Menjadi Pendengar Curhatan yang Baik, Bukanlah Hal Mudah



Menjadi Pendengar Curhatan yang Baik, Bukanlah Hal Mudah
Sumber Foto: cuadernoderetazos.wordpress.com
Penulis: Ibrahim Maulana*


Pernah gak mendengar kata-kata yang isinya kurang-lebih begini, “Teman yang baik adalah teman yang lebih banyak mendengarkan. Bukan teman yang kerjaannya menghakimi, dan menyimpulkan dengan serampangan”. Kalau belum pernah, mari saya bisikkan sesuatu; Percayalah, itu semua gak mudah. Justru, ketika kita dianggap sebagai pendengar yang baik, yang ada malah kita akan terbebani oleh pelabelan tersebut.


Tentu saja, tidak semua orang adalah pendengar yang baik. Sama halnya tidak semua orang adalah komunikator yang baik. Tapi siapa sangka, menjadi pendengar yang baik itu lebih sulit loh, ketimbang menjadi komunikator yang baik. Pasalnya, menjadi pendengar yang baik itu butuh dan melatih kesabaran. Sedangkan menjadi komunikator yang baik, lebih membutuhkan dan melatih yang namanya ketelatenan dan konsistensi.


Nah, sudah pada punya pengalaman menjadi pendengar curhatan? Ya terserah sih menjadi pendengar siapa saja, boleh itu teman, gebetan, pacar, dan mantan kalau ada. Kalau belum, yuk kita belajar bareng, gimana bijaknya menjadi seorang pendengar yang baik. Karena seperti yang sudah saya sebutkan di atas, beneran gak mudah jadi pendengar yang baik itu. Apalagi kalo mendengar curhatan yang isinya cinta-cintaan, alay-alayan, dan bucin-bucinan. Nderes air mata di hati, lebih-lebih kalau kitanya jomblo.


Apa yang saya sampaikan di sini, adalah hasil real pengalaman saya pribadi. Yang barangkali punya kesamaan dengan beberapa orang. Pengalaman saya ini, juga berangkat dari status saya sebagai Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, yang kerjaannya lebih banyak mendengarkan.


Eh, eh, ngomong-ngomong udah pada tahu lah ya, jurusan Bimbingan dan Konseling itu jurusan apa. Yup bener, jurusan yang masa depannya itu jauh dari yang dicita-citakan dan dicitrakan. Udah kuliahnya banyak tugas, pontang-panting nyari klien, eh pas udah lulus banyak yang bingung mau ke mana. Bahhh, suram deh suram. Stop, kok malah saya yang jadi curhat.


Oke, ayo kembali ke topik utama kita.


Bagi saya pribadi, menjadi pendengar yang baik itu akan lebih susah jika dijalani oleh seorang perempuan. Soalnya, seperti yang kita ketahui, perempuan akan lebih banyak berbicara dalam sehari. Selisih beribu-ribu kata dengan para lelaki. Ini menurut penelitian loh ya, bukan saya ngarang.


Walaupun begitu, belum pasti juga loh laki-laki lebih mudah menjadi pendengar yang baik. Sebab, lagi-lagi berangkat dari pengalaman saya yang kuliah di jurusan lebih banyak perempuannya, tidak jarang malah perempuan lebih mahir dalam hal mendengarkan. Sampai di titik ini, saya sebenarnya juga heran sendiri. Apakah keistimewaan perempuan selalu menyimpan misteri dan kejutan seperti itu?


Kemudian, apa saja kira-kira yang dibutuhkan agar bisa menjadi pendengar yang baik?


Pertama, terlebih dahulu sebaiknya paham betul siapa yang menjadi lawan kita bicara. Karena menjadi pendengar yang baik itu, bukan berarti gak ngomong sama sekali ya. Malahan, di dalam sebuah kondisi tertentu, pendengar yang baik itu menjadi banyak berbicara. Lah hayo, kenapa bisa begitu? Sebab, terkadang ada juga tipikal orang curhat yang ingin ditanggapi secara intensif. Jika sudah begitu, pendengar yang baik akan menjelma sebagai orang yang doyan ngomong.


Kedua, melihat suasana di sekitar. Tipikal orang curhat, juga banyak macamnya jika mengkategorikan kebiasaanya curhatnya. Ada yang senang curhat dalam sebuah keramaian, ada yang curhat dalam kondisi sepi, ada juga yang baru bisa curhat jika sesi curhatnya diformalkan, mirip wawancara gitu deh.


Maka dari itu, memahami suasana ketika curhatan berlangsung, termasuk poin penting dalam keberhasilan kita menjadi pendengar yang baik. Namun, sah-sah saja kalau kita yang menjadi pendengar curhatan, ingin menentukan lokasi berlangsungnya sesi curhat tersebut. Asalkan, antara si pendengar dan yang bakal curhat, sama-sama tidak ada yang dirugikan.


Ketiga, tentukan batas waktunya. Hal ini menjadi penting dilaksanakan agar tidak terjadi miss komunikasi. Karena si pendengar mesti punya kesibukan lain bukan? Belum lagi juga harus menghitung bahan obrolan dan pertanyaan yang bakal dilontarkan. Sebab jika tidak cermat, yang ada malah kita keasyikan. Hingga lupa diri dengan tujuan awal sebagai pendengar yang baik.


Keempat, berani tegas walaupun itu kepada teman akrab atau orang yang belum lama kita kenal. Ketegasan adalah kunci yang sedikit banyak memengaruhi alur curhatan. Menjadi pendengar yang baik, bukan berarti kita bertindak sebagai orang yang pasif. Malah jika kita terkesan pasif, yang ada kita akan dicap tidak asyik dan dianggap tidak serius menanggapi sebuah curhatan. Atau dengan kata lain, orang yang curhat menganggap kita ogah-ogahan atau setengah hati. Jika sudah begitu, maka lebih baik menunda sesi curhatnya.


Terakhir, yaitu kejujuran. Nah, menjadi pendengar yang baik itu tidak lantas membuat kita membohongi diri kita sendiri ya. Banyak contoh kasus, yang membuktikan kebanyaknan pendegar curhatan, akan menjadi orang yang sama sekali berbeda. Dari yang awalnya keras kepala, menjadi seorang yang lemah lembut. Dari yang awalnya selalu serius, memaksakan agar terksan humoris.


Satu hal yang perlu menjadi catatan, menjadi pendengar yang baik itu jangan sampai kehilangan identitas. Kita tidak akan pernah bisa menjadi pendengar yang baik, apabila kita sendiri sudah tidak jujur dengan diri kita pribadi. Terus bagaimana bisa disebut baik, kalau kita sudah membohongi diri kita sendiri? Karena secara tidak langsung, kita akan membohongi orang yang sedang curhat kepada kita.


Intinya, jadilah dirimu apa adanya untuk menjadi pendengar curahatan yang baik. Sebab, orang akan lebih merasa nyaman, jika kita memang melakukan hal tersebut dengan hati yang tulus. Oke, ini bukan siraman qalbu ya, sama sekali bukan. Sepertinya sampai di sini dulu pengalaman yang bisa saya ceritakan, untuk lebih jelasnya tinggal dipraktikkan sendiri ya sobat.


Jadi, jangan langsung menganggap orang yang irit ngomong itu gak peka ya. Justru dari iritnya dia ngomong, menandakan kalau kepekaannya berlapis-lapis. Soalnya dia sudah melalui bermacam cobaan dari mendengarkan curhatan selama ini. Karena siapa yang tahu, kalau orang tersebut malah menganggap sebuah kediaman adalah kenikmatan.


Arkian, sampai di sini dulu penyampaian dari orang yang gak bijak ini. Sedikit informasi, tulisan ini pun hasil sebuah pengalaman mendengarkan teman, yang sedang menjalin hubungan pacaran. Kisah tersebut, juga berangkat dari pengalaman Mahasiswa Bimbingan dan Konseling.



*Pengagum perempuan yang tidak sadar kalau perempuan tersebut juga punya rasa kagum padanya~

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel