Once Upon a Time in Hollywood: Dunia Alternatif a la Quentin Tarantino



Once Upon a Time in Hollywood: Dunia Alternatif a la Quentin Tarantino

Penulis: Kusharditya Albi Hafiezal


Data Film


Judul: Once Upon a Time in Hollywood


Sutradara: Quentin Tarantino


Pemeran: Leonardo Di Caprio, Brad Pitt, Margot Robbie, Al Pacino


Durasi: 160 menit


Tahun Rilis: 2019


Banyak yang cukup kecewa dengan film terbaru Quentin Tarantino. Meskipun punya rating yang bagus, ternyata ulasan buruk lebih sering saya temui di internet daripada ulasan baiknya. Tirto.id bahkan menulis bahwa film ini semacam penegasan bahwa Tarantino sudah tua, yang secara tidak langsung berarti kualitasnya menurun.


Sejak muncul trailer awalnya, film ini memunculkan Brad Pitt dan Leonardo Di Caprio, yang tentu cukup memancing antusias penggemar Tarantino. Sebuah kombinasi yang menarik. Meskipun saya bukan penggemar Tarantino, saya cukup banyak menonton film-filmnya. Mulai dari Pulp Fiction, Reservoir Dogs, Kill Bill, dan favorit saya, Inglourious Basterd. Dari semua film Tarantino yang saya tonton, memang saya pikir film terakhir ini kurang memuaskan dan tidak seikonik film-film sebelumnya.


Saya selalu mengaitkan film-film Tarantino dengan adegan-adegan brutal, penuh darah, dan fantasi pembunuhan-pembunuhan yang kejam. Selain itu, mungkin selipan-selipan budaya pop yang akan membuat penonton familiar dengan referensinya. Dari musik, film, buku, sampai aktor terkenal yang menjadi atribut dalam film.


Misalnya, kita bisa langsung tergambar adegan dansa di film Pulp Fiction, ketika mendengar lagu You Never Can't Tell dari Chuck Berry. Atau lagu Stuck in The Middle With You milik Stealers Wheel, di tengah-tengah adegan penyiksaan sadis dalam Reservoir Dogs. Sangat ikonik.


Dalam film terbarunya, Tarantino memberikan cerita yang cukup berbeda. Biasanya, ia menyuguhkan adegan aksi, kriminalitas, pembalasan dendam, atau perang. Di Once Upon a Time in Hollywood, kita akan disuguhkan cerita tentang hubungan aktor dan stuntmantnya. Rick Dalton (Leonardo Di Caprio) yang cukup bersahabat dengan pemeran penggantinya sendiri, Cliff Booth (Brad Pitts).


Hampir tiga perempat bagian film ini menceritakan lika-liku tokoh utama, tentang persoalan aktor yang katakanlah hampir kadaluarsa dan nyaris tidak laku. Mulai dari tak ada tawaran film dan menurunnya popularitas dari aktor itu sendiri.


Film ini diramu dengan komedi, gaya hidup aktor di Los Angeles, dan lanskap dunia perfilman Hollywood era 60an akhir. Saya memang menaruh ekspektasi tinggi terhadap film ini. Saya pikir film ini akan jadi perpaduan antara Djanggo Unchained dan Inglourius Basterd. Mengingat Di Caprio bermain di Djanggo Unchained sedangkan Brad Pitt pernah bermain dalam Inglourious Basterd. Ternyata film jauh dari ekspektasi dan tidak begitu memuaskan saya. Ketika menonton film ini, saya bahkan bertanya-tanya, “apa benar ini film Tarantino betulan?”


Alur film ini bisa dibilang sangat lambat. Namun, penonton agaknya cukup dimanjakan dengan tone warna film dan setting Los Angeles tahun 60an. Entahlah, akhir-akhir ini kan segala hal yang berbau jadul itu memang kelihatan seksi.


Jujur saja, saya baru bisa bilang kalau film ini baru benar-benar khas Tarantino setelah kurang dari seperempat bagian terakhir film. Perkelahian brutal, senjata tajam, pistol, dan pengaruh zat acid. Tapi itu semua cuma kejutan yang tanggung.


Dunia Alternatif Tarantino


Perkiraan saya soal tren setting waktu masa lampau, ternyata salah besar. Bukan tanpa sebab bahwa Tarantino mengambil setting tahun 60an dan Hollywood. Tarantino pernah mengatakan dalam satu wawancara, bahwa ia menulis naskah film ini, selama 5 tahun. Waktu yang tidak sebentar. Dan tentunya ada suatu riset yang memang dikerjakannya.


Once Upon a Time in Hollywood tidak hanya bercerita tentang kehidupan tokoh utama. Justru cerita utama dalam film ini hanya pengalihan. Saya pikir, apa yang ingin dilakukan Tarantino sebenarnya adalah membuat film Biopik, mengenai kehidupan aktris Hollywood, Sharon Tate. Sharon Tate sendiri tewas dibunuh pada 8 Desember tahun 1969 oleh sekelompok anggota komune. Komune ini dipimpin oleh seseorang bernama Charles Manson. Dan orang-orang ini juga sering disebut sebagai Manson Family.


Pada 8 Agustus 1969, tiga orang anggota Mason, Tex Watson, Susan Atkins, dan Patricia Krenwinkel mendatangi rumah Sharon Tate. Mereka membunuh Tate yang sedang hamil 8 bulan beserta keempat orang lainnya, menggunakan revolver dan pisau lipat. Pembunuhan itu didasarkan atas perintah Charles Manson. Saya tidak cukup tahu kenapa si Charles Manson ini ingin sekali membunuh aktris Hollywood. Tentunya sangat banyak berita dan artikel yang membahas peristiwa pembunuhan itu.


Nah, di dalam film Tarantino hal itu tidak terjadi. Ketiga anggota keluarga Mason itu justru mendatangi rumah dua tokoh utama, Rick Dalton dan Cliff Booth,  yang di dalam film bertetangga dengan Sharon Tate—tentu dalam dunia nyata Dalton dan Booth tidak eksis sama sekali. Dan ketiga anggota Mason itu berencana membunuh Dalton dan Booth.


Namun lucunya, usaha pembunuhan itu malah gagal. Justru ketiga anggota Mason itu yang mampus di tempat. Karena pembunuh-pembunuh itu sudah selesai, maka di dalam film tidak terjadi pembunuhan terhadap Tate. Alangkah bagusnya jika hal itu terjadi di dunia nyata bukan?


Film pun selesai setelah polisi datang. Tate dan suaminya keluar rumah karena kegaduhan yang terjadi. Rick Dalton pun mampir ke rumah Tate untuk berbincang pasca percobaan pembunuhan itu.


Sebenarnya cukup gelap juga film ini. Apalagi, cukup banyak selipan komedi berbalut adegan kekerasan di film ini, dengan latar sejarah pembunuhan. Namun, Tarantino saya pikir tetap gagal dalam film ini. Karena cerita utama film ini kurang memikat sehingga penonton bakal lebih tertarik dengan cerita soal Sharon Tate. Dan lagi, tidak banyak yang tahu mengenai kejadian pembunuhan itu, bahkam dalam wawancaranya bersama Times, Tarantino mengatakan bahwa penonton akan sedikit kesulitan mengenali nama-nama yang ia sebut.


Kenyataannya, ide Tarantino ini memang menarik. Alih-alih membuat film Biopik mengenai Tate dan Mason Family, ia membuat cerita fiksi dengan latar kejadian tersebut. Tapi tetap saja, saya pikir kualitas film ini menjadi peringkat paling bawah daripada film-film Tarantino yang lain. Meskipun begitu, film Tarantino yang tidak sebagus biasanya ini, menurut saya akan tetap layak untuk ditonton.



Seorang penggemar musik dan film, kadang-kadang terpaksa jadi jurnalis di LPM Rhetor. Bisa ditemui di instagram @sharkassthic_

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel