Mental Down akibat Pertanyaan Kapan Kamu Nikah?



Mental Down akibat Pertanyaan  Kapan Kamu Nikah?

Penulis: Ainul Luthfia Al Firda 


Selama masa karantina mandiri berlangsung, sebagian masyarakat pasti mengalami persoalan yang hampir dialami oleh sebagian remaja, yakni pertanyaan “kapan kamu akan menikah?”, “orang mana dia?”, “ Mbak, Ibumu sudah pengen menimang cucu lho”. Beberapa pertanyaan itu, seakan melukai batin dan sesekali membuat  tertekan.


Bagaimana tidak, di tengah pandemi semua akses ditutup, dan di samping itu setiap saat harus  mendengarkan dan merespon pertanyaan kapan kamu akan nikah? Andai bisa keluar dari rumah dengan setenang mungkin, bagi saya pilihan terbaik adalah keluar dari rumah. Memilih untuk menenangkan diri, dan melupakan pertanyaan-pertanyaan seputar menikah yang terdengar membosankan itu.


Pada saat karantina mandiri di tengah pandemi Covid-19, banyak pelajaran yang saya dapat. Salah satunya ialah makna kesabaran. Sabar menghadapi beberapa pertanyaan yang menyinggung soal pernikahan. Mungkin sebagian orang akan memaknai menikah itu sesuatu yang bahagia, atau momentum yang membuat semua orang bahagia. Akan tetapi, hal ini berbeda dengan maksud pemahaman dan yang dirasakan penulis. Hemat saya, menikah adalah momen yang mengharuskan calon pengantin untuk bahagia terlebih dulu, sebelum akhirnya ia akan lebih bahagia pada waktunya. 


          Dorongan untuk menikah ternyata tidak hanya berhenti di keluarga. Bahkan sebagian teman di sekeliling sangat memungkin juga menanyakan pertanyaan yang sama. Menurut penulis, menikah bukanlah legalisasi suatu hubungan di balik kata Qobiltu, yang disaksikan oleh para wali mempelai, dan pengurus KUA serta beberapa saksi. Menikah ialah suatu kesiapan dalam menghadapi bahtera berumah tangga dengan segala kesiapannya, baik perihal agama, ekonomi dan hal lainnya. 


         Memang benar, menikah adalah salah satu jalan untuk menghindari perbuatan zina. Akan tetapi, menikah juga tidak semestinya dijadikan jalan pintas untuk menghindarinya. Menikah adalah momentum sakral, dan yang akan menjalaninya harus benar-benar siap untuk meniti kehidupan setelah menikah, baik suka maupun duka. Entah dipenuhi canda-tawa atau malah menghadirkan sebuah luka.


        Beberapa hal di atas, sering kali dilupakan oleh sebagian besar masyarakat kita. Keinginan untuk segera melaksanakan pernikahan tanpa kesiapan, merupakan efek dari hawa nafsu. Dan sesuatu yang terburu-buru disebabkan karena kuasa hawa nafsu, biasanya tidak akan mencapai suatu kebahagiaan dan kenikmatan. Oleh sebab itu, menikah perlu adanya sebuah kesiapan, baik lahir maupun batin. 


      Berbicara tentang pertanyaan kapan kamu akan menikah, hal ini sering kali dilanggengkan lewat obrolan ringan yang bermaksud candaan. Akan tetapi, kebanyakan tanpa disadari, pertanyaan ringan tersebut malah sering kali membuat terluka bagi pihak yang ditanya. Bahkan tidak jarang menimbulkan tekanan batin, yang berawal dari memaknai menikah sebagai puncak kebahagiaan seseorang. 


       Fenomena tentang maraknya pertanyaan kapan kamu akan menikah, ternyata menimbulkan banyak dampak negatif. Salah satunya ialah kesehatan mental yang semakin menurun, dan membuat kebanyakan orang tertekan. Bahkan dampak lebih buruknya ialah stres yang berkepanjangan.


Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, setiap harinya makin banyak kita dengar di tengah pandemi ini. Pertanyaan yang terkesan ringan, tapi menjadi dilematis. Apalagi dengan posisi semua orang berada dalam masa karantina seperti ini, tentu membuat keresahan bagi yang ditanya (korban).


Salah satu pengalaman unik yang penulis dapat, sebagian teman perempuan penulis lebih memilih untuk sendiri, ketimbang harus menikah dan akhirnya tidak bahagia. Secara tidak langsung, penulis menyimpulkan kalau ini menjadi salah satu dampak lain, ketika seringnya orang menanyakan urusan pribadi seseorang, terlebih soal menikah dan keberlangsungan masa depan. 


Menurut Dea Safira dalam bukunya yang berjudul Membunuh Hantu-Hantu Patriarki, memamparkan bahwasannya menikah tidak akan otomatis membuat orang bahagia. Sebab menurutnya, ada banyak cara lain untuk bahagia.


“Kita harus bahagia sebelum akhirnya menikah.”


Dari kutipan tersebut, penulis merespon dan menyepakati bahwasannya yang dikatakan Dea dalam tulisannya, merupakan sesuatu yang benar. Ya, kita harus lebih bahagia sebelum akhirnya kita harus menikah. Maksudnya ialah, kita harus terlebih dulu merealisasikan planning hidup pribadi, dengan pencapaian yang dihasilkan dari kerja keras dan keringat sendiri. Sehingga hal-hal tersebut dapat membahagiakan pribadi masing-masing.


Menurut penulis pula, kutipan yang dipaparkan Dea Safira di atas dapat dijadikan sebagai referensi, untuk menguatkan visi bahwa sebelum menikah kita harus lebih dulu bahagia. Pertanyaan tentang kapan kamu akan menikah, yang semakin dilanggengkan itu, penulis sadari lambat laun akan menjadi momok bagi mereka yang belum menikah.


Tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang lebih tajam lagi, yang bakal muncul setelah menikah. Seperti kapan kamu akan punya anak, kapan kamu akan nambah anak lagi, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bersifat menyudutkan. Maka dari itu, mari kita bersiap diri sejak dari sekarang.


Pada akhirnya, persoalan tentang urusan hidup orang lain, biarkanlah menjadi target hidup masing-masing, dan tidak seharusnya kita terlalu keras dalam mencampuri urusan pribadi orang lain. Bukankah menyelesaikan urusan pribadi terlebih dulu akan lebih bermanfaat? Ketimbang mengurusi masalah orang lain yang belum kita ketahui seluk-beluknya.




Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Berdomisili di Boyolali. Bisa ditemui di Instagram; @Firdaainul. Sedang memulai dunia tulis menulis dan menggemari sesuatu yang berhubungan dengan kesetaraan~

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel