Pakar dan Netizen yang Budiman


Pakar dan Netizen yang Budiman
Sumber Foto: cuadernoderetazos.wordpress.com

Penulis: M. R. Rigen

Tulisan ini adalah sebuah pemahaman singkat saya, setelah membaca buku Matinya Kepakaran, karya Tom Nichols. Berbicara tentang pakar, barangkali kita langsung membayangkan orang-orang hebat, yang menekuni disiplin ilmu tertentu. Benar, seperti arti dari kata “Pakar” sendiri, yakni spesialis atau para ahli. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa hari ini kita sudah memasuki babak keempat peradaban dunia. Yang akrab kita kenal dengan istilah Revolusi Industri 4.0, atau Four Point Zero.

Di era informasi seperti sekarang, media adalah simbol peradaban yang sudah berimplikasi secara global. Media, memiliki peran penting dalam membangun jaringan antar individu, kelompok, dan massa. Selain itu, dengan didukung hadirnya internet, media menjadi sebagai sebuah sarana percepatan informasi, dari satu tempat ke tempat yang lain.

Hal tersebut yang selanjutnya, membuat semua orang dapat dengan mudah mengakses informasi dewasa ini. Bahkan, hanya dengan menggunakan gadget atau gawai yang kita miliki, kita dapat mengakses informasi di seluruh dunia. Tanpa perlu menunggu waktu lama dan bersusah-payah.

Belakangan ini, kemudahan dalam mendapatkan informasi, menjadi perhatian bagi kalangan pakar-pakar keilmuan dunia. Salah satunya Tom Nichols, seorang pakar dan akademisi dari Amerika Serikat. Di dalam bukunya yang berjudul “Matinya Kepakaran” The Death Of Expertise., Nichol menjelaskan, tentang kritiknya kepada warga Amerika yang belajar setengah-setengah, namun bertindak dan berlagak seperti ahli. Di mana, media menjadi tempat bagi mereka mengekspresikan ketidak kompetennya, dalam mengomentari suatu masalah.

Seiring berjalan waktu, teknologi semakin maju, dan semakin banyak platform media sosial yang menyediakan sarana untuk mengakses informasi. Lengkap dengan fitur-fitur menarik, yang bisa menunjang pengguna media sosial. Rupanya, kemajuan teknologi seperti ini tidak serta merta dilihat sebagai berkah, tetapi juga lengkap dengan paket kemudharatannya. Bagaimana tidak, seperti yang dikatakan Nichol, “media membuat ‘Skeptisismeterhadap para pakar, saya khawatir kita sedang menyaksikan matinya ide-ide kepakaran itu sendiri”.

Sehingga, timbul kekhawatiran akan pembagian antara kelompok profesional dan orang awam. Seperti murid dengan guru, pasien dengan dokter, dan orang tahu dengan orang yang merasa tahu gara-gara Google, Wikipedia, dan blog. Dengan kata lain, antara mereka yang memiliki pencapaian di sebuah bidang, dengan mereka yang tidak memiliki pencapaian sama sekali. Hal ini, yang kemudian menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi para pakar. Karena sebagian orang, seakan-akan mengerti untuk berbicara tentang segala hal di media sosial.

Yang menjadi pertanyaan, apakah kita semua setara di media sosial? Tentu tidak bukan? Kita tidaklah setara. Dalam artian, kemampuan kita mengomentari suatu bidang keilmuan di media sosial, sangatlah bervariasi.

Mengapa saya katakan tidak. Karena, perlu kita sepakati bersama, kita memiliki kecenderungan kompetensi keilmuan yang kita tekuni. Di media sosial, kita perlu tahu yang namanya sebuah batasan. Supaya tidak memicu kegaduhan. Misalnya, ketika kita tidak pernah belajar tentang ilmu agama, jangan kemudian berbicara seolah-olah ahli agama. Pun sama halnya jika tidak pernah belajar tentang ekonomi, sebaiknya jangan mengomentari soal perekonomian.

Namun, hal semacam itu sulit untuk dihentikan, Karena, di media sosial semua orang bebas mengeluarkan pendapatnya ketika mengomentari suatu masalah. Terlepas dari paham atau tidaknya seseorang tersebut ketika berkomentar. Di media juga, kita dapat dengan mudah untuk mempelajari suatu masalah. Misalnya saja, ketika kita mencari di papan Google menggunakan gawai. Dari hasil pencarian tadi, akan muncul ratusan artikel yang bisa kita jadikan sumber keilmuan, untuk mencari solusi dari setiap masalah.

Sayangnya, hal semacam itu perlu kita ketahui efek negatifnya. Sama halnya seperti kita memakan buah mangga. Kita mengupas kulit hijau yang pahit, lalu kita mendapat pilihan. Apakah akhirnya menelan sendiri kulit tadi, atau malah kita berikan kepada orang lain. Sebelum sampai ketika kita akan mengiris apalagi memakan dagingnya. Dan mendapatkan daging lunak nan kuning kemerahan, dengan pisau yang kita miliki.

Selain itu, masih ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan, yakni tentang “Bias Konfirmasi dan Demokrasi.” Pertama, bias konfirmasi adalah sebuah kecenderungan mencari informasi, yang hanya membenarkan apa yang kita percayai. Menerima fakta yang hanya memperkuat penjelasan yang kita sukai, dan menolak data yang menentang sesuatu yang sudah kita terima sebagai kebenaran. Atau lebih sederhananya, kebiasaan enggan mendengarkan penjelasan orang lain, karena sudah yakin dengan otoritas keilmuan yang dimiliki.

Disadari ataupun tidak, sering kali kita temui kejadian semacam itu di kehidupan bermedia sosial. Bahkan, bisa jadi kita sendiri pernah melakukannya? Pendidikan, seharusnya membantu kita mengenali hal semacam ini, sehingga kita bisa menghindari apa yang Nichol sebut, “Efek Dunning Krunger”. Yaitu fenomena di mana semakin bodoh seseorang, semakin tidak menyadari bahwa mereka bodoh. Fenomena ini, seperti yang disebutkan sebelumnya, disebabkan karena menilai diri terlalu tinggi, atau meminjam bahasa milenialnya; ‘kepedean’.

Tentu saja, ada alasan lain yang menyebabkan orang-orang tidak berkompeten seperti ini, bisa menilai diri terlalu tinggi. Yakni karena tidak adanya faktor metakognisi di dalam diri. Yaitu kemampuan untuk menyadari kesalahan, dengan mengambil jarak, melihat apa yang sedang dilakukan. Lalu selanjutnya menyadari bahwa kita salah melakukannya. Hal ini menjadi penting, mengingat di media sosial yang menjadi kontrol atas segala tindakan yang kita lakukan, adalah diri kita sendiri. Dan bukan orang lain.

Kedua, demokrasi. Perlu digarisbawahi, bukan berarti saya menyempitkan arti atau makna demokrasi di sini. Melalui tulisan ini, saya mencoba melihat demokrasi dari kerangka rmedia sosial. Demokrasi, menjadi narasi yang paling laris digaungkan, oleh orang-orang yang tidak berkompeten, sebagai alasan mencari eksistensi di media sosial.

Berangkat dari paham kesetaraan hak, mereka masuk ke dalam segala lini disiplin ilmu. Meskipun kebanyakan hanya bermodal pengetahuaan artikel, yang mayoritas didapat dari Google. Ironisnya, komentar yang diberikan bukan hanya omong kosong yang tak berdasar, tapi juga cacian, makian, kepada pakar.

Terakhir, tulisan ini dimaksudkan bukan bentuk pembelaan kepada para pakar keilmuan. Namun, lebih jauh dari itu, tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan refleksi kita sebagai pengguna media sosial.

Mari kita belajar serta berbicara sesuai dengan kepakaran kita masing-masing, agar mampu menjadi Netizen yang budiman sebenar-benarnya. Terlepas, pro dan kontra para pembaca, sependek pemahaman saya, tulisan ini disadari masih banyak kekurangan. Untuk itu, dengan kerendahan hati saya mengharapkan krtitikannya, untuk kebaikan tulisan-tulisan berikutnya.





Bisa ditemui di IG/FB/TW: @rigenwazha

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel