewan buas yang sangat mematikan. Paling banter, kita cuma akan menemui seekor ular besar yang terlibat di awal film, dan kehadirannya tidak begitu penting. Ketika saya menyelesaikan film ini, dan setelah berpikir ulang, saya seperti meraba-raba pada saat mencar ”tingkat kesulitan yang seharusnya bertambah” dalam film ini. Memang dari setiap karakter muncul kelebihan dan kekurangan yang baru, tapi hal itu tidak menjadikan perjuangan para tokohnya menjadi lebih sulit.


Saya menilai, letak kesulitan dalam film ini tidak ditonjolkan pada saat aksi-aksi heroik berlangsung. Kesulitannya terletak pada ranah yang sangat filosofis sekali, dan membuat film ini menjadi menurun kualitasnya. Karena film semacam Jumanji, menjadi agak aneh ketika menekankan unsur falsafiah di dalamnya.


Mengambil sisa-sisa ingatan pada film sebelumnya, alur cerita film ini seakan berjalan di sebuah jembatan di atas jurang yang dalam. Pencarian jati diri yang seharusnya bisa kita dapat dari adegan utamanya, sayang sekali malah ditaruh di penghujung film, ketika kondisi perasaan saya sebagai penonton sudah terserap habis sebelumnya. Bahasa lainnya, penempatan dan ide yang bisa diledakkan agar masuk ke ingatan penonton, tidaklah tepat ditempatkan sebagaimana harusnya.


Ketegangan yang saya kira bisa saya dapatkan ketika menonton film ini, pada akhirnya hanya menjadi sebuah angan-angan belaka. Berharap film ini bisa menghibur, yang ada malah membawa dan menarik saya ke perasaan sendu dan semacamnya itu. Memang, kekonyolan yang menjadi unsur pelengkap dalam genre komedi, semakin ditambahkaan dalam film ini. Akan tetapi, malah membuat saya menjadi semakin meragukan film ini.


Entahlah, saya berprasangka bahwa nafas film ini seperti tidak stabil. Semacam ada penambalan di sana-sini. Ibarat kain yang robek, ide film ini seperti ingin menambal kain robek tadi. Tetapi, yang terjadi malahan semakin memperlihatkan robekan sebelumnya. Seni berpetualang dan seni dalam bertahan hidup, semakin terkurangi dalam film ini. Terbukti dari betapa mudahnya mati setiap karakter yang ada. Tidak hanya itu, kelemahan dari setiap karakter yang ada di video game—termasuk musuh utama yaitu Yang Maha Brutal—terkesan tidak masuk akal.


Ah, saya tidak berniat menghakimi sebenarnya. Tapi pada kenyataanya begitulah yang terjadi. Pengalaman yang ‘wah’ ketika menonton film, jujur tidak saya dapatkan ketika menonton film ini. Dan jika ditanya apakah saya nanti akan menontonnya kembali, tentu jawaban saya tidak sama sekali. Saya berharap, dalam kelanjutan film ini nanti—karena pasti ada kelanjutannya walaupun tidak tahu kapan—tidak lagi memasukkan adegan yang tidak perlu. Selain itu, harapan besar saya, film lanjutannya bisa berakhir dengan ending yang membuat semua penonton tercengang.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel